Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 67


__ADS_3

Jika ada yang bertanya bagaimana keadaan pernikahan Shely dan Nino maka jawabannya adalah keadaan rumah tangga yang tidak di dasari oleh rasa cinta itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja bahkan setelah hari dimana Shely di perlakukan kasar oleh Nino, Ningsih dan Hartono melarang keras untuk Nino mendekati Shely.


Nino sebenarnya tidak mempermasalahkan hal namun nalurinya sebagai seorang pria justru berkata sebaliknya, Nino merasa sangat ingin menyentuh dan merasakan kenikmatan yang dia rasakan beberapa hari yang lalu itu bersama Shely bahkan pria itu juga masih sering keluar malam untuk bersenang-senang dengan para wanitanya namun yang ada di pikirannya justru bagaimana caranya dia bisa menggapai Shely tanpa di ketahui oleh kedua orang tuanya.


Ya, sejak dia dan Shely menyandang status sebagai suami istri, mereka di wajibkan oleh kedua orang tuanya untuk tinggal bersama mereka meskipun Nino menentang keras dengan berbagai alasan termasuk mengatakan jika dia dan Shely butuh mengahabiskan banyak waktu berdua saja agar cinta tumbuh di antara mereka.


Namun bukan Ningsih dan Hartono namanya jika tidak tahu akal bulus putra satu-satunya itu, mereka tahu betul jika Nino hanya akan menyakiti Shely dengan leluasa tanpa ada siapapun yang bisa menghentikannya, tentu saja Nino sangat kesal dengan keputusan sepihak itu padahal dia sudah menyiapkan rumah untuk dia tempati bersama Shely.


Nino terus meneguk minuman demi minuman haram itu tanpa henti, dia sebenarnya sangat benci dengan apa yang dia rasakan saat ini dimana tubuhnya selalu menginginkan Shely namun nalurinya juga tidak dapat dia bohongi apalagi setelah kembalinya dari hotel saat itu dia sangat sulit bertemu Shely walaupun hanya sekedar melihatnya dari kejauhan padahal mereka tinggal di satu atap yang sama.


Malam itu setelah puas menghabiskan waktunya di klub malam dengan segala hal yang menyertainya, Nino pingsan tak sadarkan diri setelah beberapa kali dia mengeluarkan isi perutnya, bahkan suhu tubuh Nino sampai meningkat sehingga mau tak mau pemilik klub tersebut harus turun tangan mengantarkannya pulang kerumah.


Bukan hanya karena Nino adalah langganan tetap di klubnya sehingga pemilik klub itu mau mengantarkan Nino namun juga karena Nino adalah teman baiknya jadi sudah menjadi kewajibannya untuk membantu Nino apalagi pemilik klub tersebut tahu dimana alamat rumah Nino.


Karena sudah larut malam pemilik klub itu menitipkan Nino kepada satpam yang berjaga di depan rumah Nino dia tidak mau berurusan dengan kedua orang tua Nino yang pasti akan memberikan petuah-petuah yang akan membuat kupingnya sakit.


Satpam yang saat ini memapah tubuh Nino juga bingung harus melakukan apa karena dia juga tidak mau mengganggu ketenangan tuan dan nyonya besarnya yang tentu saja sudah terbuai di alam mimpi sejak tadi sehingga dia memilih untuk memanggil Shely karena Shely pasti akan membantu memapah dan membawa masuk suaminya itu.


Sepertinya nasib baik sedang berpihak pada sang satpam baru saja di melihat-lihat kondisi dalam rumah majikannya, tampaklah Shely yang sedang menuju dapur sehingga dia langsung memanggil nona Shelynya itu.

__ADS_1


Shely yang mendengar seseorang seperti sedang memberinya kode langsung menoleh dan membulatkan mata karena melihat sosok Nino yang sedang di papah oleh satpam rumah mertuanya itu.


"Pak, ini mas Nino kenapa?". Tanya Shely yang mendekati pak satpam dan Nino denga suara yang setengah berbisik. Shely tidak dapat menyembunyikan kepanikannya apalagi melihat Nino yang tak sadarkan diri.


