Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
41. Lamaran 2


__ADS_3

Selamat Membaca....


Dafa turun dari gendongan Reza dan berlari menuju Akbar. Bajunya sudah tak bercorak coklat lagi, muka cemong coklatnya pun sudah tidak ada hanya ada taburan tipis bedak bayi yang menambah kesan gemas pada balita gembul itu.


"Ayah... ndongggg...." Teriak Dafa sambil merentangkan tangannya, meminta Akbar untuk segera menggendongnya.


Akbar yang semula tampak tegang kini sudah mulai rileks karena ada Dafa dipangkuannya. Anaknya itu mampu membuat rasa tegangnya hilang seketika.


"Ayo kita mulai acaranya," Kata Pak Rizal.


Acara lamaran itu tampak sangat khitmad, sesekali di selingi candaan agar acara tak terlalu tegang. Lamaran diawali dengan sambutan dari pemilik rumah yang langsung disambung oleh Pak Amri.


"Entah bagaimana jadinya, jika cucu kami tidak bertemu dengan Nak Qiana di panti. Mungkin hidupnya akan jauh dari rasa kasih sayang sosok orang tuanya. Tapi rangkaian takdir ini patut untuk kami syukuri karena akhirnya anak pertama kami ini bisa menemukan orang sebaik Nak Qiana. Dan niat kami berkunjung kemari tidak lain untuk melamar Nak Qiana menjadi pasangan anak kami Akbar," Kata Pak Amri, ada rasa haru dan syukur yang begitu jelas tersemat di raut wajahnya.


"Terimakasih Pak Amri sudah datang jauh-jauh kemari untuk melamar putri bungsu kami. Tapi alangkah baiknya kita sebagi orang tua menyerahkan ini pada anak-anak kita, kita hanya pemantau saja ya Pak Amri dan mengarahkan jika ada yang keliru. Bagaimana kalau kita panggil saja yang sudah di cari-cari sama Nak Akbar ini, dari tadi sudah celingukan nyariin Qiana kayaknya ya hihihi," Ucap Pak Rizal yang diakhiri godaannya kepada Akbar.


Semua sanak saudara dari keluarga Qiana tampak tersenyum, ada-ada saja saudaranya ini, pikir mereka.


"Biar saya yang menyusul Qiana bersama anak-anak," Kata Reza dan diangguki oleh Pak Rizal.


Sedangkan di dalam kamar Qiana tampak begitu gelisah, kebaya modern yang digunakannya serta make up tipis dan kerudung yang senada dengan warna kebayanya terbalut apik membuat Qiana berkali-kali lipat tampak cantik, meski dalam keadaan gelisah.


Tok..tok..tok...


"Qia, ini Abang ayok keluar Dek. Udah di tungguin semua orang tuh," Kata Reza di depan pintu.


"Nda, ayo Nda udah di tunggu Ayah," Ucap Dafa.


"Iya sayang sebentar," Kata Qiana sambil menenangkan jantungnha yang berdegub kencang.

__ADS_1


Sebetulnya Qiana masih memiliki keraguan pada Akbar, takut jika rasa itu sebetulnya hanya semua kekaguman sesaat karena Qiana telah berhasil menarik perhatian Dafa darah dagingnya.


Ceklek..


"Nda, tantik tekali." Puji Dafa.


"Hihihi, ponakan Papa bisa aja muji orang cantik udah pinter ngegombal aja masih kecil juga," Kata Reza sambil mencubit gemas pipi Dafa.


"Ih, Papa takit," Ucap Dafa.


"Ayok Dafa turun dari gendongan Papa Reza, kita ke bawah gandengan aja," Ujar Qiana.


"Tiap Nda,"Kata Dafa.


Saat Qiana berjalan berdampingan dengan Abangnya dan juga si kecil Dafa, semua mata tertuju pada sosok Qiana yang tampak ayu dan anggun.


Akbar yang sedari tadi sudah dag dig dug tak jelas pun makin gusar ketika melihat Qiana turun dan berjalan mendekat.


"Abang, mingkem." Goda Fani dengan berbisik ke telinga Abangnya.


"Husst, diem kamu," Kata Akbar.


