Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 89


__ADS_3

Deg.....


Nino kalah satu langkah dari Marqin karena ternyata pria itu sudah membawa Shely dan putra pergi ke Dubai. Ibu menjelaskan jika mereka ada proyek dan harus berkunjung kesana untuk melihat perkembangan proyek tersebut, bahkan mereka juga mengajak ibu tapi ibu menolaknya karena merasa tidak nyaman berpergian jauh dalam waktu lama.


"Berapa lama mereka berada di sana?". Tanya Nino.


"Ibu juga tidak tahu nak, karena saat ibu tanya Shely selalu menjawab tidak tahu juga". Jawab Ibu.


"Kenapa ibu tidak menemani mereka?".


"Untuk apa?, lagipula Marqin punya banyak pengawal dan pelayan yang selalu siap menjaga dan melayani mereka dan ibu dengar jika ibunya Marqin juga sudah menyusul mereka ke Dubai". Jawab ibu lugu.


Maksud pertanyaan Nino adalah mengapa ibu membiarkan Shely pergi bersama seorang pria tanpa pengawasan, bukannya Nino tidak percaya kepada istrinya namun dia tidak percaya dengan pria bernama Marqin itu yang jelas-jelas selalu berusaha memisahkannya dengan Shely. Namun Nino tidak mau menjelaskan hal tersebut kepada ibu mertuanya karena bagaimanapun ibu pasti tidak akan curiga dengan pria itu karena selama ini dia sudah menjaga Shely dan Sheno dengan baik.


Mendengar jika ibu Marqin juga menyusul mereka ke Dubai membuat jantung Nino berdetak tak karuan, bayangan buruk langsung terlintas di benaknya mungkinkah Marqin akan memaksa Shely untuk menikah dengannya di Dubai sana, apalagi saat terakhir kali Nino dan Shely bertemu hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja bahkan Shely terus memaksa Nino untuk menceraikannya.


Nino langsung merogoh sakunya mencari benda pipih yang sangat membantu di saat genting seperti ini. Dia mencoba menghubungi nomor ponsel Shely namun nomor ponselnya tidak dapat di hubungi maka rasa khawatir Nino semakin bertambah.


Ibu menawarkan agar Nino beristirahat saja di rumahnya karena nino terlihat sangat pucat dan kelelahan sembari menunggu Shely menghubunginya karena Shely setiap harinya rutin menghubungi ibunya untuk sekedar bertukar kabar. Mendengar hal itu Nino langsung menyetujuinya karena benar saja tidak mungkin jika Shely tidak menghubungi ibunya sama sekali dalam waktu seharian itu.


Ibu bahkan menyiapkan makanan untuk menantunya itu, karena beliau tahu jika Nino pasti belum makan seharian ini karena mengkhawatirkan keadaan Shely dan juga Sheno yang sangat susah untuk di hubungi. Nino sangat bahagia karena ibu mertuanya itu seolah bisa menerima kehadirannya dengan baik sehingga membuat dirinya semakin bersemangat untuk mendapatkan hati Shely kembali.


Keesokan harinya Shely belum juga memberi kabar kepada ibunya bahkan nomor ponselnya juga belum bisa di hubungi. Nino terlihat sangat khawatir sedangkan ibu justru terlihat tenang-tenang saja hal itu membuat Nino sedikit terusik karena mertuanya itu sungguh sangat mempercayai pria yang bernama Marqin itu.

__ADS_1


"Ibu bahkan sama sekali tidak menunjukkan rasa khawatirnya, padahal anak dan cucunya tidak memberi kabar sama sekali, Marqin benar-benar susah mencuci otak keluargaku". Batin Nino kesal.


Tapi jika di pikir-pikir tentu saja Marqin bisa memenangkan hati semua orang karena selama lima tahun ini dia selalu ada untuk Shely dan keluarganya sedangkan Nino entah berada dimana saat masa-masa sulit itu.


Nino terus menerus mempertanyakan tentang kabar dari Shely sehingga membuat ibu mertuanya sampai pusing melihat tingkah Nino yang seperti anak kecil itu.


"Bu, apa Shely sudah menghubungi ibu?, apa sudah ada kabar?". Itulah pertanyaan yang selalu Nino tanyakan satu jam sekali tanpa rasa bosan sedikitpun.


"Belum nak, ini sudah yang tujuh kalinya kamu bertanya, tidak usah terlalu mengkhawatirkan mereka karena ada Marqin dan juga-".


