
Author POV
Setiap pertemuan selalu mengisahkan ceritanya masing-masing, serta suka dan duka yang selalu beriringan menemani, semuanya dihadirkan Tuhan disaat yang tepat tanpa kita sadari. Karena hidup tak selamanya bahagia, sedih dan kecewa akan hadir menambah variasi warnanya. Bukankah cahaya matahari pun butuh rintik hujan untuk mencipta pelangi? Begitupun dengan kita yang membutuhkan rasa sedih dan kecewa agar bisa memaknai kebahagiaan yang datang dengan rasa syukur yang teramat.
Pagi ini tepat sebulan pernikahan Akbar dan Qiana, semuanya masih tampak baik-baik saja meski cinta yang tumbuh dikeduanya baru mulai tumbuh. Ya.. jika diibaratkan tanaman cinta keduanya baru saja tumbuh, tumbuh karena terbiasa dan saling berbagi satu sama lain setiap harinya. Perubahan besar tentunya baru dirasakan oleh Qiana, karena ini pernikahan pertamanya. Jika dulu saat bangun tidur yang dilihatnya pertama kali adalah Dafa yang tidur di sampingnya, kini Akbarlah yang pertama dia lihat. Perhatiannya dan kesibukannya bukan lagi tentang dia pribadi dan Dafa, tapi bertambah dengan satu orang yang selalu hadir di setiap harinya, ya dia Akbar suaminya, teman hidupnya.
Tampak baik-baik saja bukan berarti pernikahan mereka bebas dari perdebatan kecil, selisih pendapat, berbeda
pemikiran, karena itu juga sudah mereka rasakan. Tapi itu bukanlah suatu masalah bagi keduanya, karena hal tersebut wajar terjadi dalam suatu hubungan tinggal bagaimana mereka menyikapinya.
“Sayang… jangan melamun pamali,” ucap Akbar yang baru saja memasuki kamarnya setelah dari ruang kerjanya.
“Astagfirullah Mas, ngagetin Qia aja. Hmmm, Qiana ndak melamun kok Mas hanya ingat dengan pesan Bang Reza waktu itu.” Jawab Qiana sambil memandang lekat wajah suaminya.
“Apa pesannya, Sampai kamu melamun seperti ini?” tanya Akbar sambil merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang sudah lebih dulu berbaring di bawah selimut tebal.
“Emh, pesan tentang pernikahan. Katanya Abang, pernikahan itu seperti menyatukan cinta tiap individu yang terlibat di dalamnya meski beberapa dari pasangan yang menikah ada yang mengikat pernikahan tanpa cinta, hanya bermodal rasa nyaman misalnya atau pernikahan karena perjodohan, tapi ketika kedua individu itu menjalaninya dengan sadar dan berlapang hati menerima takdir yang terjadi dan menerima setiap kekurangan dan kelebihan pasangan halalnya tersebut maka cepat atau lambat cinta akan hadir di keduanya. Apa ya jika kata sahabat Nabi yang mengenai takdir-takdir itu Mas, apa kamu tahu aku lupa hehe? Pesan Abang kemarin berhubungan sama itu soalnya,” jawab Qiana yang diakhiri oleh pertanyaan. Membuat Akbar mengerutkan dahinya dan berpikir.
“Emh… apa yang kamu maksud itu perkataan Umar bin Khattab yang ini ‘Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku’. Oh iya, aku rasa betul itu yang kau maksud, karena ini memang berhubungan,” ucap Akbar.
__ADS_1
“Iya betul Mas, kata-kata itu. Maaf ya Mas sebelumnya jika akan ada kata-kata yang kemungkinan menyakiti Mas. Seminggu sebelum pernikahan kita sebulan yang lalu, Abang juga bilang gini ke Qia. ‘Sebetulnya Abang tahu kamu belum mencintai Akbar, tapi kamu sudah mulai nyaman dengan kehadirannya terlebih dengan adanya Dafa disisimu. Ini sudah takdirNya Qi, kamu harus berfikir rasional nanti ketika sudah berumah tangga dengan Akbar jangan melulu terlalu hanyut dalam perasaan yang masih belum pasti, karena semuanya harus di fikir mateng-mateng sebab-akibatnya. Kamu harus ingat-ingat ini ‘Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah
melewatkanku, jadi intinya kehadiran Dafa dan Akbar di hidupmu adalah takdirNya yang harus kamu terima dengan rasa sadar dan lapang dada karena Allah lebih tahu mana yang akan menuntun kita dalam rasa bahagia yang menentramkan. Dan untuk sebuah rasa di masa lalu, Abang tahu dia tidak pernah sedikit pun melihatmu sebagai seorang wanita, dia hanya melihatmu sebagai sahabat dan saudari perempuannya yang berarti kamu sudah terlewatkan olehnya.’ Itu ucapan Abang,” kata Qiana sambil terus menatap wajah suaminya melihat setiap ekspresi dari pria tampan yang berbaring di sisinya itu.
