
Sore ini Akbar melangkahkan kakinya ke rumah sang Papa yang sudah lama tidak ia kunjungi. 2 bulan berada di Jakarta bukan berarti dia tidur di rumah masa kecilnya itu, dia lebih memilih untuk tidur di apartemen miliknya. Sudah semenjak menikah dia tidak pernah tinggal di sana hanya sesekali saja dia berkunjung, dulu setelah menikah dia memutuskan untuk tinggal di Bandung dan merintis usahanya sendiri dari nol. Niatnya sekarang adalah untuk menceritakan tentang Dafa anaknya dan kebusukan mantan istrinya.
ting...tong..ting...tong....
"Assalamualaikum Mah, Pah." salam Akbar.
"Wa'alaikumsalam Nak, langsung masuk aja," teriak Mamah Akbar dari dalam rumahnya.
Akbar pun memasuki rumah megah itu, dilihatnya tiap sudut rumah itu, tidak ada perubahan masih sama seperti terakhir dia mampir kesini. Di raih tangan yang mulai keriput itu, tangan hangat yang membesarkannya, di ciumnya tangan itu dengan lembut.
"Tumben kamu ingat pulang." sindir Mamah Akbar melihat anaknya pulang kerumah.
"Mamah kok gitu sih, jadi serba salah Abang pulang ke rumah gini." jawab Akbar.
"Ya tumben aja Bang, Mamah sampek lupa rasanya punya anak cowok. Ada apa ini Abang pulang, pasti ada maunya nih." tebak Mamah Akbar.
"Wah tau aja ini Mamah. Papa di mana Mah? Biar sekalian ngobrolnya, soalnya ini penting banget," Kata Akbar.
"Papa ada di halaman belakang, lagi ngasih makan ikannya tuh," Ucap Mama Akbar.
"Yaudah ayok kesana Mah, ngobrol di gazebo belakang aja sekalian." ajak Akbar dan diangguki Mamanya, mereka pun berjalan menyusul Papa Akbar.
"Assalamualaikum Pa." salam Akbar.
"Wa'alaikumsalam Nak." jawab Papa Akbar.
"Pa, ayo ke gazebo dulu ada hal penting yang perlu Akbar sampaikan buat Papa dan Mama," Kata Akbar.
Sesampainya di gazebo, Akbar pun mulai menceritakan pertemuannya dengan anak laki-lakinya di panti asuhan yang selama ini mendapat donasi dari perusahaannya sampai pada Dafa yang ternyata anak kandungnya dengan mantan istrinya dulu. Mama dan Papanya dibuat tercengan dengan perjalanan hidup cucunya yang ditelantarkan ibu kandungnya dan dirawat oleh ibu angkatnya dengan baik. Ingin rasanya kedua orang tua itu memaki mantan menantunya itu.
"Ya Allah Nak, terus dimana sekarang cucu Papa?" tanya Papa Akbar.
"Cucu Papa sekarang dibawa Qiana ke Bandung Pa, rencananya Qiana mau menetap disana bersama Dafa," ucap Akbar
"Apa Qiana sudah menikah Nak? Dari tadi kamu cerita kalau Rendra eh maksud Mama Dafa diadopsi oleh ibu angkat bukan orang tua angkat. Apa dia sudah bercerai juga dengan suaminya? tanya Mama Akbar penasaran.
"Tidak Mah, memang Qiana masih lajang. Kalau tidak salah usianya 26 tahun. Kalau dari ceritanya dia sudah mau mengadopsi Dafa dari 2 tahun yang lalu. Tapi kondisinya dulu belum memungkinkan karena dia masih bekerja di RS. Sekarang aja dia memilih resign demi merawat Dafa Mah Pah." jelas Akbar.
"MasyaAllah, jujur Papa bangga sama Qiana. Langka sekali dia menjadi wanita di usia 26 tahun wanita seperti dia seharusnya lebih memilih untuk mencari jodoh, mencari pekerjaan yang layak, atau biasanya disibukan dengan kefanaan dunia perbelanjaan. Tapi lihat dia, malah sibuk mengurus anak orang lain." kagum Pak Amri Papa Akbar.
"Iya, Mama yang sama-sama perempuannya aja kagum sama dia, apalagi yang laki-laki. Lalu kapan kamu menikahi Qiana?" tanya Bi Rita mama Akbar.
"Apaan sih Mama, Abang akui dia memang mengagumkan tapi jujur saja dia orang yang sangat sulit di tebak Ma..Pa," kata Akbar.
"Ya usaha dulu lah Bang, kamu juga ngga terlalu tua buat dia kamu baru 31 kan dia 26 berarti selisih 5 tahun. Kamu juga masih keliatan ganteng, gagah iya nggak Pa?" Ucap Bu Rita antusias.
__ADS_1
"Iya betul kata Mamah kamu, kasihan juga Dafa kalau hidup terpisah gini. Dia jadi ngga merasakan kasih sayang kedua orang tuanya secara utuh," kata Pak Amri meyakinkan.
"Akbar udah usaha, tapi ngga pernah ada respon. Kayak dianya itu biasa aja, terus ya Ma..Pa dia itu di deketin juga sama sodara kembar gitu, katanya temen Qiana waktu di Surabaya dulu mana masih pada lajang lagi, jadi tambah minder Akbar." Jelas Akbar dengan tatapan sendunya.
"Jodoh nggakkan kemana Bang, yakin sama usaha dan do'a Abang. Pasrahin semuanya sama yang diatas," Kata Pak Amri.
"Iya Pa insyaAllah Akbar akan berusaha sekuat tenaga," kata Akbar.
