Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
48. Sebelum Selamanya


__ADS_3

Selamat membaca....


***


Pernikahan bagi Qiana adalah titik dimana dia harus benar-benar bisa meredam segala keegoisan diri. Terlebih pernikahan Qiana bukan hanya menerima dan menyesuaikan diri terhadap suaminya saja, ada Dafa yang harus dia perhatikan dan menerimanya bukan lagi sebagai anak angkat melainkan anak sambung dari calon suaminya. Meski Dafa telah terlebih dahulu masuk dalam kehidupan Qiana, tapi tetap terasa beda ketika dia mengetahui Dafa adalah anak dari calon suaminya dan teman SMAnya dulu, bukan lagi anak dari panti yang dia adopsi.


Belum lagi dua keluarga besar juga ikut menikah ketika Qiana dan Akbar memutuskan untuk mengikat kisah mereka dengan ikatan sakral pernikahan.


Percakapannya dengan Mama Dewi waktu itu, sedikit banyak membuatnya lebih yakin untuk membuka hatinya. Apalagi Akbar sudah terlihat sangat bersusah payah menaklukan hatinya, mulai dari memberinya perhatian kecil, mengambil hati anggota keluarganya, dan juga Akbar selalu berusaha untuk ada disaat Qiana dan Dafa membutuhkannya.


Perlahan tapi pasti, Qiana menerima jalan hidupnya yang penuh dengan kejutan. Mengikhlaskan yang telah berlalu dengan segenap hatinya. Setya, Tyo, Bella, dan masa SMAnya yang sedikit kelabu telah ia kubur dalam-dalam, yang ada kini hanyalah Setya yang harus dia do'akan selalu agar mendapat tempat terbaik di sisiNya, menyimpan nama Setya di hatinya sebagai pengingat bahwa lelaki itu pernah sangat mencintainya seperti Akbar saai ini.


Tyo, lelaki yang pernah dicintainya kini rasa cinta itu ia ubah menjadi cinta dari seorang adik perempuan kepada kakak laki-lakinya. Bella, perempuan di masa SMA yang pernah menamparnya di tempat umum dan bertemu lagi sebagai ibu dari Dafa, sudah betul-betul dia lupakan agar tak menjadi beban hati ketika mengingat segala perbuatan biruk Bella terhadapnya.


***


Qiana, Akbar, dan Dafa kini sudah berada di Bandung, sedangkan Pak Amri, Bu Rita, dan Fani langsung terbang ke Jakarta dari Surbaya, tadi mereka berpisaah saat di Bandara Juanda karena berbeda tujuan saat pulang.


Dua minggu sebelum pernikahan keluarga Qiana di Surabaya akan menyusul ke Bandung, guna mambantu mempersiapkan acara pernikahan yang akan berlangsung di Bandung.


***


Rumah Nenek Qiana di Bandung merupakan tujuan pertama Akbar bersama Qiana dan anaknya. Rumah yang hampir 3 minggu tidak di huni oleh sang pemilik, tampak masih bersih dan hangat. Semua itu karena istri Mang Didin yang membersihkan rumah setiap hari serta, Mang Didin dan keluarganya sesekali menginap di rumah Nenek Qiana. Kalau kata orang, biar rumah ngga suwung kalau kelamaan nggak di huni.


Dafa yang sudah terlelap semenjak memasuki mobil pun kini di pindahkan ke kamar Qiana. Hmm, sepertinya Dafa harus segera di latih agar bisa tidur sendiri di kamarnya, sebelum Qiana dan Ayahnya menikah.


Sedangkan di ruang tamu Qiana dan Akbar tampak sedang mengobrol, sebelum Akbar pulang ke rumahnya. Membicarakan hal penting, sebelum selamanya mereka terikat dalam ikatan pernikahan.


"Nanti setiap pulang kerja Mas akan usahakan untuk mampir dulu ke sini, terus jam tujuh atau jam delapanan Mas baru pulang. Nggak apa-apa kan Qi?" tanya Akbar.


"Qiana sih nggak masalah, tapi Mas nggak capek kah? Pulang kerja langsung ke sini terus balik lagi ke rumah Mas. Kenapa nggak pas hari libur aja ke sininya, biar Mas juga nggak kecapean nantinya," ucap Qiana, yang tengah mengkhawatirkan calon suaminya itu.


