Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
33.Jakarta


__ADS_3

Hari minggu Jakarta tampak lebih lengang membuat perjalanan Bandung-Jakarta itu tak terlalu membuang waktu di jalanan ibu kota seperti hari-hari biasanya. Terlihat mobil CRV hitam memasuki gerbang di perumahan elit di kawasan Jakarta Timur. Rumah megah itu tampak sepi dari luar, pintu utamanya tertutup rapat.


“Yah, ini lumah Ante Fani?” Tanya Dafa begitu masuk gerbang rumah keluarga Akbar.


“Iya sayang ini rumahnya Ante Fani, nanti kita nginep disini ya,”Kata Akbar, "Ayo, kita turun dulu. Dafa sama Bunda ya, Ayah mau ambil barang-barang dulu di bagasi." lanjutnya.


"Tiap Ayah," Kata Dafa.


Qiana dan Dafa pun berjalan terlebih dahulu menuju pintu utama rumah Pak Amri. Di tekannya bell rumah megah itu, berharap segera ada yang membukakan pintu, karena Dafa yang berada di gendongannya sudah mulai terasa berat.


Ting..tong..ting..tong…


Ceklek


“Ponakan gantengkuu……” Teriak Fani ketika sudah membuka pintu, Dafa yang melihat kehebohan Tantenya sudah meronta dan bertepuk tangan di gendongan Qiana.


“Assalamualaikum…” Ucap Qiana.


“Wa’alaikumsalam Mbak Qia." Jawab Fani dengan senyum yang terus mengembang.


“Eh, ada tamu itu di suruh masuk malah di anggurin di luar," Kata Akbar sambil menerobos tubuh Fani di depan pintu.


“Yaelah si abang, tamu apaan sih orang ini juga rumah Abang,” Kata Fani dengan mengikuti langkah sang kakak yang sudah memasuki rumah.


“Ante Dafa ndong," Kata Dafa yang sudah merentangkan tangannya kearah Fani.


“Huwaaa, anak Tante tambah berat ini," Kata Fani ketika Dafa sudah dalam dekapannya.

__ADS_1


Benar saja Dafa tambah gembil dan berat, setiap hari Qiana selalu memasakan makanan yang enak dan sehat untuk anaknya itu, serta tampilan makanan yang menarik selalu membuat Dafa bersemangat untuk melahapnya.


**


Ruang keluarga yang tampak nyaman itu kini sudah di penuhi oleh keluarga inti Akbar, semuanya tampak menikmati kebersamaan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah sehangat ini. Tapi ada satu orang yang tampak gugup, ya dia Qiana. Bertemu Bu Rita dan Pak Amri dengan status yang berbeda dari sebelumnya membuat Qiana sedikit lebih gugup, apalagi mengingat tujuannya datang ke rumah ini.


“Ehm..” Dehem Akbar untuk menetralkan suasana dan mengambil perhatian kedua orang tuanya.


“Ada apa kamu?” Kata Pak Amri yang sudah paham dengan tingkah anaknya.


“Hehehe, Ma Pa sebenernya tujuan kita ke sini bukan hanya mau berkunjung. Kita mau menyampaikan niat baik kita dan semoga Papa dan Mama merestui niat baik kita” Kata Akbar.


“Maksud kamu?” Tanya Mama Rita.


“Emh, gini Ma Pa. Dulu kan Akbar penah bilang sama Papa, kalau Akbar ada hati sama Qiana. Terus kata Papa ya perjuangin kalau ada kesempatan. Terus kemarinkan Akbar nyusul Qiana ke Surabaya dan Akbar udah minta Qiana ke Orang tuanya. Lamaran Akbar secara pribadi ke Qiana udah diterima dengan syarat setor hafalan Surah Ar-Rahman. Sekarang Akbar minta restu sama Mama, Papa dan mau minta Mama Papa buat lamarin Qiana secara resmi ke orang tuanya sama nentuin tanggal pernikahan kita,” Kata Akbar to the point. Terlihat raut wajah shock dari Mama Rita dan Fani sedangkan Pak Amri dia hanya memasang wajah datarnya.


