
Selamat membaca...
Hari yang di tunggu-tunggu Qiana tiba, hari ini dia akan resign dari RS yang sudah lama menjadi tempatnya mengais rezeki. Berat memang, tapi dia sudah memikirkannya matang-matang. Yang terpenting bagi hidupnya saat ini yaitu, Dafa anak angkatnya yang sudah seperti anak kandung bagi Qiana.
Terlihat Setya baru saja keluar dari RS keluarga temannya, tak sengaja ia berpapasan dengan Qiana dan Dafa di gendongannya. Ini juga hari terakhir Setya membantu Bagas di RS, semua permasalahan alat-alat medis itu pun telah selesai ia perbaiki.
"Assalamualaikum, Qi. Abis ngasih surat resign?" tanyanya pada Qiana.
"Iya, ini udah mau balik." jawab Qiana.
"Yaudah ayok aku antar, aku juga udah selesai urusan disini." ajak Setya.
"Om mau antel Nda tama Dafa ke lumah?" Tanya Dafa yang ikut bersuara.
"Iya, Dafa mau dianter sama om? Atau Dafa mau main dulu ke taman?" tawar Setya yang di sambut antusias oleh Dafa.
"Mau, mau Dafa mau. Tapi ini Om Tembal yang tiapa? Om Tyo apa Om Tetya? Dafa binun," kata Dafa sambil memiringkan kepalanya memperhatikan wajah Omnya.
"Dafa, ini Om Setya. Dafa ngga mau langsung pulang aja? Nanti kita main di rumah aja sama Bunda ya?" Kata Qiana.
"Ih ini Om Tetya, Nda Dafa mau main di taman tama Om Tetya uga. Ya ya ya main di taman." rengek Dafa.
"Yaudah ayok ikut Om," Kata Setya yang langsung mengambil alih Dafa dari gendongan Qiana.
__
Sesampainya di taman, Setya terus saja bersikap manis pada Qiana. Mencoba peruntungannya untuk mendapatkan hati Qiana, pikirnya. Mumpung si kecil Dafa lagi asyik ketemu bocil-bocil lucu lainnya di taman.
__ADS_1
"Qi, kamu banyak berubah ya dari zaman SMA dulu. Apalagi kamu keliatan makin keibuan semenjak ada Dafa," kata Setya.
"Bilang aja aku udah kayak ibu-ibu yang biasanya ngegerombol di tukang sayur Set, segala pakek bilang keibuan wkwkwk." canda Qiana.
"Ih, orang aku lagi serius malah di becandain," kata Setya.
"Lagian ada aja tuh mulut." Jawab Qiana.
"Emh, Qi. Kita udah makin tua ya tahun depan udah 27 tahun loh kita. Kamu ngga kepikiran apa gituh?" tanya Setya.
"Iya, udah mau masuk usia 30 tahunan ya Set, ngga kerasa. Kalo ditanya kepikiran sesuatu, ya jelas aku kepikiran. Kaya kepikiran orang tua aku yang di Surabaya sama Abang dan Kakak Iparku sama ponakan aku, udah lama ngga ketemu." jawab Qiana sambil melamun merasakan rindunya kepada keluarganya.
"Ih kamu mah, bukan kepikiran itu. Kepikiran jodoh maksud aku. Apa kamu ngga kepikiran buat berumah tangga?" kata Setya hati-hati takut menyinggung perasaan Qiana. Qiana hanya menoleh ke arah Setya dengan tatapan sulit diartikan.
"Hemm... gimana ya Set. Sebenernya aku masih ngga percaya diri buat ngebuka hati lagi. Kamu tau kan kalau aku suka sama kembaran kamu dulu?" Kata Qiana dengan berat hati.
"Udah jujur aja aku ngga apa kok, pasti kamu udah tau kan dari diary aku waktu itu," kata Qiana sambil memperhatikan wajah Setya yang sudah menunjukan perubahan raut wajah.
"Hehe, iya maaf ya aku lancang banget dulu," kata Setya yang langsung ngaku hehe.
