
Saat berada dalam sebuah restoran Maya dan Joe sedang melakukan sebuah pertemuan penting dengan klien, dari kejauhan dia melihat sepasang suami istri yang sangat tidak asing dimatanya. Haikal dan Anin sedang makan siang bersama dengan senyum merekah dibwajah keduanya mereka terlihat sangat harmonis.
Melihat hal tersebut mendadak Maya merasa kepalanya berdenyut hebat, emosi didalam hatinya membara membayangkan jika pasangan itu sedang berbahagia diatas penderitaannya. Ada rasa tidak terima dihatinya ketika melihat tawa bahagia sang rival Aninda seolah mereka sedang menertawakan penderitaan yang dialami olehnya.
"Kebahagiaanmu itu hadi karena air mata yang jatuh dari mataku Anin, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi, akan kubuat kamu sama menderitanya seperti diriku". Batin Maya yang terus menatap kearah Haikal dan Anin yang sedang berinteraksi.
Entah mengapa melihat tawa bahagia Anin emosi dalam jiwa Maya menggebu-gebu, ada hal yang sulit untuk dijelaskan oleh perasaannya padahal setelah kejadiaan naas yang menimpa dirinya Maya sama sekali tidak pernah mengingat apalagi menyebut nama Haikal meskipun di alam bawah sadarnya.
Mungkin lupa atau mungkin benci itulah yang penyebab Maya tidak pernah membahas atau menyebut nama Haikal lagi bahkan jauh dilubuk hatinya Haikal sang pujaan hati hanya salah satu alasan yang membuat dirinya bertindak bodoh hingga kehancuran melanda dirinya.
Namun saat melihat tawa bahagia mereka muncullah perasaan ingin menghancurkan dan membuat Anin dan Haikal menderita. Maka ide giila pun terbersit begitu saja dibenak Maya bahkan tanpa berpikir panjang apa akibat yang akan ditimbulkan oleh ide tersebut.
••••••
Maya menatap Haikal tanpa berkedip dari kejauhan, dimana objek yang ditatapnya sekarang sedang berbincang dengan para sahabatnya Nino dan Rian dan juga beberapa rekan bisnis lainnya. Maya menghadiri sebuah pesta jamuan makan malam yang di selenggarakan oleh sebuah perusahaan asing yang baru membuka cabang perusahaannya diindonesia. Banyak pengusaha kelas atas yang menghadiri pesta tersebut termasuk Haikal namun tanpa ditemani oleh Anin karena dia sedang berada diluar kota untuk mengunjungi salah satu hotelnya.
Tanpa Maya sadari tenyata ada sepasang mata seorang pria yang sedang menatapnya dan juga Haikal secara bergantian dengan tatapan yang sulit di artikan disudut suang tersebut. "Menarik". Ucap pria tersebut sambil menarik sedikit sudut bibirnya.
Pesta meriah itu berlangsung sampai tengah malam bahkan ada pula sebagian sudah meninggalkan tempat tersebut termasuk Nino dan Rian. Haikal masih berada dengan beberapa pria salah satu dari mereka sepertinya sengaja membuat Haikal mabuk oadahal selama ini dia tidak pernah menyentuh barang haram tersebut.
Seorang pria perawakan tinggi dengan badan tegap kemudian membawanya pergi keluar dari pesta tersebut dengan menggunakan mobil. Lalu sang pria menelpon seseorang dengan handphonenya. "Semuanya sesuai rencana, kurang dari 30 lagi saya sudah berada disana". Lalu menyimpan handphone disakunya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat kencang.
__ADS_1
"Apa semua sudah beres?". Tanya seorang wanita yang tak lain adalah Maya kepada pria tersebut.
"Sudah nona, semua sesuai denga yang anda inginkan saya permisi dulu". Jawabnya.
"Terima kasih Joe". Pria yang bernama Joe tersebut menunduk dan berlalu dari tempat itu. Setalah Joe meninggalkan tempat tersebut tinggallah Maya, Haikal dan rencana jahat yang ada di kepala Maya saja.
Maya saat ini sedang tersenyum menatap pria yang dicintainya sedang tidak sadarkan diri karena mabuk disampingnya, menyusuri wajah tampan Haikal dengan jari telunjuknya. Mereka saat ini berada disebuah hotel bintang lima ternyata Joe adalah orang suruhan Maya untuk membawanya kehotel.
