Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 13


__ADS_3

Sementara itu Hari ini Haikal rencananya akan membuat janji dengan dokter spesial kandungan untuk memeriksa kehamilan Maya tentu saja hal itu membuat Maya sangat bahagia tanpa berpikir panjang dia langsung menyetujui rencana tersebut.


"Kondisi janin anda sehat nona, detak jantungnya juga sudah terdengar dan usia kehamilannya 10 minggu, ukurannya sekarang sudah 3 cm dengan berat kurang lebih 100 gram". Jabar dokter panjang lebar.


DEG, DEG, DEG.....


Haikal hanya fokus pada usia kehamilan yang dokter katakan dia seolah tidak mau tahu tentang apapun lagi, senyuman lebar menghiasi bibirnya. Berbeda dengan Maya yang bahkan tidak fokus dengan kalimat dari dokter tersebut karena dia hanya fokus pada rasa pusing dikepalanya.


"Benarkah dokter?". Tanya Haikal antusias dengan wajah berbinar membuat Maya yang mendengarkannya sangat terkejut karena selama ini Haikal terlihat sangat dingin pada dan juga kehamilannya itu.


"Benar tuan, semuanya sehat dan normal. Mengenai gejala yang dialami oleh nona Maya masih dalam tahapan normal dan biasanya akan menghilang dengan seiringnya waktu dan saya akan resepkan vitamin dan juga obat anti mual muntah agar kondisi nona Maya semakin membaik". Jelas dokter lagi.


"Ck, sekarang kamu tidak akan bisa mengabaikanku lagi setelah tahu aku benar-benar sedang hamil". Batin Maya sambil tersenyum sinis. Faktor kehamilannya di usia yang terbilang masih muda dan ini adalah pengalaman pertamanya hamil membuat Maya tidak curiga jika yang membuat Haikal bahagia adalah usia ke kehamilanya yang tidak sesuai dengan kejadian penjebakkan malam itu, yang dia ingin hanya Haikal menjadi ayah dari anaknya.


Haikal secara diam-diam bahkan langsung mengambil hasil USG yang diberikan dokter dan menyimpan disaku jasnya. "Yes, bukti pertama sekarang ditanganku". Batinnya dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya, sehingga baik Maya ataupun dokter beranggapan dia sedang merasa bahagia dengan kehamilan tersebut.


Benar saja bukan jika tidak akan ada kebohongan yang abadi semua kebohongan pasti akan terbongkar dengan kebenaran tepat pada saatnya.


Wajah cerah menghias hari-hari Maya berikutnya tentu hal itu membuat sang ayah Darmadi juga ikut bahagia melihatnya. Bahkan sekarang Maya sangat semangat menjalani aktivitasnya dikantor.


Disisi lain Maya yang baru pulang dari kantor terlihat sangat pucat, dengan gejala kehamilan di trimester pertama yang harus dihadapinya sungguh bukan hal mudah baginya untuk menjalani aktifitas seperti biasanya. Darmadi tampak sangat khawatir dengan kondisi anaknya tersebut hingga dia menyarankan agar memanggil dokter untuk memeriksa Maya, namun ditolak Maya dengan halus agar sang ayah tidak curiga dengan kehamilannya itu.


"May, sepertinya kamu kurang sehat wajahmu sangat pucat nak, papa panggikan dokter ya?". Tanya Darmadi lembut.

__ADS_1


"Tidak perlu pa, Maya hanya kelelahan dan butuh istirahat yang cukup saja".


"Baiklah kalau begitu ganti bajumu dan istirahatlah". Maya hanya menanggapinya dengan anggukan, namun belum juga Maya melangkah jauh tiba-tiba dia tergeletak tak sadarkan diri dilantai.


BURGH.....


"Maya". Teriak Darmadi. "May, kamu kenapa sayang?". Lalu menepuk pipi anaknya. "Bibi, tolong panggil dokter secepatnya". Teriaknya lagi.


Setelah melakukan pemeriksaan dokter menuliskan resep untuk Maya dan menyerahkanbya kepada Darmadi.


"Nona Maya mungkin kelelahan dan stres hal tersebut sangat harus dihindari pada wanita hamil".


"Hamil?". Tanya Darmadi bingung.


Darmadi mengutuk dirinya didalam hati bagaimana dia bisa lalai menjaga anak satu-satunya itu. Memori diotaknya kembali berputar kala mengingat jika wajah putrinya memang sering terlihat pucat akhir-akhir ini dengan tubuh yang yang terlihat cukup lemah bahkan Maya juga sering muntah-muntah namun Darmadi pikir itu hanya karena Maya kelelahan saja.


