
"Apa dia masih mencintai Celina?". Tanya Maya sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Maya harus mengakui jika Celina adalah wanita yang sangat cantik bahkan memiliki tubuh yang sempurna hal itu sangat berbanding terbalik dengannya yang saat ini sedang mengandung.
"Jika saja Celina tidak berkhianat mungkin saat ini mereka masih bersama dan saling mencintai satu sama lain". Gumam Maya sambil menghembus napas kasar.
"Apa peduliku, lagi pula aku tidak mencintainya". Sambung Maya lagi.
Rahang Marvin mengeras mendengar ucapan Maya tersebut, ya, Marvin dapat melihat dan mengetahui segala aktivitas istrinya saat berada di mansion termasuk di kamar karena semua CCTV di mansion tersebut terhubung langsung ke ponselnya. Terlihat seperti Marvin tidak mempercayai Maya namun pengalamannya kelamnya bersama Celina dulu membuat dirinya sangat berhati-hati dan tidak ingin kecolongan lagi.
Ceklek...
Bunyi pintu yang ditutup dengan cukup kasar itu membuat Maya yang sedang melamun sedikit terkejut. Dia tidak menyangka jika yang melakukan itu adalah Marvin karena selama ini suaminya itu tidak pernah sekasar itu.
Marvin menghempaskan jasnya di kasur sambil melipat lengan kemejanya sampai batas siku, pandangannya tajamnya tidak pernah lepas dari Maya sehingga membuat Maya salah tingkah melihat sang suami yang bertingkah aneh seperti itu.
Untuk menghindari pandangan Marvin dari dirinya Maya kemudian beranjak dari tempat duduknya hendak keluar kamar namun baru saja beberapa langkah dia melangkah, Marvin sudah meraih lengannya dan menariknya agar mendekat kearahnya.
"Kau mau kemana?". Tanya Marvin. "Jawab, aku ini suamimu Amaya, setidaknya hargai aku sedikit saja". Sentaknya lagi tanpa menunggu jawaban dari sang istri.
"Kenapa?, apa kau tidak ingin menjawab pertanyaanku?. Oh, ya aku tau jika kau tidak bisa banyak bicara saat denganku tapi kau bisa bercanda dan tertawa lepas saat dengan pria lain heem".
"Lepaskan aku Marvin". Ucap Maya yang menahan sesak di dadanya akibat penilaian Marvin kepadanya.
"Jawab dulu pertanyaanku, kemana saja kau hari ini?". Tanya Marvin penuh penekanan.
Maya sangat terkejut mendengar pertanyaan Marvin, dia tidak menyangka jika Marvin mengetahui jika dirinya meninggalkan mansion hari ini, jika di ingat-ingat supir yang mengantarkannya tadi tentu tidak mungkin mengatakan kepada Marvin karena Maya sudah berpesan untuk tidak mengatakan apapun kepada Marvin.
"Bukan urusanmu". Jawab Maya ketus, dia sudah tidak peduli Marvin tahu dari siapa yang jelas dia benci ketika Marvin selalu menuduhnya yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Kenapa itu buka urusanku, apa karena kau tidak mencintaiku hah?, lalu siapa yang kau cintai, Haikal, Nino atau pria tadi?". Tanya Marvin lagi.
"Mengapa begitu banyak pria yang ada di sekitaranmu sehingga aku bingung sebenarnya siapa pria yang kau cintai, Amaya".
Plak...
Tanpa Maya sadari tangannya menampar cukup keras pipi mulus suaminya. Rasa sesak di dadanya sudah tidak tertahankan lagi oleh tajamnya kata-kata yang Marvin ucapkan.
"Ya, aku tidak mencintaimu tapi nyatanya hanya kau yang ku pilih untuk menjadi suamiku di saat ada pria lain yang lebih tulus mencintailu dari dirimu".
"Ya, aku tidak mencintaimu tapi aku sakit ketika kau mengajak wanita lain tinggal bersama kita di mansion ini bahkan aku baru mengetahui jika dia adalah mantan istri dari suamiku sendiri".
"Ya, aku tidak menghargaimu tapi setidaknya aku tidak pernah mengajak pria lain untuk tinggal bersama di mansion ini sedangkan kau, lihat dirimu bahkan kau tidak meminta pendapatlu ketika memberikan izin untuk wanita lain tinggal disini".
