
Selamat membaca, semoga suka ya.... Love You Guyss....
***
Hari minggu ini terlihat Qiana, Tiwi, Setya, dan Tyo mengunjungi panti. Ini bukan kunjungan seperti biasa, tapi membicarakan pengembangan panti, disana ada beberapa donatur yang terlihat ikut menghadiri acara ini. Tiwi dan Tyo sibuk mengajak anak-anak panti bermain, sedangkan Setya dan Qiana membahas rencana pengembangan panti bersama donatur di ruang tengah panti.
Panti yang sudah berdiri sejak 15 tahun itu sudah mengalami beberapa penurunan kualitas bangunan, sehingga membutuhkan pemugaran di beberapa bagian, terlebih jumlah anak-anak yang di asuh semakin banyak sehingga butuh perluasan bangunan.
"Sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas kesediaan para donatur menghadiri acara ini. Saya Setya dan bersama rekan saya Bu Qiana, kami perwakilan dari RS ingin membicarakan tentang rencana pengembangan panti ini bersama donatur sekalian,"Ucap Setya mengawali pembicaraan.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk seorang lelaki dengan kisaran usia 30 tahunan.
Deg
Tatapannya bertemu dengan Qiana, dan merasakan ada getaran aneh di hatinya. Tapi sebisa mungkin pria itu menampiknya.
"Selamat pagi, maaf saya terlambat," Ucap pria itu.
"Iya tidak apa baru saja dimulai, silahkan duduk Pak," Kata Setya mempersilahkan pria itu masuk.
Selama proses pembahasan pengembangan panti itu, mata Qiana sesekali melirik ke arah pria itu. Seperti pernah bertemu tapi dimana, wajahnya terlalu familiar bagi Qiana. Sampai suara tangis dari arah kamar sebelah ruang tengah itu memecah pikirannya. Untungnya pembahasan telah usai, tinggal obrolan-obrolan santai.
"Huwaa...huwaa....huwaa... D Daf Dafa lindu Nda." Suara tangis anak kecil dari arah kamar membuat Qiana berdiri dari duduknya dan segera beranjak menuju kamar itu. Dilihatnya anak itu menangis sambil duduk di atas ranjang, di tangannya ada foto Qiana dan Dafa didalamnya. Hati Qiana berdenyut tak tega melihatnya.
"Hai, sayang kenapa Dafa menangis pagi-pagi seperti ini?" Ucap Qiana sambil membelai kepala Dafa dan membawanya dalam pangkuan, Dafa pun mendongak kearah Qiana, matanya berbinar seolah sedang melihat harta karun yang sangat berharga.
"Nda, Dafa angen Nda. Dafa mau ikut Nda, Dafa ndak mau ditini." Rengek Dafa pada Qiana.
"Iya sayang, nanti ikut Bunda ya. Sekarang ayok Dafa makan dulu tadi Bunda bawa makanan banyak buat Dafa." Ajak Qiana sambil menggendong tubuh mungil itu kedekapannya.
Ketika keluar dari kamar itu, Qiana menjadi pusat perhatian karena kedekatannya dengan anak panti sampai seperti anak dan Ibu yang sedang berbagi rindu. Mata pria itu menyorot penuh arti pada Qiana dan Dafa. Ada perasaan aneh ketika melihat Dafa.
__ADS_1
"Hai Dafa, sini main sama Om," Kata Setya dan hanya mendapat gelengan lemah dari Dafa.
Tiba-tiba Dafa merentangkan tanganya ke arah Akbar, ya pria yang memperhatikan Qiana dan Dafa dari tadi adalah Akbar. Donatur panti yang tidak pernah absen untuk menyumbangkan pundi-pundi rupiah tiap bulannya. Ini kali pertama dia mengunjungi panti secara langsung mewakili sang Papa.
"Dafa sama Bunda aja ya, itu Om nya masih sibuk," Kata Qiana yang paham dengan apa yang di mau oleh Dafa.
"Tidak, tidak apa biar dia saya gendong," Ucap Akbar yang langsung mengambil alih Dafa dari gendongan Qiana.
Diperhatikannya oleh Qiana, ternyata wajah Dafa begitu mirip dengan Akbar. Dia menggeleng seketika. Merutuki dugaannya, bagaimana mungkin dia berfikiran seperti itu.
"Ayah, Dafa lindu," Ucap Dafa lirih sambil menyenderkan kepalanya diceruk leher Akbar.
Deg...deg...deg...
Hati akbar berdenyut, entah apa yang ada dipikirannya. Tiba-tiba dia mengingat anak semata wayangnya yang di bawa oleh mantan istrinya setelah perceraiannya dulu setelah kelahiran putranya itu. Jika di ingat-ingat mungkin putranya akan seumuran dengan Dafa, pikirnya.