"Yaudah yuk, ke dalem udah mau maghrib. Sholat dulu abis itu ayo makan malem bersama, udah lama nggak formasi lengkap kaya gini. Kamu panggilin Adek kamu ya Bang di kamarnya," Kata Bu Rita.
***
Seusai makan malam pembicaraan keluarga itu pun dilanjutkan di ruang keluarga, dengan tambahan personil yaitu Adik Akbar, Fani.
"Jadi kapan Mama sama Papa bisa ketemu cucu kita?" Kata Bu Rita mengawali perbincangan keluarga.
"Kalau Akbar lusa mau balik Bandung Mah, masalah di kantor Papa udah beres jadi Akbar bisa balik ke Bandung ketemu Dafa," kata Akbar.
"Oke Mama, Papa ikut kamu ke Bandung," sahut Bu Rita.
"Eh kok cuma Mama sama Papa aja, aku juga mau ketemu ponakan aku yang lama hilang." sahut Fani tak kalah heboh.
"Oke kita semua pergi ke Bandung ketemu Dafa." putus Pak Amri.
"Syiap Mama," kata Fani, semangat.
"Ma Akbar nitip ya, tolong beliin Dafa mainan yang bagus deh mah buat perkembangannya Dafa sesuain sama usianya ya 2 setengah tahun. Terus sama gamis buat Qiana ukurannya mungkin se Adek kayaknya mah," ujar Dafa.
"Iya Nak, tenang aja sama mama semua beres." bangga Bu Rita.
"Bang aku penasaran banget sama Dafa, vidio call dong Bang. Mumpung masih jam 8 kayaknya Dafa belum tidur deh, kalau pun udah tidur gaapa-apa pokoknya penasaran aku terobati." rengek Fani.
"Oke, sebentar Abang sambungin dulu ke Qiana. Kebetulan hari ini Abang belum liat Nak Abang baru denger suaranya aja tadi siang," kata Akbar sambil menggulirkan layar hpnya.
tut...tut..tut...
"Assalamualaikum Mas" Kata Qiana.
Kedua orang tua Akbar dan Adiknya saling melirik, Abangnya ini dipanggil "Mas". Itu adalah sebuah tanda bagi mereka soalnya Akbar dulu selalu berkeinginan dipanggil Mas oleh istrinya, sedangkan yang lain memanggilnya Abang saja tidak boleh sama.
"Wa'alaikumsalam Qi, Dafa udah tidur belum? Mas mau lihat Dafa nih," ujar Akbar.
"Sebentar Mas, Qia masih buatin susu buat Dafa. Dafanya udah di kamar, bentar ya Mas dikit lagi kok," ucap Qiana.
"Iya ngga apa-apa lanjutin dulu, Mas tungguin," kata Akbar.
__ADS_1
"Mas wajah Mbak Qiana kok ngga keliatan?" bisik Fani.
"Sst, ngga usah berisik dia emang ngga pernah liatin mukanya kalau Abang laki ngevicall dia." bisik Akbar.
"Atalamualaitum, Ayah" Kata Dafa membuat keempat orang disebrang sana kembali fokus pada layar hp Akbar yang tadinya hanya memperlihatkan langit-langit rumah sekarang tampak kepala dengan wajah yang super menggemaskan.
"Wa'alaikumsalam anak Ayah, Dafa kok belum bobo Nak?" tanya Akbar.
"Nundu, tutu ulu Yah balu bobo," kata Dafa.
"Oh gitu, ini ada Oma Opa sama Aunte Fani mau ketemu kamu sayang," Ujar Akbar.
"Halo cucu Oma dan Opa," kata Bu Rita.
"Ayah, ini Oma tama Opa Dafa?" teriak Dafa yang tidak melihat Akbar di layar ponselnya melainkan wajah Bu Rita dan Pak Amri.
"Iya Nak itu Oma sama Opa," kata Akbar tanpa memperlihatkan wajahnya.
"Nda liat ni Oma tama Opa Dafa, Nda tini Dafa mau duduk di pangku Nda," Kata Dafa membuat Oma dan Opanya penasaran dengan wajah Qiana.
"Iya sayang sini ayok sama Bunda," ujar Qiana.
Dan terlihatlah wajah cantik keibuan Qiana yang langsung membuat orang tua Akbar semakin berbinar dibuatnya.
"Sini in Ma gantian sama Fani," ujar Fani sambil merampas hp Abangnya dari tangan Mamanya yang dari tadi tidak mau mengalah pada Fani wkwk.
"Hai jagoan Ante, Mbak Qiana apa kabar?" Sapa Fani SKSD.
"Hallo Ante, Dafa sama Mbak alhamdulillah baik, ya kan Dafa?" Jawab Qiana.
"Ya, nte Dafa tama Nda baik.. hoaaaam.. Nda Dafa nantuk mau bobo," ujar Dafa.
"Wah cucu Oma Opa udah ngantuk ya, yaudah dadah sayang bobok yang nyenyak ya. Nak Qia, terimakasih ya sudah mau merawat cucu kami," ujar Bu Rita tulus.
"Iya Tante, tidak perlu berterimakasih. Dafa sudah saya anggap anak saya sendiri jauh sebelum mas Akbar datang," jawab Qiana.
"Ya sudah ya Nak, kamu juga segera istirahat yang cukup. Assalamualaikum," kata Bu Rita.
"Wa'alaikumsalam".
```
Berusahalah walau terlihat mustahil, karena takdir didepan sana siapa yang tahu?🍃🍃🍃
```
__ADS_1