
Matahari terus bergerak ke arah barat, cuaca siang menuju sore kali ini tampak cerah. Suara bising kendaraan bermotor di jalanan ibu kota bak suara alunan musik yang tiada henti berdendang, menemani macet yang setia mengawal hari. Mobil CRV milik Akbar tampak ikut bagian merasakan macetnya Ibu Kota, di dalamnya sudah ada Akbar yang sibuk dengan kemudinya, Qiana yang sibuk dengan Dafa yang rewel dan Fani yang sibuk dengan mimpinya.
Perjalanan yang seharusnya bisa di tempuh dalam waktu 30 menit kali ini baru bisa tercapai dalam waktu 1 jam 20 menit. Setelah sampai di tempat tujuan mereka berempat turun dari mobil, Dafa kini tengah tertidur dalam gendongan Qiana, sedangkan Akbar sibuk dengan tas jinjing keperluannya Dafa selama keluar rumah.
“Ini rumahnya mbak?” Tanya Fani sambil melihat ke kanan dan ke kiri, entah apa yang sedang di cari wanita berhijab kuning itu.
“Iya, Dek kecil ya?” Jawab Qiana sambil membetulkan gendongannya.
“Enggak kok mbak, ini mah kebesaran kalau buat ditinggali sendirian. Aku mah takut kalau tinggal sendirian. Tapi ini tamannya bagus banget loh Mbak,” Ujar Fani.
“Hahaha, ngapain takut Dek. Iya Mbak gituh loh yang desain,” Jawab Qiana sambil menekan bel rumahnya.
Ting…tong…ting…tong…
“Assalamualaikum, Tiwi…” Salam Qiana.
Ting…tong…ting…tong….
“Sebentar.” Teriak Tiwi dari dalam rumah.
Ceklek
“Wa’alaikumsalam, wahhh Bundakuu Qiaanaaa,” Heboh Tiwi sambil merentangkan tangannya hendak memeluk Qiana tapi diurungkannya ketika melihat Dafa tertidur dalam gendongan Qiana.
“Masuk…masukk, Qiana, Pak Akbar, dan emh.. dan Mbaknya, mari-mari,” Kata Tiwi, mempersilakan masuk sang tuan rumah yang asli, hehehe. Fani yang dipanggil ‘Mbak' oleh teman calon kakak iparnya cuman nyengir kuda. Mereka pun langsung masuk ke ruang keluarga, tak lama setelah mereka duduk Dafa pun bangun dari tidurnya.
__ADS_1
***
Dafa yang merasa tak asing dengan rumah itu pun segera berlari ke arah kamar yang ia yakini terdapat beberapa mainannya tersimpan disana. Kamar yang tidak berubah sama sekali semenjak sang pemiliknya pergi. Qiana berlari mengikuti Dafa masuk ke dalam kamarnya membuatnya seakan dejavu dengan kejadian yang dia rasakan saat pertama kali membawa Dafa ke rumah itu.
“Dafa, jangan lari Nak,” Kata Qiana mengingatkan anaknya yang sedang berlarian di dalam kamarnya.
***
Sementara itu di ruang keluarga, Tiwi sudah menjamu tamunya dengan apik ada suguhan jajan dalam toples dan es timun serut yang tampak segar diminum dalam cuaca cerah seperti ini. Ketika Tiwi dan dua tamunya tengah mengobrol tiba-tiba datang seorang wanita dari arah dapur yang membuat suasana canggung seketika.
Kilasan-kilasan masa lalu jelas berkelibatan di benak kedua orang yang kini saling menatap. Membuat Tiwi yang tidak tahu apa-apa merasa aneh dengan sikap temannya dan orang yang duduk dihadapannya ini, sedangkan Fani dia sudah tersedak es timun serut yang tengah ia minum saat wanita itu berjalan kea rah ruang keluarga.
“Eh, minumnya hati-hati Fan. Aku nggak minta loh,” Kata Tiwi yang di selingi candaan garingnya.
“Hahaha, kamu ini Fan. Oh iya ini kenalin namanya Bella temen aku sama Qiana sewaktu SMA di Surabaya,” Ucap Tiwi, memperkenalkan Bella kepada Akbar dan Fani.
“Nggak usah dikenalin mbak, aku udah tahu wanita murahan ini, wanita yang nggak punya hati yang tega nelantarin anaknya yang masih bayi di panti asuhan,” Ujar Fani dengan ketusnya.
“Ngapain kamu di sini, udah puas kamu di bui, enak?” Kata Akbar dengan memalingkan wajahnya ke arah lain asal tak lagi memandang wajah wanita itu.
