
"Ini semua salah kamu". Seru mereka kompak dengan tatapan saling membunuh dan menobarkan api permusuhan di antara mereka berdua.
"Apa?". Tanya mereka kompak lagi.
"Pokoknya aku tidak mau tahu tuan, aku sudah tidak ingin terlibat semakin jauh dalam permasalah anda apalagi sampai harus melibatkan kedua orang tuaku". Protes Shely dengan nada tinggi bahkan dia lupa jika lelaki di hadapannya ini adalah bosnya.
"Jadi kamu berani melawan saya?".
"Ma-maaf tuan, hanya saja saya sudah tidak mau bersandiwara lagi karena sepertinya tuan besar dan nyonya besar tahu rencana kita". Jawab Shely dengan nyali yang mulai menciut melihat Nino menatapnya tajam.
"Kalau begitu kamu harus siap-siap untuk ganti rugi karena telah memutuskan kerja sama kita secara sepihak". Ucap Nino tanpa beban.
"Ba-baik, saya akan mengembalikan semua uang yang sudah tuan berikan". Keluh Shely, sebenarnya dia benar-benar tidak rela jika uang yang sudah tersimpan rapi di dalam rekeningnya itu di ambil kembali oleh Nino namun untuk terlibat lebih jauh lagi dengan segala permasalahan Nino sepertinya dia juga tidak akan sanggup apalagi jika mengingat kedua orang tua Nino yang sangat ingin bertemu dengan orang tuanya.
"Sekaligus juga finalty yang harus kamu ganti".
"Finalty?". Tanya Shely bingung.
"Ya". Jawab Nino singkat lalu dia mengambil sebuah map di kursi belakang mobilnya dan menyerakannya kepada sang sekretaris. "Baca baik-baik isinya dan pahamilah, lalu siapkan semua kerugian yang harus kamu bayarkan kepadaku". Sambung Nino lagi kemudian dia menghidupkan mobil hendak mengantar Shely pulang kerumahnya.
Ketika Nino fokus mengendarai mobil meskipun pikirannya sedang kacau balau maka Shely yang berada di sampingnya justru sedang fokus membaca satu persatu point yang di tulis oleh Nino di dalam kontrak tersebut. Isi perjanjian yang sama sekali tidak pernah dia baca sebelumnya itu cukup membuatnya terkejut namun ada satu hal yang benar-benar membuat jantungnya seolah berhenti berdetak yaitu isi point terakhir.
__ADS_1
"Tuaaaan". Teriak Shely lalu menatap Nino tatapan penuh amarah.
Nino yang mendengar teriak Shely jug ikut terkejut dan spontan saja dia menginjak pedal rem sehingga mobil itu berhenti seketika bahkan sampai membuat tubuh keduanya terbanting kedepan, namun beruntungnya jalanan malam itu cukup sepi dan tidak ada mobil di belakang mereka jika saja ada mobil yang sedang berjalan di belakang mobil mereka maka bisa di bayangkan akhir dari keadaan mereka malam itu.
Ciiit....
Bahkan suara ban yang di rem mendadak itu terdengar cukup jelas.
"Kamu ini kenapa berteriak hah?". Sentak Nino.
"Apa ini?". Tanya Shely penuh penekanan.
"Itu adalah kontrak kerja sama kita dan kamu sudah menandatanginya, semua sudah jelas tertulis disana". Jawab Nino acuh.
Bukan perkara Nino tidak bisa mendapatkan wanita lain yang bisa di bayarnya untuk bersandiwara menjadi kekasihnya namun jika dia mengajak salah satu teman kencannya dulu untuk bekerja sama maka di pastikan hampir keseluruhan dari mereka tidak akan melepaskan Nino lagi dan mengajak pria itu menikah sungguhan, bagaimana tidak mereka memang sudah terbiasa naik keatas ranjang Nino dulu dan Nino tidak akan sudi menikah dengan wanita gampangan seperti mereka semua.
