Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 57


__ADS_3

Entah berapa lama Maya tertidur pulas, terakhir kali wanita itu masih berada di rumah sakit berdebat dengan suaminya perihal rencana babymoon mereka. Mata lentik wanita cantik itu mulai bergerak-gerak kecil menandakan si empunya mata ingin sekali membuka matanya dan melihat sekitarnya.


Namun rasa nyaman yang teramat sangat dirasakan oleh Maya membuatnya tetap betah memejamkan matanya. Marvin tersenyum melihat tingkah sang istri yang sangat menggemaskan itu, dia heran bagaimana istrinya bisa tidur berjam-jam lamanya bahkan dia tidak terbangun saat tubuhnya beberapa kali merasakan guncangan.


"Marvin, berapa kali lagi harus aku katakan jangan menatapku seperti itu saat aku sedang tertidur, aku malu". Ujar Maya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.


"Kau sangat cantik saat sedang tidur". Jawab Marvin dengan tatapan penuh cinta.


"Kau ini". Maya menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya sampai batas kepala.


"Apa kau masih ingin tidur setelah sekian lamanya?". Tanya Marvin.


"Heeem". Jawab Maya malas.


"Sayang, kau yakin?". Tanya Marvin lagi.


"Iya Marvin, aku ingin tidur sepanjang hari karena jika aku bangun pun kegiatanku akan seperti itu-itu saja, kau selalu melarangku melakukan ini itu". Protes Maya yang mulai kesal pada suaminya.


"Tapi sekarang kegiatan kita akab sedikit berbeda dari biasanya". Ujar Marvin dengan senyuman licik.


"Maksudnya?".


"Kita akan bercinta di atas puluhan riabu kaki di udara". Jawab Marvin kemudian melahap bibir Maya secara brutal.


Setelah Marvin melepaskan pungutannya Maya yang masih penasaran langsung menatap sekelilingnya, dia baru menyadari jika tempat tidur dan suasana kamar yang saat ini dia tempati memang sangat asing baginya.


Maya membulatkan matanya ketika menyadari mereka sedang berada di udara. "Marvin kita di private jet?.


Marvin tetap melanjutkan aktivitas panasnya di seluruh tubuh sang istri tanpa mempedulikan pertanyaan Maya. Maya mendesah tak karuan dengan sensasi yang di berikan oleh Marvin di atas permukaan kulitnya itu. Namun bukan Maya namanya jika belum bisa mendapatkan jawaban pasti dari sang suami.


"Marvin jawab pertanyaanku dulu, apa kita sedang di dalam private jet dan kita mau kemana?". Tanya Maya tegas sambil menahan kepala sang suami agar tidak dapat menjangkau bagian dadanya.


"Yang pasti tempat yang sangat indah dan sangat di impikan oleh banyak wanita, sudah jangan bertanya lagi sayang, tentu saja kita akan berbulan madu dan kau akan tahu jawabannya sebentar lagi jadi biarkan aku mendapatkan kebahagiaanku dulu sekarang". Ujar Marvin dengan suara seraknya dan tanpa aba-aba dia kembali menyerang Maya tanpa ampun.


Kemudian dua insan itu saling memadu kasih di atas private jet yang sedang mengudara. Karena selama berada di rumah sakit Marvin sudah cukup bersabar untuk tidak menyentuh sang istri karena kekhawatiran berlebihan yang di rasakan Maya yang akhirnya mau tidak mau membuat Marvin mengalah juga.

__ADS_1


...----------------...


Maya menatap sekelilingnya, tempat asing yang di penuhi oleh orang-orang berkulit putih dan bermata sipit, perasaannya mulai tidak enak dengan kemungkinan negara yang saat ini di injak olehnya adalah negara yang palin tidak ingin dia kunjungi selama ini dan bagaimana bisa suaminya justru membawanya ketempat itu.


"Marvin tunggu dulu, kita dimana?". Tanya Maya penasaran. Maya masih mencari-cari sumber informasi akurat di sekelilingnya tanpa mau menunggu saja jawaban dari sang suami yang hanya membalas pertanyaan darinya dengan senyuman.


Maya melihat di sekelilinganya banyak tulis yang sulit dia pahami bahkan sulit untuk di baca olehnya. Dia membulatkan matanya dengan sempurna karena sungguh masih tidak peraya jika Marvin membawanya ke negara itu, sangat yakin jika sekarang dia benar-benar berada di negara yang sangat di hindari olehnya.


"Marvin, kenapa kita kemari?". Seru Maya dengan nada bicara yang sangat kesal.


"Tentu saja karena kita akan berlibur sebelum menyambut kelahiran anak kita nanti sayang, kau lupa ya?". Tanya Marvin tanpa dosa.


