
Diantara dilema yang di rasakan oleh Shely saat dia sebenarnya tidak bisa mengambil keputusan namun jika dia di katakan egois karena tetap melanjutkan pernikahannya dengan Nino maka dia benar egois karena dia tidak bisa melihat Ningsih berlutut di hadapannya memohon agar dia mau menikah dengan putranya itu.
Maka jika ini egois maka benar ada namun dia juga melakukannya karena tidak bisa mengecewaka kedua orang tuanya yang sangat bahagia karena rencana pernikahan itu, belum lagi saat ini mereka sudah menepati rumah pemberian kedua orang tua Nino yang diberikan atas nama Shely sebagai hadiah pernikahan mereka nantinya.
Haruskah dia mengajak kedua orang tuanya keluar lagi dari rumah tersebut dan kembali ke kontrakan lama mereka?, lalu setelah itu mungkinkah dia tetap bekerja di perusahaan milik keluarga Nino sedangkan dia sudah menolak permohonan ibu Ningsih sedangkan tidak mudah baginya untuk mencari pekerjaan lain di kota sebesar ini.
"Nak, tante tahu kamu masih ragu tapi tante tetap tidak memaksa kamu untuk menerima pernikahan ini, jika hati kamu menolak maka tante ikhlas dan kamu tidak usah khawatir tentang rumah yang sudah kami berikan kepada kamu, itu akan tetap menjadi milikmu". Ujar Ningsih dengan suara seraknya karena tangisannya tadi.
Deg...
Lagi-lagi Shely merasa seperti di hantam oleh sesuatu yang sangat membuat jantungnya terasa sakit, bagaimana bisa dia menolak permohonan seorang ibu yang sebaik Ningsih yang bahkan tidak pernah mempedulikan perkara harta benda.
"Ta-tante, aku akan menikah dengan mas Nino". Jawab Shely ragu namun dia sudah meyakini hatinya jika dia akan menanggung segala akibatnya nanti asalkan tidak membuat kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Nino yang sudah di anggap seperti orang tuanya sendiri itu merasa kecewa.
Biarlah dia yang menanggung deritanya sendirian asalkan para orang tua itu bahagia dan urusan Nino, biarlah Nino akan melakukan apapun setelah menikah nanti dia tidak akan melarang atau menentang apapun yang ingin Nino jalani di hidupnya termasuk berganti-ganti wanita seperti kebiasaan saat ini.
"Benarkah?". Seru Ningsih, dia kembali memeluk calon menantunya itu. "Tante tahu kamu pasti akan membantu tante nak, karena kamu memang gadis yang baik dan kamu tenang saja tante dan om akan membantu kamu untuk meluluhkan hati Nino jadi kamu tidak akan sendirian". Sambungnya lagi.
__ADS_1
Maka setelah persetujuan yang di ucapkan oleh Shely semua rencana pernikahan itu kembali berjalan seperti semula, pernikahan yang akan berlangsung satu minggu itu lagi bukanlah pernikahan sederhana layaknya pernikahan yang tidak di setujui oleh Nino karena Ningsih dan Hartono menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat meriah dan mewah.
Akan banyak tamu undangan yang menghadiri pesta pernikahan itu, apalagi acaranya akan diadakan di ballroom sebuah hotel bintang lima, karena bagi Ningsih dan Hartono, putra mereka menginginkan atau tidak pernikahan itu yang jelas pernikahan itu bukanlah pernikahan rekayasa dan Shely tetap akan menjadi menantu mereka satu-satunya sampai kapanpun.
...----------------...
Hari pernikahan itu pun tiba, bukan tanpa usaha dari Nino menggagalkan pernikahan itu berbagai cara dia lakukan bukan hanya terus mengancam Shely dan menghinanya habis-habisan namun juga dengan cara ingin melarikan diri namun Hartono sudah sangat hafal dengan sifat anaknya jadi dia sudah menyiapkan pengawal untuk menjaga Nino dua puluh empat jam.
