
Entah berapa lama Shely berasa di kamar mandi namun ketika keluar dia sangat terkejut karena melihat sang suami sudah berada di ranjangnya bersama Sheno dan tersenyum manis kepadanya namun ada hal yang membuat pandangan matanya sedikit terganggu yaitu Nino yang tidur dengan bertelanjang dada dan menampakkan tubuh yang cukup menggoda iman Shely.
"Ma-mas, kamu sudah disini?". Tanya Shely tentu saja tanpa menatap kearah Nino secara langsung, dia mencoba mencairkan hawa panas di sekitar kamar tersebut.
"Sepertinya kamu mengikuti saranku untuk bersih-bersih makanya kamu lama sekali di kamar mandi tapi kenapa bajunya seperti itu?". Tanya Nino, lagi-lagi dia masih berusaha menggoda istrinya karena dia ingin melihat sejauh mana benteng pertahanan Shely terhadapnya.
"Mas, berhenti menggodaku karena disini kita tidak sedang berdua saja dan pakai baju mu". Sentak Shely geram. Shely memang sangat tahu jika suaminya itu memang selalu tidur dalam keadaan tidak memakai baju namun situasi saat ini berbeda dimana dirinya dan Nino sedang tidak baik-baik saja jadi bagaimana mungkin pria itu melakukan rutinitasnya tanpa berpikir tentang perasaan dan keadaan Shely, sehinggaembuat wanita itu cukup geram.
"Jadi kamu ingin berduaan saja denganku heem, kalah begitu ayo ke kamar sebelah karena Sheno juga sudah tertidur pulas jadi tidak masalah jika kita tinggalkan sebentar saja". Ajak Nino masih dengan suara dan mimik wajah yang dia buat semenggoda mungkin. Benar saja, ketika Shely melihat kearah putranya ternyata memang Sheno sudah tidur dengan pulas, dia bahkan sempat berpikir bagaimana bocah itu bisa tidur begitu cepat atau justru dirinyalah yang berada di kamar mandi terlalu lama.
"Mas". Seru Shely dan secepat kilat Nino turun dari tempat tidur dan mendekati Shely.
"Jangan berteriak sayang karena aku disini". Bisik Nino ke telinga Shely. "Aku sangat merindukanmu". Sambungnya lagi dengan suara lirih khas orang yang sedang menahan sesuatu yang sudah teramat lama dan Shely sangat mengetahui akan hal itu.
Nino mulai menarik kedua tangan dan meletakkan di dadanya. Tidak ada jarak di antara kedua tubuh yang saling merindukan itu, Nino bisa merasakan hangatnya napas Shely di sekitar lehernya dan Shely juga bisa merasakan hangatnya napas Nino di keningnya apalagi ketika Nino mengecup keningnya dengan sangat lama.
Deg, deg, deg....
Irama jantung kedua sejoli itu saling berpacu tak karuan bahkan Shely bisa merasakan detak jantung suaminya yang berpacu dua kali lebih cepat itu.
"Ma-mas". Panggil Shely terbata dengan suara yang jauh lebih pelan dari tadi.
Namun Nino tidak menggubris panggilan dari istrinya dia terus menyentuh Shely menggunakan bibirnya di mulai dari kening kedua mata indahnya dan turun ke hidung mancung sang istri.
"Ma-mas". Panggil Shely lagi saat Nino menatap bibir Shely dan siap menyantapnya.
__ADS_1
Nino mendekatkan wajahnya ke wajah Shely, tentu saja bibir ranum milik istrinya itu menjadi sasaran Nino selanjutnya namun secepat kilat Shely membekap bibir Nino dengan tangannya dan memalingkan pandangannya.
"Aku mau tidur mas". Ujar Shely lirih kemudian langsung pergi meninggalkan Nino dan tidur di samping anaknya.
Melihat berapa kokohnya dinding pertahanan yang di bangun Shely terhadapnya tentu membuat Nino sangat kecewa, rupanya lima tahun perpisahan mereka cukup mampu membuat Shely yang dulu sangat mudah di taklukkan menjadi sangat kuat dan tidak tergoyahkan.
Nino menatap sendu wajah istrinya yang pura-pura tidur dengan memejamkan matanya. Dia kemudian menyusul Shely dan tidur bertiga di atas ranjang yang sama, Nino tidak akan menyerah begitu saja dengan keadaan ini karena bagaimanapun luka yang dia berikan bukanlah luka kecil yang dengan mudahnya bisa Shely sembuhkan.
Ada kesedihan yang mendalam ketika Nino terus menatap wajah Shely dan putranya, hal yang harusnya sudah dia lakukan jauh-jauh namun dia baru punya kesempatan saat ini dan itu semua akibat kebodohannya sendiri.
