Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
47.Perempuan dan Cinta


__ADS_3

Selamat  membaca...


***


Qiana POV


Seusai sholat maghrib aku bergegas pergi ke rumah Mama Dewi, rumah si kembar. Sengaja kita nggak janjian di luar karena pembahasan kita private kata Mama jadi harus di ruang tertutup. Dafa, Mas Akbar dan para lelaki yang tinggal di rumah belum kembali dari masjid, ini rencana Mas Akbar agar Dafa tak melihatku ketika pergi keluar rumah, takut jika Dafa akan merengek untuk ikut.


Pokoknya aku harus segera sampai rumah Mama Dewi dan segera kembali sebelum waktu tidur Dafa. Di perjalanan, aku memikirkan apa yang akan di bahas Mama Dewi padaku. Tak membutuhkan waktu lama aku sudah sampai di rumah Mama Dewi, rumahnya tampak sepi sekali.


Aku pun bergegas turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama, saat akan menekan bel, pintu rumah sudah tampak di buka dari dalam. Dan terlihat perempuan paruh baya yang tersenyum hangat ke arahku sambil merentangkan kedua tangannya. Aku pun berhambur ke pelukannya.


"Assalamu'alaikum Ma," salamku sambil mencium punggung tangan perempuan paruh baya di hadapanku yang masih tampak cantik.


"Wa'alaikumsalam Nak, ayo masuk kita langsung ke kamarnya Setya aja ya." ajak Mama Dewi yang langsung menuntunku berjalan masuk ke kamar Setya.


"Papa, Tyo dan istrinya kemana Ma? Sepi banget ini, Mama sendirian?" tanyaku pada Mama Dewi.


"Iya, yang lain pada keluar sengaja Mama nggak ikut biar bisa ngobrol berdua sama kamu," ucap Mama Dewi seraya membka pintu kmar Setya, Isi kamarnya masih tampak sama dengan saat terakhir kali aku masuk kamar ini.


"Duduklah Nak, Mama ingin berbincang-bincang dengan anak gadis Mama yang akan segera menikah. Meski kamu bukan anak kandung Mama dan bukan anak mantu Mama, tapi kamu tetap anak gadis Mama yang akan selalu Mama sayangi Nak. Kamu satu-satunya wanita yang di cintai anak Mama, Nak," kata Mama Dewi, beliau masih tampak tersenyum hangat sedangkan aku?, sudah ingin meraung menangis jika mengingat tentang Setya.


"Iya Ma, Qiana akan selalu jadi anaknya Mama. Sekali lagi Qiana minta maaf ya Ma, karena saat lamaran Qiana tidak mengundang Mama sekeluarga," ucapku lirih, aku benar-benar merasa sungkan dengan Mama Dewi.


"Sudahlah Nak, yang berlalu biarlah berlalu. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu Nak, jika Akbar adalah orang yang tepat bagimu Mama akan mendukungmu sepenuh hati." Mama tampak menengok ke arah nakas samping tempat tidur yang kami duduki.


"Sebentar Mama mau ambil sesuatu," ucap Mama dan beranjak menuju nakas yang sedari tadi beliau perhatikan.

__ADS_1


Mama Dewi tampak mengambil kotak kayu berukuran sedang.


"Apa itu Ma?" tanyaku penasaran, seingatku saat aku masuk kamar Setya waktu itu kotak kayu itu tidak ada di sini.


"Ini bukalah, ini dari Setya untukmu. Dia membelinya sebagai hadiah pertemuan kembali denganmu setalah 8 tahun berpisah. Bukalah Nak," Kata Mama Dewi dengan menyodorkan kotak kayu itu.


Tanganku bergetar hebat kala jemariku telah berhasil menyentuh kotak kayu yang di berikan Mama padaku, apa ini betul dari Setya, pikirku. Ketika sudah berada di tanganku, ku buka perlahan kotak kayu itu, ternyata isinya sebuah kalung dengan bandul  huruf Q di dalam lambang hati. Bahkan sampai saat Setya sudah di alam berbeda pun, dia tetap bisa mengejutkan ku dengan rahasia-rahasia yang dia miliki. Ku genggam kalung itu, lalu kumasukan lagi ke dalam kotak kayu itu.


