
Wajah sumringah terus menghiasi wajah tampan asisten Jack sepanjang perjalanan menuju rumah Haikal, ya malam hari ini dia dan majikannya akan memenuhi undangan makan malam di rumah Haikal, bukan undangan tapi lebih tepatnya menawarkan diri untuk di undang.
Sejak kemarin Marvin memintanya untuk mengosongkan semua jadwalnya di akhir pekan kepada Jack maka sejak itu wajah Jack selalu dihiasi dengan senyuman.
"Kosongkan jadwalku dalam bentuk apapun di akhir pekan ini karena aku akan berkunjung ke rumah tuan Haikal untuk makan malam". Titah Marvin itu seolah seindah ungkapkan cinta di telingan Jack.
Jika Jack kelihatan sangat tampan dengan senyuman di wajahnya maka berbeda dengan Marvin pria itu justru selalu memasang wajah kesal bukan karena dia tidak senang akan bertemu dengan Amayanya tapi dia kesal bahkan ingin menghajar asistennya itu karena terus melontarkan kata-kata pujian dan bahagia akan bertemu Maya.
Sebisa mungkin dia menahannya karena jika dia melakukannya maka Jack akan bertanya-tanya dan mencurigai dirinya. Karena tidak bisa melampiaskan kekesalan secara langsung kepada Jack, maka Marvin membuat Jack kewalahan dengan setumpuk pekerjaan yang tidak ada habisnya sehingga membuat Jack menggerutu sepanjang hari.
Bukan Hanya Jack staf lain juga terkena imbasnya, sedikit saja mereka melakukan kesalahan maka tanpa segan Marvin akan memarahi mereka dan memberikan sanksi tanpa berpikir panjang.
"Menyetirlah dengan benar, jangan terus larut dalam hayalanmu yang tidak ada gunanya itu". Ujar Jack datar namun penuh penekanan.
"Tuan, anda belum pernah merasakan jatuh cinta, makanya anda tidak dapat mengerti apa yang aku rasakan saat ini". Jawab Jack antusias dia tidak peduli majikannya itu suka atau tudak yang penting dia bisa ikut serta dalam acara makan malam itu.
Ya, awalnya Marvin melarang keras Jack untuk ikut karena berdalih jika ini bukanlah bagian dari pekerjaan melainkan kunjungan pribadinya jadi Jack tidak di butuhkan baik sebagai asisten ataupun sebagai supirnya. Namun buka Jack namanya jika tidak memiliki seribu satu cara agar dia bisa ikut.
__ADS_1
Jack mengatakan kepada Marvin jika akan aneh jika dia datang kerumah Haikal sendirian belum lagi Marvin tidak pandai dalam berbicara atau lebih tepatnya berbasa-basi dan beramah-tamah dengan orang lain jadi jika dia ikut maka masalah komunikasi dan interaksi yang kurang di kuasai oleh Marvin bisa di tutupi oleh Jack.
Sialnya bagi Marvin itu semua ada benarnya, Jack benar Marvin sama sekali tidak pandai dalam berbicara secara tidak formal dengan orang asing, belum lagi dia juga takut jika tidak bisa menguasai diri jika bertemu dengan Amayanya nanti.
"Kau pasti akan menyesal karena pernah mengaguminya". Sambung Marvin lagi.
"Aku rasa anda yang akan menyesal jika menyia-nyiakan makhluk tuhanbyang sempurna sepertinya tuan". Tantang Jack, bukan Jack nama jika tidak suka berdebat dengan majikannya itu, halnitu membuat Marvin mengendus kesal sambil menahan emosi
"Akan ku patahkan lehermu jika saja aku tidak membutuhkan mu lagi Jackob". Batin Marvin dengan rahang mengeras, dia memilih untuk tidak menanggapi lagi perkataan Jack karena hal itu hanya akan sia-sia saja.
