Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 92


__ADS_3

"Bagaimana menurut mu?". Tanya Maya kepada sang suami. Saat ini Marvin berada di dalam pelukan Maya untuk melepas lelah seteah mereka melakukan aktivitas panas di atas ranjang.


"Apa?". Tanya Marvin tak mengerti.


"Pelajaran yang aku berikan untuk Nino".


"Sayang, kau itu sebenarnya keterlaluan memisahkan mereka sampai selama itu ya meskipun aku tidak menyukai pria itu tapi aku tidak bisa bayangkan jika hal itu terjadi padaku, berpisah satu hari denganmu saja sudah membuatku pusing". Jawab Marvin panjang lebar.


"Biar saja, salah sendiri kenapa menjadi pria yang egois bahkan untuk mengakui jika dia sebenarnya mencintai istrinya sendiri". Jawab Maya ketus.


Ya, semua ide untuk menyamarkan persembunyian Shely dan Sheno selama ini adalah idenya Maya dan Marqin menjadi tumbalnya. Awalnya baik Marqin maupun Marvin sangat tidak setuju dengan ide yang di berikan Maya tersebut namun bukan Maya namanya jika tidak bisa membuat kedua pria dengan wajah yang sangat mirip itu tunduk padanya dengan berbagai daya upaya.


Flashback on...


Setelah pergi dari rumah Nino dan meninggalkan semua uang dan fasilitas yang di beriak oleh suaminya, Shely hanya memiliki sedikit tabungan yang tentu saja tidak mungkin dia andalkan untuk menyambung kehidupannya sehari-hari tanpa harus bekerja, oleh karena itu meskipun dalam keadaan hamil dia tetap berusaha mencari pekerjaan di berbagai perusahaan.


Namun satu bulan sudah Shely mencarinya tidak ada satu pun perusahaan yang mau menerimanya apalagi Shely juga jujur tentang kehamilannya agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, hingga suatu saat dia bertemu dengan Marqin yang mau menerimanya karena selain Shely memang memiliki pengalaman sebagai sekretaris dia juga iba melihat wanita hamil yang tetap bekerja untuk keluarganya.


Bukan tanpa alasan Marqin merasa kasihan kepada Shely, hal itu di sebabkan dia teringat akan perjuangan mommy nya yang berjuang membesarkan dirinya dan juga Marvin sendirian setelah daddy nya meninggal dunia.


Marqin juga merahasiakan jika dia mempekerjakan wanita hamil di perusahaan yang dia kelola itu karena itu adalah perusahaan milik Marvin dimana Marvin melarang keras menerima pegawai baru yang tengah mengandung kecuali mereka adalah pegawai lama yang sudah bekerja sejak sebelum hamil.


Namun sebaik apapun Marqin menutupinya, pada akhirnya Marvin tetap mengetahui tentang hal tersebut karena semakin hari kehamilan Shely semakin membesar sampai membuat Marqin dan Marvin bersitegang.


Maya yang mengetahui tentang hal itu mencoba mendamaikan mereka namun tetap mendukung Marvin suaminya itu untuk memecat pegawai baru yang saat itu belum dia ketahui jika itu Shely, istri Nino.

__ADS_1


Marqin yang menyerah dan malas untuk berdebat dengan saudar kembarnya itu akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Shely yang saat itu baru tiga bulan bekerja bersamanya padahal kinerja yang di berikan Shely untuk perusahaan mereka sangatlah baik.


Namun Shely tidak mau pasrah dengan nasibnya begitu saja, dia nekat menemui pemilik perusahaan tempat dia bekerja saat ini yaitu Marvin. Saat pertama kalinya menginjakkan kakinya di mansion Marvin dan melihat berbagai macam foto kebersamaan Marvin dan Maya, Shely benar-benar sangat terkejut.


"Maya?, pantas saja aku seperti pernah melihat tuan Marqin ternyata dia suaminya Maya". Gumam Shely yang saat itu belum mengetahui jika Marqin memiliki kembaran yang bernama Marvin yaitu suami Maya. "Jika tuan Marqin selalu mengatakan jika dia bukan pemilik perusahaan yang sesungguhnya, apa mungkin Maya adalah pemiliknya?". Tanya Shely kepada dirinya sendiri.


