
Dua hari setelah tragedi memilukan itu Maya sudah kembali ke apartemennya, dia mengurung diri dan tidak pernah datang ke klub lagi. Maya yang drop akibat fisik dan mentalnya yang sangat kelelahan juga sempat dirawat di apartemennya dengan menyewa jasa dokter dan perawat secara khusus, hal itu dengan mudah bisa dilakukan oleh seorang Maya apalagi jika ada Joe bersamanya.
Joe, asisten pribadi keluarga Wijaya, pria yang sangat irit bicara itu tidak perlu diragukan kesetiaan dan pengabdiannya, bahkan Joe akan melakukan perintah Maya tanpa memberitahukan kepada Darmadi jika Maya melarangnya.
Maka yang tahu tentang keadaan Maya yang sedang drop hanyalah Joe seorang meskipun pria itu tidak tahu apa penyebab sang majikan sakit. Karena prinsip kerja Joe dia tidak akan bertanya dan tidak akan membantah selagi yang memerintahkan semua itu adalah Maya dan Darmadi.
Sementara itu disinilah Nino sekarang berada tepat didepan pintu apartemen wanita yang membuat hatinya gelisah beberapa hari ini bahkan sampai tidak bisa tidur.
Nino menekan bel apartemen tersebut berkali-kali namu tidak ada jawaban, rasa gusar dihatinya semakin menjadi-jadi saja karena sudah dua hari dia mencoba menghubungi Maya namu tidak kunjung di jawab oleh wanitanya itu. Namun bukan Nino namanya jika dia menyerah begitu saja, dia terus menekan bel itu sampai sang pemilik apartemen pun menyerah dan membukakan pintu.
Maya memang berencana tidak akan membukakan pintu karena dia sudah mengintipnya dan mengetahui jika Nino yang ada di balik pintu tersebut. Maya sangat ingin menghindar dari pria itu., namun karena Nino tidak menyerah juga maka Maya harus menemuinya beruntung saat ini infusan yang di pasang oleh dokter ditangannya sudah dicabut karena kondisi Maya yang sudah lumayan membaik.
Ceklek....
"Apa kamu baik-baik saja". Nino langsung menarik Maya dalam pelukannya ketika Maya tampak di balik pintu.
"Lepaskan aku". Maya mendorong dengan keras tubuh Nino agar menjauh darinya, sentuhan pria itu membuat dirinya sangat tidak nyaman entah karena trauma yang dia rasakan atau karena dia merasa tidak pantas untuk di khawatirkan oleh pria tersebut.
"May, aku sangat mengkhawatirkanmu kenapa tidak menjawab telpon dariku?". Meskipun di perlakukan dengan kasar Nino tidak peduli yang ada di hati dan pikirannya hanyalah keselamatan Maya.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat aku sangat baik dan berhenti mencampuri urusanku, mulai sekarang jangan mencari tahu apapun tentang diriku". Ancam Maya.
"Kenapa wajahmu pucat?". Tanya Nino penuh selidik karena wajah Maya memang terlihat sangat pucat, bukannya merespon ancaman Maya dia justru fokus pada tubuh Maya yang tampak kurus dengan wajah pucatnya itu.
Maya mengendus kesal lalu kemudian menarik pintu hendak menutupinya namun dengan sigap Nino langsung mengganjal dengan kakinya.
"May, jawab pertanyaanku dulu".
"Nino berhentilah bertanya hal yang tidak penting, aku baik dan tidak ada yang perlu di khawatirkan dariku kalau pun ada itu sama sekali bukan urusanmu karena kamu bukan siapa-siapa untukku". Jawab Maya panjang lebar dengan nada bicara yang sangat ketus.
Kemudian dengan kasarnya Maya mendorong kaki Nino dan membanting pintu dengan keras. Tinggallah Nino yang mematung disana, pria yang khawatir setengah mati bahkan begitu sampai di Indonesia langsung menemui Maya tanpa menyempatkan dirinya untuk pulang terlebih dahulu namun tidak di hargai bahkan tidak ada arti apa-apa bagi Maya.
