
Matahari bersinar cerah hari ini secerah wajah Marvin yang baru terbangun dari tidur setelah pertempuran panasnya bersama Maya. Marvin menatap wajah cantik Maya yang masih betah dalam alam mimpinya dengan senyuman yang merekah diwajah tampan itu.
Dia kemudian menyibak selimut karena ingin membersihkan diri dikamar mandi namun pemandangan yang membuat hatinya teriris membuatnya masih betah diatas kasur. Ya, bercak darah terlihat jelas di seprei berwarna putih itu.
Rasa khawatir menghinggapi Marvin, dia tampak berpikir keras apa yang akan dilakukan selanjutnya. Setelah sekian lama akhir Marvin bangkit dan menuju kamar mandi, dia melakukan ritual mandinya dengan cepat, entah bisikan setan dari mana yang merasuki isi kepalanya yang jelas Marvin berencana untuk menghindari Maya.
Setelah memakai pakaian lengkap masih dengan setelan jasnya tadi malam Marvin kembali menatap iba pada gadis yang mampu membangkitkan gairah pria yang telah sekian lama dia pendam. Ingin rasanya dia bertanggung jawab atas perbuatan namun alasan lain mendorongnya untuk segera meninggalkan tempat bersejarah bagi mereka berdua.
"Maafkan aku, aku bersalah dan aku hanya pria pengecut yang tidak berani bertanggung jawab". Bisik Marvin sembari mengecup kening untuk terakhir kalinya.
Marvin merogoh saku jasnya dan mengeluarkan selembar cek lalu menulis angka yang fantastis diatas cek tersebut.
"Ini memang bukan nilai yang pantas yang harus kuberikan untukmu tapi setidaknya aku ingin bertanggung jawab meskipun bukan dengan keberanianku meminta maaf padamu". Marvin kemudian meletakkan cek tersebut diatas nakas.
Sebelum meninggalkan Maya, Marvin sempat mengecek isi tas Maya untuk mengetahui nama gadis yang sudah memporak-porandakan isi hatinya itu. "Amaya". Gumamnya dengan napas berat dan kemudian meninggalkan Maya begitu saja yang masih setia dengan tidurnya.
Marvin bahkan tidak merasa aneh ketika gadis itu tidak merasa terganggu tidurnya meskipun Marvin beberapa kali mengelus pipi bahkan mengecup kening Maya dengan durasi yang lumayan lama. Dalam pikirannya Maya hanyalah kelelahan saja karena pertempuran panas mereka padahal sebenarnya Maya pingsan akibat ulahnya.
__ADS_1
Tinggallah Maya yang malang itu dengan kenyataan pahit yang tidak bisa dibayangkan olehnya telah menantinya didepan sana. Sedangkan Marvin melakukan aktivitas kembali seperti biasa tanpa merasa telah melakukan kesalahan meskipun hatinya dan pikirannya terus tertuju pada gadis yang semalaman berada dibawah kungkungannya itu.
"Anda baik-baik saja tuan?". Tanya sang asisten yang melihat Marvin banyak melamun bahkan saat rapat, hal yang sama sekali tidak biasa tuannya itu lakukan meskipun sedang punya masalah sebesar apapun.
"Emmh, ya, aku baik". Jawab Marvin singkat ketika sang asisten bertanya padanya. "Amaya". Batinnya lagi entah mengapa nama itu selalu berputar-putar diotak seorang Marvin Askari yang selalu dingin terhadap wanita.
Bahkan Marvin berencana menyuruh asistennya untuk mencari tahu segala hal tentang Maya namu di urungkan olehnya karena tidak ingin ada satu orangpun yang tahu tentang malam terlarangnya bersama Maya, lagi pula Marvin tidak ingin tahu banyak hal lagi tentang Maya dia takut hidupnya yang bebas akan terjerat oleh gadis belia itu.
Maya yang setia dalam tidurnya akhirnya terbangun ketika suara ponsel yang terus berbunyi mampu menganggu tidur panjangnya itu. Mata lentik itu bergerak sedikit demi sedikit berusaha untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya. Maya menelan salivanya dengan susah payah ketika menyadari bahwa kejadian tadi malam bukanlah mimpi buruk seperti harapannya.
Ya, kamar yang sangat asing baginya ini, kamar yang menjadi sejarah awal kehancuran dirinya. Air mata tergenang dimata lentiknya dan lolos begitu saja tanpa berkompromi terlebih dahulu. Ponsel yang terus berbunyi itu diabaikannya begitu saja seolah tidak terdengar oleh indera pendengarannya.
