Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 14


__ADS_3

Penyesalan tiada akhir yang dirasakan Maya saat ini benar-benar mencapai puncaknya, melihat satu-satu orang tua yang dia miliki dalam keadaan kritis cukup menjadi pukulan hebat dihidupnya.


Jika pada umumnya wanita hamil akan dimanjakan dan disayangi oleh pasangannya maka yang dialami Maya adalah sebaliknya, jangankan pasangan sekarang bahkan ayah sendiri pun terancam meninggalkan dirinya untuk selamanya, lalu kemana dia harus melangkah untuk selanjutnya, kepada siapa dia akan mengadu dan dengan siapa dia akan membesarkan anaknya disaat dia sendiri juga masih perlu figur orang tua disampingnya.


Keadaan Darmadi semakin hari semakin memburuk saja setelah Haikal mengetahui semua kebenaran tentangnya secara otomatis Haikal sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya lagi di rumah sakit. Maya juga lega meskipun Anin yang selama ini dianggapnya sebagai rivalnya ternyata berbesar hari memaafkan dirinya padahal bisa saja Anin melaporkan Maya ke kantor polisi atas dugaan pencemaran nama baik. Hal itu pula yang menjadi batu pukulan yang sangat hebat untuk Maya ketika wanita yang dibencinya justru masih mau berbaik hati padanya.


Dalam keadaan hamil muda dan dengan mual muntah yang hebat Maya justru juga harus tetap merawat dan menjaga sang ayah di rumah sakit. Maya bisa saja membayar jasa perawat untuk merawat ayahnya secara baik namun dia tidak mau melakukannya karena takut jika ini adalah saat-saat terkahirnya bersama sang ayah dan dia malah mensia-siakannya.


Hari itu dari kejauhan Maya melihat kedatangan Anin dan juga Haikal namun untuk menyapa atau tersenyum kearah mereka Maya tidak sempat melakukannya karena tepat dihari itu pula keadaan Darmadi sangat drop. Para dokter dan tim medis lainnya sedang kalang kabut memberikan yang terbaik untuk keselamatan Darmadi.


Maya sudah tidak berpikir apa-apa lagi dengan tatapan kosong bahkan hatinya juga serasa mati namun disela kesibukan para tim medis untuk menolong ayahnya Maya sayup-sayup mendengar suara Anin.


"Dokter aku mohon lakukan yang terbaik, apapun itu selamatkan tuan Darmadi". Lagi dan lagi Anin melakukan hal yang membuatnya malu setengah mati, bagaimana bisa dia masih memperdulikan kondisi ayah dari wanita yang berencana merebut suaminya itu.

__ADS_1


Setelah melakukan berbagai usaha dokter mengabarkan berita yang sangat pahit, Darmadi sudah meninggalkan dunia ini. Ajal memang tidak bisa ditawar namun yang menjadi penyebab kepergian Darmadi lah yang membuat Maya menyesal seumur hidupnya, jika dulu dia pernah menyalahkan diri sendiri atas kematian ibunya karena melahirkan dirinya maka saat ini Maya juga menyalahkan dirinya karena ulahnya sang ayah juga harus meregang nyawa.


Tidak ada tangisan apalagi airmata, Hati Maya mati dan tidak dapat mencerna keadaan disekitarnya, dia mampu melihat dan mendengarkan namun tidak dapat mengerti apapun.


Inilah titik terendah dihidupnya, hidup sebatang kara dan dalam keadaan hamil diluar nikah tanpa satu orangpun yang tahu siapa ayah dari bayi yang di kandungnya itu. Masih terngiyang dengan jelas di telinganya ketika dia menghina Anin dengan mengatakan jika hidup Anin menyedihkan karena hidup sebatang kara tanpa kaaih sayang orang tuanya.


Sungguh tuhan maha adil karena membalas semua perbuatan dan niat jahat kepada Anin secara langsung dan nyata namun bukankah ini pembalasan terlalu berlebihan, ketika dari segala arah dia di hantam oleh pahitnya kenyataan hidup.


"May, mulai hari ini kamu akan tinggal bersama kami, aku tidak akan membiarkanmu tinggal sendirian". Ujar Anin lembut sambil menggenggam jari Maya.


