
“Mas, Mas Akbar apa itu dia?” tanya Qiana dengan nada khawatirnya.
Akbar membeku di tempatnya berdiri ada perasaan khawatir dan cemas di dalam hatinya ketika melihat seorang perempuan tengah berdiri di depan gerbang rumahnya. Dengan cepat Akbar menarik lengan Qiana dan menuntunnya agar segera masuk ke dalam kamar kembali sebelum perempuan di depan gerbang sana menyadari kehadirannya dan keluarga kecilnya.
“Dafa sayang, kamu ke kamar dulu ya minta di mandiin sama Enin ya nanti kita makannya di gazebo dekat kolam renang aja ya,” ucap Akbar sambil menurunkan Dafa dari gendongannya.
“Iya Yah.” Jawab Dafa tanpa protes dan langsung berjalan menuju kamarnya.
Akbar mendekat ke arah pintu dan menguncinya, tatapannya sangat sulit diartikan.
“Sini sayang,” kata Akbar yang membuat Qiana ikut mendekat ke pintu balkon kamarnya lewat jendala kecil di pintu balkon itu mereka berdua mengintip perempuan yang sedari tadi celingukan di depan pagar rumah mereka.
“Apa yang dia inginkan Mas? Dan siapa yang sudah memberi tahunya alamat rumah ini?” tanya Qiana.
“Entahlah sayang, tapi sekalipun penampilannya berubah kamu tetap bisa mengenalinya ya tadi, untung saja kamu cepat menyadarinya.” Ucap Akbar.
“Emh, Mas apa tidak berlebihan kita seperti ini? Jujur saja aku takut dia masih akan berulah pada kita, tapi bagaimana pun juga dia Ibu dari Dafa Mas.” Kata Qiana lirih.
“Sayang… kamu ingatkan bagaimana dia menyakiti kamu dan bagaimana dia dengan tidak punya hatinya membuang anak kandungnya sendiri di panti asuhan.” Jawab Akbar dengan nada sendu.
“Iya Qia ingat, apa kita suruh masuk aja ya Mas barangkali ada yang mau dibicarakan. Qiana takut dia membuat ulah di depan rumah kita.” Saran Qia dan malah mendapat tatapan tajam dari suaminya.
“Tidak perlu, biarkan saja dia. Lebih baik dia membuat ulah di depan sana dari pada dia mengusikmu dan Dafa lagi sayang. Ayo kita ke kamarnya Dafa dan di lanjut sarapan di belakang.” Ajak Akbar dan diangguki oleh Qiana.
***
Dua bulan berlalu, dan setiap weekend pasti di pagi harinya akan selalu ada wanita berhijab yang hilir mudik
di depan gerbang utama rumah Akbar. Ingin menerobos masuk tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri agar lebih sabar dan menghargai orang lain, tapi dia merasa putus asa karena perjuangannya untuk bertemu anak kandungnya tak kunjung membuahkan hasil.
Dari ruang kerja Akbar, suami istri yang baru menikah 3 bulan ini sedang memantau gerak-gerik wanita yang sedang berdiri menatap rumah megah di hadapannya dengan senyum getir yang menghiasi wajahnya.
“Mas lihat itu siapa lelaki yang turun dari mobil? Dan berjalan menuju pos.” tanya Qiana.
“Entahlah sayang, mungkin…” belum selesai ucapan Akbar telepon rumah yang di atas nakas pun berbunyi.
__ADS_1
Tring….tring…tring…
“Assalamu’alaikum Pak Dudung, ada apa?” kata Akbar.
“Wa’alaikumsalam Tuan, ini ada perempuan bernama Bella dan suaminya Pak Fauzi ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya. Sesuai instruksi Tuan sebelumnya saya tidak membukakan gerbang, tapi mereka tetap bersikeras untuk bertemu dengan Tuan dan Nyonya, mohon arahannya Tuan.” Jawab Pak Dudung.
“Iya, terimakasih informasinya. Antarkan mereka masuk dan suruh menunggu di ruang tamu.” Titah Akbar.
“Baik Pak, Assalamu’alaikum.” Kata Pak Dudung.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Akbar sambil mematikan sambungan teleponnya.
