
"Bagaimana?". Tanya Nino yang saat ini berdiri tepat di depan Shely yang duduk di hadapannya.
Setelah lama berdebat dengan kedua irang tuanya akhirnya Shely berhasil membujuk kedua orang tuanya untuk kembali ke kontrakan dan menunggunya pulang dan berjanji akan membawa mereka jalan-jalan di akhir pekan.
Jika awalnya tujuan kedua orang tua Shely ke jakarta adalah untuk mengunjungi putrinya itu. namun sekarang misi mereka seketika saja berubah karena menurut mereka tinggal di kota lebih menyenangkan di bandingkan dengan tinggal di desa. Maka bisa di bayangkan bagaimana repotnya Shely menghadapi sikap kedua orang tuanya yang sedikit absurd tersebut.
"Aku butuh jawabannya sekarang juga, jika kau menolaknya maka akan banyak wanita lain bersedia melakukan apa saja yang aku pinta apalagi dengan imbalan yang cukup besar". Tegas Nino melihat Shely hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaannya.
"Ba-baiklah tuan saya bersedia". Jawab Shely ragu karena dia masih tidak yakin dengan ide giila sang bos yang memanfaatkan dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri.
Namun benar seperti kta Nino jika imbalan yang di tawarkan olehnya bukanlah imbalan yang kecil bahkan impiannya untuk segera memiliki rumah sendiri di jakarta akan segera terpenuhi jika dia menyetujui ide Nino tersebut. Tapi di sisi lain dia juga masih ragu karena harga dirinya sebagai seorang wanita di pertaruhkan karena ide tersebut.
"Deal". Ujar Nino sambil mengulurkan tangan dan Shely menyambutnya dengan ragu. "Aku akan buatkan kontraknya dan kau harus menandatanganinya karena itu sangat penting agar tidak ada yang merasa di rugikan satu sama lain di antara kita". Sambung Nino lagi dan di respon dengan anggukan kepala oleh Shely dengan senyum canggung yang terlihat jelas di wajahnya.
Benar saja, beberapa jam setelah kesepatan itu terjadi Nino kembali memanggil Shely dan menyodorkan sebuah map yang berisikan surat perjanjian di antara mereka berdua. Nino meminta Shely meneliti setiap point perjanjian itu dengan seksama sehingga jika dia keberatan maka Nino bisa merevisi kembali isi surat itu
Namun bukannya fokus membaca, maya Shely justru hanya fokus pada angka yang di tuiskan oleh Nino di atas kerja putih itu. Seratus juta rupiah, angka yang sungguh fantastis bagi seorang Shely yang hanya gadis desa itu, uang sebesar itu tentu akan membuat tabungan yang dia peruntukkan untuk membeli rumahnya sendiri pasti sangat akan membantu. Tanpa berpikir panjang lagi Shely langsung saja menandatangani surat itu dan kembali menyerahkannya kepada Nino.
"Baiklah mulai sekarang kau harus mengikuti setiap permainan dan keinginanku tanpa bantahan". Titah Nino tanpa menatap kearah Shely, entah mengapa pria itu memang selalu enggan untuk menatap sekretarisnya itu.
"Ba-baik tuan". Jawab Shely terbata-bata, kemudian meninggalkan ruangan bosnya itu dengan perasaan yang sulit untuk di artikan.
"Harusnya kau bahagia Shely, kau akan selalu berdekatan dengan pria tampan yang kau kagumi selama ini, kenapa harus ragu seperti ini?". Tanya Shely pada dirinya sendiri sambil memejamkan mata dan menarik napasnya dalam-dalam.
...----------------...
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain sepasang suami istri sedang sarapan bersama di meja makan mewah mereka dengan aneka makanan yang lezat. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka hanya suara sendok dan piring yang salin bersautan yang terdengar sangat mendominasi.
Seminggu sudah usia pernikahan Maya dan Marvin namun kedua anak manusia itu masih saja saling mempertahankan ego masing-masing. Maya tetaplah Maya yang dingin di depan Marvin dan Marvin tetaplah Marvin yang penub perhatian namun juga tidak banyak bicara kepada sang istri.
Setelah kejadian dimana Marvin membentak Maya, tidak ada satu orang pun di antara mereka yang meminta maaf terlebih dahulu bahkan jika sebelumnya Marvin banyak bicara sekarang ini justru dia juga lebih banyak mendiamkan Maya tapi jika soal perhatian terhadap Maya dan anak-anaknya Marvin tetap memberikan yang terbaik.
