Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Obrolan Tiga Wanita


__ADS_3

**Selamat membaca... **


***


Duduk-duduk sambil bercengkrama dikala usai sholat ashar memang sangat menyenangkan apalagi ditemani camilan kesukaan. Dan itulah yang sedang dilakukan oleh ketiga wanita cantik dengan balutan daster dan kerudung instantnya, dihadapan ketiganya sudah tersaji apik sepiring cireng dengan sambal rujaknya, basreng plus sambal saos, dan sepiring pudding labu serta minumnya air jeruk lemon hangat sebagai penetral jajanan berlemak yang mereka santap.


Si kecil Dafa, dia tengah berlarian seorang diri sambil membawa mainan pesawat-pesawatannya. Sesekali dia berhenti dan berjongkok untuk mengamati pohon stroberi yang dia tanam tadi pagi bersama Ontynya, melihat apakah ada yang sudah berubah warna atau belum. Anak kecil dan segala rasa penasarannya.


“Mbak tahu nggak sih, aku tuh kalau ketemu Bang Aziz udah kayak maling ketahuan, deg-degan banget. Di kejar-kejar orang secara terang-terangan aja, nyawa serasa terancam. Apalagi dikejar sama orang yang sifat,sikap,


dan mukanya kadang terlihat sedikit mirip sama si briengsyeeeek ex itu, terus ya kadang kalau pas lagi denger dia ngegombalin aku, badan aku udah gemeter tau Mbak, kenapa ya bisa kayak gituh?” tanya gadis paling muda diantara ketiganya.


“Ah, itu karena kamu berusaha menghindar Dek. Jadi tanpa kamu sadari kamu tertekan atau terbebani saat berinteraksi dengan Bang Aziz, sehingga memacu rasa khawatir atau bahkan takut secara berlebih. Jadi deg-degan Dek.” Jelas Qiana.


“Itu juga kalau kamu nggak bisa mengendalikan perasaan dan pikiran, bisa jadi  trauma psikologis timbul. Kamu musti belajar berdamai dengan masa lalu Fan, mengikhlaskan se ikhlas-ikhlasnya pria yang tidak mencintai kamu dengan tulus, biar hidup kamu kedepannya lebih bebas tidak terbebani pikiran. Mungkin kamu berlebihan jika sampai trauma karena melihat tunangan kamu kepergok pegangan tangan dan jalan-jalan di mall, tapi aku paham apa yang kamu lihat waktu itu dan sangat wajar jika kamu memiliki rasa trauma atau sejenisnya. Pertama kamu lihat mereka di apartemen si cowok terus beberapa minggu kemudian kamu lihat mereka keluar dari rumah yang beberapa hari setelah mereka kesana digrebek polisi tempat aborsi. Dan point pentingnya mereka mengakui semua itu, dengan dalih menyalahkan kamu yang tidak bisa menjaga tunangannya sendiri sehingga belok kayak gitu.” Jelas Tiwi yang sebetulnya sedikit banyak dia tahu tentang ilmu psikologis manusia. Yap Tiwi memperdalam ilmu psikologis juga sewaktu mengambil kuliah jurusan PGSD.


Tangan Qiana menyentuh lembut punggung tangan Fani, meski terlihat tegar selama hampir setengah tahun ini. Tapi Qiana juga paham bahwa Adik iparnya kerap kali sedih dan terlihat masih ragu0ragu dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis. Beruntung Bagas yang memiliki sifat dan sikap yang bertolak belakang dengan mantan tunangan Fani, bisa masuk dan menarik Fani kembali ke dunianya meski kadang masih terlihat sedikit keraguan di sorot matanya. Na’as, semua tak berjalan mulus, ketika Fani sudah perlahan mengikhlaskan sosok lelaki yang bisa dikatakan biadab itu, sosok baru yang hampir sama itu muncul kembali dengan seribu satu cara mencoba masuk ke dalam kehidupan Fani.