“Sayang, ayo kita turun untuk menemui Bella.” Ajak Akbar, dengan perasaan yang tak menentu akhirnya Qiana mengikuti langkah kaki Akbar menuruni tangga.
Sesampainya di ruang tamu Qiana semakin mengeratkan pegangannya di lengan Akbar, sedangkan dua manusia yang sudah duduk di ruang tamu itu pun seketika berdiri ketika melihat sang tuan rumah sudah berdiri di hadapan mereka.
“Assalamu’alaikum, Akbar, Qiana, maaf aku tidak bermaksud mengganggu kalian lagi. Aku kesini untuk meminta maaf pada kalian atas perbuatanku selama ini. Khususnya kamu Akbar, maaf sudah menjadi istri dan mantan istri yang buruk untukmu.” Ucap Bella to the point, karena selama kurang lebih dua bulan setengah berada di pondok yang diantar Bagas waktu itu membuat Bella sadar akan kesalahannya dan memilih untuk bertaubat seraya mendekatkan diri kepada Allah S.W.T.
Qiana dan Akbar saling melempar pandangan, belum mempersilahkan tamunya duduk bahkan belum saling menyapa tapi Bella sudah langsung mengucapkan maksud hatinya datang bertamu. Sedangkan laki-laki di sebelahnya menggenggam erat tangan kanan Bella, seolah memberinya kekuatan.
“Entah saya harus mulai darimana, intinya kenapa kamu mendekati keluarga saya lagi padahal saya sudah menjelaskan berkali-kali pada anda dan dari mana anda tahu alamat rumah baru saya?” tanya Akbar dengan ketusnya.
“Maaf sebelumnya, perkenalkan saya Fauzi suami Bella. Maaf jika saya lancang, bukan niat hati membela istri saya, tapi selama sebulan menikah dengan Bella saya sudah tau sedikit banyak tentang permasalahan yang diakibatkan oleh istri saya. Bella sudah menceritakan semuanya, dan selama dua setengah bulan berada di pondok Abah saya, Bella menunjukan perubahan yang sangat drastis. Mohon kesediaan A Akbar dan Teh Qiana untuk memaafkan istri saya karena keasalahan di masa lalu.” Jelas Fauzi dengan tetap menggenggam tangan istrinya.
“Jujur saja, sangat sulit bagi saya untuk memaafkan istri Anda itu. Anak kandung saya sudah di telantarkannya di
panti asuhan sedangkan dia malah pergi dengan selingkuhannya. Belum lagi perlakuan buruknya terhadap istri saya waktu itu. Penjara saja tidak cukup untuk mengubahnya, saya khawatir Anda akan di manfaatkan olehnya untuk kepentingan pribadinya.” Jawab Akbar yang membuat Bella terisak dalam tangisannya.
“Mas, jangan seperti itu hidayah ada di mana saja, mungkin Bella baru menyadarinya ketika berada di pondok pesantren karena lingkungannya yang mendukung.” Ucap Qiana.
“Hiks…Hiks..tidak apa, aku paham dengan sikap Akbar padaku Qi ini pantas untuk aku dapatkan. Karena luka yang aku torehkan cukup dalam untuk Akbar, tapi aku kesini untuk meminta maaf padamu Bar, tolong maafkan aku beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku selama ini dengan pergi dari kehidupanmu sejauh-jauhnya tapi sebelum itu mohon maafkanlah aku dan izinkan aku bertemu dengan puteraku terlebih dahulu Bar, Qi aku mohon hiks…hiks…” kata Bella yang kini sudah bersimpuh di depan Akbar dan Qiana sambil terisak-isak.
“Bell, bangun jangan kayak gini.” Ucap Qiana seraya menarik Bella agar berdiri, sedangkan Akbar dia hanya mengamati sekilas lalu memalingkan wajahnya kembali.
“Huuuuhhh… Dek kamu bawa Dafa kesini.” Titah Akbar yang membuat semua mata tertuju padanya dan menerka-nerka apa Akbar sudah memaafkan Bella, dengan anggukan dan senyum manisnya Qiana segera bangkit dan berlari kecil menuju kamar Dafa.
__ADS_1
Tak berselang lama Qiana kembali dengan membawa laki-laki kecil duplikat Akbar ke ruang tamu, Bella yang melihat anaknya tumbuh dengan baik dan penuh kasih sayang dari ayah kandung dan ibu angkatnya merasa sesak di dada, serta merutuki kebodohannya 3 tahun yang lalu.
