
Usaha Akbar tidak sia-sia karena semakin hari dia semakin akrab dengan Dafa. Tinggal mendekati Bundanya Dafa saja, yang masih perlu usaha keras karena Setya pun tak tinggal diam dengan seribu satu usahanya. Membuat Akbar kadang berpikir ulang untuk sekedar mendekati Qiana.
Sedangkan Qiana, dia sama sekali tidak peka dengan usaha Setya dan Akbar dipikirnya mereka hanya menganggapnya teman biasa. Terlebih untuk Akbar, Qiana berpikir perlakuan Akbar selama ini hanya untuk lebih dekat dengan Dafa menggunakan Qiana. Yang dipikiran Qiana saat ini hanyalah Tyo, karena sebelum kembali ke Surabaya tadi pagi Tyo berpesan agar Qiana segera menikah karena usianya sudah mendekati kepala 3, tidak baik katanya wanita terlalu tua saat menikah apalagi jika alasannya sibuk memilih laki-laki tampan. Qiana hanya menganggukan kepalanya tanpa ingin menjawab ucapan Tyo. Lalu Tyo memberikan buku kepada Qiana yang disampulnya bertuliskan "Wanita Teduh" . Jujur saja hatinya kembali berdesir, tapi tak lama dari itu hatinya kembali terluka ketika Tyo berucap meminta do'a kepada Qiana untuk kelancaran Khitbahnya kepada seorang gadis di Surabaya 3 hari lagi.
Mengingat kejadian itu Qiana, hanya bisa menangis dalam sujudnya. Qiana mengira hatinya sudah baik-baik saja. Ternyata mencintai orang dalam diam itu sesakit dan sesulit ini, hatinya ibarat bunga yang dipaksa layu ketika sedang kuncup. Hanya Dafa yang mampu menjadi pengalihan risaunya hati saat ini.
***
Hari ini adalah hari kepindahan Dafa dan Qiana ke Bandung. Semua keluarga Qiana sebelumnya telah mendapat kabar bahwa Qiana mengadopsi anak dan akan tinggal di Bandung bersama Neneknya. Sebetulnya keluarga Qiana sedikit kurang setuju atas keputusan Qiana yang mengadopsi anak sebelum dia menikah. Mereka khawatir jika tidak ada lelaki yang mau mendekati Qiana karena dipikir telah memiliki suami dan anak jika Dafa selalu dengan Qiana. Tapi dengan kesungguhan hati Qiana mampu menjelaskan dan memberi pengertian kepada keluarga besarnya.
"Qi, ini barang-barangnya udah semuakan?" Tanya Setya sambil menunjuk ke arah bagasi.
"Udah semua kok Set, tinggal berangkat aja." Jawab Qiana.
"Yaudah ayok pada masuk, kamu di depan ya Qi sama Dafa juga aku di belakang," kata Tiwi.
"No, aku yang dibelakang lebih luas buat aku sama Dafa. Kamu yang di depan nemenin Setya ngobrol biar dia ngga ngantuk." Sanggah Qiana.
"Ya ampun, Qi. Yaudah iya iya," kata Tiwi sambil mendengus sebal.
Sepanjang perjalanan mereka disibukan dengan menjawab pertanyaan Dafa yang sangat antusias melihat keluar jendela. Tanpa disadari oleh Qiana, Setya terus saja mencuri-curi pandang kearahnya. Diperhatikannya sahabatnya itu, semakin hari semakin cantik apalagi dengan gamis longgar dan kerudung yang menjuntai menutupi dadanya.
Ada perasaan kasihan kepada Qiana yang akan segera di tinggal berumah tangga oleh kakak kembarnya. Sekalipun Qiana pandai menutupi rasa patah hatinya tapi dia satu-satunya orang yang paham akan kesedihan Qiana. Karena selain Qiana sendiri yang tahu akan perasaanya kepada Tyo, Setya juga mengetahui itu. Ada harapan juga semoga Qiana lekas sadar akan perasaannya kepada Qiana dan segera membuka hati untuknya.
***
"Nda tuh apa?" Tanya Dafa ketika melewati patung selamat datang.
"Itu patung Nak." jawab Qiana dengan sabar karena sedari tadi Dafa tak henti menanyakan apa saja yang dilihatnya.
"Nda, bobok," Kata Dafa yang akhirnya kalah dengan rasa kantuknya.
"Iya sini, Dafa dipangku bunda terus bobok," kata Qiana yang langsung memangku tubuh Dafa dan mengusap-usap punggungnya.
Kegiatan ibu dan anak itu tak luput dari perhatian Setya, yang tengah kagum berat dengan Qiana, ingin rasanya Setya mengungkapkan semua rasa yang ada tapi apa boleh buat belum saatnya pikir Setya.
__ADS_1
"Kamu kapan balik ke Surabaya Set?" Tanya Tiwi.
"Besok siang kalau nggak ada halangan. Oh ya Tiw, kamu udah yakin nih tinggal di Jakarta sendirian?" kata Setya.
"Berapa hari di sana?. Yakin lah, ntar kamu kan masih sering ke Jakarta tuh proyek kamu bentar lagi mau jadi kan?" jawab Tiwi.
