Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 42


__ADS_3

"Bagiamana keadaanmu hari ini nak?". Tanya Hartono ketika Nino yang baru saja tiba di meja makan untuk sarapan bersama.


"Cukup baik pa, seperti yang papa lihat". Jawab Nino dengan wajah yang sangat segar setelah dua hari dia mengunci dirinya dikamar. Jika hal seperti itu sudah terjadi maka kedua orang tuanya akan membiarkan hal tersebut karena Nino memang begitu sejak dulu jika sedang mengahadapi masalah di hidupnya.


Setelah mengurung diri selama dua hari begitu biasanya Nino akan keluar kamar dan melanjutkan aktivitasnya seperti biasa seperti tidak ada masalah apapun yang sedang menimpa dirinya. Baik Hartono maupun Ningsih sepakat untuk tidak membahas sama sekali masalah apa yang sedang di hadapi putra mereka itu dan berpura-pura tidak mengetahui apapun tentang pernikahan Maya.


"Nanti malam pulang cepat ya sayang, teman mama sama anaknya mau makan malam disini". Ucap Ningsih setelah mereka selesaikan sarapan di pagi itu, padahal dia sama sekali tidak membuat janji dengan siapapun hanya saja dia ingin melihat bagaimana reaksi Nino.


"Baiklah ma, Nino pergi dulu dan akan Nino usahakan untuk pulang secepatnya". Jawab Nino acuh. kali ini dia tidak mau lari lagi ketika mama ingin mengenalkan dirinya dengan seorang gadis karena dia sudah pasrah dengan nasib percintaannya.


Ningsih membulatkan matanya sambil memberi kode kepada sang suami seolah menyisyaratkan harus bagaimana karena sebenarnya dia sama sekali belum membuat janji dengan siapapun. namun yang di minta pertolongan justru seolah tidak mau ambil pusing. Ningsih sungguh tidak menyangka jika Nino akan setuju untuk bertemu dengan anak temannya yang notabanenya akan di jodohkan dengan putranya itu.


"Ta-tapi sayang jika kamu punya wanita pilihanmu sendiri, mama dan papa tidak akan memaksa untuk menjodohkan kamu dengan wanita pilihan kami". Ujar Ningsih lagi.


"Oke, Nino setuju, beri waktu Nino selama satu bulan dan Nino akan membawa gadis pilihan Nino kerumah ini tapi mama dan papa tidak boleh menolak siapapun gadis itu atau aku tidak akan menikah seumur hidupku". Jawab Nino jengah. Dia ingin mengulur waktu dan mencari gadis yang menurutnya tidak sesuai dengan kriteria menantu idaman keluarganya sehingga kelak ketika dia mengenalkan gadis itu kedua orang tuanya akan menolak dan dia akan terbebaskan dari ide perjodohan konyol mamanya itu.


"Mana bisa seperti itu, mama tidak setuju". Ningsih menjawab dengan cepat.


"Papa setuju". Jawaban Hartono justru sebaliknya sehingga memicu perdebatan kecil di antara suami istri itu.


"Sudahlah, Nino berangkat dulu dan keputusan Nino tetap pada perjanjian kita tadi karena papa sudah menyetujuinya". Nino kemudian berlalu meninggalkan kedua orang tuanya. Untuk kedepannya di akan berpikir bagaimana caranya agar dia tidak lagi di paksa untuk menikah maka dia akan membawa wanita yang menurutnya akan di tolak mentah-mentah oleh kedua orang tuanya itu.


Sesampainya di kantor Nino di buat terkejut dengan tingkah sepasang suami istri yang takut naik lift, mereka tampak dorong-dorongan satu sama lain seperti orang ketakutan dan jika di lihat dari penampilan mereka, sepasang suami istri itu sepertinya orang kampung dengan penampilan yang sedikit udik menurut Nino.

__ADS_1


"Emmh". Suara tegas Nino membuat pasangan suami istri paruh baya itu berhenti berdebat.


"Hehe, tuan, mau masuk ya?". Tanya sang istri.


"Iya, permisi saya mau lewat". Titah Nino karena mereka menghalangi jalannya.


"Tu-tuan tunggu, apa kami boleh menumpang?". Tanya sang istri lagi.


