
Setelah kejadian di pinggir pantai dimana Nino melihat Shely dari kejauhan itu, Nino menjadi tidak bersemangat melakukan kegiatan apapun termasuk mencari informasi tentang Marqin sekalipun.
Dia sudah kehilangan semangatnya bahkan berniat kembali ke Jakarta karena bayang-bayang Shely terus menghantuinya dan membuat tingkat kewarasannya semakin memburuk bahkan dia juga sudah memesan tiket pesawat untuk keberangkatannya nanti malam.
Namun sebelum dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta dia memilih untuk melepas penatnya dengan berkeliling tanpa arah dan tujuan karena jika dia tetap berada di rumah tanpa aktivitas amak pikirannya selalu tertuju pada Shely sang istri.
Nino juga sudah tidak peduli dengan penampilannya, dia sudah tidak melakukan penyamaran apapun baik itu menggunakan jaket dan topinya lagi karena dia sudah tidak peduli lagi tentang Marqin, baginya apapun alasan Marqin yang seolah menghindari dirinya itu sudah tidak penting lagi.
Ketika memasuki sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar hanya untuk sekadar berkeliling, Lagi-lagi dari kejauhan Nino melihat wajah seorang wanita yang mirip dengan Shely istrinya namun kali ini Nino mengacuhkannya karena yakin jika yang di lihatnya itu hanyalah sebuah ilusi belaka.
Wanita yang menurut Nino mirip dengan Shely itu terlihat sangat anggun, cantik dengan riasan makeup tipis diwajahnya serta modis dengan pakaian bermerek yang melekat di tubuhnya, tentu saja Nino sangat meragukan jika itu Shely, pasalnya Shely tidaklah berpenampilan seperti itu karena Shely sosok wanita yang sangat sederhana.
Meskipun Nino mengacuhkannya namun mata Nino tidak bisa lepas dari gerak gerik wanita itu dan anehnya ilusi yang di kira sebagai halusinasinya itu semakin nyata saja sehingga dia sadar jika wanita itu nyata adanya terbukti dengan interaksi wanita itu dengan pelayan di pusat perbelanjaan tersebut.
Nino membuka kacamata hitam yang di pakainya kemudian mengusap matanya beberapa kali dan benar saja dia melihat sang pelayan itu memang sedang berbincang dengan wanita yang sangat mirip dengan Shely tersebut.
"Ini bukan halusinasiku, ini nyata adanya. Shely?, benarkah itu kau?". Tanya Nino antusiasme.
Nino berlari dalam keramaian mengejar Shely, dia bahkan tidak peduli ketika sampai beberapa kali menabrak orang-orang yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Nino melihat Shely menuju arah lift sehingga dia mempercepat langkahnya agar tidak kehilangan jejak Shely lagi. Namun naasnya Nino tetap kalah cepat dengan pintu lift yang sudah terlebih dahulu tertutup.
Sambil menggerutu kesal, Nino sampai menendang pintu lift dengan sangat kuat. Dalam keadaan kesalnya itu Nino tidak kehabisan akal, dia kemudian menuju tangga darurat setelah memastikan jika lift yang di naikin Shely menuju ke lantai berapa.
Dengan semangat buang menggebu dan tanpa mengenal rasa lelah Nino menaiki tangga darurat itu sampai ke lantai tiga di mana Shely memang sedang menuju kesana untuk melihat sang buah hati yang sedang bermain di area bermain khusus untuk anak-anak.
__ADS_1
Begitu pintu lift terbuka Shely melangkahkan kakinya tanpa beban karena dia memang tidak tahu jika sejak tadi ada Nino yang sedang mengejar langkahnya dengan susah payah. Sedangkan Nino baru saja tiba di lantai tiga dengan napas yang terengah-engah dan mencari keberadaan Shely di sekelilingnya sampai pada akhirnya dia melihat kembali sosok Shely.
Dengan sisa tenaga yang Nino miliki, pria itu kembali menuju Shely dengan kecepatan penuh dan menangkap tangan Shely dengan sigap.
"Shely". Seru Nino dan Shely yang di pegang tangannya itu berbalik menatap Nino.
Deg, deg, deg....
Entah berapa lama kedua insan yang sudah terpisah sangat lama itu saling menatap dengan tatapan yang sulit di artikan. Ada kerinduan yang terpancar jelas di mata keduanya bahkan Shely sampai menitikkan air matanya ketika untuk pertama kalinya stelah lima tahun berpisah akhirnya dia bisa kembali melihat suaminya secara langsung.