"Aku setiap hari mencoba melupakanmu tapi sayangnya semakin aku paksakan untuk melupakanmu aku semakin mencintaimu dan malam ini kamu akan menjadi milikku seutuhnya sayang". Ucap Maya sambil mengecup kening Haikal. "Cinta?, aku bahkan tidak mampu mengartikan apa itu cinta tapi cintaku padamu telah membuatku hancur". Lanjut Maya lagi dengan wajah sinis tentu saja cinta yang dia ucapkan tadi hanyalah kiasan kebenciannya terhadap Haikal dan kebahagiaan bersama Anin.
Selanjutnya dikamar dengan cahaya temaram itu dua anak manusia menghabiskan malamnya di ranjang yang sama dan apa yang terjadi selanjutnya hanya mereka dan tuhan yng tahu.
Reflek matanya membuat dengan wajahnya yang pias, dia yakin wanita itu bukanlah Anin karena apalagi dilihat dari warna rambutnya. Dia menyibakkan selimut dan lagi-lagi wajahnya menjadi pucat pasi mendapati dirinya yang tidak memakai sehelai benangpun di tubuhnya itu.
Haikal mulai frustasi dengan menjambak rambutnya menggunakan kedua tangannya mencoba mengingat apa yang terjadi semalam namun nihil dia tidak bisa mengingat apapun kecuali yang dia ingat terakhir adalah para rekan bisnisnya menawarkan dan memaksanya untuk minum minuman yang rasanya sangat aneh.
Tidak lama kemudian wanita diatas ranjang yang sama dengannya juga menggeliatkan tubuhnya dan berbalik kearah Haikal dengan mata yang masih tertutup.
"Maya". Haikal berteriak sangking kagetnya mendapati jika wanita tersebut adalah Maya.
Maya membuka matanya lalu menarik selimutnya dan merapatkan selimut tersebut sebatas lehernya.
__ADS_1
"Ma-maya, bagaimana kamu bisa disini?. Apa yang kamu lakukan disini?". Tanya Haikal masih tidak percaya.
"Harusnya aku yang tanya begitu kenapa kamu melakukan ini padaku?". Tanya Maya dengan wajah memelas.
"May, ini salah, pasti ada yang salah dengan ini semua".
"Dan semua ini salahmu, aku mencoba membantumu yang sedang mabuk tadi malam tapi kamu malah memaksaku melakukan hal yang sangat menjijikkan ini". Cairan bening lolos begitu saja dari pelupuk mata Maya. Sangat apik memang peran yang dijalankan oleh Maya, dia bersikap seolah-olah telah terjadi sesuatu antara dirinya dan Haikal, tentu saja pengalaman buruknya bersama Marvin membuatnya tidak canggung sama sekali dalam berakting.
"May, itu tidak mungkin, aku tidak melakukan apapun, aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa kita berada disini".
"PLAK". Maya menampar pipi Haikal.
"Breng sek, jadi setelah melakukan hal menjijikkan itu terhadapku kamu ingin melupakannya begitu saja. Baiklah kita akan melupakan ini semua, anggap tidak terjadi apapun diantara kita berdua". Dengan menyeretkan langkahnya Maya beranjak dari tempat tidur, mengumpulkan pakaiannya yang berserakan dan menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan berpakaian lengkap Maya mengambil tasnya diatas nakas lalu meninggalkan Haikal yang masih mematung disana tanpa sepatah katapun.
"Lihatlah wajah pucatmu tadi Haikal, aku sangat menikmati ketakutanmu itu dan aku juga sangat menantikan ketika istrimu mengalami hal yang sama". Batin Maya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Haikal masih berada di tempat tidur tubuhnya terasa lemah tak berdaya bahkan untuk turun dari ranjangnya saja dia tidak mampu apalagi mendapati ada bercak noda darah yang sudah mengering diatas ranjang tersebut. Otaknya seakan sedang bekerja cukup keras untuk mencerna apa yang sedang terjadi, apa yang harus dilakukan sekarang dan apa yang akan dikatakan pada Anin, haruskah dia jujur jika dia sudah menghkianati pernikahnya dengan Anin.
Lamunan Haikal buyar ketika sebuah panggilan masuk dilayar handphonenya. "My Wife", ya itu adalah panggilan dari Anin yang mengabarkan jika dirinya akan kembali dari luar kota hari ini.
•••••
__ADS_1