“Kamu sudah tidak mengangap kami orang tuamu, hah? Sampai-sampai hal seperti ini kami tahu belakangan. Sudah pergi sendiri ke Surabaya, sekarang giliran di minta lamaran secara resmi baru datang,” Kata Mama Rita sedikit emosi, Akbar yang awalnya tersenyum tiba-tiba kehilangan semangatnya ini betul-betul di luar ekspektasinya.


“Ma, Mama kok marah-marah sih. Kan Akbar mau mastiin dulu Qiana dan keluarganya nerima Abang apa enggak baru bilang ke Mama Papa. Takutnya Akbar udah kePDan tau-tau Qiana nolak Abang, Abang juga mau kasih kejutan sama Mama Papa kalau Akbar udah ada gandengan,”Kata Akbar dengan wajah memelasnya.


“Hei, ada apa dengan wajah dinginmu itu Bang tiba-tiba memelas. Hahaha, sudahlah Na iyain aja Mbak Qia juga udah bisa buat Mas Akbar lebih cerewet dari biasanya muka dinginnya aja udah ilang beberapa bulan ini, ya kan Pa?” Kata Fani dan meminta pembelaan dari sang Papa.


“Iya Papa rasa juga begitu,” Kata Pak Amri.


“Mama sama sekali nggak masalahin tentang Qiana, cuman Mama kesel aja sama Abang mutusin sendiri nggak bilang apa-apa dulu ke kita main berangkat ke Surabaya aja nggak pamit, nggak apa ke orang tuanya,” Kata Bu Rita.


“Iya Ma, maafin Abang ya. Mama udah di bawain calon mantu nih jadi gimana mau bantuin Abang nggak nih?” Kata Akbar sambil menggoda Mamanya, sedangkan Qiana sudah bingung menempatkan diri di situasi semacam ini.

__ADS_1


“Ya udah, kapan rencana kamu mau lamarannya. Biar Mama yang nyiapin,” Kata Bu Rita.


“Minggu depan Ma, di Surabaya. Gimana Mama setuju?” Tanya Akbar.


“Oke, Mama nggak ada masalah," Kata Bu Rita.


“Udah mati kutu dari tadi Ya Allah, udah dianggurin, lama pula mereka ngobrolnya mana Dafa main terus sama Fani.” Batin Qiana.


“Kita makan siang dulu terus kalian bertiga istirahat nanti sore kita lanjut obrolannya lagi,” Kata Pak Amri.


"Baik Pa," Kata Akbar.


"Dafa sini sama Bunda kita makan dulu," Ujar Qiana.


"Atu matan tama Ante ya Nda," Ucap Dafa.


"Yes, yuk ah kita makan dulu." Ajak Fani yang langsung membopong tubuh Dafa menuju ruang makan.


"Astaga Dafa, ngga tau kalau Bundanya lagi deg-degan gini." Batin Qiana.


Mereka semua beranjak menuju ruang makan, beberapa jenis makanan sudah terhidang apik di atas meja makan.


"Jangan malu-malu keluargaku juga keluargamu, tenang ya," Ucap Akbar setengah berbisik, ingin memegang tangan Qiana tapi itu salah jadilah dia hanya berbisik untuk membantu Qiana merasa nyaman di rumah orang tua Akbar.


"Iya Mas, cuman sedikit tegang aja. Ini pengalaman pertama Qia jadi ya wajarlah hehe," Kata Qiana malu-malu.


"Nanti kita bicara ya, ada hal yang perlu kita bahas," Ucap Akbar, Qiana hanya tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Makan siang berjalan dengan lancar, Qiana sudah mulai tampak menguasai diri menepiskan rasa gerogi yang sedari tadi menyelimutinya. Sesekali tingkah pola Dafa membuat orang dewasa yang tengah menyantap makanannya pun tertawa karena kepolosan dan kelucuannya.Seusai makan siang keluarga Pak Amri melakukan sholat dhuhur berjama'ah di mushollah rumah, sebelum beristirahat tidur siang.


***


__ADS_2