Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 66


__ADS_3

Selama berada di Turki bersama ibunya dan juga Marvin, Marqin terus mencari kesempatan untuk mendekati Maya dengan berbagai macam cara namun sayang dia selalu gagal karena selain Marvin, Jack juga selalu menjadi bayangan kemanapun wanita itu melangkah. Entah apa niat Marqin mendekati adik iparnya itu namun yang jelas dia sangat penasaran dengan sosok Maya.


Namun nasib baik ternyata berpihak kepada Marqin pria itu akhirnya bisa duduk dan bicara berdua saja dengan Maya dimana saat itu Marvin dan Jack sedang menghadiri sebuah pertemuan penting dengan klien mereka dari Dubai yng berkunjung ke Turki khusus untuk menemui Marvin.


Dan disinilah Marqin dan Maya saat ini, di restoran hotel yang mereka tempati dan berlatarkan balon udara dengan beragam warna yang sangat memanjakan setiap mata yang memandangnya.


"Sangat indah bukan?". Tanya Marqin yang melihat Maya tak berkedip saat menatap keindahan balon udara yang berterbangan itu.


"Sangat, tapi sayangnya Marvin tidak mengizinkaku untuk menaikinya". Jawab Maya datar sambil memanyunkan bibirnya. Balon udara itu adalah salah satu hal yang membuat pasangan suaminl istri itu sempat berdebat saat pertama kali mereka menginjakkan kaki mereka di Turki.


"Tentu saja dia akan melarangmu, bahkan jika dia sampai mengizinkannya maka aku atau mommy yang akan melarangmu".


"Hah, ternyata kalian sekeluarga memang bekerja sama untuk menentang keinginanku".


"Haha, bukan begitu tapi kami hanya tidak ingin kau dan bayimu dalam bahaya, kau tahu kami sangat bahagia saat tahu jika Marvin akan segera memiliki anak padahal awalnya kami sempat mengkhawatirkan keadaannya".


Maya terdiam mendengar ucapan Marqin, apalagi dia sempat berpikir jika apa yang diceritakan oleh suaminya semalam adalah benar jika Marqin yang merekayasa hasil pemeriksaan kesehatan Marvin.


Melihat Maya hanya diam dan tidak menanggapi ucapannya membuat Marqin tersenyum sinis. "Apa kau berpikir sama seperti yang Marvin pikirkan tentangku Amaya?". Tanya Marqin.


"Eemh, tidak, kau jangan berpikir yang tidak-tidak, hehe". Jawab Maya dengan senyum canggung.


"Kau tahu, kau itu penipu yang sangat payah. Amaya aku memang bersalah kepada suamimu tapi kesalahanku terjadi akibat dari kebodohannya sendiri".


"Ma-maksudmu?".


"Aku selalu benci saat Marvin selalu mengistimewakan Celina dan menganggap jika dunia ini hanya berputar di sekitaran Celina saja. Aku selalu berusaha membuka mata Marvin jika Celina bukanlah wanita yang setia namun Marvin selalu menganggap jika aku cemburu padanya hingga suatu hari aku menemukan ide untuk membuka mata Marvin dengan cara merayu Celina agar jatuh kedalam pelukanku dan hasilnya aku berhasil bahkan tanpa usaha yang berarti. Aku tidak ingin jika pria sebaik Marvin selalu di manfaatkan oleh cinta semu yang Celina berikan kepadanya". Jelas Marqin panjang lebar.

__ADS_1


"Bahkan sekarang mungkin dia juga sangat melarang dirimu untuk berdekatan denganku karena dia mengira aku juga akan merebutmu darinya, sungguh konyol bukan?". Tanya Marqin lagi sambil tersenyum sinis, namun apa yang dikatakan Marqin benar adanya sehingga Maya tidak tahu haris menjawab apa.


Maya terdiam, dia mencerna kata demi kata yang di katakan oleh Marqin tadi. Sekarang dia paham apa yang terjadi diantara kedua saudara kembar tersebut hanyalah sebuah kesalahpahaman yang tak berujung yang menyebabkan kedua menjauh hanya karena seorang wanita.


Maya menatap iba kepada Marqin yang terus mengoceh menjelaskan segala kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dengan saudara kembarnya Marvin sampai akhirnya Maya tahu jika akar permasalahan diantara keduanya adalah karena kurangnya komunikasi dan sikap saling egois yang sangat besar dari mereka sehingga Maya berniat untuk memperbaiki hubungan kedua saudara kembarnya itu.


