Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 50


__ADS_3

Maya mengerjapkan matanya saat matahari mulai merangkak naik ke pembaringannya. Rupanya perdebatan sengit antara dirjnya dan Marvin tadi malam cukup menguras tenaganya sehingga Maya bangun kesiangan hari ini, biasanya wanita itu sudah bangun sebelum subuh.


Maya menoleh ke samping dan mendapati Marvin yang juga masih setia dengan tidur pulasnya ternyata pria itu tidak pergi walaupun Maya sudah mengusirnya. Maya memijit pelipisnya yang terasa nyeri mungkin akibat kebanyakan menangis semalaman.


Maya menggeser secara perlahan tangan Marvin yang setia memeluk pinggangnya agar tidur suaminya tidak terganggu namun semuanya sia-sia saja, baru bergerak sedikit saja Marvin langsung terbangun karena menyadari Maya sudah bangun.


"Kau sudah bangun sayang, apa kau membutuhkan sesuatu?, biar aku yang ambilkan". Tanya Marvin dengan suara ciri khas orang bangun tidur.


"Ti-tidak perlu aku bisa sendiri". Jawab Maya ketus lalu beranjak pergi hendak ke kamar mandi.


Marvin dengan sigap kemudian meraih tubuh Maya dan menggendongnya.


"Sini biar aku bantu". Tegas Marvin.


Tanpa mau berdebat lebih banyak dengan suaminya, Maya lalu memilih diam saja dan pasrah dengan perlakuan manis Marvin yang menyiapkan segala keperluannya untuk mandi.


"Pria semuanya sama saja jika sedang ada permasalahan pasti akan bersikap manis kepada istrinya". Umpat Maya saat Marvin sudah keluar dari kamar mandi.


"Aku tidak seperti itu, bukankah setiap hari perlakuanku kepadamu sama seperti ini?". Tanya Marvin yang tiba-tiba muncul di balik pintu dan membuat Maya sangat terkejut sampai memegang jantungnya yang berdetak kencang.


Marvin lalu tersenyum manis melihat ekspresi istrinya.


"Mandilah cepat jangan selalu mengumpat suamimu ini, aku juga ingin mandi atau bagaimana jika kita mandi bersama?". Tanyanya dengan senyum menggoda.


"Marvin, cepat keluar dan tutup pintunya". Sentak Maya dengan wajah merah merona. Marvin tertawa dan kemudian meninggalkan Maya dengan rasa kesalnya itu.


Saat ini Marvin dan Maya sedang menikmati sarapan pagi mereka, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mereka hanya suara sendok, garpu dan piring yang bersautan yang terkadang terdengar nyaring.


Marvin melihat gelagat Maya yang sedang mencari seseorang yang tidak terlihat di pagi itu, dia tahu betul jika istrinya sedang mencari keberadaan Celina namun dia pura-pura tidak tahu dan memilih menyelesaikan makannya.


"Jika yang kau cari adalah Celina, maka kau tidak akan menemukannya lagi di mansion ini glbahkan di indonesia karena aku sudah mengusirnya". Tegas Marvin setelah mereka selesai dengan aktivitas makannya.


"Apa peduliku". Jawab Maya acuh padahal di dalam hati kecilnya di bahagia karena wanita bernama Celina itu sudah tidak berada disana bahkan dia tidak menyangka jika Marvin mengusirnya.

__ADS_1


"Benarkah?, tapi tadi malam ada yang menangis dan mengatakan padaku jika dia tidak dapat menerima kahdiran Celina dirumah ini, eemmh, terdengar seperti seseorang yang sedang cemburu saja".


"Terserah kau saja, aku mau ke kamar dulu". Jawab Maya sambil beranjak dari duduknya.


Marvin meraih tangan Maya dan berkata. "Sayang tunggu dulu". Kemudian dia berdiri tepat di hadapan Maya dan menatap intens wajah cantik sang istri. "Kau semalam memberikanku banyak pertanyaan, apa kau tidak ingin mendengarkan jawabannya heem?". Tanya Marvin lagi.


"I-itu, aku, aku tidak peduli, lupakan semua yang aku katakan tadi malam karena itu tidak penting". Jawab Maya terbata.


"Tapi sangat penting bagiku untuk menjawab segala pertanyaanmu itu sayang". Ujarnya sambil memeluk pinggang Maya dan membawa wanita itu kedalam dekapannya.


"Dengarkan aku, aku akan menjawab semua pertanyaanmu itu tapi bukan sekarang karena sekarang aku harus ke kantor karena ada hal penting yang sedang menantiku, tapi aku janji nanti malam aku akan memberikanmu semua jawaban itu, jadi siapkan dirimu karena kita akan malam malam di luar, apa kau setuju?".


"Terserah kau saja".