Nino sangat marah dengan kelakuan ayahnya namun dia juga tidak bisa berdebat karena dia sendiri yang membawa Shely kerumahnya dan berjanji kepada kedua orang tuanya jika siapapun wanita yang dia bawa kelak harus mereka restui barulah Nino akan menikahi wanita itu dan sialnya Nino kalah dengan Hartono dan Ningsih yang lebih licik darinya.
Orang-orang yang di tugaskan Ningsih untuk mendandani Shely sedang melakukan tugasnya dengan menggunakan tangan-tangan ajaib mereka membuat Shely menjadi wanita paling cantik hari itu. Bahkan mereka juga ikut takjub dengan kecantikan Shely hari itu karena meskipun Shely meminta agar makeup yang digunakan untuknya yang sederhana saja namun wajah cantik alami yang di miliki Shely membuatnya kelihatan sangat berkelas dan anggun.
Tapi berbeda dengan sang pengantin pria yang membuang pandangannya kearah lain dan seolah tidak peduli dengan kehadiran Shely, pria itu tentu saja Nino yang bahkan sampai saat ini masih memikirkan cara agar pernikahan tersebut batal.
Namun pikirannya buntu sehingga tidak bak yang dapat dia lakukan hal itu di karenakan ketika beberapa hari yang lalu ketika dia mengunjungi mansion Maya tapi wanita itu justru sedang tidak berada di tempat karena sedang berbulan madu bersama suaminya. Darah Nino mendidih mengetahui jika Maya sedang bersenang-senang dengan Marvin.
Hingga pada saat Nino menyadari jika disampingnya saat ini telah duduk sosok wanita yang sangat cantik dan anggun dengan kebaya yang membalut tubuh indahnya. Fokus Nino bahkan menjadi buyar kala itu, jiwa buasnya sebagai lelaki bangkit seketika melihat kecantikan Shely.
__ADS_1
Jika Nino tadi berencana menggagalkan pernikahan itu dengan terus salah dalam mengucapkan ijab kabul maka sekarang tujuannya justru berbeda, jika dia bisa menikmati tubuh Shely setiap saat kenapa tidak toh dia bisa melakukannya kapan saja yang dia mau dan hal itu bisa dia jadikan senjata untuk menyakiti gadis cantik itu.
"SAH". Ketika kata itu menggema di seluruh ruangan maka Shely dan Nino sudah resmi menjadi pasangan suami istri.
Shely memejamkan matanya, dia tidak menyangka jika Nino akan lancar mengucapkan ijab kabul dengan sekali ucap saja. Namun dia tahu betul jika kata "Sah" itu adalah awal dari kehancuran hidup dan harga dirinya.
Setelah acara sakral itu berakhir Nino langsung menarik tangan Shely menuju kamar yang sudah di siapkan mereka, bahkan pria itu tidak peduli dengan para tamu undangan yang masih berada disana termasuk tidak pamit kepada kedua orang tuanya dan juga kepada kedua orang tua Shely.
Jika di depan banyak orang Nino bersikap lembut, maka begitu mereka masuk kedalam kamar dia langsung berubah kasar dan menghempaskan tubuh Shely dengan kasar itu atas kasur.
"Sekarang ayo layani aku". Seru Nino.
"Mas, apa maksud kamu?". Tanya Shely ketakutan.
"Jangan pura-pura bodoh, sekarang layani aku karena aku adalah suamimu bukankah kedua orang tuaku sudah membelimu dengan rumah dan mahar yang sangat mahal, jadi sangat di sayangkan jika pelayananmu kepadaku tidak memuaskan". Jawab Nino sambil membuka kancing kemejanya satu per satu dan menampakkan tubuh kekarnya.
"Ma-mas, tolong jangan lakukan ini, kita menikah tanpa adanya rasa cinta".
__ADS_1
"Ya, itulah yang harusnya kau kngat saat kau setuju menikah denganku, jika aku tidak mencintaimu dan tidak akan pernah". Sentak Nino sambil menarik paksa kebaya yang di kenakan Shely hingga kebaya itu terbuka secara terpaksa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...