Tidak di pungkiri jika Maya juga turut andil dalam perpisahannya dengan Shely namun jika saja dia tidak bersikap buruk dan berkata kasar kepada sang istri sudah tentu tidak mungkin Shely akan pergi dari rumah dan meninggalkannya begitu saja.
Entah sejak kapan baik Nino dan Shely tertidur malam itu karena mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing tapi ketikan pagi menyapa keduanya terbangun karena kecupan manis dari sang putra dan mengucapkan selamat pagi kepada mereka berdua.
"Selamat pagi papa, selamat pagi mama". Ujar Sheno kegirangan karena keinginannya untuk tidur bersama kedua orang tuanya terpenuhi.
Nino tersenyum bahagia karena akhirnya dia bisa merasakan hangat sebuah keluarga yang selama ini sejak lama sudah dia impikan itu.
"Ternyata sebahagia ini rasanya punya keluarga kecil, ketika bangun di pagi hari aku bisa menatap wajah malaikat kecilku dan wanita yang paling cantik di dunia ini yaitu istriku, aku berjanji aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dan akan mendapatkan lagi hatimu Shel". Batin Nino dengan senyum yang menghiasi wajahnya, pandangannya tidak pernah lepas dari sang istri bahkan sampai membuat Shely sampai salah tingkah.
"Apa rambutku berantakan ata wajahku aneh ya?". Tanya Shely kepada dirinya sendiri sambil menyisir-nyisir rambutnya dengan jari tangannya, melihat Nino terus menatapnya sambil tersenyum.
"Tidak ada yang aneh, kamu cantik, istriku memang wanita yang sangat cantik bahkan saat baru terbangun dari tidur kamu tetap cantik". Ujar Nino.
Shely tidak menggubris perkataan Nino dia memilih pergi ke kamar mandi karena tidak ingin semakin terlihat salah tingkah di hadapan sang suami.
__ADS_1
Pagi itu mereka habiskan layaknya sebuah keluarga yang harmonis, mereka sarapan dan bercanda bersama karena jika di hadapan Sheno, Shely dan Nino sebisa mungkin menepis masalah yang ada di antara mereka karena tidak ingin melihat putra mereka satu-satunya itu merasa sedih.
Sampai akhirnya Shely sudah bersiap dengan baju formalnya karena ternyata hari ini ada jadwal meeting yang harus di hadiri bersama Marqin namun Nino sama sekali tidak tahu akan hal itu karena selama ini dia berpikir jika Shely ke Dubai hanya untuk liburan dan menghindari dirinya.
"Kamu mau kemana?". Tanya Nino bingung melihat penampilan istrinya yang sangat cantik dan anggun dalam balutan pakaian formal sangat berbeda dengan Shely yang dia kenal dulu. Shely memang sejak dulu sangat cantik namun sekarang penampilan dan gaya hidupnya lebih berkelas sehingga hal itu membuat hati Nino seperti di cubit karena Shely cantik dan berkelas setelah berpisah dengannya.
"Hari ini aku ada meeting mas, kamu bisa kan jaga Sheno sebentar, Shen kamu ikut papa dulu ya karena mama ada pekerjaan". Ujar Shely dan Sheno langsung menganggukkan kepalanya.
"Meeting?".
"Iya mas karena aku kesini memang karena urusan pekerjaan".
"Tapi apa perlu kamu berdandan secantik itu?".
"Maksud kamu?, apa ada yang aneh dengan penampilanku?".
"Sangat aneh, Shel, pria yang melihat kamu berdandan secantik ini pasti akan tergoda melihatmu dan aku tidak mau itu terjadi, kamu ini istriku dan hanya akau yang boleh melihat kecantikanmu". Sentak Nino namun yang dia ucapkan itu ternyata hanyalah imajinasinya saja karena untuk mengatakan hal itu Nino sungguh tidak berani karena hubungannya dan Shely belum juga kunjung membaik.
"Mas, apa ada yang aneh dengan penampilanku?". Tanya Shely lagi.
"Ah, tidak ada, kalian meeting dimana?". Tanya Nino, tentu saja dia akan menyusul Shely secara diam-diam nantinya.
Setelah berpamitan dan mengatakan dimana lokasi dia akan melakukan pertemuan dengan kliennya, Shely melangkah pergi tentu saja bersama Marqin.
"Shiit, bukan hanya cantik dan anggun tapi parfum yang di gunakan Shely bahkan masih tercium sampai sekarang padahal dia sudah pergi, aku harus melakukan sesuatu". Umpat nino dalam hati membayangkan jika para pria di luar sana akan menatap istrinya dengan tatapan yang mematikan.
__ADS_1
Bersambung....