Nino takjub melihat sangat istri yang terlihat sangat cantik dan anggun itu bahkan bisa dikatakan jika Shely hidup dengan gaya hidup yang sangat berkecukupan lain dengan perkiraannya selama ini jika Shely akan hidup dalam kesusahan setelah meninggalkannya tanpa membawa aset apapun fan juga uang sedikitpun. Setidaknya hal itu sedikit mengobati rasa bersalah dan khawatirnya selama ini tentang kehidupan Shely dan keluarganya tanpa dirinya.
" Shel, ini benar kamu?". Tanya Nino setelah sekian lama mereka saling menatap.
Setelah melihat Shely merespon pertanyaannya, tanpa pikir panjang Nino langsung menarik Shely kedalam pelukannya. Dia tidak peduli orang-orang akan menilainya dengan penilaian seperti apa yang pasti dia sangat merindukan sangat istri, dia juga tidak peduli tentang apa yang akan Shely pikir tentang pelukan itu.
Pelukan hangat dan sangat erat itu seolah menjadi pengobatan rindu yang selama ini memuncak di hati Nino. Shely juga tidak dapat menolaknya, karena jujur dia juga sangat merindukan suaminya itu. Mereka saling berpelukan di tengah keramaian bahkan sesekali orang-orang yang melihat mereka saling berbisik fan menatap aneh kepada keduanya.
Sampai ketika seseorang menarik tangan Shely dengan paksa dan memanggilnya.
"Mama". Seru Sheno yang ternyata sejam tadi sudah memanggil mamanya dari kejauhan namun di acuhkan oleh Shely begitu saja.
Karena terkejut Shely mendorong tubuh Nino sehingga pelukan itu terlepas namun tangan mereka masih saling bertaut kemudian dia melihat Sheno yang sudah berdiri di antara mereka. Bukannya menjawab panggilan Sheno, Shely malah menatap kearah Nino dengan tatapan yang terlihat gusar, pasalnya Nino selama ini tidak pernah tahu akan keberadaan Sheno.
__ADS_1
Nino juga menatap Shely dengan tatapan penuh tanya seolah dia ingin Shely menjelaskan kenapa bocah yang dia kenal sebagai putra Marqin itu memanggilnya dengan sebutan Mama. Dia juga ingin memastikan jika dia tidak salah mendengar panggilan yang bocah itu sematkan kepada sang istri.
"Mama, Sheno lelah sejak tadi memanggil mama tapi mama tidak menjawabnya". Gerutu Sheno.
Deg....
Nino langsung melepaskan tautan tangannya dengan Shely ketika dia memastikan jika dia tidak salah dengar dengan panggilan mama dari mulut mungil Sheno. Nino bahkan tanpa sadar sampai mundur beberapa langkah karena apa yang di dengarnya saat itu sangatlah tidak dapat di terima oleh akal sehatnya.
"Siapa dia?". Tanya Nino pada Shely.
"Uncle, ini aku Sheno, uncle ingatkan, kita bertemu di pesta bersama daddy ku. Oh ya, mama kenal uncle Nino juga ya? ". Tanya polos Sheno kepada Shely.
Mendengarkan penjelasan Sheno tentang pertemuan dengan Nino dia jadi ingat jika Sheno memang pernah ke pesta bersama Marqin tanpa dirinya namun dia tak menyangka jika Sheno sudah kenal dengan ayah kandungnya terlebih dahulu sebelum dia mengenalkan mereka satu sama lain. Dia juga tidak heran kenapa Marqin tidak pernah membahas akan pertemuan itu karena Marqin memang tidak kenal dengan sosok suaminya itu.
"Shen, uncle ini teman mama, ayo kita pulang". Potong Shely singkat kemudian menggendong Sheno untuk segera meninggalkan Nino karena dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan tentang Sheno kepada suaminya.
Nino yang sudah tidak bisa lemah dan tidak bisa berkata-kata lagi hanya bisa menatap Shely pergi tanpa bisa mencegahnya.
"Tega-teganya kamu mengkhianatiku dengan pria itu bahkan kalian sampai memiliki anak". Gumamnya penuh amarah sambil meremas tangannya.
Nino tidak dapat menyangkal jika Sheno memang putra istrinya Shely karena sejak awal dia melihat bocah itu dia memang sudah merasa jika bocah itu mirip dengan Shely terutama di bagian matanya. Namun dia juga tidak menyangka jika Shely memiliki anak dengan pria lain di saat status mereka masih sah sebagai suami istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1