Seandainya waktu bisa diulang kembali maka dia sendiri yang akan mengikuti Maya ketika Maya masih hoby mabuk-mabukkan. Penyesalan demi penyesalan terus mengisi relung hatinya apalagi membayangkan jika putrinya yang masih terhitung sangat muda akan memiliki seorang anak tanpa suami.


Terbongkar juga akhirnya kehamilan Maya yang ditutupi olehnya denga sebaik mungkin. Namun Maya sama sekali tidak takut karena merasa jika Haikal benar mempercayai jika anak di dalam kandungan Maya adalah anaknya sehingga Maya bisa meminta Haikal untuk menikahinya kapan saja.


Setelah bertanya kepada putrinya siapa ayah dari calon cucunya itu Darmadi bukannya terlihat senang, berada diruang kerjanya dia malah tampak sangat terpuruk dan menyedihkan.


"Bagaimana mungkin putri yang kubesarkan dengan penuh kasih sayang bukan hanya akan melahirkan anak tanpa ayah tapi juga sudah menipuku tanpa rasa bersalah sedikit pun". Gumam Darmadi, ada rasa sesak didadanya saat mengetahui sang putri tercinta sudah berbohong perihal ayah dari bayi dalam kandungannya itu.

__ADS_1


Hidup berdua saja dengan Maya sejak putrinya itu lahir ke dunia ini membuat Darmadi tahu betul sifat dan sikap Maya dengan baik maka dari segala penjelasan yang di dapatkannya dari Maya Darmadi sudah bisa memastikan jika Haikal bukanlah ayah dari bayi tersebut.


Selain itu ada keraguan dihatinya ketika menatap mata sang putri ketika bertanya tentang ayah dari calon cucunya yang sedang dikandung Maya itu. Belajar dari kesalahan dalam menilai anaknya yang dianggapnya lugu itu maka Darmadi ingin menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.


Darmadi akhirnya mengikuti skenario yang telah di rancang oleh Maya, dia ingin melihat sejauh mana Maya akan bertindak gegabah seperti itu maka Darmadi segera menghubungi Haikal untuk memastikan jika pria itu juga tahu jikan anaknya telah berbohong dan berinisiatif meminta maaf kepada Haikal atas segala kecerobohan anaknya.


Hari ini dia mengundang Haikal kerumahnya, tentu saja Haikal sudah tahu apa yang diinginkan oleh Darmadi. Darmadi memilih bertemu dirumahnya karena dia ingin berbicara langsung dengan Maya maupun Haikal secara bersamaan.


Mendengar secara langsung dari mulut Haikal jika anak tersebut bukanlah bayinya membuat Maya murka bukan kepalang, Namun fakta yang dimiliki oleh Haikal memang tidak tebantahkan bagaimana bisa kandungan Maya berbeda jauh dari hari dimana Haikal dijebak olehnya.


Ya, perbedaan cukup signifikan dimana hari penjebakan iti terjadi sekitar 5 minggu yang lalu namun usia kandungan Maya telah mencapai usia 10 minggu.


Setegar-tegarnya seorang ayah yang melihat putri semata wayangnya terpuruk tetaplah akan rapuh juga, begitu juga dengan tuan Darmadi Wijaya, dia tumbang seketika karena serangan jantung yang dialaminya dan harus segera dilarikan ke rumah sakit.


Atas dasar kemanusiaan Haikal ikut membantu membawa Darmadi kerumah sakit bahkan dia yang menyurus semua keperluan pria paruh baya itu. Sebelum pingsan Darmadi juga sempat meminta maaf atas tindakan ceroboh Maya dan berterima kasih atas kemurahan hati Haikal yang masih mau membantu dirinya.


"Maafkan Maya Haikal, tolong jangan hukum dia atas semua kekacauan ini, usianya yang masih belia dan tanpa adanya kasih sayang seorang ibu sejak dia dilahirkan ke dunia ini membuatnya labil seperti ini".


"Jangan terlalu memikirkan hal itu tuan, yang penting kesehatan anda saat ini karena Maya hanya memiliki anda".


"Terimakasih atas semua kemurahan hatimu nak, berjanjilah padaku apapun yang terjadi jangan biarkan Maya sendirian". Ucap Darmadi lagi penuh mohon, belum sempat Haikal menjawabnya Darmadi sudah tidak sadarkan diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2