"Marvin aku tidak mempermasalah untuk apa kita kemari yang aku permasalahkan kenapa kita harus kemari". Sentak Maya.


"Lalu kita harus kemana sayang, meskipun aku juga sulit untuk menerimanya tapi bukankah ini adalah negara yang di impikan oleh berjuta-juta kaum wanita di seluruh dunia?".


"Hah, kau ini sebenarnya suamiku atau bukan sih?, Marvin sungguh aku sangat tidak berminat mengunjungi negera ini. ayo kita pergi saja dari sini".


"A-apa sayang, yang benar saja?. kau jangan bercanda". Tanya Marvin tak percaya dengan apa yang di dengar.


"Sayang apa kau normal?".


"MARVIN". Sentak Maya.


"Ta-tapi kenapa sayang, bukankah semua wanita seumuran denganmu sangat ingin berkunjung kenegara ini?".


"Marvin tolong jangan berdebat denganku lagi, aku tidak ingin mengunjungi negara ini, sungguh. Aku lebih senang melihat wajah para pria yang berhidung mancung dan memiliki bulu-bulu tipis diwajahnya seperti kau dan Jack di bandingkan harus melihat para pria dengan wajah cantiknya menari lincah dan tanpa bulu sedikitpun di wajahnya layaknya seorang wanita". Jelas Maya panjang lebar. "Eh, tapi dimana Jack?, aku tidak melihat pria itjmu dari tadi". Sambung Maya lagi sambil menatap sekelilingnya.


"Hahaha". Marvin tidak dapat menahan tawanya mendengar ocehan sang istri dia sama sekali tisak menyangka jika Maya memiliki pemekiran seperti itu.


"Marvin hentikan tawamu itu dan katakan kapan kita akan meninggalkan tempat ini?". Tanya Maya dengan tatapan tajamnya sehingga membuat nyali Marvin menciut.


"Oke baiklah sayang, walaupun kau tidak ingin berada disini tapi kita tidak akan menjnggalkan negara ini sekarang juga karena ini sudah larut malam dan kau membutuhkan istirahat jadi kita akan menginap disini malam ini dan aku janji akan membawamu pergi dari sini besok pagi heem". Jawab Marvin.


Mau tidak mau Maya pun mengikuti saran Marvin, dia juga tidak mau kelelahan karena dia sangat menjaga kondisi kehamilannya. Marvin memberi kode kepada para pengawalnya agar mengambil kursi roda untuk digunakan oleh istrinya.

__ADS_1


"Ayo sekarang duduk, aku akan mendorongmu". Titah Marvin.


"Kursi roda?. Aku tidak membutuhkannya".


"Sayang, kau bilang tadi tidak ingin berdebat denganku jadi ayo cepat duduk".


"Aku tidak sakit Marvin".


"Tapi kau hamil sayang".


"Hah, baiklah, tapi sekarang jawab pertanyaanku, dimana Jack karena aku tidak melihatnya sejak tadi di pesawat?".


"Tentu saja di indonesia". Jawab Marvin cuek.


"What?, Marvin hubungi dia dan suruh dia menyusul kita sekarang juga".


"What?, apa aku tidak salah dengar?".


"Marvin kita sangat membutuhkannya".


"Jadi kau lebih membutuhkannya di bandingkan suamimu sendiri?".


"Bukan aku, tapi kau".


"Aku?, bagaimana mungkin aku membutuhkan seorang pria saat sedang berbulan madu seperti ini?".


"Berhenti menghubungkan segala sesuatunya dengan urusan ranjang Marvin. Kau tahu, bahkan aku tidak yakin kau bisa memesan makanan untukku jika tidak ada Jack". Ujar Maya, dia tahu jika Marvin selalu bergantung pada Jack dalam hal apapun.


"Kau meremehkan suamimu ini?, lihat disana ada mereka". Jawab Marvin sambil menunjuk kearah para pengawalnya.


"Mereka semua tidak sebanding dengan satu orang Jack, apa kau juga akan menyuruh mereka berbelanja ke supermarket jika kita butuh sesuatu?".


Marvin langsung terdiam mendengar penjelasan Maya, apa yang dikatakan oleh istrinya itu ada benarnya juga karena hanya Jack yang tahu apa yang mereka butuhkan tanpa harus bersusah payah Marvin untuk menjelaskan.


"Baiklah aku sependapat denganmu". Jawab Marvin lalu pria itu segera menghubungi sang asisten meskipun dengan perasaan yang kesal. Padahal dia berencana agar Jack tidak ikut dengannya dan Maya karena pria itu pasti akan selalu membuatnya merasa kalah saing oleh Jack yang banyak tahu itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2