“Setiap individu itu memiliki pikiran atau ingatan yang jelas terhadap suatu kejadian masa lalu yang kemudian mempengaruhi proses perkembangan hidupnya di masa depan. Koping individu yang tidak efektif setelah terpapar pada situasi tidak nyaman, kemudian terus membayangkannya juga berdampak pada kondisi traumatik. Perasaan ketakutan, tidak nyaman muncul disertai tanda tanda fisiologis seperti jantung berdebar kencang, panas dingin, muncul keringat dingin, gemetaran. So, sebelum terlalu jauh kamu harus menciptakan pikiran positif untuk menutup pikiran kamu tentang masa yang kelam-kelam itu Fan,” Ucap Tiwi mencoba menarik kesimpulan dan menyarankan apa yang harus Fani lakukan.

__ADS_1


“InsyaAllah, Fani akan mencoba untuk benar-benar melupakannya. Jujur sih, selama aku sudah mengetahui kebusukan mereka, aku masih sering kefikiran apa yang kurang, apa yang salah dari diri aku, atau aku pernah punya salah apa  sampai mereka tega ngelakuin itu sama aku. Itu yang cewek sahabat satu-satunya aku loh Mbak dari SMA. Gini ini yang bikin aku takut berinteraksi dengan orang lain secara intens. Tapi aku bersyukur banget Bang Bagas udah bisa sedikit banyak membantu aku untuk melupakan hal-hal menyakitkan itu.” Jawab Fani.


“Ngomong-ngomong tentang takut berinteraksi dengan orang lain, Mbak juga pernah merasakan ini dan karena hal ini juga Mbak milih jurusan Teknik Lingkungan hihi, agak ngaco sebenernya soalnya ujung-ujungnya Mbak juga kerja di Rumah Sakit, yang sudah pasti tiap detik, menit, jam , dan harinya dipenuhi oleh banyak orang,” ujar Qiana sambil menatap Dafa tapi sorot matanya mengisyaratkan sang empunya sedang menerawang jauh kebelakang, mencari serpihan-serpihan kenangan.


“Jadi kenapa? Cerita dong Mbak.” Pinta Fani


“Kalian, sadar nggak sih? Ketika kita memberi kebaikan atau melakukan kebaikan kepada manusia kita nggak melulu dapat feedback yang baik pula kan. Kadang kita yang nggak ikut urusan mereka pun kenak dampaknya. Sedangkan alam? Dia selalu memberi lebih dari apa yang kita beri, dia nggak bakal nyakitin kita atau ngasih feedback dari apa yang kita beri dengan sesuatu yang buruk, kecuali kalau emang kita ngasih yang buruk juga buat alam. Sedangkan manusia? Kita sudah memberi yang terbaik, yang diri kita punya pun, kadang masih menyakiti kita. Intinya karena alam selalu memberi hal yang baik buat aku jadi aku mau ngasih feedback yang baik juga buat dia, mangkannya aku ambil jurusan ini. Setidaknya nanti aku bisa nyemplung ke dunia kerja yang minim


ketemu orang misalnya, lebih banyak berhubungan sama lingkungan daripada orang-orang yang.. ya kalian tahu lah dunia kerja kerasnya kek gimana, apalagi waktu itu aku tinggal di Jakarta,” Kata Qiana, pikirannya seolah menerawang jauh ke masa lalu.


“Bukankah semua orang memiliki alasan atas pilihannya masing-masing?”sambung Qiana dengan tersenyum hangat ke arah kedua wanita disisi kanan dan kirinya.


“Betul, aku juga sama memilih PGSD dan memperdalam ilmu psikologi juga karena ada alasan kuat dibaliknya.” Timpal Tiwi.


“Kalau aku mahhh, ngambil jurusan yang sekarang ini sudah pasti karena nanti sedikit banyak aku akan ikut terjun mengurus usaha Papa bersama Abang.” Lirih Fani.


“Barakallah, semoga Allah meridhoi kita semua atas pilihan kita masing-masing dan ilmu yang kita punya semoga bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita.” Ucap Qiana.