Shely mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan pemilik perusahaan tersebut karena dia adalah Maya, jujur sampai saat ini dia masih tidak bisa menerima ketika suaminya selalu membanding-bandingkan Maya dengan dirinya. "Dunia ini sangat kecil ternyata". Sela Shely lagi.


"Hai, kau ingin bertemu denganku?". Tanya seseorang dengan suara beratnya dari belakang Shely, namun suara itu sangat tidak asing baginya.


Shely berbalik dan melihat jika Marqin sedang menuruni anak tangga dan berjalan kearahnya. Shely tersenyum canggung dan melambaikan tangannya, entah mengapa dia jadi canggung kepada atasannya itu padahal selama ini mereka cukup akrab, mungkin saja karena dia baru mengetahui jika Marqin adalah suami wanita yang sangat di cintai oleh suaminya.


"Emnh tuan, aku kan baru bertemu denganmu tadi pagi, aku kesini mau bertemu dengan pemilik perusahaan tapi sepertinya tidak jadi". Jawab Shely sambil menatap foto Maya dan Marqin berukuran raksasa di ruangan tersebut.


"Aku Marvin, saudara kembar Marqin kau tadi pasti mengira jika aku Marqin". Sambung Marvin lagi.


"Oh ya ampun ternyata adanya dan tahun Marqin kembar, maaf tuan saya benar-benar tidak tahu jika pun saya tahu mungkin saya tidak akan bisa membedakan kalian".


"Ada yang ingin kau bicarakan?, tadi Marqin menghubungi ku dan mengatakan jika kau ingin bertemu denganku karena ingin mengatakan sesuatu".


"Oh itu, sebenarnya tidak ada yang ingin saya sampaikan, maafkan saya tuan sudah mengganggu waktu anda". Shely benar-benar tidak berniat lagi memohon agar di berikan kesempatan untuk bekerja di perusahaan Marvin karena dia tidak sudi memohon kepada suami dari wanita yang di cintai oleh suaminya.


"Saya permisi tuan". Ujar Shely lagi.


Marvin sampai kehabisan kata-kata di buat oleh Shely, awalnya dia mendengar dari Marqin jika karyawan yang di pecat itu tidak terima dan ingin mengajukan komplen kepadanya namun begitu bertemu dengannya Shely bahkan tidak mengatakan apapun.

__ADS_1


Shely segera berbalik berharap jika dia tidak bertemu dengan Maya karena wanita itu pasti mengenalinya sebagai istri Nino. Namun baru beberapa langkah dia berjalan tanpa sengaja dia menabrak seseorang di hadapannya akibat dia terus berjalan sambil menundukkan kepalanya.


"Aws". Ringis seseorang uyang di tabrak oleh Shely.


"Ma-maafkan saya nona, saya benar-benar tidak sengaja". Ujar Shely terbatas karena ternyata itu adalah Maya.


"Kamu, Shely kan?, istri Nino". Tanya Maya tak percaya dengan penglihatannya. Shely tersenyum canggung dan dengan ragu menganggukkan kepalanya.


"Kau tidak apa sayang?". Tanya Marvin kepada sang istri.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, kenapa Shely ada di rumah kita?". Tanya Maya kenapa sang suami.


".Kau mengenalinya?. Ini karyawan yang di ceritakan oleh Marqin kemarin". Jawab Marvin.


"Emmh, saya permisi dulu tuan, nona". Sela Shely sebelum Maya mengetahui lebih banyak lagi tentangnya padahal Maya sudah mengetahui yang sebenarnya dari Marqin.


"Shely tunggu dulu". Maya memegang lengan Shely dan menatap mata wanita hamil itu, ada kesedihan yang sulit di artikan di ama tanya dan Maya ingin mengetahui itu apa, apalagi jika dia dengar dari cerita Marqin, Shely saat ini sedang menghidupi keluarganya meskipun dalam keadaan hamil dan dia harus mengetahui apa yang terjadi dengan pernikahan Shely dan Nino.


"Sayang, aku ingin bicara empat mata dengan Shely, dia istri Nino". Ujar Maya kepada Marvin. Mendengar jika Shely adalah istri Nino membuat Marvin juga sangat terkejut apalagi dia tahu tentang riwayat kehidupan karyawan yang baru saja dia pecat itu.


" Pria itu lagi, selalu saja berulah". Batin Marvin kesal.


"Shel, mau kan kita bicara sebentar". Pintar Maya dengan sangat lembut sehingga membuat Shely tidak enak untuk menolaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2