
Maya yang dulu telah mati tinggallah Maya yang sekarang dengan banyak tipu muslihat dengan segala rencana buruk dan dendam yang tidak berkesudahan terhadap Anin dan juga Haikal.
Mengatasnamakan cinta Maya bertindak sesuka hatinya tanpa memperdulikan perasaan orang lain, jika dilihat dengan kasat mata maka orang akan melihatnya dengan pandangan obsesi karena cinta namun siapa sangka jika sebenarnya tidak ada lagi rasa apapun dihatinya saat ini selain hanya ingin berbagi penderitaan dengan orang lain terutama Anin.
Setelah kejadian malam penjebakan yang dilakukan oleh Maya terhadap Haikal, Maya memang sengaja membuat Haikal merasa bersalah setengah mati dengan tidak menuntut apapun atau menghubungi Haikal untuk meminta pertanggungjawabannya namun ternyata Maya terus memantau hari-hari yang di jalani pria yang pernah membuatnya hampir kehilangan kewarasannya tersebut.
Wajah murung dan tidak ada senyum bahagia lagi di wajah Haikal sangatlah mmbuat dirinya puas. Mungkin bagi orang yang mengetahui kepribadian ganda yang dilakoni oleh Maya akan beranggapan jika gadis itu benar-benar sudah tidak waras.
"Akhirnya aku tidak menderita sendirian lagi sekarang". Batin Maya yang memantau keadaan Haikal dari kejauhan kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Haikal.
Sehari, seminggu dan sebulan sudah setelah kejadian itu hubungan Haikal yang sedang hangat-hangatnya kembali terasa dingin ketika Haikal selalu mencoba mnghindari Anin bahkan untuk menyentuh istrinya Haikal merasa tidak pantas sehingga dia menyibukkan dirinya dengan berbagai macam pekerjaan bahkan dia sering berpergian ke luar kota.
Anin sama sekali tidak menaruh curiga kepada sang suami karena baginya Haikal melakukan hal tersebut semata-mata untuk membantunya agar tidak kelelahan, bahkan dia merasa sangat beruntung dicintai oleh pria yang bahkan tidak membiarkannya bekerja terlalu keras.
Maka disinilah dia saat ini, diruang utama rumah mewah milik Anin membawa foto beserta hasil tes pack yang sudah dia siapkan secara matang dan sempurna pikirnya. Maya sengaja bertamu dimalam hari agar semua penghuni rumah berada dirumah jadi dia bisa menikmati wajah sedih mereka semua.
"Selamat malam". Ujar sambil tersenyum semanis mungkin kearah Haikal, namun dibalas dengan wajah pucat Haikal yang tidak menyangka jika tamu dimalam hari tersebut adalah Maya. Maya saat ini dia berada diruang tamu rumah mewah milik Anin.
DEG, DEG, DEG...
Ya, wajah pucat dan irama jantung yang tidak beraturan itulah yang sangat di nikmati oleh Maya. "It's show time". Batinnya puas dengan segala rencananya.
Haikal dapat membaca situasi bahwa Maya datang kemari untuk membawa masalah. Dia salah berpikir jika Maya sudah melepaskannya dengan tidak pernah menerornya selama ini namun kenyataannya wanita tersebut sekarang berada dirumahnya.
Haikal terus menghalangi Maya untuk tudak berbicara apapun kepada Anin, karena dia memang berniat membicarakan itu semua kepada sang istri namun dia belum menemukan waktu yang tepat.
__ADS_1
Anin yang terus menurus menanyakan maksud kedatangan Maya ke rumah dimalam hari itu, di awal kemunculannya saja Anin sudah bisa membaca situasi yang tidak beres. Tidak mungkin wanita itu bertamu jika tidak ada hal yang sangat penting untuk disampaikan dan betul saja tebakan Anin ada benarnya.
"Aku hamil dan suamimu adalah ayah dari bayi yang aku kandung". Ucap Maya santai.
DEG, DEG. DEG....
"Maya itu belum tentu anakku, kamu tidak mungkin hamil hanya karena sekali kita melakukannya". Tanpa Haikal sadari dia mengucapkan kalimat yang membuat jantung Anin berdetak tak karuan.
DEG, DEG. DEG....
Anin seperti tidak bisa bernapas ketika suaminya sendiri yang tanpa mengakui jika memang terjadi hubunga terlarang antara dirinya dan juga Maya.
Marah dengan kalimat yang keluar dari mulut Haikal, Maya membuka tasnya dan melempar beberapa foto kebersamaan mereka di malam terlarang itu kemudian sebuah tespack bergaris 2 yang menandakan jika hasil dari yang melakukan tes urine dengan tespack tersebut memang hamil.
