
Marvin segera menghindari Maya sebisa mungkin karena sejahat apapun fantasi liarnya sedang bekerja saat ini namun dia tetap mempunyai sisi kemanusiaan yang baik, dia tidak mau merusak gadis polos seperti Maya karena dirinya pun tidak mau terikat apapun dengan seorang wanita, hidupnya bahagia, bebas tanpa beban dan dia tidak mau merusak itu semuanya.
Marvin hendak menyiapkan air hangat di bath up kamar mandi untuk merendam tubuh Maya agar gadis itu bisa menetralisir hawa panas yang ada didalam tubuhnya. Sebagai pria dewasa Marvin tentu tahu betul apa yang sedang dialami oleh gadis itu, pasti para pria bajiingan tadi telah mencampurkan sesuatu kedalam minuman Maya.
Namun berbeda dengan Maya, gadis yang sudah tidak tahan dengan hawa panas yang menjalar keseluruh tubuhnya itu terus berusaha merayu sang pujaan hati, ya dimata Maya pria dihadapannya ini adalah Haikal.
Maya memeluk tubuh Marvin dari belakang, melingkar kedua tangannya dengan erat di pinggang Marvin, tidak lupa sesekali jari jemarinya bermain nakal diarea terlarang milik Marvin hal itu membuat Marvin sangat sulit untuk mengendalikan diri apalagi tongkat ajaib miliknya sudah berubah wujud seolah meronta-ronta ingin keluar dari dalam celananya yang sudah terasa sesak itu.
"Stop, gadis kecil kau akan sangat menyesli perbuatanmu ini". Geram Marvin dengan memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.
"Lakukanlah kak, aku sudah tidak tahan lagi, aku sangat menginginkanmu". Suara Maya dengan ciri khas serak itu yang semakin membuat Marvin setengah mati menahan hasratnya, sangat langka baginya wanita memiliki suara seseksii itu.
"Oh mya god, jangan salahkan aku jika kau menyesal nantinya". Marvin segera membalikkan tubuhnya dan menyerang Maya tanpa ampun, semua pakaian yang Maya kenakan raib dari tempatnya.
__ADS_1
Marvin menelan salivanya dengan susah payah ketika melihat tubuh polos milik Maya, kulit lembut dan putih bersih tanpa cacat sedikit pun. Melihat hal itu Marvin kembali menggiila apalagi saat mengendus wangi tubuh Maya yang sangat harum itu.
Berada dibawah kungkungan seorang Marvin Askari dengan keahliannya di atas ranjang yang tidak bisa diragukan lagi membuat Maya hanya bisa mendesah kenikmatan tanpa bisa mengimbangi permainan Marvin apalagi ketika seluruh permukaan kulitnya menjadi objek permainan Marvin.
Setiap inci tubuh Maya tudak pernah luput dari pandangan dan permainan bibir dan juga lidah Marvin. Marvin tidak pernah membayangkan jika niat baiknya menolong Maya malah berujung pada kenikmatan tiada tara.
Ketika permainan Marvin berada dipuncak pabrik susu alami miliknya Maya tidak kuasa untuk tidak mengeluarkan nada indah nan laknat dari bibir mungilnya sehingga Marvin sangat bersemangat untuk memberikan Maya kenikmatan yang lebih lagi, kenikmatan duniawi yang mungkin akan sangat disesali oleh gadis itu.
Maya mendesah kenikmatan saat bagian intinya disapu bersih oleh benda kenyal, ya bibir dan lidahh Marvin mengobrak-abrik liang kenikmatan miliknya sehingga membuat dirinya menggiila, spontan saja tangannya menekan kuat kelapa Marvin agar melakukannya lebih dan lebih lagi.
Ketika memasuki babak selanjutnya yaitu pada permainan inti Marvin sudah bersiap dengan tongkat seorang pria blasteran yang tentu saja berukuran diatas rata-rata itu sudah siap menantikan kenikmatan didalam sana.
Namun ketika tongkatnya seolah terhalangi dengan pintu masuk liang duniawi itu sangatlah sempit Marvin kembali tersadar untuk tidak melakukan tindkan bodoh itu, hati nurani sedang berbicara meskipun logikanya menolak akan hal itu.
