
"Maya". Akhirnya hanya kata itu yang bisa keluar dengan susah payah dari mulut Maya sambil menyambut uluran tangan Marvin, ada rasa hangat yang menyelimuti hatinya saat tangannya dan tangan Marvin bertemu bahkan bayi-bayinya merespon dengan baik dengan memberikan tendangan-tendangan halus di perut Maya dengan kehadiran Marvin disana seolah mereka tahu jika itu adalah ayahnya.
"Marvin, senang bertemu denganmu nona Maya". Jawab Marvin kemudian dia melihat kearah perut Maya dan betkata lagi. "Dan selamat atas kehamilan anda dan juga kehamilan anda nona Anin, aku tidak mengangka jika dua wanita canti dirumah anda sama-sama sedang mengandung tuan Haikal". Sambung Marvin kemudian.
"Ah ya, istriku dan juga Maya memang sedang mengandung tuan Marvin". Jawab Haikal.
"Dan aku turut bahagia mendengarnya, lalu suaminya?, tidakkah anda ingin mempekenalkan juga adik ipar anda kepadaku". Tanya Marvin karena penasaran akan jawaban mereka, belum lagi hatinya sedang panas karena ada pria yang berani membuat Amayanya hamil.
"Aku suaminya". Jawab Nino singkat. Semua pandangan saat ini mengarah padanya, terutama Marvin yang tidak terima dengan apa yang didengarnya itu. Itulah alasan sebenarnya mengapa Haikal mengajak Nino untuk ikut makan malam bersama mereka karen Haikal tahu jika Nino akan melindungi Maya bagaimanapun caranya.
"Oh tuan Nino tenyata adik ipart anda tuan Haikal, dunia ini sungguh kecil ya kita selalu berputar di tempat dan dengan orang-orang yang sama. Dan aku pikir anda belum menikah tuan Nino". Ucap Marvin, jangan tanya kemana Jack karena dia hanya bisa diam dan mencerna keadaan ini dengan susah payah.
"Kami memang sengaja menyembunyikan tentang kabar pernikahan kami karena publikasi itu bukanlah hal penting". Jawab Nino lagi dan Maya sama seka tidak membantahnya entah karena dia memang butuh perlindungan atau hanya ingin agar Marvin tidak lagi menanyakan hal aneh tentangnya, namun Nino merasa sangat baha karena Maya tidak menyangkalnya.
"Menyembunyikan pernikahan yang mana?, pertama kakak lalu suami kemudian apalagi Amaya, akan kau sebut apa diriku ini hah?. Hubungan seperti apa yang sedang kalian semua rekayasa dihadapanku, tapi apapun itu akan aku pastikan jika aku akan membuat kalian semua menyesalinya". Batin Marvin dengan rahang mengeras, aneh memang rasanya karena dialah yang meninggalkan Maya begitu saja waktu itu namun dia juga tidak terima dengan kehadiran pria-pria yang mencoba melindungi Maya.
Makan malam itu tetap berlanjut dengan sebagaimana mestinya tidak ada suasana canggung karena hanya Maya saja yang merasa aneh dengan situasi ini sedangkan Marvin sangat menikmati bisa membuat Maya salah tingkah dan seperti orang yang ketakutan.
Marvin tidak pernah melepaskan pandangannya dari Maya sehingga membuat Maya semakin gugup saja dan ingin segera menyelesaikan makan malamnya dengan cepat agar bisa segera kembali kekamarnya.
"Shiit kenapa dia kelihatan semakin cantik saja saat hamil begini". Marvin mengusap kasar wajahnya karena fantasi lianya tidak mau berhenti berputar-putar di dalam otaknya bahkan tonkat saktinya seketika mengeras hanya karena melihat Maya. Namun melihat Maya yang lahap memakan makanannya membuat Marvin menepis pikirannya tadi.
__ADS_1
"Kau kelihatan sangat bahagia dan baik-baik saja Amaya, aku bahkan sempat merasa bersalah karena telah meninggalkanmu begitu saja tapi ternyata kau sangat menikmati hidupmu, disatu sisi kau punya kakak yang sangat menyayangimu dan disisi lain ada pria yang mengaku sebagai suamimu dan rela melakukan apapun untukmu, lalu anak siapa sebenarnya yang ada di kandunganmu itu, tuan Haikal atau tuan Nino, atau bahkan mungkin pria lain lagi, haha, sebenarnya berapa banyak pria yang sudah kau tiduri setelah kau tidur denganku". Gumam Marvin dalam hatinya karena pikiran buntu setiap kali menyadari Maya sedang mengandung.