Akbar tersenyum kecil, ketika menyadari jika Qiana sedikit banyak kini telah berubah, lebih menunjukan apa yang tengah dia rasakan.


"InsyaAllah nggak capek, nanti Mas pakai sopir deh kalau mau kemana-mana biar ngga cepet capek. Mas itu pingin ketemu Dafa tiap hari, dia masih belum mau Mas ajak ke rumah. Apalagi kalau di ajak nginep di rumah Mas," kata Akbar dengan sendu.

__ADS_1


"Mas, jangan sedih dong. Perlahan Mas, perlahan pasti Dafa akan nempel sama Mas terus, mau di ajak kemana-mana sama Mas juga. Sekarang aja kalau lama nggak ketemu Mas, dia udah nyariin." kata Qiana.


"Iya sih, apalagi kalau banyak orang dia langsung nemplok sama Mas. Kayak anak yang lagi nyari perlindungan sama orang tuanya. Jadi pingin cepet-cepet serumah sama kalian, orang-orang yang aku sayang." ucap Akbar sambil tersenyum lebar.


"Kamu itu Mas bisa aja, sabar ya nggak lama lagi kok. Oh iya Mas, kita kayaknya harus bicara serius sebelum kita nikah, biar saling mengenal dan bisa saling tahu tentang pribadi masing-masing. Maaf kalau bawel, aku tuh sebenernya kalau tentang masa depan suka musti tertata dan terencana dulu, apapun itu hehehe," ucap Qiana, maklumlah orang berdarah A menurut para peniliti itu orang yang perfeksionis dan terorganisir. Dan seperti itulah Qiana.


"Mas sih nggak neko-neko orangnya Qi, pokoknya pernikahan ini bukan sesederhana tentang makanan kesukaan atau pun sesuatu yang ngga di suka. Tapi ini tentang kita yang bisa saling memahami satu sama lain kedepannya, bisa saling berbagi suka dan duka tanpa ada yang di tutup-tutupi. Kalau aku ada salah atau sesuatu di aku yang nggak srek di kamu, kamu janji harus bilang karena aku nhhak paham kode-kodean," ucap Akbar serius.


"Bismillah ya Mas, semoga kita bisa berlayar bersama-sama bisa saling menopang dan menguatkan satu sama lain juga. Mas juga harus sabar ya membimbing Qia nanti, kalau Qia ada salah di tegurnya yang lembut jangan bentak-bentak ya." pesan Qiana.


"Iya, insyaAllah Mas akan membimbing kamu dengan baik. Mas nggak mau gagal lagi dalam membina rumah tangga, jadi Mas akan berusaha lebih keras lagi untuk jadi suami yang baik buat kamu dan Ayah yang baik juga buat Dafa dan adek-adeknya nanti," kata Akbar.


"Aamiin, kita belajar sama-saka ya Mas," ujar Qiana seraya tersenyum.


"Mas pamit pulang dulu ya, salamin buat anak Mas ya," ucap Akbar seraya beranjak dari duduknya.


***


Sepulang Akbar dari rumahnya, Qiana langsung membaringkan tubuhnya di sisi Dafa. Qia memandang lekat wajah sang anak.


Puas memandang wajah anaknya, Qiana mengambil headset. Tiba-tiba dia ingin memutar lagu yang dinyanyikan Sherina Munaf uang berjudul Sebelum Selamanya.


Lirik


Hei coba dengarkan


Harapan aku ini


Sebelum kita lanjutkan


Mimpi kita bersama


Hei coba pandanglah


Jiwa yang bertanya ini

__ADS_1


Sebelum kita lanjutkan


Kisah yang berlangsung selamanya


Jaga hati yang


Ku serahkan untukmu


Jangan lupa rasa jatuh


Cinta pertama kita


Dan tali asmara


Yang kan diuji waktu


Berjanjilah sayangku


Sebelum selamanya


Hei jangan kau abaikan


Semua yang indah ini


Sebelum kita lanjutkan


Cinta kita berdua


Hei ini guratan


Sebagai tanda tangan


Sebelum kita lanjutkan


Kasih yang dijanjikan selamanya

__ADS_1


Selamanya


__ADS_2