Sementara di rumah Haikal atas perintah sang majikan para pelayan sudah menyiapkan segala sesuatu yang sempurna untuk menyambut tuan muda dari Dubai itu, mulai dari makanan dan juga dekor ruangan yang semakin elegant dan mewah.
Haikal juga tidak lupa mengajak Nino, karena dia punya tujuan tertentu mengajak serta sahabatnya itu, namun tentu saja tanpa sepengetahuan Maya karena Maya pasti akan merasa risih jika dia mengundang Nino. Nino pasti dengan senagn hati menyetujui parmintaan Haikal untuk menyambut kedatangan Marvin selain dia bisa bertemu Maya dia juga bisa lebih akrab dengan partner barunya itu.
Haikal tidak tahu pasti hubungan atau perasaan seperti apa yang sedang dirasakan oleh kedua orang tersebut namun Haikal bisa melihat ada sesuatu yang berbeda di antara mereka, tapi dia tidak pernah ikut campur lebih jauh atau menanyakan secara langsung perihal kecurigaannya itu karena baik Maya maupun Nino sama-sama sudah dewasa dan tahu harus menyikapi perasaan mereka seperti apa.
Maya sama sekali tidak antusias menyambut kedatangan tamu yang pernah meminjamkan privat jetnya itu kepada dirinya, selain dia merasa susah berterimakasih secara langsung kepada tuan Askari dia juga merasa risih dengan pria itu karena beberapa kali di pertemuan mereka tuan Askari menatapnya tanpa berkedip.
__ADS_1
"Ck, jika saja aku tidak pernah berhutang budi padanya aku pasti lebih memilih tidur di kasur empukku dan menonton film-film bolywood romantis terbaru". Gumam Maya saat tengah memoles sedikit wajah cantinknya dengan makeup natural membuat dirinya semakin terlihat anggun namun dia sudah tidak bisa lagi menutupi perut buncitnya karena ukurannya yang semakin membesar.
"Ada baiknya juga jika dia tahu aku hamil jadi dia tidak akan melihatku lagi tanpa berkedip". Maya mendesah ketika membayangkan wajah menyebalkan tuan Askari versi dirinya.
Berbeda dengan Maya, Anin justru saat antusias karena dia memiliki misi untuk mendekatkan Maya dan tuan Askari, namun dia menyadari hal itu mustahil terjadi karena kondisi Maya saat ini padahal menurut Anin dia dan juga tuan Askari adalah pasangan yang sempurna.
"Sayang, dengarkan aku jangan melakukan hal bodooh dengan ide tidak masuk akalmu itu untuk Maya dan tuan Marvin". Titah Haikal karena dia tidak mau tuan Marvin dan Maya merasa risih dengan tingkah istrinya.
"Iya, iya aku mengerti". Jawab Anin singkat dengan wajah cemberutnya.
Haikal, Anin dan juga Nino sudah siap dibtempat mereka untuk menyambut Marvin yang sebentar lagibtiba di rumah Haikal, namun Maya masih saja setia dengan cermin di kamarnya bukan untuk berdandan secantik mungkin namun untuk memaki tuan Askari di depan cermin tersebut.
"Lihatlah apa matamu itu juga tidak akan berkedip melihat perutku ini hah?". Seru Maya, dia sengaja memakai dress yang membuat perut buncit semakin terlihat jelas.
Mobil mewah milik Marvin memasuki perkarangan rumah Haikal dan parkir tepat di pintu utama rumah mewah itu. Haikal, Aninp dan juga Nino menyambut hangat kedatangan mereka namun yang dicari oleh Marvin adalah sosok lain, sosok yang sangat dia rindukan namun tidak menunjukkan batang hidungnya disana, Maya dimana dia berada?.
"Amaya aku datang, setelah sekian lama akhirnya kita akan bertemu lagi". Batin Marvin dengan matanya menyapu setiap sudut rumah Haikal bahkan diabtidak fokus dengan apa yang di ucapkan oleh Haikal maupun Nino.
__ADS_1