Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 37


__ADS_3

"Kau menginginkan sesuatu?". Tanya Marvin lembut kepada Maya.


Maya sama sekali tidak merespon dan hal inilah yang membuat Marvin kewalahan, sungguh dia harus meredam emosinya mati-matian untuk menghadapi sikap Maya terhadapnya karena tidak ingin Maya terbebani dengan sikapnya.


"Jack kita kebutik sekarang lalu ke toko perhiasan". Titah Marvin kepada Jack yang sedang menyetir.


"Baik tuan". Jawabnya kemudian.


Jack tahu betul jika tujuan majikannya itu adalah untuk memesan baju pengantin dan juga cincin pernikahan untuk Maya dan juga Marvin, sehingga dia tidak penasaran lagi namun yang membuatnya penasaran hanyalah tentang apa yang terjadi di ruang pemeriksaan tadi sehingga membuat majikannya yang sangat jarang tersenyum menjadi murah senyum.


"Apa yang terjadi padanya?". Tanya Jack saat berjalan beriringan dengan Maya menuju sebuah butik mewah, sedangkan Marvin berjalan di depan mereka dan dapat mendengar dengan jelas pertanyaan konyol dari Jack.


"Kenapa tidak tanyakan saja padanya?". Jawab Maya. Ya, jika dengan Jack Maya selalu berkomunikasi dengan baik bahkan mereka sering bercanda bahkan sampai membuat Marvin sangat kesal namun dia tidak dapat berbuat apa-apa.


"Ck, kau kan tahu bagaimana dia". Jawab Jack sehingga membuat Maya tertawa.


"Tidak terjadi apapun Jack, jangan selalu membuat lelucon yang membuat perutku sakit". Marvin langsung menghentikan langkahnya ketika Maya mengatakan tentang sakit perut sehingga tanpa sengaja yang berjalan di belakang Marvin menabrak punggung kokoh pria itu. "Aws". Ringis Maya.


"Perutmu sakit?". Tanya Marvin lembut kemudian menatap tajam kearah Jack. "Jika sudah bosan bekerja denganku ajukan surat pengunduran dirimu". Sentaknya pada sang asisten.


"Apa salahku tuan?". Tanya Jack bingung.


"Kau sudah membuat perut Amaya sakit dan kau masih bertanya, apa kau ingin terjadi hal buruk pada anak-anakku hah?".


"Tuan-".

__ADS_1


"Jangan berdebat denganku sekarang juga kita kembali kerumah sakit". Bentak Marvin kemudian dengan segera menggendong Maya sehingga membuat Maya bingung.


"Kau mau apa?". Untuk pertama kalinya Maya berbicara dengan Marvin karena tidak tahan dengan tingkah aneh pria itu.


"Tentu saja membawamu ke rumah sakit, kau bilang perutmu sakit".


"Turunkan aku, cepat". Sentak Maya sehingga Marvin. hanya menurut saja. Maya lalu melangkah kedalam butik dan meninggalkan kedua pria itu,


Berada di dalam butik Maya sama sekali tidak bisa bergerak dari tempat duduknya karena Marvin melarang keras dirinya untuk berkeliling butik tersebut, dia justru memerintahkan perancang busana dan para karyawan butik yang melayani Maya ke tempat duduknya.


"Buatkan baju pengantin untuknya". Titah Marvin, kemudian para pegawai buti disana bergegas mengukur ukuran tubuh Maya.


Meskipun perut Maya jelas terlihat buncit saat mereka mengukurnya namun tidak ada satu orang pun yang berani berkomentar apapun tentang halbitu karena mereka sangat tahu sedang berhadapan dengan siapa.


"Siapkan sebuah baju sederhana untuk akad saja dan tidak perlu baju resepsi". Ujar Marvin lagi dan pegawai butik hanya mengiakan saja.


Ucapan Marvin itu membuat sakit yang sulit dijelaskan oleh Maya di dasar hatinya, jujur saja dia tidak ingin memiliki perasaan seperti itu namun ketika menerima kenyataan jika pernikahannya dan Marvin akan dilaksanakan secara tertutup bahkan tanpa resepsi Maya semakin yakin jika Marvin menikahi hanya untuk kejelasan status anak mereka saja dan itu membuatnya terluka entah karena dirinya yang terlalu sensitif atau bahkan karrna hatinya berharap jika Marvin menginginkan dirinya lebih dari sekedar wanita yang akan melahirkan anak untuk pria itu.