"Kenapa ini, ada apa denganku. Kenapa seperti dekat sekali dengan anak ini. Tidak mungkin kan ini anakku, kan Rendra di bawa Mommynya ke luar negeri bersama selingkuhannya itu." Batin Akbar.
"Ayo semuanya kita makan dulu, Ibu sudah memasak untuk kalian dan anak-anak." Ajak Ibu panti pada semua orang di ruangan itu.
"Ayo Dafa sama bunda, sini Bunda suapin makanan yang udah Bunda masakin khusus buat Dafa." Ajak Qiana sambil menenteng wadah makan berbentuk Micky Mouse.
Dilihatnya Dafa malah mepererat pelukannya pada Akbar.
"Ndak, mau Nda. Mau tama Ayah ja. Dafa di ndong Ayah di tuapi Nda," Kata Dafa.
"Maaf atas kelakuan Dafa Pak, tidak biasanya dia seperti ini dengan orang baru," Ucap Qiana sungkan.
"Tidak masalah, mungkin dia hanya rindu dengan orang tuanya." Jawabn Akbar.
Mereka berdua pun melakukan apa yang diinginkan Dafa, tanpa mereka sadari sedari tadi ada dua pasang mata yang menatapnya tajam. Sekalipun Akbar bersikap biasa saja pada Qiana malah terkesan menjaga jarak, tapi tetap saja bagi mereka yang melihatnya mereka seperti sebuah keluarga bahagia, apalagi sesekali Dafa terlihat tertawa bahagia.
__ADS_1
"Anda kerja di yayasan panti asuhan atau RS Bu Qiana?" Tanya Akbar.
"Saya kerja di RS Pak, kebetulan menggantikan pekerjaan kawan saya yang sedang cuti melahirkan untuk melanjutkan kegiatan di panti," Kata Qiana menjelaskan.
"Oh, Bu Qiana ini Dokter kah?" Tanya Akbar penasaran.
"Hahaha, Pak Akbar bisa saja saya bukan Dokter Pak. Eh maaf Pak saya kurang sopan." Kata Qiana setelah menyadari dia tertawa cengengesan ketika Akbar mengira dirinya seorang Dokter. Akbar hanya menyunggingkan senyumnya, ada-ada saja pikirnya. Masak sia akan melarang jika ada yang tertawa.
"Santai saja Bu Qiana, saya tidak melarang orang ketawa kok. Lalu Bu Qiana bekerja di bagian apa?" Tanya Akbar.
"Saya bagian pengolahan limbah RS Pak," Jawab Qiana.sambil tersenyum.
"Wah, keren sekali Bu Qiana. Padahal Bu Qiana perempuan apa tidak jijik bekerja berhubungan dengan limbah-limbah seperti itu?" Tanya Akbar heran karena setahunya kebanyakan perempuan akan merasa jijik ketika berhubungan dengan hal-hal seperti sampah dan kawan-kawannya.
"Hahahaha, Pak Akbar ini lucu sekali masak berhubungan dengan sampah seperti itu di bilang keren. Saya tidak jijik Pak sudah ada APD ketika menangani pengolahan limbahnya dan alat-alat pengolahan limbah sekarang sudah banyak kemajuan jadi saya tidak terlalu sering kontak langsung dengan limbah-limbah tersebut apalagi jika limbah B3, kami hanya melakukan pengumpulan saja dan di kirim ke pihak ke-3 untuk diolah." Jawab Qiana.
"Tetap saja keren Bu Qiana, jujur saja saya ini laki-laki tapi jika disuruh berhubungan dengan limbah saya akan angkat tangan terlebih jika limbah organik yang sudah masuk masa pembusukan," Kata Akbar jujur.
"Ayah, Dafa mau minum tutu," Kata Dafa yang sedari tadi nemplok di gendongan Akbar dengan nyamannya, seolah memusnahkan rindu yang telah tertumpuk lama.
"Ah, iya sudah waktunya Dafa minum susu ya sayang. Maaf Bunda keasyikan ngobrol," Kata Qiana, lagi-lagi Akbar hanya tersenyum geli. "Aku yang di mintai susu oleh anak ini, kenapa malah Qiana yang menjawab, lucu sekali Qiana ini," Batin Akbar.
Qiana segera beranjak dari duduknya untuk membuatkan susu, Setya yang sedari tadi memperhatikan Qiana pun mengikuti Qiana ke arah dapur. Ini kesempatan baginya untuk memberi tahu Qiana agar tidak mudah dekat dengan orang baru, terlebih yang baru di temuinya pertama kali seperti Akbar, karena belum tahu aslinya.
***
~Tidak ada yang kebetulan di dunai ini, kebetulan hanya sebuah kata yang mewakili keterkejutan dan ketidak percayaan kita dengan takdir yang Tuhan berikan pada kita~ Ina az-Zahra.
***
__ADS_1
Terimakasih telah membaca, tinggalkan jejak ya like, komen, syukur-syukur jika berkenan vote :))