Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 100


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi namun Nino dan Shely masih betah bergelung di bawah selimut mereka dengan saling berpelukan dan tentu saja tanpa sehelai benang pun sebagai pembatas untuk kulit keduanya saling bersentuhan.


Rupanya aktivitas yang cukup melelahkan tadi malam membuat keduanya masih terbuai di alam bawah sadarnya, bak pengantin baru mereka melakukannya tanpa mengenal lelah seolah tidak ada hari esok untuk dapat mengulangnya lagi bahkan keduanya melupakan putra satu-satunya yang entah bagaimana keadaannya saat ini.


Sheno sudah tiga kali bolak balik ke kamar orang tuanya untuk melihat apakah kedua orang tuanya sudah bangun namun hasilnya masih nihil bahkan bocah itu terus bertanya tentang apa yang di lakukan Nino dan Shely berdua saja di dalam kamar sejak tadi malam sehingga membuat Marqin dan Celina kewalahan untuk menjawabnya.


"Apa yang mama sama papa lakukan di dalam sana hanya berdua saja kenapa tidak mengajakku mom?". Tanya Sheno kepada Celina.


"Emmh, sebenarnya mereka berdua sedang berdiskusi agar mereka berdua cepat berbaikan dan kamu bisa tinggal bersama papa dan mama dalam satu rumah yang sama nanti kalau kita sudah sampai di Indonesia". Jawab Celina sebijak mungkin.


"Benarkah?, itu berarti aku dan papa akan selalu bersama dan tidak akan berpisah lagi?". Tanya Sheno antusias.


"Tentu baby, jadi kamu harus bersabar dan tidak mengganggu mereka, oke".


"Ya, jangan ganggu mereka karena mereka akan segera membelikan mu adik dan ganggu saja kami karena kami sudah berhasil membelikan mu adik, begitulah alasan papa mu itu". Celetuk Marqin yang sangat kesal dengan tingkah Nino karena menitipkan Sheno sejak tadi malam bahkan tidak peduli tentang kabar putranya itu. Belum lagi kehadiran Sheno juga membuat aktivitas malamnya bersama Celina terganggu hanya demi kepentingan aktivitas malam Nino dan Shely.


Celina membulatkan matanya kearah Marqin karena ucapan ekstrim suaminya itu, Sheno bukanlah bocah yang bisa berhenti bertanya jika dia mendengar ucapan yang membuat logikanya harus berpikir keras sudah bisa di pastikan jika pertanyaan demi pertanyaan akan muncul dari bibir mungil bocah tampan itu.


"Jadi papa dan mama juga akan membelikan adik untukku?, apa membeli adik harus berada di dalam kamar sepanjang waktu dad?, bukankah jika kita ingin membeli sesuatu seharusnya kita ke toko atau memesannya?". Tanya Sheno penasaran.


Marqin bingung harus menjawab apa karena dia terjebak dengan ucapannya sendiri sehingga membuat Celina tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol suaminya itu yang sejak tadi malam uring-uringan akibat Nino menitipkan Sheno kepada mereka.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Marqin sangat marah kepada Nino, hal itu di karenakan Marqin dan Celina sedang menikmati malam yang indah dan harus di tunda hanya karena Nino mengatakan melalui sebuah pesan jika Sheno demam dan selalu memanggilnya nama daddy nya dan dia ingin di jemput oleh Marqin untuk bermalam di kamarnya.


Marqin yang memang sangat menyayangi Sheno layaknya putranya sendiri segera berlari ke kamar Nino dan mendapati jika bocah itu sedang tertidur pulas dengan sebuah pesan di sampingnya.


"Jaga putraku dengan baik, aku dan Shely sedang honeymoon. Jangan marah apalagi membantah karena kau sendiri yang selalu mengatakan jika putraku adalah putraku jadi kau juga harus ikut andil menjaganya dengan baik". Itulah isi surat kaleng yang tentu saja Marqin tahu siapa yang menulisnya, dia ingin marah namun apa yang dikatakan oleh Nino benaran adanya jika Marqin memang menyayangi Sheno dan dia tidak mungkin membiarkan Sheno tidur sendirian.


Maka bisa di bayangkan bagaimana kesalnya pria tampan itu karena hanya demi Sheno dia menunda perjalanan indahnya di atas ranjang bersama Celina, padahal selama Celina hamil Marqin tidak pernah absen menyentuh istrinya itu karena menurutnya Celina terlihat sangat seksi dengan tubuhnua yang semakin berisi itu sehingga membuat hasratnya semakin menggebu-gebu.