“Aamiin..” jawa Fani dan Tiwi serempak.

__ADS_1


“Tapi Mbak, apa Mbak nggak ngerasa kecewa, sedih atau gimana gituh? Soalnya udah kuliah 4 tahun, kerjaan sebelumnya juga udah bisa dikatakan enak, eh tahu-tahunya sekarang jadi Ibu Rumah Tangga aja.” Tanya Fani.


“Nggak ada yang perlu dikecewain apalagi di tangisin hihi, realistisnya begini. Mbak sudah menggapai dan merasakan cita-cita Mbak terwujud, menjadi sarjana teknik dengan IPK yang bagus, sebelum lulus sudah ikut bekerja di RS meski tidak setiap hari karena masih ada jadwal kuliah, terus setelah lulus Mbak bisa bekerja di tempat yang linier dengan ilmu yang Mbak timba, bahkan gajinya sudah bisa Mbak investkan ke usaha kecil-kecil toko kue itu. Ketemu si kecil Dafa, membuat Mbak sadar bahwa aku sudah terlalu jauh berjalan seorang diri kadang berasa melupakan fitrahku sebagai wanita. Dari situ Mbak mulai belajar lagi dan memahami lebih jauh tentang fitrah perempuan. Alhamdulillahnya lagi, suami Mbak pengertian, sudah mapan, dan juga bisa membimbing Mbak dengan baik. Saling terbuka, saling memahami fitrah masing-masing dan mencoba menjalankan dengan baik peran kita. Ilmu yang Mbak peroleh selama ini juga bisa diterapkan dimana saja bukan hanya di tempat kerja, jadi Mbak memutuskan untuk jadi IRT saja selain karena fitrahku sebagai perempuan ini juga keinginan Mas Akbar dan aku merasa juga ini keputusan terbaik, karena akan ada banyak ladang pahala yang akan aku peroleh di rumah ini.” Jawab Qiana.


“Ya betul juga sih, kadang disadari atau tidak orang-orang disekitar kita itu memiliki konsep yang berkebalikan sama apa yang kamu fikirkan Qi. Banyak orang yang berfikir jika pendidikan tinggi itu identik untuk mendapatkan pekerjaan yang elit, padahal pendidikan tinggi itu ya salah satu cara guna mendapatkan ilmu guna menunjang tugas-tugas besar di masa depan, bukan sekadar demi profesi tapi juga menjadikan ibu yang menginspirasi, ilmu yang ditimba bukan hanya untuk mencetak prestasi tapi untuk mencetak hebatnya generasi.” Sambung Tiwi.


“Yap,  betul sekali Mbak-Mbakcuuu… sebab kita perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anak kita untuk memahami dan mempelajari banyak hal di dunia ini.” Ucap Fani.


Ehm, coba dengar lagunya Nadin Hamizah deh yang judulnya bertaut… bagus banget.


***********


NB:Koping individu adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam (Keliat, 1999).


***


Untuk yang masih single, jangan melulu terpaku pada siapa hati akan berlabuh. Perbaiki diri saja dahulu, agar kelak bisa menjadi istri dan ibu yang membanggakan dengan turut andil menghantarkan suami dan anak mencapai gerbang kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.


Untuk Bunda-Bunda, saya ucapkan terimakasih sudah berjuang sampai detik ini untuk suami dan anak di rumah. Semoga lellahnya rutinitas seharian beberes, berkutat di dapur, melayani suami, dan mengajari anak untuk belajar dan berproses menjadi ladang pahala. Untuk Bunda-Bunda yang memilih untuk menjadi wanita karir, semoga bisa membagi waktunya dengan baik agar semua bisa berjalan sebagaimana mestinya, proud of you.

__ADS_1


Terimakasih telah membaca.... jangan lupa tinggalkan jejakya yaa... bisa like, komen, fav, dan vote...


Muachhh....


__ADS_2