"Seminggu kayaknya disana, kalau proyek ntar kan bisa aku handle dari Surabaya Tiw jadi ngga usah sering-sering ke Jakarta.." jawab Setya.
"Surabaya gimana kabarnya ya? udah lama ngga pulang pasti banyak yang berubah ya? Tanya Qiana sambil mengusap-usap kepala Dafa dipangkuannya.
"Ya gitu deh Qi, ikut pulang yuk sama aku. Mamah aku udah nanyain anak perempuannya terus nih, kangennya udah numpuk katanya." ajak Setya.
"Ih apaan sih, ngapain juga ikut kamu. Lagian Tante kan bakal punya anak perempuan bentar lagi." jawab Qiana dengan sendu.
"Hemm, ya beda lah buat Mamah antara kamu sama calonnya Tyo. Kamu udah kenal Mamah lama banget kalo calonnya Tyo kan baru 2 bulanan ini," kata Setya sambil menatap lurus kedepan.
"Kok bentar kenalnya Set? Mereka ketemu dimana?" Tanya Tiwi yang mulai kepo.
"Ta'aruf mereka, dikenalin temen kuliahnya Tyo." jawab Setya.
"Manisan juga aku Tiw, gantengan aku juga sih kalau dilihat-lihat," Kata Setya PD.
"Ih gajelaas banget kamu tuh Set, gimana coba mau punya cewek PD nya aja over gini," Kata Tiwi.
"Lagian ya, muka kalian tuh ngga ada bedanya. Kalo kamu ngerasa ganteng ya berarti Tyo juga ganteng. Kalian itu kembar identik.. tik... tik... banget. Tiwi aja kalo lihat masih suka salah, padahal udah lama banget kenalnya," Kata Qiana.
"Kalau aku sama kayak Tyo berarti kamu mau dong kalau aku khitbah kamu nanti di rumah Nenek, kan kita sama aja?" ucap Setya menggoda Qiana tapi sebetulnya itu adalah kata hati yang terpendam cukup lama.
Qiana hanya mendelik tajam, merutuki ucapan Setya.
"Bentar... bentar... maksud kalian apa? Qiana suka sama Tyo?" ucap Tiwi.
"Eh, enggak kok aku cuman asal ngomong aja. Mau godain Qiana. Kamu Tiw kapan nikah?" Tanya Setya mengalihkan pembicaraan.
"Tahun depan kayaknya, pas di ulang tahun ke 27 aku. Soalnya Dimas masih mau ngumpulin tabungan dulu buat rumah tangga aku dan dia kedepannya," ucap Tiwi santai.
__ADS_1
"Syukur lah kalo udah ada rencana, kirain bakal putus nyambung doang dari SMA pacaran," kata Setya.
"Ih ya enggak lah. terus kalian kapan? kayaknya dari kita masih SMA kamu ngga pernah tuh deket sama cewek, Qiana juga ngga pernah deket sama cowok lain selain Tyo sama Setya. Apa jangan-jangan kalian udah jadian dari dulu ya?" Kata Tiwi yang tiba-tiba penasaran.
"Maunya gituh Tiw dari dulu juga, sampek sekarang masih nungguin aku tuh." batin Setya.
"Hmm sayangnya, aku maunya sama Kakaknya Tiw. Sekalipun mereka sepintas sama tapi mereka beda di hati aku." batin Qiana.
"Eh, kok kalian sama-sama diem sih jawab dong. Kalian udah jadian ya di belakang aku?" Tanya Tiwi lagi.
"Enggak kok tiw, aku mah ntaran aja kalau udah ada yang bikin nyaman, teduh dipandang baru deh aku gaet wkwk." canda Qiana.
"Kalau aku masih nunggu doi peka Tiw," Kata Setya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kenapa kalian nggak jadian aja sih, kayaknya cocok kok," ucap Tiwi tanpa dosa.
"Cinta mana bisa dipaksain sih Tiw, aku udah nganggep Setya ini kakak aku sendiri, ya nggak Bang?" Kata Qiana sambil menggoda Setya.
"Hehehe, iya deh Dek apa sih yang enggak buat Adek." canda Setya padahal hatinya patah jadi dua.
"Ih jijay Abang Adekan." cemooh Tiwi.
Mereka bertiga tertawa bersama, lupa jika Dafa sedang tidur.
"Huwaa...huwaa... Nda...Nda," Tangis Dafa pecah karena tidurnya terusik.
"Uh, sayangnya bunda maaf ya itu Om Tyo sama Tante Tiwi nakal ya ketawanya keras ya," kata Qiana sambil mengelus punggung Dafa mencoba menenangkan anak angkatnya.
"Nda mau temu Ayah." rengek Dafa di tengah tangisannya.
"Iya kita telfon Ayah ya Nak, Dafa diem dulu tapi ya." bujuk Qiana dan diangguki oleh Dafa
*Cinta memang rumit\, memilih antara dicintai dan mencintai itu perkara sulit. Karena hati siapa yang tahu? Karena jalan takdir siapa yang sangka?. Berdo'alah agar dia yang kau nanti kehadirannya itu mampu mengobati hati yang lama kosong 💙💙💙*
__ADS_1