"Aku bahkan tidak boleh melakukan apapun dan pergi kemanapun yang aku mau jika tidak bersamamu, apa pernah kau bertanya kepadaku, apa yang aku inginkan dan apa yang tidak aku inginkan hah?". Tanya Maya dengan suara bergetar dan air mata yang menetes dipipinya membuat Marvin yang mendengarkan hal itu terdiam dengan hati teriris.
"Sekarang aku yang akan bertanya kepadamu tuan Marvin Askari, apa itu yang di sebut menghargai seorang istri menurutmu, jawab aku?". Sentak Maya.
"Apa kau pernah bertanya apa saja yang aku alami dan aku lalui sejak malam dimana kau merenggut kehormatanku?. Aku malu, aku lelah dan aku jenuh dengan keadaanku Marvin tapi kau malah meninggalkanku begitu saja dengan secarik cek tanpa bertanya apapun tentang bagaimana nasibku".
"Dan satu hal yang sangat penting yang ingin aku tanyakan apa kau sendiri mencintai diriku sampai kau memutuakan menikahiku padahal kau sendiri sempat meragukan anak yang aku kandung atau kau hanya menginginkan tubuhku saja hah?". Maya tumbang di lantai, air matanya mengalir deras, sungguh dia sudah tidak sanggup menahan segala hal yang selama ini di pendamnya sendiri.
Marvin mencoba mendekatinya untuk memastikan bahwa Maya baik-baik saja namun saat langkah Marvin mendekat, Maya mengangkat tangannya memberi tanda agar Marvin tidak mendekat.
"Jangan mendekat, aku tidak ingin melihat wajahmu dan pergi dari sini sekarang juga". Sentak Maya. "Ini mansionku bukan, kau memberikannya untukku jadi aku berhak mengusir siapa dari mansion ini".
"Amaya aku-".
__ADS_1
"Cukup, aku mohon pergi dari sini dan bawa pergi wanitamu itu, aku dan anak-anakku butuh ketenangan". Ucap Maya lantang.
Marvin melangkah mundur dan menghilang di balik pintu, air matanya tidak terasa menetes mendengar setiap ucapan istrinya tadi, dia tidak menyangka jika Maya yang selama ini terlihat kut ternyata memendam banyak derita dan itu semua akibat ulahnya.
Marvin menuju kamar Celina dan tanpa basa-basi langsung menyuruh wanita itu untuk meninggalkan mansion itu. Padahal Marvin juga tidak suka jika Celina berada disana namun karena niatnya ingin melihat reaksi cemburu Maya yang berujung malapetaka itu makanya dia tidak melarang ataupun menyuruh mantan istrinya itu untuk tinggal disana.
"Kemasi barang-barangmu dan pergi sekarang juga dari sini". Sentak Marvin.
"Ma-Marvin, kau mengusirku?". Tanya Celina tak percaya.
"Apa aku harus mengulangi kata-kataku lagi?".
"Ta-tapi Marvin aku harus kemana malam seperti ini, apalagi ini indonesia aku tidak punya siapapun yang aku krnal disini selain dirimu".
"Kemasi saja barang-barangmu, Jack akan mengantarmu kebandara dan dia yang akan mengurus segalanya agar kau bisa kembali ke Dubai malam ini juga".
"Marvin, aku masih mau disini, lagipula apa yang bisa akau kerjakan di Dubai. karirku, rumahku dan semua aset-asetku sudah kau bekukan jadi aku harus apa disana, Marvin tolong kasihanilah aku".
"Aku akan mengembalikan semua aset-asetmu jadi pergi secepatnya dari sini".
"Tapi aku mau disini saja bersamamu Marvin, aku sadar jika aku tidak bisa jauh darimu". Rengek Celina sambil memegang tangan Marvin.
"Pergi sekarang juga secara baik-baik, atau aku akan mengusirmu secara paksa". Jawab Marvin sambil menggempaskan tangan Celina dari tangannya.
Marvin kemudian meninggalkan kamar Celina tanpa mempedulikan lagi wanita itu yang terus berusaha memanggil namanya.
"Shiit, ini semua pasti karena wanita itu, lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkannya hidup dengan tenang". Umpat Celina yang mau tidak mau harus meninggalkan indonesia malam itu juga sebelum Marvin kembali berubah pikiran dan membekukan lagi semua aset-aset miliknya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...