"Shiit, malam ini kau bisa mempermainkanku Nino Fernando tapi jangan harap kau bisa melakukan hal yang sama di lain waktu karena aku tidak akan membiarkannya lagi, kenapa Sheno harus punya papa seperti pria itu hah?". Ujar Marqin sambil meremas kertas yang bertuliskan pesan dari Nino.


Sebenarnya Marqin bisa saja mengganggu Nino dan Shely agar malam itu mereka tidak memiliki waktu berduaan namun rasa rindunya kepada Sheno juga sudah memuncak karena selama Nino berada di Dubai pria itu melarang keras Marqin untuk membawa Sheno tidur bersamanya sehingga melihat wajahnya damai Sheno yang tertidur pulas itu membuat Marqin luluh dan mengalah.


Marqin juga tidak mau masalah antara Nino dan Shely semakin berlarut-larut dan membiarkan mereka segera menyelesaikannya karena dia tahu hal tersebut akan berpengaruh pada pekerjaan Shely yang juga berdampak pada perusahaannya namun yang membuat Marqin sangat kesal adalah ketika Nino dan Shely yang tidak tahu waktu bahkan sampai melupakan putranya sendiri.


"Sudah sayang jangan dengarkan daddy, yang paling penting kau mau kan melihat papa dan mama baikan lagi, jadi biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dulu". Ujar Celina lembut.


Sheno sangat bahagia mendengar penjelasan Celina tentang kedua orang tuanya yang akan segera berbaikan dan impiannya untuk tinggal bersama papanya bisa segera terwujud.


Sementara itu di dalam kamarnya Shely mulai menggerak-gerakkan matanya berusaha untuk bangun karena selain matahari sudah mulai masuk ke dalam kamar tersebut, perutnya yang sejak tadi malam belum terisi dengan makanan apapun juga sudah mulai memberontak.


Tubuh Shely serasa remuk akibat ulah suaminya semalaman, apalagi bagian intinya juga terasa perih akibat banyaknya ronde yang mereka lewati, saat dia berusaha menggerakkan tubuhnya dengan sigap Nino menariknya lagi dan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Mas, lepaskan aku, aku mau mandi dan makan, aku sudah sangat lapar". Ujar Shely kemudian dia melirik kearah jam dan betapa terkejutnya dia ternyata pukul sudah menunjukkan jam 10 pagi. "Mas, kita kesiangan, Sheno pasti mencari kita, ayo cepat bangun". Seru Shely lagi.


"Sheno akan baik-baik saja sayang, dia bersama daddy nya itu jadi dia pasti aman, ayo kita tidur lagi". Jawab Nino enteng.


"Tapi mas aku sangat kelaparan". Rengek Shely agar Nino melepaskannya.


"Baiklah akan aku pesankan makanan".


"Aku juga mau mandi mas, badanku sudah lengket".


Nino segera bangkit dan menggendong Shely menuju kamar mandi. "Ayo kita mandi". Ujarnya.


"Aku tidak mau, aku bisa jalan dan mandi sendiri". Protes Shely.


"Baiklah tapi biarkan aku antar sampai ke kamar mandi, kamu pasti kesakitan dan kelelahan akibat ulahku tadi malam, maaf ya sayang, kamu tahu sendiri kan jika menahannya selama lima tahun tidaklah mudah untukku". Ujar Nino lembut.


Shely sama sekali tidak merespon ucapan Nino dia merasa sangat malu jika harus membicarakan hal tersebut maka dia lebih memilih menyembunyikan wajah merahnya di dada sang suami. Nino menepati perkataannya untuk tidak mengganggu Shely selama Shely mandi karena dia tahu pasti istrinya itu sangat kelelahan karena ulahnya.


Nino kemudian memesan makanan untuk mereka sarapan sambil menghubungi Marqin agar mengantarkan Sheno ke kamar Shely, Marqin awalnya menolak dengan keras namun karena Nino mengatakan jika Marqin tidak mengantarkan Sheno sekarang maka mereka akan mengunci pintu dan menghabiskan waktu seharian hanya berdua saja dengan Shel maka Marqin segera menyetujuinya karena dia juga butuh waktu berduaan dengan Celina. Nino sangat senang ketika mendengar Marqin marah-marah tak karuan dengan. segala sumpah serapah yang marqin ucapkan untuknya saat dia menghubunginya.


"Kapan lagi aku bisa menyuruh-nyuruh pria angkuh itu, rasakan itu siapa suruh kau membantu Maya untuk menyembunyikan Shely dariku". Ujar Nino penuh kemenangan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2