“Iya memang betul apa yang diucapkan Abang kamu, lalu sekarang apa perasaanmu sudah berubah Qi kepadaku? Mungkin sudah naik tingkatan dan jika berkenan siapa laki-laki yang dulu pernah kamu sukai?” tanya Akbar sambil mengusap pipi Qiana dengan punggung tangannya lembut.
“Emh, semenjak Qiana mencium tangan Mas Akbar untuk pertama kalinya sewaktu pernikahan kita. Qiana sudah merasakan perasaan yang lain kepada Mas Akbar.” Jawab Qiana dengan malu-malu.
“Serius sayang?” tanya Akbar dengan mata berbinar.
“He em…. Serius…. Terus laki-laki yang pernah Qia kagumi… ralat ya Mas soalnya Qia hanya kagum waktu itu, dia Tyo sahabat Qiana sendiri, itu dulu mah istilahnya cinta monyet Mas hehe.” Jawab Qiana lagi dengan cengiran.
“Alhamdulillah, kamu sudah merasakan apa yang Mas rasakan. Terimakasih sudah membalas perasaan Mas, dan mari kita lepaskan masa lalu ya Qi kita fokus dengan langkah kita ke depan untuk membahagiakan anak-anak kita.” Ucap Akbar sembari mendekat ke arah Qiana dan menarik tubuh istrinya masu dalam dekapan hangatnya.
“Betul sekali sayang, yasudah sekarang ayo kita tidur biar besok tidak kesiangan sholat subuh.” Ajak Akbar.
Keduanya terlelap dengan saling memeluk satu sama lain, dan mulai terbuai dengan bunga tidur masing-masing. Witing Trisno Jalaran Saka Kulina, pribahasa jawa ini mungkin sangat cocok dengan kehidupan mereka berdua yang seiring dengan berjalannya waktu berubah menjadi cinta, suatu rasa yang menjadi fitrah setiap manusia.
Di kamar sebelah sudah terlelap bocah tampan dengan pipi gembilnya, ya dia Dafa. Sudah seminggu ini dia belajar untuk tidur sendiri di kamarnya yang di desain khusus oleh Akbar dengan segala perlengkapan bernuansa merah dengan gambar kartun mobil favorit Dafa.
__ADS_1
Semenjak menikah, Qiana dan Dafa ikut tinggal di rumah Akbar dan membiarkan rumah sang Nenek ditinggali oleh Mang Didin dan keluarga kecilnya untuk sementara waktu sampai Nenek Mira datang kembali ke Bandung.
Tok…tok…tok…. Ketukan dari tangan mungil yang mendaratkan kelima jarinya pada pintu yang masih tertutup rapat.
“Ndaaa…. Ayah….” Teriak Dafa sambil mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.
Ceklek
“Ada apa sayang?” tanya Qiana sambil mengangkat tubuh anaknya dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
“Nda, mau salapan di balkon. Nda udah masak kan?” tanya Dafa dengan mata bulatnya yang terus menatap lekat wajah Qiana.
“sudah dong sayang, Bunda tadi setelah sholat subuh kan langsung masak di temani Ayah, terus kita bersih-bersih badan ya Bun biar nggak acemm kayak Dafa ini.” Jawab Akbar sambil menyambar badan Dafa dari gendongan Qiana dan membawanya menuju balkon kamarnya.
“Dafa mau makan sama apa biar Bunda ambilin, emh atau mau mandi dulu sayang?” tanya Qiana.
“Makan dulu Nda, sama loti klat dan susu lasa stobeli.” Jawab Dafa antusias, sedangkan Qiana dia sudah tidak fokus dengan anaknya melainkan fokusnya teralihkan dengan wanita yang sedang berdiri di depan gerbang rumahnya.
“Mas, Mas Akbar apa itu dia?” tanya Qiana dengan nada khawatirnya.
__ADS_1
*******************************
Terimakasih telah membaca.... selamat malam dan semoga kalian selalu dalam lindungan-Nya ya. Mohon maaf bila upnya lama ya....