"Baiklah aku anggap kau setuju saja, jadi bersiap-siaplah aku akan pulang lebih cepat dan menjemputmu, dandan yang cantik ya". Ujar Marvin sambil menggoda Maya.


"Jadi jika tidak berdandan aku tidak cantik?".


"Ka tahu kau bahkan lebih cantik jika tida memakai apapun tapi mana mungkin aku mengajakmu keluar dalam keadaan seperti itu".


"Cukup sayang, pukulanmu itu membuatku kesakitan". Marvin menggenggam kedua tangan Maya lalu mengecupnya.


"Aku pergi dulu sayang, jaga dirimu dan anak-anak kita baik-baik karena kau tidak akan tahu seberapa besar pentingnya kalian di hidupku". Ucapnya lembut membuat jantung Maya berdetak kencang.


Marvin lalu mengecup seluruh wajah Maya dan di akhiri dengan mengecup bibir sang istri tanpa hentinya bahkan dia tidak peduli jika mereka saat ini berada di ruangan yang banyak di lalui oleh para pelayan.


Marvin seolah tidak ingin berpisah dengan sang istri tercinta apalagi ketika dia menyadari jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Sebenernya pria tampan itu memang berencana untuk tidak masuk kekantor hari ini namun da hari kejar deadline agar bisa membawa Maya babymoon, ya Marvin memang sedang menyiapkan kutan untuk sang istri dia tidak mau kalah dengan Haikal dan Anin yang dulu pernah mengajak Maya ikut serta bersama mereka saat melakukan babymoon.


"Marvin sudah cukup, kau tidak malu dengan para pelayan". Ujar Maya.


"Tidak, mereka tidak melihat apapun".


"Tidak melihat bagaimana, mereka juga punya mata Marvin".

__ADS_1


"Apa perlu aku pastikan jika mereka tidak melihat kita sedang apa disini?".


"Tidak perlu, aku sudah tahu jawabannya, sekarang pergilah karena kau sudah sangat terlambat". Ujar Maya, meskipun sebenarnya hatinya juga berat melepaskan kepergian suaminya pagi itu.


"Baiklah, tapi sebelum itu beri aku ciuman perpisahan yang tidak akan aku lupakan heem". Jawab Marvin lalu memungut bibir manis Maya dengan bibirnya.


Marvin melangkah di koridor kantornya dengan senyuman yang sangat jarang dia tampilkan di wajah tampannya itu, rupanya aktivitasnya tadi pagi bersama Maya membuat pria itu seperti orang tidak waras saja. Para karyawannya bahkan sempat tidak percaya jika yang mereka lihat itu adalah seorang Marvin Askari.


Bahkan Jack juga di buat bingung dengan tingkah laku majikannya apalagi saat mengerjakan segala pekerjaannya Marvin tampak sangat bersemangat dan dapat menyelesaikan semuanya dengan cepat.


"Seperti ada yang berbeda hari ini tuan?". Tanya Jack saat mereka bersiap meninggalkan kantor di sore hari itu.


"Apa maksudmu Jack?, bertanyalah dengan jelas jangan berbelit-belit begitu".


"Anda terlihat sangat berbeda, emmh, maksudku sangat bahagia".


"Menikahlah Jack agar kau tahu jika dunia ini ternyata sangatlah indah".


Jack menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Marvin dia turut bahagia karena kondisi rumah tangga majikannya yang sudah mulai membaik.


"Jika saja Maya tidak menikah denganmu maka saat ini aku juga sudah menikah tuan". Batin Jack.


"Jack berhenti ditoko bunga sebentar, aku mau membelikan bunga untuk istriku". Titah Marvin.


"Baiklah tuan". Sesuai dengan perintah Marvin Jack kemudian menghentikan mobilnya di sebuah toko bunga yang berada di seberang jalan sana karena jika memutar lagi maka mereka akan terjebak macet dan pasti akan terlambat sampai kerumah." Bunga apa yang harus aku belikan tuan?". Tanya Jack yang bersiap untuk turun.


"Tidak perlu Jack, biar aku saja". Jawab Marvin antusias.


"Tapi tuan toko bunga ada di seberang jalanan sana, biar aku saja yang membelinya".


Tanpa mempedulikan ucapan Jack, Marvin langusng melesat secepat kilat menuju toko bunga. Jack juga ikut turun namun dia memilih menunggu Marvin di dekat mobil.


Setelah beberapa saat berada di dalam toko bunga, Marvin kemudian keluar dengan membawa sebuah buket bunga merah basar di tangannya dengan wajah yang selalu di penuhi dengan senyuman. Jack yang melihat hal itupun ikut tersenyum dan kemudian berbalik hendak kembali kedalam mobil.

__ADS_1


***Bruuukk....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ***...


__ADS_2