Setelah membuat kekacauan dirumah mewah itu Maya melenggang bebas tanpa beban sedikit pun. Baginya cukup untuk hari ini dia bermain-main dengan Anin dan juga Haikal untuk selanjutnya dia hanya tinggal menunggu hasil kerja liciknya itu.
Kabar kepergian Haikal dari rumah Anin membuat Maya semakin bahagia saja, ditengah kesusahan yang dia lewati sendirian akibat kehamilannya yang sangat sensitif kabar itu seolah menjadi sebuah hiburan tersendiri.
Bahkan Haikal saat ini mengajaknya untuk berkompromi perihal kehamilan Maya. Janji Haikal akan bertanggung atas kehamilannya membuat Maya bahagia bukan main bahkan dia lupa jika awal rencananya hanyalah untuk bermain-main saja, justru sekarang dia berharap jika Haikal benar akan bertanggung jawab sehingga bayi tidak perlu lahir tanpa seorang ayah sehingga dia lupa jika tidak ada kebohongan yang akan abadi, setiap kebohongan pasti akan terbongkar pada waktunya.
Nino yang mengetahui segala permasalahan yang terjadi tidak terima dengan tuduhan Maya kepada sahabatnya bukan karena dia tidak terima jika wanita yang ada tempat spesial dihatinya itu memiliki anak dari sahabatnya sendiri namun dia sangat yakin jika Haikal bukanlah tipe pria yang bisa mengkhianati pernikahannya apalagi Haikal sangat mencintai Anin.
"Katakan kenapa kamu melakukan ini semua, hah?". Nino bertanya kepada Maya dengan nada suara mengancam dan menggenggam lengan Maya dengan keras.
"Lepaskan aku". Maya berusaha menarik lengannya namun sia-sia belaka karena Nino terlihat sangat emosi dengan tenaga yang cukup kuat dia mencengkram lengan Maya.
__ADS_1
"Katakan siapa ayah dari bayi itu?". Tanya Nino lagi tidak peduli reaksi Maya yang ingin lengannya dilepaskan.
"Bukan urusanmu dan berhenti mencampuri urusanku". Sentak Maya.
"Jika berurusan dengan Haikal maka itu juga urusanku. Aku sangat mengenal Haikal dia tidak mungkin mengkhianati Anin".
"Hahaha, apanya yang tidak mungkin buktinya aku hamil sekarang ini, lepaskan aku kamu menyakitiku". Ringis Maya dan seketika Nino melepaskan genggamannya ketika menyadari dia telah menyakiti Maya.
"Maafkan aku, May, aku mohon jangan lakukan ini Haikal dan Anin saling mencintai".
"Aku todak peduli, aku hanya peduli tentang ayah dari anakku".
"Biarkan aku saja yang menjadi ayah dari anakmu, aku akan menikahimu dan menganggap anak itu sebagai anakku sendiri". Ucap Nino, kedua tangannya memegang kedua pipi Maya agar dia bisa menatap mata Maya dan agar Maya tahu jika dia bersungguh-sungguh.
Benar saja Maya mencoba mencari kebohongan di mata Nino tapi dia tidak menemukannya, ada rasa yang sulit diartikan olehnya melihat Nino yang selama ini tidak pernah berbicara serius mendadak menjadi serius begini.
Sesaat Maya hanyut dalam tatapan Nino dan seolah ingin menerima uluran tangan Nino namun kemudian dia sadad jika Nino tidak melakukan kesalahan apapun dihidupnya dan tidak pantas bagi Nino bertanggung jawab atas semua kesahalan yang dia lakukan.
"Jangan giila, aku tidak sudi menikah dengan pria yang tidak aku cintai". Jawab Maya seketus mungkin sambil menepis kasar tangan Nino agar Nino tidak berharap lagi kepadanya, bohong jika Maya tidak mengetahui perasaan Nino yang sebenarnya, dia hanya tidak mau tahu saja karena merasa sangat tidak pantas untuk pria tamapn itu.
"Aku mencintaimu May, hiduplah denganku hanya dengan cintaku saja tidak perlu kamu membalas cintaku". Maya terus melangkah meskipun Nino terus memohon, air matanya jatuh tanpa dia sadari jika saja waktu bisa diputarnya kembli mungkin dia akan lebih peka terhadap perasaan Nino dan tidak membuang waktu untuk obsesinya memiliki Haikal.
"May, aku mohon tidak adakah tempat sedikit saja bagiku dihatimu". Teriak Nino lagi, saat ini pria itu sudah terjatuh dilantai, namun Maya tetap tidak bergeming sama sekali dia meninggalkan Nino sendiri dengan kesedihannya yang mendalam.
"Wanita sepertiku sama sekali tidak pantas untukmu Nino". Batin Maya.
__ADS_1