
"Tunggu, mau kemana kau?". Seru Marvin.
Dokter langsung menghentikan langkahnya dan berbalik arah menatap Marvin. "Ma-maafkan saya tuan saya hanya menjalankan tugas saya saja".
"Tugas katamu?, sekarang mendekatlah". Sentak Marvin. Dokter kemudian mendekat kearah Marvin. "Bagaimana kau menjalankan tugasmu sedangkan aku saja tidak tahu apa isi surat itu". Sambung Marvin lagi.
"A-apa?". Tanya dokter dan Jack bersamaan. Jack mengusap kasar wajahnya mengira jika Marvin marah akibat hasil pemeriksaan tersebut tidak sesuai dengan keinginannya namun yang terjadi adalah karena Marvin tidak mengerti isi surat tersebut.
"Aku ini pembisnis bukan dokter atau tenaga medis lainnya jadi aku mana bisa mengerti semua istilah-istilah yang tertulis disana, jika kau ingin aku tahu maka bacakan untukku". Seru Marvin.
"Ba-baik tuan saya akan menjelaskannya". Dokter kemudian membuka hasil pemeriksaan itu dan membacanya.
Dokter menjelaskan secara detail tentang keadaan Marvin yang sehat terutama segala hal yang menyangkut sistem reproduksinya dan Marvin siap untuk memiliki keturunan setelah menikah.
"Jadi rencana pernikahan anda tidak akan bermasalah tuan, tingkat kesuburan anda cukup baik". Tambah dokter lagi dengan senyum sumringah membawa kabar baik untuk Marvin karena Jack mengatakan jika tujuan dilakukannya tes terhadap Marvin adalah karena pria itu akan segera menikah.
Marvin mencerna setiap kata demi kata yang keluar dari mulut dokter dan kemudian dia menatap tajam kearah Jack, Jack yang di tatap seperti itu langsung menciut nyalinya namun dia sempat memberi kode agar dokter segera meninggalkan kamar Marvin agar dia lebih leluasa berbicara dengan tuannya.
"Tu-tuan, aku melakukan ini semua untuk kebaikan anda agar anda tahu yang sebenarnya terjadi". Jawab Jack terbata-bata.
"Apa yang terjadi sebenarnya?". Selidik Marvin, jujur dia masih belum percaya jika hasil pemeriksaan itu benar karena bisa saja Jack merekayasanya agar Marvin mau bertanggung jawab terhadap anak yang dikandung Maya, apalagi jika mengingat asistennya itu sempat mengatakan jika dia menyukai sosok Maya. "Apa kau mengatur segalanya Jack?". Tanya lagi.
"Tuan, buka mata anda, wanita itu sudah menipu anda selama ini". Jawab Jack sambil menunjukkan video rekaman yang didapatkan dari dokter yang memeriksa Marvin di Dubai dulu.
Deg, Deg, Deg....
__ADS_1
Rasanya tak percaya Marvin mendengar setiap pengakuan sang dokter yang mengakui dirinya hanya membuat laporan palsu terhadap Marvin karena dibayar mahal oleh Celina mantan istri Marvin.
Jika ditanya mengapa mereka belum punya anak setelah satu tahun menikah maka jawabannya dokter mengatakan jika Celina sengaja memasang alat kontrasepsi ditubuhnya untuk menunda kehamilan.
Seketika itu juga wajah Marvin memerah karena menahan amarah bahkan tanpa sadar dia membanting handphone milik Jack ke lantai hingga handphone hancur tak berbentuk namun Jack hanya bisa menerimanya saja tanpa bisa berkata apa-apa, toh dengan mudahnya dia akan segera mendapatkan handphone baru lagi dari Marvin.
"Bajiingan". Sentak Marvin dan langsung melepaskan selang infus yang masih berada ditangannya dengan kasar. Dia kemudian menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
"Tuan, anda mau kemana?". Tanya Jack yang melihat Marvin sudah bersiap untuk pergi tentu saja dengan setelan jas mahalnya.
"Kau mau ikut atau aku tinggalkan?".
Mendengar pertanyaan Marvin, Jack langsung mengejar langkah Marvin yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya. Marvin merogoh sakunya dan menelpon seseorang.