"Iya gpp, nah kalau inget dulu jadi bikin aku takut buat naruh hati aku lagi ke sembarang orang. Tyo yang udah temenan lama sama aku aja ngga bisa lihat aku yang suka sama dia, tau ngga sih rasanya mencintai tapi tidak dicintai? sakit tau ngga Set. Oke lah dulu, aku bisa biasa aja soalnya Tyo nya juga selalu ada di sekitar aku, dan itu udah cukup buat aku. Tapi untuk saat ini, aku harus cari orang yang bisa lihat aku, nerima aku apa adanya, apalagi sekarang aku udah punya Dafa sekalipun dia bukan anak aku," kata Qiana sambil memandang Dafa yang tengah berlarian bersama teman-teman sebayanya.
"Aku tau Qi, aku tau gimana rasanya. Apalagi orang yang aku cintai ternyata lebih cinta sama Kakak aku sendiri. Aku tau gimana sakitnya Qi, rasaku juga sama tak terlihatnya oleh orang yang aku cintai. Dan orang itu kamu Qiana," Ucap Setya dalam hatinya, rasanya dia ingin menertawakan kebodohannya dulu.
"Ternyata kamu masih ada rasa ya Qi, sama Kakakku. Apa perlu aku bilangin ke dia kalau kamu suka sama dia dari dulu?" tawar Setya, sekalipun hatinya sakit saat mengucapkan itu. Qiana menggeleng cepat, bukan itu yang dia maksud.
"No.. big no... Setya. Bukan aku masih ada rasa sama Tyo, tapi karena aku masih belum bisa buka hati lagi," Ujar Qiana.
__ADS_1
"Belum bisa buka hati lagi itu karena kamu masih ada rasa sama Tyo, Qiana. Aku bisa lihat dari cara kamu lihat Tyo, Qi. Aku yakin rasa itu masih ada," kata Setya yakin.
"No.. kamu keliru." sanggah Qiana.
"Nda.. Om.. ayo beli es tlim di tana," teriak Dafa memecah percakapan antara Qiana dan Setya.
"Oke Om aja ya, yang beliin buat Bunda sama Dafa disini dulu ya," kata Setya sambil tersenyum ke arah Ibu dan Anak itu.
Fikiran Setya melayang, bagaimana caranya meyakinkan Qiana bahwa hatinya utuh untuknya. Ingin mengungkapkan tapi dia takut kecewa, karena sudah jelas dia mengetahui sejak dulu kalau hati Qiana hanya untuk kakak kembarnya. Sekalipun Setya tahu kalau kakaknya tak ada hati untuk Qiana, tapi tetap saja.
Tak terasa dia sudah sampai di abang-abang penjual es krim wa*s. Dia membeli rasa coklat, stroberi, vanila. Setelah membayar Setya langsung melangkahkan kakinya kembali menuju Qiana dan Dafa yang sudah menunggunya.
"Ini es krimnya untuk Dafa dan Bunda," kata Setya dan disambut dengan antusias oleh Dafa.
Hati Setya tertawa getir, kegiatan ini seperti seorang keluarga bahagia di mata orang lain ada ayah yang tampan dengan stelan kerjanya, ada ibu yang cantik dengan gamis maroonnya, dan ada anak gembil yang ganteng dengan tawa bahagianya. Tapi sayang mereka bertiga tidak memiliki ikatan keluarga yang diinginkan Setya.
"Es tlimnya nak," Ucap Dafa membuyarkan lamunan Setya.
"Wah, enak ya. Dafa mau lagi?" Tanya Setya.
"Ndak Om, kata Nda kalau makan es tlim ndak boleh banak-banak halus dikit-dikit aja." Jawab Dafa.
"Hahaha, bisa aja kamu nurutin Bunda kamu itu Daf, padahal nggak apa-apa lih makan es krim banyak-banyak kan es krim rasanya enak." Goda Setya yang langsung mendapat tatapan tajam dari mata Qiana.
"Hihi, iya-iya.... enggak Om cuma bercanda,l Kata Setya.
~Hidup itu pilihan, tapi memilih untuk menjatuhkan hati kepada siapa, itu tidak bisa~.
__ADS_1