Setelah menyelesaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan pakaian yang akan di kenakan oleh Marvin dan Maya untuk hari pernikahan mereka, Marvin kemudian mengajak Maya untuk membeli cincin pernikahan, Maya hanya mengikuti langkah Marvin tanpa mau berdebat.


Saat berada di toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan, Maya sama sekali tidak bertanya atau berkomentar ketika Marvin menanyakan seperti apa cincin yang dia sukai karena baginya apapun yang akan di kenakan nanti tidaklah merubah situasi dan kondisi dimana dirinya dan Marvin akan segera menilah hanya untuk kejelasan status anak-anak mereka saja.


Marvin juga sempat kewalahan menghadapi sikap Maya yang terus menghindari dirinya bahkan saat makan siang tadi, Maya yang mengalami muntah-muntah lebih memilih di temani Jack untuk ke toilet dibandingkan dirinya.


"Istirahatlah dan siapkan dirimu karena besok kita akan menikah". Tegas Marvin kepada Maya saat mereka sudah sampai di mansion.

__ADS_1


Tentu saja ucapan Marvin itu membuat mata Maya membulat sempurna saat dia mendengarkannya karena baru tadi dia dan Marvin menyiapkan baju dan cincin bagaimana bisa besok pagi pernikahan langsung akan dilaksanakan, apa mereka akan menikah secara agama saja, enatahlah. Ingin dia protes namun berbicara dengan Marvin adalah hal sangat dia hindari saat ini.


Maya berbaring di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya, pikirannya melayang entah kemana memikirkan pernikahan atau hanya sebuah lelucon yang akan di jalani dengan Marvin kedepannya.


Maya teringat akan sosok ayahnya yang sudah tiada sehingga mustahil dia bisa ditemani oleh sang ayah dihari pentingnya itu, kemudian dia teringat akan sosok ibu Siti yang selama ini sudah di anggapnya sebagai ibu sendiri, Maya bergegas mencari ponselnya dan segera menghubungi wanita paruh baya itu.


"Halo bu". Sapa Maya ketika sambungan telponnya tersambung.


"Halo nak, bagaimana kabarmu?". Tanya bu Siti antusias.


"Baik bu, ibu apa kabar?."


"Ibu juga baik".


"Bu, Maya ingin memberitahukan ibu kalau besok Maya akan menikah". Ucap Maya ragu.


"Syukurlah nak, ibu bahagia mendengar kabar bahagia darimu". Jauh dari prediksi Maya, bu Siti justru sepertinya bahagia mendengar kabar pernikahan Maya.


Melihat tidak ada respon apapun dari Maya, bu Siti sangat mengerti apa yang sedang di alami wanita hamil itu. "May, kamu harus yakin dengan keputusan yang sudah kamu pilih nak, ibu tahu jika pernikahan ini bukanlah pernikahan seperti yang kamu impikan namun pernikahan inilah yang kamu dan anakmu butuhkan jadi oleh sebab itu lakukan sepenuh hati maka yang terjadi kedepannya pastilah hal-hal baik, percayalah kepada ibu". Ujar bu Siti.


Seperti terhipnotis, Maya memang selalu bisa menerima setiap perkataan dan nasehat yang di ucapkan wanita paruh baya itu. Setelah beberapa saat berbincang dan mendengarkan nasehat bu Siti hati Maya akhirnya merasa lebih tenang, dia sudah bertekad untuk menghadapi apapun yang akan terjadi kedepannya karena tidak ada satu hal pun terjadi didunia ini tanpa tujuan yang pasti karena semua pasti sudah ditakdirkan oleh Tuhan dan tentunya akan menjadi yang terbaik bagi setiap umat manusia.


"May, tapi maafkan ibu karena tidak bisa menemanimu di hari pentingmu nak". Ujar bu Siti di akhir pembicaraan mereka.


"Tidak apa-apa bu, Maya bisa mengerti. Maya hanya mohon doa dari ibu agar Maya bisa menjalani ini semua dengan baik". Jawab Maya.

__ADS_1


Dia tahu betul mustahil bagi bu Siti hadir di pernikahannya karena Haikal pasti akan melarang keras untuk bu Siti bertemu dengan Maya lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2