"Mama tahu dari mana jika Setya menyukai Qiana?" Tanyaku.


"Sebagai seorang Ibu, Mama tahu apa yang dirasakan anak-anak Mama Qi. Sorot matanya ketika melihatmu Mama tahu itu, karena tatapan Setya kepadamu menyiratkan kekaguman dan kebahagiaan. Dan Mama tambah yakin akan perasaan Setya kepadamu ketika kamu tiba-tiba menghilang, sorot matanya redup, seakan kebahagiaannya telah sirna. " ucap Mama Dewi dan memandangku dengan sendu.


"Mama tahu jika Qiana menyukai Tyo?" tanyaku lirih.


"Mama juga tahu itu, tapi Mama tahu kamu baik Qi tidak akan mungkin merusak hubungan saudara Setya dan Tyo kan? Jadi kamu lebih memilih diam dan memutuskan untuk bersahabat dengan keduanya?" tanya Mama Dewi.


"Sudah Nak, Mama menyuruhmu kesini karena Mama ingin memberitahumu sesuatu." ucap Mama Dewi sambil mengusap air mataku.


"Terlepas ini sudah menjadi ketetapan takdir. Sebagai perempun sedikit banyak Mama tahu tentang perasaanmu, Memang perempuan dan cinta adalah dua hal yang sama-sama sulit di tebak. Kata mencintai bagi seorang wanita adalah sebuah pesakitan, karena banyak perempuan tidak bisa mengutarakan perasaannya dan berujung menyakiti perasaannya sendiri," kata Mama Dewi sambil memandangku lekat.


"Mama betul, sebagai perempuan Qiana merasa malu untuk mengutarakan perasaan Qiana terlebih dahulu dan memilih memendamnya. Waktu itu Tyo sempat menasehati Qiana Ma, katanya lenih baik kita itu menerima atau mencari orang yang mencintai kita saja, karena kemungkinan makan hatinya sedikit," ucapku pada Mama Dewi, ku lihat Mama tersenyum ke arahku.


"Nasehat itu ya, hmm. Begini, sebagai manusia terlebih perempuan, ketika kita dicintai oleh seseorang dan orang itu memperlakukan kita dengan baik dan terlihat tulus mencintai kita, maka hati kita akan mudah luluh dan kemungkinan untuk membalas cintanya lebih cepat. Ah, intinya baik mencintai maupun dicintai dua-duanya butuh perjuangan dan pengorbanan, dan kata cinta jauh dari kata mudah dan asal," ucapnya sambil tersenyum hangat, entahlah hatiku semakin berkecamuk, langsung ku peluk saja wanita di hadapanku ini.


Mungkin aku harus benar-benar memulai untuk mencintai Mas Akbar setulus hati, bagaimana pun Mas Akbar sudah banyak membuktikan ketulusan hatinya untukku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan orang yang telah berjuang untuk mendapatkan cinta dari seorang sepertiku lagi, yang masih banyak memiliki kekurangan disana-sini. Terimakasih Setya, sudah banyak mengajarkan banyak hal untukku jadikan pelajaran dalam hidup, meski kita terlambat tapi takdir kita tak pernah salah.


****

__ADS_1


Aku sudah tahu dari awal


Mencintai bukan perkara mudah


Jauh dari kata mudah dan asal


Ku pelajari sedari kecil


Berteriak di atas tenggorokan 


Hujan serapah dan makian


Hancur lebih mudah dari bertahan


Kupelajari sedari kecil


Aku punya harapan untuk kita


Yang masih kecil di mata semua


Walau takut kadang menyebalkan


Tapi sepanjang hidup kan kuhabiskan


Lengkapnya coba search lagunya Nadin Amizah 'Taruh'.


Makasih readers....

__ADS_1


__ADS_2