Benar saja disaat yang lain masih sibuk dengan piring dan sendoknya Maya justru sudah siap dengan itu semua, dia makan tanpa bisa menikmati setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya dan dia juga tidak peduli dia akan memuntahkan itu semua nantinya atau tidak yang penting makanan didalam piringnya habis dan dia bisa segera bisa kembali kekamarnya.
"Emmh aku selesai, aku merasa tidak enak badan bolehkah aku kembali kekamarku sekarang?". Tanya Maya kepada Anin dan Haikal berharap mereka mengatakan ya.
"Apa perlu aku panggilkan dokter?". Nino justru kembali bertanya dengan raut wajah khawatir.
"Ti-tidak perlu, aku hanya butuh istirahat saja".
"May, jika ada sesuatu yang kamu rasakan katakan pada saja, lebih baik kita panggil dokter biar dokter memeriksa keadaanmu". Haikal juga tak kalah khawatir dari Nino.
Mendengarkan kekhawatiran para pria itu bukan hanya membuat hati Marvin yang panas tapi juga telinganya ikut panas. Namun ada hal aneh menurutnya yang terjadi disana yaitu sikap Anin yang terlihat biasa saja saat suaminya memberi perhatian lebih kepada Maya, dia saja yang bukan siapa-siapa Maya merasa risih lalu mengapa Anin yang jelas istri sah Haikal terlihat sangat santai.
"Aku baik-baik saja kak, tidak ada yang serius, aku hanya ingin istirahat saja". Kilah Maya sebisa mungkin ingin lepas dari keadaan itu dengan cepat.
"Baiklah kalau begitu, istirahatlah". Titah Haikal. Maya dengan cepat menganggukkan kepala dan langsung mengambil ancang-ancang untuk pergi.
"Apa perlu aku mengantarkanmu kekamar?". Nino kembali bertanya.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri habiskan saja makananmu". Jawab Maya dan Nino hanya pasrah menyetujuinya.
__ADS_1
Setelah makan malam selesai Haikal juga menjamu tamu istimewanya itu dengan minum teh di taman bekalang rumahnya yang di dekor khusus untuk temat bersantai. Tentu Marvin tidak menolaknya karena dia tengah memikirkan cara agar bisa mengelinap kekamar Maya karena demi apapun dia tidak sanggup untuk tidak menyapa Maya lebih dekat.
Keempat pria itu yaitu, Nino, Haikal, Marvin dan Jack bersantai sambil menikmati teh dan membicarakan masalah bisnis mereka, ralat hanya tiga diantara mereka yang menikmati kareana nyatanya Marvin justru diaibukkan dengan pikirannya sendiri, sedangkan Anin sudah terlebih dulu kembali kekamarnya karena Haikal melarang keras istrinya yang tengah mengandung itu bergadang.
"Aku ingin ke kamar kecil, kalian lanjutkan saja dulu". Akhirnya setelah sekian lama mencari cara maka Marvin menemukan cara yang menurutnya paling ampuh untuk bisa kekamar Maya, dia juga sudah tahu yang mana kamar Maya karena sejak ada Maya dihadapannya tadi maka arah bola matanya hanya tertuju kepada Maya saja sampai gadis itu menghilang dibalik pintu kamarnya.
"Mari aku antar tuan Marvin". Jawab Haikal di takut jika tamunya itu akan kesulitan mencari kamar kecil.
"Tidak perlu, aku bisa bertanya kepada para pelayan di dalam nanti".
"Oh, baiklah jika begitu".
Setelah mendapatkan kesempatan maka secepat kilat Marvin melangkahkan kakinya menuju kamar Maya tanpa peduli ada orang yang melihatnya atau tidak.
Tok, tok, tok....
Suara pintu kamar membuat Maya tersadar dari lamunannya tentang segala hal tentang Marvin. Dia perlahan menuju pintu dan membukakannya.
Ceklek....
Dari balik pintu menampilkan sosok yang sangat membuat Maya terkejut, air mata langsung memenuhi kedua mata lentiknya dan membuat dadanya sesak seketika. Kakinya bergetar dan irama jantungnya tidak bisa dikendalikan. Sosok itu tersenyum licik kearahnya, ingin dia berteriak namun mulutnya seolah terkunci rapat sehingga menelan salivanya saja sudah tidak bisa lagi.
__ADS_1
"Marvin". Gumamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...