__ADS_1
Maya seolah tahu jika pria itu ragu untuk melakukannya, namun karena dorongan kuat dari dirinya untuk segera merengguh kenikmatan itu Maya segera mengambil perannya. Maya kemudian menarik pinggang Marvin dengan kuat sehingga tongkat itu masuk dengan sangat dipaksakan, baru setengahnya namun Maya sudah perih dan merasakan kesakitan yang luar biasa disana.
"Aws". Rintih Maya sambil mencengkram kuat punggung Marvin sehingga mungkin menimbulkan luka dipunggung mulus itu, namun sudah sangat tidak mungkin bagi Marvin untuk menghentikan aksinya meskipun Maya merintih kesakitan. Marvin kemudian kembali menjajal bibir Maya dengan bibirnya untuk membuat sang gadis lebih releks.
Mendiamkan sejenak tongkatnya didalan sana membuat Marvin merasakan kenikmatan tiada tara ketika tongkat sakti itu seolah diremas-remas bahkan dia dapat merasakan denyutan yng luar biasa nikmat didalam sana. Belum pernah dia merasakan kenikmatan luar biasa seperti itu meskipun itu bukanlah kali pertama baginya melakukan hal tersebut.
"Ternyata senikmat ini gadis yang masih virgin, aku bahkan tidak pernah merasakannya meskipun itu dari wanita yang aku cintai dulu". Batinnya, ya, bagi Marvin memberikan kenikmatan bagi seorang wanita bukanlah hal asing lagi, dia pernah bahkan bisa dikatakan sering kali melakukannya dengan wanita yang dia cintai namun sang wanita tidaklah virgin lagi meskipun dia masih berstatus gadis.
Maya terus merintih dan mendesah kesakitan namun hati nurani Marvin sudah mati seketika hanya logikanya yang masih berjalan sehingga dia tidak sadar telah merenggut sesuatu yang sangat berharga bagi seorang gadis padahal dia sendiri tidak siap dengan komitmen apapun dengan wanita manapun meski usianya sudah cukup matang.
Runtuh sudah tembok penghalang yang sangat berharga milik Maya dijaganya dengan sangat baik selama ini, tidak ada lagi sesuatu keistimewaan bagi seorang gadis didalam dirinya sekarang, dia hilang bersamaan dengan hilangnya akal sehat Marvin dan tumpahnya benih-benih kehidupan milik Marvin kedalam rahimnya, bahkan Marvin sendiri lupa jika dia tidak memakai pengaman saat melakukannya, kenikmatan itu sudah membuat mereka berdua lupa akan daratan.
Marvin terus berpacu mencari kenikmatan yang tiada tara itu tanpa dia sadari sudah berapa kali dia melakukannya karena hasrat didalam dirinya terus menuntutnya untuk melakukannya lagi dan lagi.
__ADS_1
Bahkan Marvin tetap tidak melepaskan Maya ketika wanita itu sudah menyadari jika pria yang berada diatasnya itu bukanlah Haikal, pria yang memiliki wajah tampan khas timur tengah dan dengan wangi tubuh yang sangat khas jelas sekali jika dia bukanlah pujaan hatinya. Maya terus memberontak sambil mengumpat Marvin dengan segala sumpah serapah namun Marvin tetap mengacuhkannya. hingga diakhir tenaga yang dia miliki Maya kehilangan kesadarannya.
Sungguh miris bukan ketika dalam ketidakberdayaan seorang wanita malah di manfaatkan oleh pria yang sama sekali tidak dikenalinya, sebelum kesadarannya hilang Maya masih bisa menatap penuh rasa penyesalan bahkan air mata tumpah dari pemilik mata lentik itu, melihat dengan jelas mata indah berwarna abu-abu milik Marvin yang ada dihadapannya dengan tatapan penuh mohon namun Marvin tetap tidak melepaskannya. Marvin benar-benar seperti kesetanan hingga melupakan begitu saja prinsipnya yang tidak mau merusak masa depan gadis polos itu.