"Ayo kita kembali kehotel". Suara tegas Marvin membuat Maya sangat terkejut dia tidak menyangka jika Marvin saat ini sudah berdiri tepat di sampingnya sambil merangkul bahunya.


"Ma-marvin, kau sudah pulang?". Tanya Maya gelagapan.


"Heem, ayo". Marvin langsung menuntun Maya untuk ikut dengannya tanpa peduli dengan kehadiran saudara kembarnya Marqin disana.


"Hati-hati Maya, semoga besok kita bisa berjumpa lagi". Ujar Marqin mengucapkan kata perpisahan kepada adik iparnya itu.


"Dia tidak ingin bertemu denganmu lagi jadi buang jauh-jauh keinginanmu untuk bertemu dengan istriku lagi". Jawab Marvin tegas kemudian langsung membawa Maya pergi dari sana.


"Bagaimana pertemuanmu dengan klien hari ini?". Tanya Maya berusaha mencairka suasana.


Hening tidak ada jawaban dari mulut Marvin, pria itu terus melanjutkan aktivitasnya berganti pakaian dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya tanpa mempedulikan Maya.


Maya hanya bisa menghela napas kasar melihat tingkah suaminya yang sangat kekanak-kanakan padahal usianya Marvin jaub lebih dewasa dari dirinya.


"Kalian lihat tingkah daddy kalian heem, dia sungguh seperti anak kecil saja". Ujar Maya yang akhirnya memilih berkomunikasi dengan perut buncitnya karena di acuhkan oleh Marvin.


"Marvin kita akan makan malam dimana malam ini?". Tanya Maya kembali mencoba mencairkan suasana melihat suaminya yang sibuk dengan laptop di pangkuannya tanpa mempedulikan dirinya sejak tadi sore.


"Marvin, aku lapar, perutku sakit pasti anak-anak kita juga sudah sangat kelaparan". Ujar Maya dengan nada memelas.

__ADS_1


Mendengarkan hal itu Marvin langsung saja menutup laptopnya dan mengahampiri Maya.


"Sayang kau lapar, dimana yang sakit apa perlu ku panggilkan dokter?". Tanya Marvin panik sambil memegang perut Maya.


"Emmh, kami sangat kelaparan tapi kau malah tidak mempedulikan kami sejak tadi". Jawab Maya.


"Baiklah aku minta maaf, ayo sekarang kita makan malam. kau mau makan apa?".


"Apa saja yang penting jangan diamkan aku lagi. jangan marah padaku apalagi pada Marqin".


"Amaya, berhenti membicarakan pria itu, aku tidak suka mendengarnya". Sentak Marvin.


"Sayang, kau membentakku". Ucap Maya memasang wajah sedihnya.


Marvin langsung memeluk Maya dan mengecup pucuk kepala wanita yang sangat di cintainya itu, dalam hatinya Marvin juga merasa bahagia karena untuk pertama kalinya dia akhirnya dapat mendengarkan Maya memanggilnya sayang.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu tapi kau juga tahu kan aku tidak suka jika kau membahas tentang dia Ucap Marvin lembut".


"Marvin, yang aku bahas saudara kakakmu sendiri, saudara kembarmu". Ucap Maya kemudian dia menuntun tangan Marvin untuk memegang perutnya. "Tidakkah kau bayangkan jika si kembar kita kelak melakukan hal yang sama seperti yang kau dan Marqin lakukan saat ini, mereka bermusuhan padahal mereka saudara kembar yang sejak dalam kandungan selalu berbagi suka dan duka?". Tanya Maya.


Seolah merespon apa yang di katakan oleh Maya, bayi dalam kandungannya itu menendang dengan sangat keras sehingga Marvin juga dapat merasakannya. Marvin tersenyum bahagia kemudian dia menunduk dan mengecup perut Maya.


"Tidak akan ku biarkan hal itu terjadi, kalian harus selalu bersama-sama dan salin mendukung satu sama lain ya sayang". Ucap Marvin kepada bayi-bayinya itu.


"Begitulah mommy yang selalu ingin menyatukan sepasang anak kembarnya yang saat ini mngalami kesalahpahaman Marvin, buang jauh-jauh rasa egoismu itu dan selesaikan apapun yang masih mengganjal di hatimu saat ini kepada Marqin". Ucap Maya yang membuat Marvin terdiam membayangkan wajah ibunya yang terus saja berusaha menyatukan dirinya dengan Marqin sejak dulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2