Jika di tanya apakah hubungan ranjang mereka berjalan dengan lancar maka jawabannya tentu saja iya. Marvin tidak pernah melewatkan satu malampun tanpa menyentuh istrinya itu dan Maya juga menerima dan melayani Marvin tanpa bantahan. Aneh memang tapi itulah yang terjadi di dalam pernikahan mereka dimana kehangatan hanya terjadi di atas ranjang saja.
"Hari ini aku akan pulang cepat dan kita akan mengunjungi makam kedua orang tuamu, kau belum pernah mengajakku dan memperkenalkanku kepada mereka". Ucap Marvin.
Deg..
Jantung Maya berdetak kencang karena tidak menyangka jika Marvin akan mengingat perihal kedua orang tuannya.
"Ba-baiklah". Jawab Maya singkat.
"Aku pergi dulu sayang". Ucapnya sambil mengecup pucuk kepala Maya dan mengelus perit buncitnya.
Ada rasa hangat yang mengalir deras saat Marvin memperlakukan dirinya dengan manis seperti itu namun entah apa yang membuat Maya enggan bersikap baik kepada suaminya itu.
Maya menatap punggung Marvin yang menghilang di balik dinding. Dia menghela napas kasar seketika rasa bersalah menyeruak di relung hatinya karena bersikap dingin terhadap suaminya sendiri.
"Aku harus mulai belajar bersikap baik padanya". Batin Maya.
Seperti janjinya pada Maya, Marvin benar-benar menyempatkan waktu pulang cepat hari itu bahkan mereka hanya pergi berdua tanpa membiarkan Jack ikut serta, entah karena ingin menghabiskan waktu berdua saja atau memnag karena Marvin yang sudah muak melihat tingkah Jack yang sok akrab dengan istrinya, entahlah hanya Marvin yang tahu jawaban pastinya.
__ADS_1
Setelah turun untuk membeli dua buah buket bunga, Marvin kembali melajukan mobilnya menuju pemakaman mertuanya. Maya yang berada di sampingnya selalu curi-curi pandang melihat suaminya itu untuk pertama kalinya menyetir mobil sendiri. Di mata Maya aura maskulin dan tingkat ketampanan suaminya itu meningkat pesat saat menyetir mobil seperti itu, sungguh konyol bukan.
"Apa aku sangat tampan hari ini heem?". Tanya Marvin yang menyadari sejak tadi jika Maya sering mencuri pandang kearahnya.
Maya mengalihkan pandangannya kearah jendela dengan pipi yang merah merona. Dia mengutuk tingkah konyolnya itu karena sampai membuat Marvin menyadarinya.
"Kenapa membuang pandangan, ayo tatap aku lagi, lagipula aku ini suamimu jadi tataplah aku kapanpun kau mau". Ujar Marvin lagi ketika sampai di parkiran makam.
Tanpa mempedulikan ucapan Marvin, Maya langsung turun dan terus melangkah menuju makan kedua orang tuannya. Disana baik Marvin maupun Maya sama-sama kompak mengirimkan doa untuk kedua orang tuan Maya, bahkan Marvin juga memperkenalkan dirinya di hadapan makan tersebut sehingga membuat hati Maya sedikit tersentuh.
Setelah selesai dari makam, mobil yng di kendarai Marvin ternyata tidak langsung menuju mansion mereka. Entah kemana arah dan tujuannya Maya juga tidak tahu dan tidak mau tahu.
"Kita makan malam di luar malam ini, kau ingin makan apa?". Tanya Marvin.
"Terserah kau saja". Jawab Maya singkat.
"Apa kalian tidak menginginkan sesuatu sayang, daddy akan penuhi apapun keinginan kalian?". Tanya Marvin lagi kali ini kepada kedua buah hatinya yang berada dalam kandungan Maya.
Karena Maya menjawab terserah saja maka Marvin melajukan mobilnya kesebuah restoran mewah yang menyediakan makanan dari berbagai negara sehingga jika istrinya menginginkan makanan apapun akan tersedia disana.
Marvin sungguh memperlakukan Maya dengan sangat manis selama makan malam berlangsung, bahkan dia tidak mau melepesakan genggaman walau hanya sebentar saja dari tangan Maya. Bakhan Maya juga sudah mulai banyak berbicara dengan sang suami karena dia sudah ingin berdamai dengan keadaan.
Namun sesampainya mereka dirumah Maya di kejutkan dengan sosok wanita cantik yang bertamu ke mansionnya malam-malam begini, sedangkan Marvin hanya bersikap biasa saja ketika melihat wanita di hadapannya itu.
"Hai, selamat malam, aku Celina". Ujar wanita cantik itu sambil mengulurkan tangannya dan Maya menyambutnya dengan ragu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...