Belum selesai ibu dengan kalimatnya Nino sudah memotong pembicaraan ibu mertuanya itu karena dia tahu jika ibu mertuanya akan mengatakan jika ada Marqin dan para pengawalnya yang akan selalu menjaga Shely dan Sheno. "Tapi bu sebelum Nino tahu tentang kabar mereka Nino tidak akan bisa tenang, apa Nino susul saja mereka kesana?". Tanya Nino.


"Kamu mau ke Dubai?". Tanya ibu tak percaya.


"Iya bu, Nino akan jemput mereka kesana". Ujar Nino lalu bergegas menuju kamarnya, tingkah Nino membuat inmbu sampai menggelengkan kepalanya karena tidak menyangka jika menantunya itu sekarang sangat posesif pasalnya dulu Nino bahkan tidak peduli dengan keadaan Shely putrinya.


Nino meminta bantuan kepada pria yang memiliki banyak koneksi di berbagai wilayah bahkan juga beberapa negara untuk melacak keberadaan sang istri dan putranya. Namun sudah tiga jam Nino menunggu Rian belum juga memberikan informasi apapun kepadanya biasanya pria itu hanya butuh waktu paling lama satu jam untuk melakukan hal-hal sepele semacam melacak keberadaan seseorang seperti itu.


Nino mulai frustasi membayangkan jika Rian tidak dapat menemukan dimana keberadaan Shely, karena untuk menyusul Shely ke negara sebesar Dubai bukanlah hal mudah apalagi tanpa alamat yang jelas.


Benar saja Rian menghubunginya dan mengabarkan jika keberadaan Shely tidak dapat di lacaknya. Nino terus berpikir sambil mondar-mandir di kamarnya tanpa bisa diam sedikitpun sampai dia menemukan ide yang menurutnya sedikit giila yaitu meminta bantuan dari saudara kembar Marqin, yaitu Marvin.


Meminta bantuan Marvin sebenarnya bisa dia lakukan sejam kemarin namun rasa egonya terlalu tinggi untuk mengakui jika dia membutuhkan pria itu membuat Nino tidak mau berurusan lagi dengan bule Dubai itu namun saat ini keberadaan Shely dan Sheno lebih penting dari pada rasa ego yang selama ini dia junjung tinggi itu.

__ADS_1


Kali ini Nino tidak mau menghubungi Marvin melalui ponselnya, dia akan langsung bertemu dengan pria itu dan artinya Nino harus kembali lagi ke Jakarta lalu baru dia akan ke Dubai, sungguh perjuangan luar biasa yang di lakukannya untuk Shely dan juga Sheno.


Dengan berbekal restu dan doa dari ibu mertuanya Nino kembali ke jakarta kali ini bukan dengan pesawat namun dengan jet pribadi yang sengaja dia pinjam kepada Rian untuk keperluannya selama mencari Shely, Rian membagi selalu bisa di andalkan bukan.


Nino sudah berada tepat di depan mansion milik Marvin, pria itu dengan langkah berat memasuki mansion tersebut dan langsung di sambut oleh wajah angkuh Marvin yang sangat Nino benci.


"Ada perlu apa kau kemari?". Tanya Marvin langsung tanpa basa-basi apalagi menawarkan Nino untuk duduk dulu.


"Katakan dimana saudara kembarmu sekarang?". Tanya Nino tak kalah angkuh.


"Dia saudara kembarmu bukan majikanku yang harus aku ikuti kemanapun dia pergi". Jawab Marvin ketus.


"Kau kan bisa menghubunginya jadi hubungi dia dan tanyakan dimana dia berada saat ini". Sentak Nino.


"Hei, kau berada di mansion ku jadi pelan kan suaramu itu, apa untungnya aku melakukan apa yang kau katakan hah?". Seru Marvin tak kalah tegas.


"Hah, baiklah, tuan Marvin tolong bantu aku hubungi saudara kembarmu karena dia sudah membawa istri dan anakku pergi bersama tanpa memberikan ku kabar".


"Jadi kau baru sadar jika kau punya anak dan istri?".


Mendengar ucapan Marvin, emosi Nino sudah berada di ojncak ubun-ubunnya namun dia tetap menahan amarahnya karena dia sangat membutuhkan infomasi dari Marvin tekan keberadaan Shely.


"Sayang, ada apa kenapa berteriak seperti itu?". Seru Maya yang baru saja tiba di ruang utama mansion dan melihat Nino berada disana.

__ADS_1


"Nino". Seru Maya dengan mata yang membulat sempurna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2