"Menumpang?". Tanya Nino bingung, kemudian setelah sang suami memberi kode jika mereka ingin naik satu lift dengannya barulah Nino mengerti jika meraka dari tadi berdebat karena tidak berani naik lift tersebut. Saat Nino bertanya kepada keduanya ternyata dengan sangat kebetulan tujuan mereka sama.


Nino hanya mengangguk dan sepasang suami istri itu langsung kegirangan dan mengikuti langkah Nino meskipun masih ragu-ragu. Di dalam lift sepasang suami istri itu tampak berpegangan tangan dengan mata tertutup dan mulut lnya yang terus menghapalkan doa-doa yang Nino sendiri bingung dengan yang mereka ucapkan sehingga dia menggelengkan kepalanya.


Ting...


"Ah, sudah sampai ya tuan, kami sampai tidak tahu karena asim berdoa agar kita sampai dengan selamat". Ucap sang suami.


Nino tidak merespon ucapan pria paruh baya itu dan langsung meninggalkan mereka berdua namun mereka justru mengejarnya dan kembali bertanya.


"Tuan, apa tuan tahu dimana ruangan anak kami?".


"Bu, pak, saya tidak kenal dengan ibu dan bapak bagaimana bisa saya tahu ruangan anak bapak?". Nino balik bertanya.


"Oh iya, anak kami kerja disini tuan, dia gadis paling cantik di kampung kami nama Shely, apa tuan kenal?". Tanya sang istri yang terus mengejar langkah Nino yang tergesa karena tidak ingin di pusingkan oleh masalah orang lain karena masalahnya sendiri sedang menumpuk, namun mendengar namasekretarisnya di sebut membuat langkah Nino langsung terhenti.

__ADS_1


Nino menatap sepasang suami istri itu dari atas sampai bawah dengan tatapan penuh selidik, bahkan dia tidak menyangka jika mereka adalah orang tua Shely. Bukan apa-apa hanya saja meskipun Shely tampak sederana namun penampilannya tidak se udik kedua orang tuannya ini bahkan bisa di kategorikan penampilan mereka lebih ke norak dimana warna baju dan aksesoris yang mereka gunakan saling bertabrakan.


"Bagaimana tuan, apa anda kenal anak gadis kami yang paling cantik itu?". Tanya Sang suami kali ini.


"Ya, ikut saya". Tegas Nino dan merekapun mengikuti langkah Nino karena jika tidak mereka pasti akan tersesat karena melihat banyaknnya ruangan saja sudah membuat mereka bingung.


"Shel, orang tuamu mencarimu". Seru Nino. Shely yang melihat kehadiran orang tuanya di samping Nino membulatkan matanya dengan sempurna namun kedua orang tuanya justru kegirangan sambil melambaikan tangan kepadanya.


"Ibu, bapak kenapa kemari?, Shely kan sudah bilang tunggu saja Shely di rumah". Seru Shely menghampiri kedua orang tuanya.


"Kami bosan dirumah terus, kamu juga pulangnya selalu telat, apa bos kamu tidak punya perasaan mempekerjakan kamu sampai larut malam?". Jawab sang ibu tanpa dosa karena akhir-akhir ini dia melihat putrinya memang sering pulang telat.


"Ya kan Shely kerja bu". Sambil memberi kode agar ibunya diam. "Maaf ya tuan, pasti orang tua saya sudah merepotkan anda". Ujar Shely canggung karena perkataan ibunya tadi.


Tanpa menjawab ucapan Shely, Nino langsung melesat dari tempat itu dan menuju ruangannya karena tidak suka melihat drama kedua orang tua Shely apalagi mereka mengatakan jika dia adalah bos yang tidak berperasaan.


Melihat tumpukan file yang harus dikerjakannya membuat otak Nino rasanya ingin pecah, ya, dua hari libur akibat mengurung diri membuat pekerjaannya menumpuk di atas mejanya itu, hal itu jug yng menyebabkan Shely sering lembur karena menghandle pekerjaanya, belum lagi waktu satu bulan untuk membatalkan rencana kedua orang tuanya yang terus memaksanya untuk menikah juga membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut.


Nino menyenderkan tubuhnya di kursi kebesarannya sambil memijit batang hidungnnya. Wajah cantik Maya dengan baju pengantinnya terus memenuhi isi pikirannya namun tiba-tiba sosok Shely terlintas di benaknya.


"Shely, ya hanya Shely yang bisa membantuku saat ini". Serunya kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi sang sekretarisnya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2