
Jika dulu Shely memimpikan ketika dirinya dan Nino bisa makan malam bersama maka tidak dengan kali ini, ada rasa takut dan juga penyesalan karena menyanggupi ide tuannya itu.
Tatapan Shely fokus hanya keluar jendela dan entah apa yang di dalam pikirannya yang jelas diabtidak bisa membayangkan jika harga dirinya harus di pertaruhkan hanya untuk sejumlah uang.
"Kita sudah sampai, ayo turun". Ajak Nino yang turun terlebih dulu tanpa mempedulikan Shely.
Shely menatap punggung Nino yang semakin menjauh lalu kemudian membuka pintu mobil dan keluar menatap bangunan mewah di depan matanya.
"Huuh, hancur sudah harga diriku". Gumam Shely lalu menyusul Nino masuk kedalam rumah mewah tersebut.
Nino ternyata malam ini mengajak Shely untuk bertemu dengan kedua orang tuanya dan memperkenalkan Shely sebagai wanita pilihan yang akan di nikahi olehnya, sesuai dengan kesepakatan jika Shely bersedia bekerja sama dengan Nino untuk membatalkan rencana pernikahan itu maka Shely akan di beri imbalan sebanyak seratus juta rupiah tentu saja Shely sangat tergiur dengan jumlah tersebut di tengah pengharapannya untuk segera memiliki rumahnya sendiri.
Ningsih dan Hartono menatap Shely dari ujung kaki sampai ujung kepala, mereka masih bingung melihat penampilan gadis cantik yang di ajak oleh Nino kerumah mereka itu. Ya, Shely dengan penuh percaya diri berdandan menor dan menggunakan baju yang sangat seksi meskipun dia berusaha bersandiwara jika dia nyaman dan sudah terbiasa dengan pakaian dan dandanan seperti itu namun Ningsih dan Hartono bisa melihat dengan jelas ketidaknyamanan dan keterpaksaan di wajah gadis cantik itu.
"Shely tante, Om". Sapa Shely sambil mengulurkan tangan.
Bukannya membalas sapaan Shely, Ningsih justru memeluk Shely dan merangkul gadis itu.
"Kamu pasti perlu tenaga dan rasa percaya diri ekstra untuk memenuhi permintaan anak tante supaya mau di suruh berpakaian dan berdandan seperti ini sayang, ayo ikut tante supaya kita bisa ganti pakaian kamu seperti pakaian yang biasa kamu pakai sehari-hari". Ajak Ningsih menuntun Shely menuju kamarnya.
__ADS_1
Sontak hal itu membuat Nino mati kutu mendengarnya, dia tidak menyangka jika orang tuanya tahu akan rencana yng telah di susun rapi olehnya.
"Permainan apa ini boy?". Tanya Hartono pada sang anak.
"Heem, tidak ada pa, hanya saja Nino ingin menguji apakah papa sama mama bisa mengenal baik wanita yang Nino akan jadikan sebagai istri Nino". Jawab Nino canggung namun Hartono bisa melihat jika putranya itu sedang berusaha membela diri.
"Baiklah, anggaplah kami sudah bisa menilai dengan baik dan gadis itu bukanlah pilihan yang buruk, papa sudah sangat mengenalnya dan dia juga gadis yang pintar".
Nino sungguh mengutuk kebodohannya karena memilih Shely untuk di ajak kerumahnya dan di kenalkan kepada kedua orang tuanya, karena walaupun Hartono sudah tidak aktif di perusahaannya namun pria paruh baya itu tentu saja akan selalu memantau perkembangan perusahaannya dan juga kinerja setiap karyawannya.
Senjata makan tuan, itulah yang sekarang sedang di alami oleh Nino ketika niatnya membawa Shely kerumah sebagai calon istrinya dan berharap Shely akan di tolak oleh kedua orang tuanya namun yang terjadi adalah sebaliknya, Shely sepertinya di terima baik di rumahnya bahkan saat ini Ningsih sedang mendandani Shely dan memakaikan pakaian mahal miliknya kepada Shely padahal selama ini Ningsih adalah tipikal orang yang sangat sulit untuk akrab dengan orang asing apalagi sampai membawa kekamarnya.
