Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 26


__ADS_3

"Marvin". Gumam Maya.


Deg, Deg, Deg....


Marvin terus bergerak mendekati Maya dengan langkah perlahan namun pasti sedangkan Maya bersusah payah menyeret langkahnya untuk mundur untuk menghindari Marvin.


Sungguh maksud hati ingin berteriak sekuat mungkin agar ada orang yang mau menolongnya namun apalah daya lidah Maya serasa kelu dan tidak bisa difungsikan lagi.


"Apa kabar Amaya, sepertinya kau sangat bahagia, apa kau tidak merindukanku heem?". Tanya Marvin dengan seringai liciknya.


Maya tidak dapat menjawab apapun selain terus mundur agar Marvin tidak dapat menjangkaunya sampai pada akhirnya tubuhnya menabrak dinding yang menandakan jika tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain pasrah.


Benar saja Marvin yang bertubuh tinggi dengan mudahnya meraih tubuh Maya dan mengunci kedua tangan Maya didinding.


"Kau kelihatan sangat cantik malam ini Amaya". Ucap Marvin sambil menelusuri leruk leher Maya, kulit Maya yang halus dan putih bersih itu membuat gairahnya bangkit seketika belum lagi wangi tubuh Maya yang sangat dirindukan olehnya.


Maya hanya bisa menahan semua perlakuan Marvin tanpa bisa berbuat apapun. Tubuhnya merespon dengan baik setiap setuhan Marvin apalagi indera penciumannya terasa sanga nyaman saat menghirup wangi maskulin dari tubuh Marvin. Benar kata orang jika sedang hamil wanita akan mengalami hal-hal diluar nalar buktinya Maya dia sangat membenci Marvin namun tubuhnya sangat menginginkan pria itu.


Marvin terus bermain-main denga leher Maya karena gadis itu menoleh kesamping saat Marvin mendekatinya tadi padahal Marvin sudah tidak tahan untuk tidak ******* bibir mungil Maya. Dan sialnya bibir Maya justru mengeluarkan ******* jahannam yang membuat Marvin semakin terbakar gairah karena merasa Maya juga sangat menginginkan dirinya.


Setalah puas bibirnya mengapu setiap inci leher Maya, bivbir Marvin kemudian terus turun hingga ke dada Maya yang tentu saja sangat kelihatan semakin besar dan berisi akibat kehamilannya sehingga Marvin semakin menggila.


Tapi hal yang tidak Marvin sangka adalah ketika tangannya mengelus-elus perut buncit Maya, entah dorongan dari mana namun dia merasa sangat nyaman melakukannya, Maya juga sempat terkejut karena Marvin mengelus-elus perutnya dia bahkan sempat merasa bahagia karena pria itu menyadari kehadiran mereka itu.


"Anak siapa yang sedang kau kandung ini heem?, Haikal atau Nino?". Tanya Marvin kemudian.


Deg, Deg, Deg....

__ADS_1


Mendengar pertanyaan yang tidak pernah disangkanya itu membuat irama jantung Maya riuh tak karuan, dadanya sesak karena setiap oksigen yang di hirup olehnya seolah menolak untuk masuk kedalam paru-parunya.


Pertanyaan macam apa ini, bukankah jelas jika Maya mengerahkan kesuciannya kepada Marvin dan dia tau pasti akan hal itu karena dari caranya menyentuh Maya bisa dipastika jika dia bukanlah pria bodoh, lalu mengapa harus bertanya seperti itu.


Buurgh...


Mungkin tadi Maya lemah karena terbawa perasaan dan hormon kehamilannya juga mendukung agar dia merespon sentuhan Marvin namun ketika pertanyaan laknat itu keluar dari mulut Marvin, Maya seolah memiliki kekuatan super yang dengan mudahnya bisa mendorong tubuh Marvin dengan kuat sehingga pria itu terjatuh kelantai.


Begitulah sejatinya seorang ibu yang notabanenya adalah seorang wanita, dia terlihat lemah dimata orang pada umumnya namun dia adalah pelindung nomor satu jika sudah bersangkutan dengan anaknya.


Dengan darah mendidih Maya mencoba menjauh dari Marvin yang terus berusaha menangkap tubuhnya namun dia kalah cepat karena tidak bisa lari sembarangan dan Marvin dengan mudahnya kembali meraih tubuhnya dan menjatuhkannya diatas tempat tidur.