"Urus semuanya sekarang, aku ingin semua siap hari ini juga". Titahnya pada seseorang di seberang sana, meskipun Marvin tidak mengatakan secara detail apa yang dimaksud olehnya namun Jack bisa mengetahui dengan baik apa yang diperintahkan oleh tuannya itu.
Mobil yang dikendarai membelah keramaian kota dengan kecepatan diatas rata-rata, karena jika Jack membawa mobil dengan sedikit saja pelan maka Marvin akan menggerutu tidak karuan dan membuat telinga Jack sakit mendengarkannya.
Tujuan kedua pria itu tidak lain adalah kediaman Haikal dimana Maya berada saat ini namun saat mobil mereka hampir mencapai rumah Haikal Marvin justru melihat sebuah mobil mewah yang baru saja berhenti disana dan tidak lama kemudian Nino dan Maya turun dari mobil tersebut.
"Apa kamu senang hari ini?". Tanya Nino ketika keduanya berada dihalaman rumah Haikal.
Maya tidak menjawabnya namun hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum bahagia, jujur ini adalah senyum yang sangat dibenci Marvin karena ketika melihat wajahnya Maya justru seperti orang ketakutan dengan tatapan kebencian yang jelas terpancar dari matanya.
Rahang Marvin mengeras dengan kedua tangannya tergepal menahan emosi melihat pemandangan yang tidak ingin dilihatnya itu.
__ADS_1
"Beraninya dia tersenyum kepada pria lain saat ada anakku bersamanya". Ucapnya geram. "Semoga saja anakku tidak mendengarkan percakapan konyol mereka berdua".
Jack yang mendengarkan sumpah serapah Marvin itu dengan susah payah menahan tawanya, Bagaimana dengan percaya dirinya Marvin mengakui jika yang dikandung Maya adalah anaknya sedangkan waktu itu dia menyangkal habis-habisan bahkan sampai menyakiti wanita yang sempat dia kagumi.
Marvin masih memantau interaksi antara Nino dan Maya karena tidak ingin membuat keributan lagi di rumah Haikal terlebih dia saat ini sangat mengkhawatirkan kondisi kandungan Maya.
"Katakan padaku jika kamu membutuhkan dan menginginkan sesuatu". Sambung Nino lagi.
"Baiklah tuan Nino, terimakasih untuk hari ini aku masuk dulu ya". Jawab Maya dan ketika dia hendak melangkah menjauhi Nino, pria itu malah menahannya dengan menggenggam tangan Maya. "Ada apa lagi?". Tanya Maya bingung.
"Menikahlah denganku May, lamaranku untukmu masih berlaku sampai sekarang dan sampai kapanpun". Ucap Nino serius.
Deg....
Marvin yang mendengar hal itu langsung bereaksi, dia segera ingin melepaskan tangan keduanya dan membawa Maya jauh dari Nino. Namun Jack mencoba menahannya.
"Kenapa?, apa kau tidak dengar pria itu ingin menikah ibu dari anakku". Tanyanya kepada Jack dengan wajah tak terima.
"Tuan bersabarlah, tidakkah anda ingin mndengar apa yang akan nona Maya jawab?". Benar juga apa yang dikatakan Jack namun melihat apa yang sedang disajikan didepan matanya membuat logika Marvin tidak dapat bekerja dengan benar.
"Nino, jawabanku masih sama aku tidak bisa menikah denganmu". Jawab Maya mencoba sekuat mungkin untuk tidak menatap mata Nino.
"Kenapa?, apa karena kamu tidak mencintaiku?". Tanya Nino lagi.
"Ini resiko yang harus aku tanggung akibat kebodohanku sendiri dan kamu tidak perlu menanggungnya. Kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku".
__ADS_1
"Berbagailah denganku May, aku mencintaimu dan itu sudah cukup untuk kehidupan kita berdua". Nino membelai wajah Maya dan menatap matanya. "Dan juga untuknya kelak, aku akan mencintainya seperti anakku sendiri". Sambungnya lagi sambil mengelus perut Maya.
Bugh...