Maya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menangis histeris meratapi nasib malangnya, yang sialnya lagi tidak ada satu orang pun berada dikamar itu selain dirinya maka bisa dipastikan jika pria tidak bertanggung jawab itu telah meninggalkannya begitu saja.
"Tidak". Raung Maya histeris. "Dasar pria bajiingan, akan kubunuh kau". Teriaknya lagi tentu saja tidak ada satu orangpun yang mendengarkan umpatannya itu karena kamar VVIP itu dirancang dengan fasilitas yang kedap suara.
Setelah sekian lama Maya menangis, kemudian dia menghapus kasar sisa air mata yang ada dipipinya dan Maya bersumpah pada dirinya sendiri akan mencari pria yang tega memanfaatkan ketidakberdayaannya itu. Namun sumpahnya itu seperti harus dikubur dalam-dalam karena ketika hendak beranjak dari tempat tidur dia menemukan selembar cek diatas nakas lalu dia mengambilnya.
__ADS_1
"Satu milyar rupiah". Ujarnya dengan suara bergetar. Diluar dugaan Maya justru tertawa lepas setelah memegang cek tersebut ditangannya, tawa sampai membuat dirinya tak mampu berdiri lagi hingga dia terjatuh dilantai. Dengan emosi yang membara dia meremas kuat cek tersebut dan membuangnya ke sembarang arah.
"Bajiingan". Teriak Maya kemudian dia kembali larut dalam tangisannya. Maya sadar betul jika pria yang telah merenggut kesuciannya itu tentu bukan pria sembarangan apalagi dilihat dari kamar yang mereka tempati semalam dan cek dengan nilai fantastis itu, dia yakin pria itu adalah seseorang dengan pengaruh besar dan harta kekayaan yang melimpah.
Maka akan sia-sia jika Maya membuang waktu untuk mencari pria itu karena bisa dipastikan dia tidak akan pernah mau bertanggung jawab atau bahkan mungkin pria itu sudah menikah lalu apa yang harus dia cari pada pria seperti itu.
Jika pria itu pria yang memiliki pengaruh dan kekayaan maka Maya tidak takut akan hal itu karena dia juga bukan berasal dari keluarga sembarangan namun jika benar tebakan Maya pria itu telah menikah dan memiliki anak apa yang bisa diharapkan olehnya, dinikahi dan dijadikan istri simpanan tentu tidak mungkin itu terjadi karena Maya tidak akan pernah mau melakukan hal itu.
Dibawah deraian air shower yang terus membasahi tubuhnya Maya terus menangis sambil menggosok-gosokkan kulitnya yang penuh dengan bercak merah tanda kepemilikan yang ditinggalkan oleh Marvin, sebetapa hebatpun gosokan itu tetaplah sia-sia karen tanda merah itu tidak akan hilang begitu saja.
Maya sangat jijik menatap pantulan tubuhnya dicermin, dia merasa bagaikan wanita penghibur apalagi ditinggalkan begitu saja dengan selembar cek. Dia bahkan tidak mengetahui siapa nama pria jahat itu, dari mana asalnya dan mengapa dia tega melakukan hal tersebut kepadanya. Banyaknya pertanyaan didalam otaknya membuat kepala Maya terasa berdenyut hebat dia bahkan lupa jika belum makan apapun sejak tadi malam.
Selesai dengan mandi panjangnya Maya memakai baju yang dia pesan secara online tadi, dia tidak mungkin mengenakan baju minimnya semalam karena banyak tanda merah diseluruh tubuhnya pasti akan terlihat jelas, maka dia memesan baju yang sangat tertutup dengan lengan yang panjang dan celana panjang.
Maya kembali memungut cek yang tadi dibuangnya dan membuka kembali remasan cek tersebut. "Akan kujadikan ini sebagai bukti tanda penyesalanmu suatu saat nanti, kemanapun kau pergi aku pastikan kau akan kembali padaku dan mengemis meminta maaf". Ucapnya penuh penekanan.
•••••
__ADS_1
Hai, hai, siapa yang mau aku crazy up khusus untuk novel Maya ini, novel yang sedang panas-panasnya.
Biar tambah semangat coment dan like banyak-banyak kalau kalian mau yaa, aku bisa up 2 sampai 3 episode setiap harinya kalau kalian mendukungku 😘🤗