Lain Nino lain pula Maya, memperlakukan Nino sedemikian rupa nyata bukanlah keinginannya dan juga sama sekali tidak memberi kepuasan di hatinya, yang terjadi malah sebaliknya, Maya merasa bersalah atas perlakuannya namun menurutnya akan lebih salah lagi jika dia membiarkan Nino mengkhawatirkan gadis kotor seperti dirinya.
"Maafkan aku". Dengan memegang dadanya yang terasa sesak Maya menitikkan air matanya.
Maya duduk dibalik pintu dengan wajah pucatnya yang di tenggelamkan diantara kedua lututnya, mencoba mencerna keadaan yang terjadi kepadanya akhir-akhir ini. Setelah merasa cukup untuk meratapi nasibnya kemudian Maya bangkit dan menghapus air matanya.
"Ini air mata terakhirku, mulai saat ini bukan aku yang menangis tapi kalian yang sudah membuat hidupku hancur, terutama kamu Aninda. Ini sungguh tidak adil bagiku kalian berbahagia diatas penderitaanku". Ucap Maya serius dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
__ADS_1
•••••
Darmadi terlihat antusias pagi ini melihat anak gadisnya itu pulang ke rumah dengan mendorong koper ditangannya. Darmadi juga sangat bahagia karena anaknya selama dua minggu belakangan ini menurut laporan dari orang suruhannya sudah sangat jarang keluar dari apartemennya bahkan dia juga sudah tidak pernah mabuk-mabukkan lagi, tentu hal tersebut merupakan kemajuan pesat untuk seorang Maya yang sedang mengalami keterpurukan di hidupnya itu.
"Selamat pagi pa*. Wajah pucat di wajah cantik putrinya sangat mendominasi dari pemandangan pagi itu menurut Darmadi. Entah apa yang membuat Maya pagi itu pulang kerumah yang sudah beberapa bulan di tinggalkan.
"Selamat pagi sayang, akhirnya kamu pulang juga nak". Ucap Darmadi sambil memeluk haru anaknya. "May, bagaimana kabarmu nak?".
"Seperti yang papa lihat Maya baik-baik saja". Jawab Maya dengan senyum terpaksa.
"Syukurlah kalau begitu, papa senang kamu pulang papa harap kamu tidak meninggalkan papa sendirian lagi".
"Maafkan Maya pa, Maya janji tidak akan pergi lagi". Ya, Maya sudah memutuskan untuk kembali kerumahnya, meninggalkan dunia malam yang telah membuat hidupnnya hancur berantakan adalah kepu yang sangat bijak baginya untuk saat ini.
Seakan ingin menebus kesalahannya kepada sang ayah Maya sekarang memulai kehidupannya dengan hal-hal yang lebih positif, Kebiasaan buruknya dimalam hari sama sekali sudah tidak pernah dilalukannya lagi. Meskipun dimata Darmadi anaknya sangat berubah dari yang dulu sangat ceria menjadi sangat pendiam sekarang ini namun tidak menjadi masalah baginya asalkan sang anak tidak melakukan hal-hal yang membuatnya panik lagi.
Maya juga aktif kembali dikantor, menekuni setiap aktifitas yang memang akan diembannya dimasa akan datang sebagai pewaris tunggal Wijaya Corp. Maya sengaja menjalani aktifitas yang sangat padat baik dikantor maupun dikampus berharap dengan begitu dia bisa segera melupakan Haikal namun semua itu sia-sia belaka.
Nyata dia sama sekali tidak bisa melupakan cinta pertamanya itu. Entah apa yang membuat Maya sangat sulit melupakan Haikal, mungkin saja karena dia memang mencintai pria itu atau lebih tepatnya terobsesi pada Haikal atau bahkan dia dendam kepada Haikal karena patah hati yang disebabkan olehnya lah Maya mengalami kehancuran dihidupnya. Yang pasti Maya sangat ingin melihat kehancuran Haikal dan Anin.
__ADS_1