"Kenapa terus berusaha menolakku, apa kau tidak ingat jika aku adalah pria pertama yang tidur denganmu dan kau pintar menjerat para pria karena pengalaman pertama yang aku berikan sangatlah menakjubkan". Ujar Marvin lagi kali ini dia sudah menindih tubuh Maya.


Maya sama sekali tidak menjawab sepatah kata pun dia hanya berusaha melepaskan diri dari kungkungan Marvin meskipun selalu saja gagal.


Kali ini Marvin sudah tidak tahan untuk tidak menikmati keranuman bibir Maya.


Maya kehabisan akal dia hanya bisa pasrah menerima perlakuan Marvin terhadapnya, dengan air mata yang menetes Maya hanya bisa membayangkan hal yang perbah terjadi beberapa bilan yang lalu akan kembali terjadi malam ini.


Bohong jika tubuhnya tidak menginginkan itu terjadi namun rasa sakit yang ditorehkan Marvin karena mempertanyakan tentang siapa ayah dari anak didalam kandungannya membuatnya jijik terhadap sentuhan demi sentuhan itu.


Tangan Maya terus meraih benda apapun yang ada di sekitarnya agar bisa dia gunakan untuk melepaskan diri dari Marvin namun setelah sekian lamanya dia hanya bisa meraih posel miliknya, bahkan saat ini Marvin sudah bermain diarea dadanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Dengan seluruh kekuatan yang tersisa Maya menekan tombol ponsel itu sembarang berharap dia bisa menghubungi Haikal ataupun Nino. Dan ya, dia berhasil. Ditaman saat Haikal, Nino dan Jack sedang asyik mengobrol ponsel Haikal tiba-tiba berdering dan nomor Maya tertera disana, Maya berhasil menghubungi nomor yang terakhir dia hubungi dilist panggilannya itu.


Haikal dengan dahi berkerut sempat merasa bingung pasalnya Maya tadi mengatakan jika dirinya akan beristirahat namun kenapa tiba-tiba menghubungi dirinya. jikapun dia perlu dengan Haikal dia bisa saja turun untuk bertemu dengannya langsung atau menyuruh pelayan memanggil Haikal.

__ADS_1


"Halo Maya". Ucap Haikal setelah menggeser timbol hijau dilayar ponselnya.


Hening tidak ada jawaban hanya ada suara yang menurutnya sangat aneh terdengar ditelinganya.


"Maya". Panggil Haikal lagi. Sedangkan di seberang sana Maya bersusah payah berusaha mengeluarkan suaranya.


"To-tolong aku". Ya, akhirnya Maya bisa juga meskipun suaranya sangat lemah dan serak.


"Kenapa meminta tolong, bukankah kau juga sangat menginginkannya?". Marvin yang juga mendengar perkataan Maya ikut meresponnya. Haikal mencerna suara siapa yang sedang didengarnya itu dan jantungnya langsung berdetak kencang saat menyadari jika dia tidak salah dengar.


Deg, Deg, Deg....


Haikal langsung berdiri dan melihat kearah kamar Maya dari bawah sana. Hatinya mulai gusar apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Maya.


"May, apa kamu baik-baik saja?". Tanya Haikal lagi namun lagi-lagi hening.


Haikal mulai mempercepat langkah kakinya dan tidak mempedulikan lagi pernyataan Nino dan Jack yang terlihat bingung dengan tingkah Haikal itu, namun mereka ikut bersama Haikal masuk kedalam rumah.


Anak tangga yang ditapaki Haikal seolah tidak tersentuh oleh kakinya begitu cepatnya dia melangkah. Begitu juga dengan Nino dan Jack meskipun mereka belum tahu pasti apa yang terjadi namun mereka sudah bisa menebak jika sedang terjadi sesuatu dengan Maya.


Buurgh...


Haikal menendang kuat pintu kamar Maya bahkan dengan satu kali tendangan saja pintu tersebut langsung terbuka dan menampilkan pemandangan yang sangat membuat ketiga pria itu tercengang dan penghuni kamar juga ikut terkejut bukan main sehingga mereka spontan menoleh kearah pintu yang terbuka itu.


"Maya". Teriak Haikal dengan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubunnya, sehingga membuat Anin yang sudah tertidur juga dapat mendengarkannya dengan jelas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2