
Marvin ternyata benar-benar menghubungi Jack tadi malam dan menyuruh pria itu untuk menyusul mereka ke negara yang sangat tidak di sukai Maya tersebut. Terbukti saat ini pria yang tak kalah tampan dari sang Majikannya itu saat ini sudah berada tepat di depan pintu kamar hotrl yang di huni oleh Marvin dan Maya tadi malam.
Jack memencet bel beberapa kali dan berharapa jika Marvin ataupun Maya segera membuka pintu namun apalah daya hingga 10 menit dia berdiri belum juga ada jawaban dari dalam kamar sehingga dia memutuskan untuk chek-in di kamar yang tepat berhadapan dengan kamar Marvin untuk sekedar merebahkan tubuhnya yang teramat sangat kelelahan karena di paksa oleh Marvin berangkat di tengah malam buta.
Hal itu tentu saja membuat Jack menggerutu kesal sepanjang perjalanan tadi malam di dalam pesawat. Padahal dia sudah sangat bahagia bisa lepas dari jerat Marvin untuk beberapa saat namun nyatanya dewa keberuntungan tidak berpihak kepadanya.
Jika saja dia tidak mengingat kalau Marvin itu adalah majikannya maka dia pasti akan memarahinya habis-habisan. Bukan hanya kelelahan akibat perjalanan mendadak itu yang dia kesalkan mamun juga urusan pekerjaan yang harus dia selesaikan bahkan dalam hitungan beberapa jam saja sebelum keberangkatannya tadi malam juga sangat menguras emosinya.
"Hah, beginilah nasib jika bukan aku yang jadi tuannya, kenapa di setiap kisah nasib seorang asisten pribadi selalu bisa di atur seenaknya saja oleh majikan". (Tentu atas persetujuan otor juga Jack 😅). Gerutu Jack sambil memejamkan mata menikamati empuknya kasur di kamarnya.
Belum juga satu jam matanya terpejam suara bel dari pintu kamarnya sudah berdering ria tanpa jeda seolah seseorang di luar sana sangat ingin membunuhnya saat itu juga. Dengan menyeret langkahnya Jack menuju pintu dan membukanya, tanpa melihat siapa yang datang dia sudah bisa menebak tamu tak di undang tersebut.
"Kenapa lama sekali membuka pintunya hah?". Tegas Marvin kepada sang asisten.
"Ya ampun, aku bahkan lebih baik dari pada dia tidak membukakan pintu untukku tadi". Gerutu Jack dalam hati karena jika dia menjawab pun tidak akan ada gunanya karena dia pasti selalu kalah dari sang majikan.
Marvin masuk kekamar Jack tanpa di persilahkan atau tanpa meminta izin terlebih dahulu, dia langsung membanting tubuhnya ke atas kasur sambil memejamkan matanya.
"Hah, kenapa kau selalu mengikutiku Jack". Ujar Marvin sambil menghelakan napas.
"Apa, apa aku tidak salah dengar tuan, bukankah anda yang menyuruhku untuk menyusul anda kesini dan aku harus berada disini pagi ini juga?". Tanya Jack tak terima.
"Kau tahu itu semua keinginan istriku, dia benar-benar aneh".
"Apa?, nona Maya menginginkanku ada disini, itu benar-benar aneh".
"Jadi kau mengatakan jika istriku aneh hah?". Sentak Marvin yang menatap tajam kearah Jack.
__ADS_1
"Bukankah kau juga mengatakan hal yang sama tuan?".
"Itu karena aku suaminya, sedangkan kau bukan".
"Apa hubungannya?".
"Tentu saja ada hubungannya, sudah jang berdebat dengan karena kau punya tugas penting sekarang ini".
"Apa tuan?".
"Pikirkan negara mana yang cocok untuk kami babymoon".
"Babymoon?, lalu apa yang kalian lakukan saat ini di negara ini tuan, bukankah anda yang memilih sendiri negara ini?". Jack teringat betul saat dia menyiapkan keberangkatan Maya dan Marvin, dimana Marvin sangat mantap dan bersemangat menuju negara yang saat ini mereka tampati.