Saat Shely keluar bersama Ningsih, Nino yang awalnya tidak peduli tiba-tiba di buat pangling dengan penampilan elegant gadis itu.
"Heem". Seru Hartono membuyarkan lamunan sang putra. "Bisa kita makan sekarang?, papa sudah lapar". Sambungnya lagi.
Suasana di meja makan hening seketika ketika empat orang tersebut sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Nino dan Shely tentu saja tidak bisa makan dengan tenang ketika melihat reaksi orang tua Nino yang sangat tenang seperti sedang tidak terjadi apa-apa dan makan dengan lahapnya. Mereka saling lirik seolah menanyakan misi apa selanjutnya yang harus mereka lakukan agar mereka lolos dari incaran pertanyaan yang mematikan dari Ningsih dan juga Hartono.
"Makan yang banyak sayang, calon pengantin harus makan yang banyak dan makan makanan sehat supaya kalau kalian sudah menikah kalian cepat di karunai anak". Ujar Ningsih lembut.
__ADS_1
"Uhuk". Nino tersedak mendengar ucapan ibunya, sedangkan Shely menelan salivanya dengan susah payah karena jika misinya gagal maka uang seratus juta rupiahnya akan raib begitu saja di depan matanya bahkan lima puluh persen yang sudah di transfer kan Nino kedalam rekeningnya harus dia kembalikan.
"Pelan-pelan makannya nak, mama mengerti kalau calon pengantin memang akan salah tingkah di hari pertamanya mengenalkan calon istrinya di hadapan kedua orang tuanya, iya kan pa?". Celetuk Ningsih lagi dan Hartono mengangguk sambil tersenyum.
Usai makan malam mereka semua sepakat untuk berbicara di ruang tamu guna perkenalan yang lebih mendalam lagi dengan Shely.
"Jadi kapan kalian akan menikah?". Tanya Hartono serius.
"Papa sama mama baru bertemu Shely satu kali ini, apa papa sama mama akan langsung menerima Shely tanpa kenal lebih dekat lagi dengan Shely dan keluarganya?". Tanya Nino mengulur waktu karena sepanjang aktivitas mereka di meja makan Nino akhirnya mendapatkan ide baru untuk membatalkan pernikahan itu dengan mempertemukan orang tuanya dengan orang tua Shely.
Jika di lihat dari segi penampilan dan status sosial Shely dan keluarganya mustahil bagi kedua orang tua Nino bisa menerima Shely sebagai menantu di keluarga itu.
"Baiklah kalau begitu atur waktu supaya papa dan mama bisa segera bertemu dengan orang tua Shely". Jawab Ningsih antusias. "Sebenarnya mama sama papa sudah yakin dengan gadis pilihan kamu ini tanpa harus kenal lebih dekat dengan dia dan keluarganya karena kurang baik apa calon menantu mama ini dia bahkan rela dandan seperti yang di minta oleh calon suaminya meskipun dia sendiri tidak nyaman, maafkan kelakuan anak mama ya Shely". Sambung Ningsih lagi sambil membelai rambut panjang Shely.
Shely benar-benar kehabisan kata-kata berada di tengah keluarga Nino, reaksi yang di timbulkan olehnya hanya mengangguk sambil tersenyum kecut dan sesekali meilik kearah Nino seolah meminta pertolongan dari pria itu. Shely tak habis pikir misinya dan Nino bisa di tebak dengan mudah oleh kedua orang tua Nino membuat kepalanya pusing seketika, apalagi jika misi konyolnya ini harus melibatkan kedua orang tuanya yang memiliki tingkah laku yang sedikit absurd.
Setelah perdebatan atau lebih tepatnya pemaksaan dari Ningsih dan Hartono yang bersikeras ingin segera bertemu keluarga Shely dan akhirnya di sanggupi oleh Nino di akhir pekan ini, saat ini Nino dan Shely bisa bernapas lega karena sudah berada di dalam mobil dengan sama-sama mebuang napas kasar dan menatap dengan tatapan mematikan satu sama lainnya.
"Ini semua salah kamu". Seru mereka kompak dengan tatapan saling membunuh dan menobarkan api permusuhan di antara mereka berdua.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saran dong, kiita lanjutkan cerita Maya dan Marvin atau di selingi dengan cerita Nino dan Shely dulu?