Belum sempat Bella menjawab hinaan mantan adik iparnya, Akbar sudah duluan memotongnya dengan kalimat pedasnya.
Tiwi kaget bukan main, setahunya Bella ini sedang liburan di Jakarta tapi kerampokan sewaktu di swalayan yang kebetulan Tiwi kunjungi saat itu. Dan karena ajakan Tiwi, Bella akhirnya menginap di rumah Qiana yang Tiwi tinggali seorang diri. Bella akan tinggal di Jakarta sampai suami Bella datang menjemput seminggu lagi. Tapi apa yang Tiwi dengar dari mulut Fani dan Akbar, membuatnya bingung setengah mati apa hubungannya Fani dan Akbar dengan kehidupan temannya ini.
“Maaf Fani, Pak Akbar. Bisa dijelaskan ada apa dengan kalian sampai menghina teman saya seperti itu. Dan apa maksudnya di bui? Bella di Jakarta sedang liburan dan kemarin sempat kerampokan jadi saya bawa tinggal disini atas izin Qiana,” Kata Tiwi mencoba bertanya atas situasi yang mulai tidak kondusif ini.
__ADS_1
Qiana yang mendengar kegaduhan dari ruang keluarga pun segera keluar, setelah Dafa ditidurknnya di ranjang Quen size miliknya. Betul saja ketika ia masuk ke ruang keluarga tampak Bella berdiri sambil menangis tersedu-sedu.
“Ada apa ini? Loh bel kenapa nangis?” Tanya Qiana yang hanya mendapat gelengan lemah dari Bella.
“Mumpung semuanya ada disini, saya mau bicara penting. Bella ini mantan istri saya, dia ibu yang tega nelantarin bayinya sendiri, yang masih hitungan bulan setelah dia saya gugat cerai karena perselingkuhannya. Nyesel saya mercayain anak saya sama orang yang nggak punya hati,” Kata Akbar dengan nada yang sedikit keras akibat menahan amarah.
“Maaf Bar, hiks..hiks… ma..maafin aku. Aku nyesel udah nelantarin anak kita, aku minta maaf sama kamu udah nyianyiain kepercayaan kamu,” Ujar Bella dengan terisak.
Bella berjalan menghampiri Akbar dan dia bersimpuh di kaki mantan suaminya itu sambil terisak. Ada rasa sesal di hati Bella, melakukan perselingkuhan dan menelantarkan anaknya sendiri, sungguh bukan masa lalu yang patut ia banggakan.
“Udahlah, air mata buaya aja dipelihara. Nggak usah pura-pura sedih dua setengah tahun yang lalu juga Anda kayak gini dihadapan keluarga saya,” Ujar Fani dengan ketusnya, efek patah hati diselingkuhi tunangannya membuat Fani melampiaskannya dengan jenis manusia serupa dihadapannya ini wkwkwk.
“Hush, Dek nggak boleh gituh. Gini aja sekarang, kalian omongin baik-baik apa aja yang masih ngeganjel di hati kalian. Biar kedepannnya nggak ada masalah lagi, bagaimanapun cepat atau lambat Dafa juga harus tahu ibu kandungnya,” Kata Qiana mencoba mencari jalan keluar.
“Nggak, nggak ada yang perlu diomongin lagi. Dafa hanya anak aku,” Kata Akbar sambil menjauhkan tubuhnya dari Bella.
“Mas, nggak boleh gituh. Tenangin emosi kamu dulu, jangan egois. Oke?” Kata Qiana sambil menatap lembut Akbar.
***
Sore itu, permasalahan yang tercipta dari 2 setengah tahun yang lalu perlahan terselesaikan dengan obrolan antara kedua belah pihak, sedangkan Qiana dan Tiwi mereka menjadi pendengar dan pemberi masukan yang baik. Bella benar-benar menyesali perbuatannya, bahkan untuk bertemu dengan Dafa pun dia merasa tak pantas. Qiana yang merasa dirinya ikut terseret dalam permasalahan dua orang itu pun menjelaskan dari awal bertemu dengan Dafa dan Akbar, sampai rencana pernikahannya dengan Akbar pun dia ceritakan agar tak terjadi kesalah pahaman.
Fani yang masih kesal dengan Bella pun meminta Tiwi menemaninya menuju kamar yang ditempati Dafa tidur. Bagi Fani wajah damai Dafa yang tengah tertidur seperti ini sangat bagus untuk memulihkan moodnya yang sudah hancur. Tiwi tak banyak bertanya, sedikit banyak dia paham dengan situasi rumah saat ini, mencekam.
Makasih sudah membaca 😊, jangan lupa like yaaa. Kalau ada saran boleh kirim lewat kolom komentar yaaa...
__ADS_1