"Ini non, tadi tuan Nino di antar sama temannya katanya tuan Nino pingsan". Jawab pak satpam.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita bawa mas Nino kekamarnya sebelum papa sama mama lihat mas Nino". Ajak Shely.


Merekapun akhirnya membantu Nino masuk ke kamarnya dengan berusaha tidak menimbulkan kegaduhan yang akan mengakibatkan kedua orang tua Nino terbangun karena Shely tahu jika sampai kedua mertuanya itu bangun pasti akan menimbulkan kemarahan yang sangat besar terutama dari Hartono.


Setelah meletakkan tubuh Nino di atas kasur, pak satpam akhirnya berpamitan dengan Shely untuk kembali lagi ke pos sedangkan Shely sendiri membuka sepatu dan kaus kaki yang di kenakan suaminya kemudian menyelimutinya agar tidur Nino nyenyak.


"Mau kemana kamu?". Tanya Nino dan sontak saja membuat mata Shely membulat sempurna karena terkejut.


"Ma-mas, kamu suah bangun". . Jawab Shely terbata.


"Kamu mau kemana heem?". Tanya Nino lagi.


"Aku mau kembali kembali kekamarku mas". Ujar Shely sambil berusaha menggeliat untuk bangkit namun usahanya sia-sia karena nyatanya Nino mendekapnya dengan cukup erat.

__ADS_1


"Apa kamu lupa jika kita ini suami istri, jadi kamarku juga kamarmu dan aku mau kamu tetap dikamar ini bersamaku". Ucapan penuh penekanan dari mulut Nino membuat Shely merasakan hawa panas di tubuhnya dia tahu pasti jika Nino punya maksud lain terhadapnya.


"Ba-baiklah jika begitu tapi lepaskan aku dulu mas". Shely masih berusaha lepas dari dekapan Nino namun pria itu tidak bergeming sama sekali.


"Lepas?, kamu sudah mengabaikanku selama satu minggu ini dan sekarang aku tidak akan melepaskanmu lagi". Ujar Nino kemudian dengan mudahnya Nino membalikkan posisinya dimana dia yang berbalik menindih Shely. "Apa kamu lupa akan kewajibanmu sebagai istri heem?". Tanya Nino dengan tatapan mematikan bagi Shely.


"Mas aku akan teriak jika kamu tidak melepaskanku". Ancam Shely padahal dia sendiri sudah merasa ketakutan setengah mati.


"Teriak saja, dan tidak ada satu orangpun yang akan mendengarkanmu karena kamar ini kedap suara, karena itulah aku tidak mendekatimu jika kamu tidur di kamarmu karena disana tidak kedap suara". Ujar Nino sinis, Shely baru tahu alasan kenapa selama ini Nino tidak pernah berani mengganggu dirinya saat tidur dikamarnya sendiri.


"Ma-mas, aku mohon lepaskan aku". Pinta Shely penuh harap, jujur dia masih takut jika Nino menerkamnya tanpa ampun seperti waktu itu karena rasa sakit yang dia rasakan masih terekam jelas di pikirannya.


Tanpa mempedulikan perkataan Shely, Nino langsung melahap bibir Shely dengan rakusnya namun saat menyadari jika Shely menahan rasa takutnya Nino kemudian memeprlakukan istrinya dengan sangat lembut.


Malam itu di lewati oleh pasangan pengantin baru itu dengan penuh kehangatan dan kenikmatan yang saling berpadu. Nino benar-benar memperlakukan Shely layaknya istri yang di cintainya sehingga membuat Shely yang awalnya takut kepadanya jafi terbuai oleh setiap sentuhan suaminya malam itu.


Tentu bukan sekali mereka merengguh kenikmatan duniawi itu, bahkan Shely juga tidak berdaya menolak keinginan suaminya itu selain karena kewajibannya, juga karena kenikamatan dari setiap sentuhan itu mampu membuatnya melambung tinggi sehingga menganggap dirinya beruntung karena dengan mudahnya dia bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang dari suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2