"Tidak ada penolakan, kamu tetap harus ikut dengan kami". Ucap Anin tegas. Disinilah semua kesadaran Maya terkumpul saat kejahatannya ternyata dibalas dengan kebaikan oleh Anin.


Maya mencoba untuk menolak sebisa mungkin namun sia-sia karena Anin tetap memaksanya belum lagi Ibu Siti atau lebih tepatnya ibu mertua Anin juga ikut memaksanya padahal ibu Siti tahu betul tentang rencana jahat Maya sebelumnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan Nin, aku ini adalah benalu didalam rumah tanggamu, aku mencoba merebut suamimu dan hampir membuat rumah tanggamu hancur berantakan, apa kamu tidak takut jika aku akan melakukan lagi hal itu?. Dan ibu, aku yang membuat fitnah kejam untuk anak kesayangan ibu apa ibu tidak sedikitpun takut untuk mengajakku tinggal bersama kalian?." Seru Maya meluapkan semua perasaan yang mengganjal dihatinya, karena dia tahu jika kesalahan yang dia lakukan bukanlah kesalahan kecil.


Anin berbalik menatap wajah Maya dengan wajah yang serius. "Kamu tidak akan bisa merebutnya dariku, dari dulu kan aku sudah katakan padamu jika aku jauh lebih unggul satu langkah darimu". Kemudian Anin tersenyum sambil mengedipkan satu matanya kepada Maya, seketika mereka bertiga tertawa bersama lalu mengikuti Haikal menuju mobil.


Melihat ketulusan mereka membuat Maya luluh namun dia tetap menolak karena tahu jika Haikal sangat membenci dirinya, terbukti Haikal tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya dalan bentuk apapun atau hanya sekedar menatap kearah Maya. Tapi diluar dugaannya ternyata Haikal juga ikut memaksa Maya untuk ikut tinggal bersama mereka.


"Tuhan, sungguh mulia hati orang-orang yang telah aku jahati". Batin Maya namun entah mengapa meskipun rasa haru menyelimuti hatinya Maya tetap tidak bisa menitikkan air matanya.


Entah apa yang akan terjadi dihari-hari berikutnya setelah kepergian sang ayah, tidak ada arah dan tujuan, Maya bahkan dia tidak memperdulikan tentang kehamilannya. Sejak saat Haikal menemaninya untuk memeriksa kandungannya kedokter maka setelah itu dia tidak pernah mengunjungi dokter lagi.


Mual muntah dan berbagai macam keluhan kehamilan lainnya dialami olehnya namun tidak ada sedikitpun keluhan. Tidak ada susu atau vitamin yang dia konsumsi khusus untuk buah hatinya, jujur dia sangat tidak mengharapkan kehadiran bayi tersebut namun dia juga tidak pernah berencana untuk melenyapkannya, seolah ingin hidup bagai air yang mengalir tanpa mau memikirkan apapun resiko kedepannya.


Karena mengetahui hal itu dari asisten pribadi tuan Darmadi ,maka Anin bersikeras untuk mengajak Maya tinggal bersama mereka setidaknya untuk kedepannya akan ada yang memperhatikan Maya terutama kondisi janin di dalam kandungannya.

__ADS_1


Sementara itu dari kejauhan Nino menatap kearah Maya yang tenyata mengikuti langkah Anin dan Haikal, ada rasa kecewa di hatinya meskipun Maya sudah tidak punya harapan untuk memiliki Haikal namun wanita itu tetap lebih memilih berada di sekitaran pria yang dicintainya itu dibandingkan dengan menerima ajaknya untuk menikah dan menjadi ayah dari bayi dalam kandungan Maya.


Sambil tersenyum sinis Nino berkata dalam hatinya. "Aku bisa mendapatkan semua wanita yang aku inginkan tapi untuk menaklukkan satu saja wanita yang aku cintai aku tidak bisa, kamu ternyata masih sangat mencintainya May". Nino kemudian membelah jalanan dengan mengendarai mobilnya dengan sangat kencang berharap di hari esok sudah tidak ada lagi nama Maya di hatinya.


__ADS_2