“Kamu tumbuh dengan baik Nak hiks…hikss… maafin Ibu Nak…” ucap Bella seraya berjalan mendekat ke arah anaknya.
“Tante kenapa nangis?” tanya Dafa dengan muka herannya, menatap wanita di depannya yang penuh dengan air mata di pipinya.
“Tante seneng ketemu Dafa, apa Tante boleh gendong Dafa?” tanya Bella dengan lembut dan diangguki oleh Dafa. Di bawanya tubuh mungil itu, di dekapnya erat dan tangisnya kembali pecah sejadi-jadinya.
“Tante jangan nangis,” ucap Dafa.
“Hiks…. Da..Dafa mau pa…panggil Tante Ibu nggak?” tanya Bella dengan terbata-bata.
“Ibu? Kenapa Dafa panggil Tante Ibu? Dafa ndak mau,” jawab Dafa sambil menatap sendu ke arah Qiana, seolah meminta tolong untuk di lepaskan dari dekapan Bella.
“Sayang, Tante ini temennya Bunda sama Ayah. Dafa mau ya panggil Tante ini Ibu dan panggil Om yang sedang sama Ayah itu dengan sebutan….” Kata Qiana.
“Abi.” Sambung Bella seraya tersenyum hangat ke arah Qiana yang sudah membantunya menjawab pertanyaan Dafa.
“Oke, Bunda. Dafa turlunin Bu, Dafa mau ambil mainan dulu.” Pinta Dafa dan langsung berlari pergi ke dalam rumah.
“Maaf tidak mengenalkanmu sebagai Ibu kandungnya, aku rasa Dafa belum cukup mengerti tentang itu, nanti akan aku jelaskan secara perlahan dengan seiring bertambahnya usia Dafa.” Janji Qiana dan dibalas pelukan hangat oleh Bella.
“Tidak apa begini saja aku sudah sangat bersyukur, Qi terimakasih ya. Akbar aku berterimakasih padamu, selepas ini aku akan ikut suamiku menetap di Jember, aku harap kita tetap bisa bersilaturahmi dengan baik dan aku akan tetap menepati janjiku untuk tidak mengusik kehidupan kalian lagi. Aku titip Dafa, jika sudah besar nanti sampaikan
permintaan maafku padanya, karena telah gagal menjadi ibu yang baik untuknya.” Pesan Bella.
Dan hari ini, Akbar meninggalkan semua bebannya jauh dibelakang mengubur semua rasa kesal, amarah, dan mungkin juga dendam terhadap mantan istrinya itu. Memilih memaafkan dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalunya dengan membiarkan Dafa diasuh sepenuhnya oleh Akbar dan Qiana yang sudah terbukti sangat menyayangi anak kandungnya. Pergi bukan berarti menghilang, hanya menambah jarak dengan sang putra mungkin akan menjadi awal yang baik untuk kehidupan kedepannya, pikir Bella.
***
“Terimkasih Mas, sudah berlapang dada memaafkan semua kesalahan Bella. Qia, bangga sama Mas yang bisa menekan ego untuk masalah serumit itu. Semoga Bella menepati janjinya ya Mas,” ucap Qiana yang mendapat pelukan hangat dari sang suami.
***
Dalam hidup kita pasti pernah mencintai seseorang dan tanpa kita sadari kita juga pernah dicintai seseorang dengan begitu mendalam. Entah takdir bekerja seperti apa dalam kehidupanmu, bersanding dengan yang kau cintai atau malah bersanding dengan seseorang yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya olehmu. Tapi percayalah dengan apa yang telah Allah pilihkan untukmu, menerima dan menjalaninya dengan rasa syukur agar nikmat yang diberi-Nya semakin bertambah dan berlimpah.
__ADS_1
Ujian akan selalu datang, tapi jangan pernah berkecil hati, apalagi menyerah karena Allah selalu memberi ujian beserta solusinya. Mari bersyukur dan terus bersyukur atas segala nikmat Allah yang selalu kita rasakan setiap detiknya. Kisah Akbar dan Qiana akan dilanjut oleh kisah Fani dan Bagas ya di Bab berikutnya.