"Hah". Marvin kembali merebahkan tubuhnya di kasur. "Kau tahu, ternyata istriku tidak suka dengan negara ini karena dia tidak nyaman ketika melihat para pria disini yang wajah mereka sama mulusnya seperti seorang wanita, belum lagi saat ada sekelompok pria yang menari dengan lincahnya, dia sangat kesal akan hal itu". Jelas Marvin oanjang lebar.
"Beraninya kau menertawa istriku Jack". Sentak Marvin.
"Ma-maaf tuan, aku sungguh tidak menyangka jika nona Maya memiliki pemikiran secerdas itu". Jawab Jack yang belum sepenuhnya menghentikan tawanya.
Mendengarkan ucapan Jack, Marvin langsung melepaskan cengkeram tangannya. "Tentu saja, kau tahu sendiri jika Amayaku memang wanita yang sangat berbeda dari yang lain". Ujar Marvin angkuh.
"Sudah, hentikan tawamu itu dan pikirkan negara mana yang indah untuk aku kunjungi bersama istriku". Ucap Marvin kemudian.
"Entahlah tuan, istrimu itu susah di tebak, kenapa tidak tanyakan saja pada nona Maya langsung?". Jawab Jack.
"Jika aku tanyakan, Amaya pasti akan menjawab dengan kata Dubai dan aku tidak ingin pergi kesana kau tahu itu kan?".
__ADS_1
Jack menghela napas karena tahu betul alasan mengapa Marvin sangat menghindari negara Dubai padahal itu adalah negara dimana mereka berasal.
"Emmh, bagaimana jika kita ke Eropa saja tuan, disana negaranya sangat indah-indah". Usul Jack.
"Tidak-tidak, aku tidak mau keluar dari benua asia Jack karena itu perjalan yang sangat jauh dan memakan waktu yang sangat panjang, kau tahu sendiri kan kehamilan istriku sudah memasuki trimester akhir, belum lagi dia hamil kembar pasti akan sangat kesusahan baginya untuk menempuh perjalanan jauh, aku tidak mau terjadi hal buruk pada Amaya dan anak kami".
"Iya juga ya, maaf tuan aku tidak berpikir sampai kesana tadi, bagaimana jika kita ke Maldives saja tuan?". Tanya Jack antusias karena setahu dirinya jika Maldives memang tempat yang sangat di minati oleh setiap pasangan hampir di seluruh belahan dunia.
"Benar juga ya, Maldives adalah tempat yang sangat indah dan romantis untuk kami kunjungi kenapa aku tidak terpikirkan sebelumnya ya". Jawab Marvin antusias.
Wajah Marvin kembali bersemangat, dia bangkit dari tempat tidur Jack dan langsung menuju kamarnya untuk membicarakan tentang tujuan perjalanan mereka ke Maldives bahkan dia tidak mempedulikan atau sekedar mengucapkan terimakasih kepada asistennya.
"Ya baiklah. sama-sama tuan". Ujar Jack kesal karena lagi-lagi masmjikannya itu tidak pernah tahu cara mengucapkan terimakasih kepadanya, tentu saja hal itu dilakukan saat Marvin sudah tidak ada lagi di kamarnya karena dia tidak ingin terlibat perdebatan lebih lama lagi dengan Marvin.
Saat Jack ingin menyambung tidurnya lagi dia teringat jika seharusnya Marvin tidak mengatakan dulu kepada Maya tentang Maldives agar hal itu menjadi kejutan bagi Maya.
"Tuan". Seru Jack saat dia melihat Marvin hampir membuka pintu kamar.
"Ada apa lagi Jack?". Tanya Marvin.
"Tuan, bukankah sebaiknya anda merahasiakan dulu tentang perjalanan kita ke Maldives agar itu menjadi kejutan untuk nona Maya?".
"Jack, apa kau lupa jika aku juga memberikan negara ini sebagai kejutan untuk Amaya namun apa yang terjadi saat ini?, kurasa istriku itu memang tidak suka dan tidak cocok untuk di berikan kejutan". Gerutu Marvin dengan wajah yang terlihat kesal.
"Haah, baiklah tuan aku mengerti". Ujar Jack dengan senyum canggung kemudian memilih untuk segera masuk ke kamarnya lagi untuk beristirahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1