Shely benar-benar tidak menyangka jika Nino akan menjebaknya dengan isi kontrak yang sangat memberatkan dirinya itu, disana jelas tertulis jika Shely memutuskan kerja sama mereka secara sepihak maka Shely harus mengganti rugi sebanyak sepuluh kali lipat dari bayaran yang di terima Shely dari Nino yang itu artinya Shely harus mengganti rugi sebanyak satu milyar rupiah, mendengarnya saja Shely mau pingsan apalagi harus menggantikan uang sebanyak itu.
"Anda tega sekali dengan saya tuan, sekarang saya harus bagaimana?". Tanya Shely sedih bahkan air mata sampai menetes dipipinya.
Nino menahan rasa ibanya terhadap Shely sekuat tenaga karena dia juga ingin segera lepas dari rencana pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan itu.
__ADS_1
"Kamu harus mengikuti rencanaku, kita ajak orang tua kamu untuk bertemu kedua orang tuaku".
"Ta-tapi tuan, orang tua saya tidak tahu apa-apa, mereka hanya orang kampung yang akan mempermalukan tuan saja nanti".
"Itulah yang kita butuhkan, karena mama dan papa tidak mungkin menerima calon besan yang mempermalukan mereka terutama jika mereka memperkenalkan orang tuamu di depan semua orang nantinya, jadi kita akan atur waktu supaya orang tua kamu bertemu kedua orang tuaku, setuju?". Tanya Nino yang tanpa sadar sudah menyakiti hati Shely dengan ucapannya yang secara tidak langsung menghina keadaan kedua orang tuanya.
Deg....
Ingin sekali Shely berteriak dan menampar wajah pria yang sempat dia impikan sebagai pangerannya itu karena beraninya menghina ibu dan bapaknya namun dia sadar jika perkataan Nino memang ada benarnya dan Shely juga tidak punya kuasa untuk melawan atasannya itu apalagi Nino mengkantongi kontrak kerja sama yang susah dia tandatangani itu.
Shely mengangguk sambil tersenyum kecut dengan ide dari Nino tanda jika dia menyetujuinya. Mobil kembali melaju membelah jalanan di keheningan malam itu, pikiran Shely terbang entah kemana membayangkan kebodohan apa yang sedang dia lakukan, saat ini bukan hanya harga dirinya yang sedang dia pertaruhkan namun juga harga diri kedua orang tuanya yang begitu dia sayangi.
Shely sesekali menatap Nino yang hanya fokus menyetir tanpa ada rasa penyesalan atau rasa bersalah sedikitpun karena bukan hanya memanfaatkan dirinya untuk kepenting pribadinya namun juga memanfaatkan kedua orang tuanya.
Tatapan yang sulit di artikan dari Shely itu membuat gadis itu kembali menyeka air mata yang tanpa permisi kembali jatuh di pipi mulusnya, bagaimana bisa dia sempat jatuh hati pada pria di sampingnya itu hanya karena dia tampan dan juga kaya raya saja, bahkan selama ini Shely yang tahu tentang sepak terjang Nino dan para wanitanya namun gadis itu tetap menutup matanya karena beranggapan jika pria nakal sebelum menikah adalah hal yang wajar di kota sebesar jakarta itu.
"Aku benar-benar gadis desa karena meskipun aku sudah tinggal di kota besar, aku bahkan tidak dapat menilai seseorang dengan baik dan benar". Batin Shely.
"Kamu tenang saja Shel, karena kedua orang tuamu juga ikut terlibat dalam rencana ini maka aku juga akan memberikan mereka bayaran sama seperti yang aku janjikan kepadamu jadi ini bukan pekerjaan yang sia-sia untuk keluarga kalian". Ucapan Nino lagi tanpa menoleh kearah lawan bicara yang berada di sampingnya.
Deg....
__ADS_1
Lagi-lagi perkataan Nino bagai sembilu yang menembus tepat di jantungnya.
"Kami begitu hina di matamu tuan, aku berjanji tidak akan menyentuh uangmu itu meskipun kau sudah mempermainkan harga diri kami". Shely sudah bertekad di hati kecilnya untuk tidak akan menerima bayaran dalam bentuk apapun dari sang majikan.