"Wah ini dia yang di nanti-nanti sama Nak Akbar, anak Papa si bungsu yang mandiri," Ucap Pak Rizal bangga.


"Hahahaha, ngabodor aja si Om," Kata Fani.


"Biar ngga tegangan tinggi ya Fan, kayak nama kamu Funny. Biar have fun." Canda Pak Rizal, Fani yang malah di goda Pak Rizal tambah kencang tertawanya, membuat Bu Rita turun tangan untuk membekap mulut anak gadisnya itu.


"Hus, Pa jangan becanda terus ih malu," Kata Bu Rima, wajah Pak Rizal langsung berubah serius hilang sudah wajah cengengesannya tadi ketika menggoda adik kakak calon mantunya.

__ADS_1


Qiana, Reza, dan Dafa telah duduk di posisinya masing-masing, untuk mengikuti proses lamaran. Di rasa semua telah siap, Pak Rizal pun membuka acara dengan khidmat, tegas dan lugas.


Tak ada lagi candaan garing yang terlontar dari bibir yang hampir tertutup kumis itu, yang ada hanya pesan-pesan untuk anak gadis dan bakal anak laki-lakinya.


"Terimakasih atas diterimanya maksud baik kami datang ke sini untuk melamar putri Bapak Rizal yang sudah berhasil membuat putra sulung saya bertekuk lutut, untuk segera meminangnya. Dan untuk jelasnya biar anak saya sendiri yang mengutarakan tujuannya datang kesini dan biar langsung di jawab oleh Nak Qiana," Kata Pak Amri menyambung ucapan Pak Rizal.


Kali ini Akbar sudah mulai tampak menguasai emosinya, sedangkan Qiana jantungnya masih berdegup dengan cepat.


"Ehm, terimakasih Om, Tante dan keluarga besar sudah mau menerima kami dengan baik. Tujuan saya bersama keluarga datang kesini untuk melamar putri Om dan Tante, menjadi istri dan Ibu untuk anak saya Dafrendra yang kebetulan sekali sudah tinggal bersama Qiana selama kurang lebih jalan 2 bulan ini," Kata Akbar menjeda kalimatnya.


"Sebetulnya Dafa merupakan perantara untuk kami saling mengenal, dan minggu kemarin saya sudah melamar Qiana secara langsung di hadapan keluarga inti Qiana. Tapi untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, hari ini saya datang bersama keluarga besar saya berniat untuk melamar Qiana secara resmi dan menentukan tanggal pernikahan. Jadi bersediakah Qiana menerima lamaran saya kembali?" Tanya Akbar yang diakhiri senyum lega.


Orang-orang di ruangan itu tampak begitu terharu mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Akbar. Sedikit banyak mereka mengetahui cerita tentang Qiana yang mengadopsi Dafa dan bertemu dengan Akbar sebagai donasi panti yang ternyata Ayah dari Dafa.


Qiana yang masih tampak larut menghayati kata-kata yang keluar dari mulut Akbar, kini bukan hanya jantungnya yang merespon tapi telapak tangannya sudah basah, sangking gugupnya. Bibir tipisnya tampak berkomat-kamit, entah berdo'a atau menyusun kalimat jawaban.


"Ehm, saya menerima lamaran Mas Akbar." Jawab Qiana to the point, sangking gugupnya jadilah hanya kalimat pendek yang terucap.


"Alhamdulillah..." Kata orang-orang yang berkumpul menjadi saksi atas lamaran dua orang manusia.


***


Semua kerabat Pak Rizal sudah meninggalkan kediamannya saru persatu begitupun rekan kerja dari Pak Amri yang sudah pulang sedari acara lamaran telah usai.


Kini di ruangan itu tinggal keluarga inti dari keluarga Pak Rizal dan Pak Amri. Tanggal pernikahan disepakati 1 bulan dari acara lamaran berlangsung.


Qiana hanya mengikuti kemauan Akbar, selain ini pengalaman pertamanya melewati acara lamaran, Qiana juga masih ragu dengan perasaannya terhadap Akbar selama ini.


****

__ADS_1


Mohon sarannya pemirsa hihihi, barangkali ada salah-salah kata.


__ADS_2