
Sinar matahari sudah berganti dengan sinar rembulan, malam ini Qiana dan Akbar memutuskan untuk makan malam di rumah Qiana bersama dengan Tiwi dan Bella. Mengingat pembicaraan sore tadi yang cukup menegangkan dan sedikit alot, tapi dengan kebesaran hati Akbar dia memilih untuk berdamai.
Akbar mengingat ucapan Qiana ‘Berdamai dan memaafkan masa lalu, bukan berarti kamu kalah Mas. Justru itu adalah tanda bahwa kamu adalah pemenang sejati, memaafkan masa lalu berarti juga kamu telah berhasil belajar dari masa lalu dan melapangkan hatimu dengan baik. Satu yang penting, kamu seorang ayah untuk Dafa dan dia butuh banyak contoh kebaikan dari orang-orang disekitarnya terutama kamu orang tua kandungnya. Jadilah lebih baik setiap harinya dengan langkah awal yaitu memaafkan yang sudah lalu, mari menatap kedepan dengan damai’. Beruntung sekali pikir Akbar, menemukan cahaya saat ia sedang terjebak dalam gua yang gelap.
***
Sesuai dengan pembicaraan tadi sore, Bella memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Dafa dan dikenalkan sebagai ibu kandungnya. Tentunya dengan beberapa syarat yang diajukan oleh Akbar, kali ini Akbar benar-benar tidak ingin kecolongan dengan sikap baik yang di tunjukan Bella dihadapannya.
“Ante, napa Ante yang mandiin Dafa. Nda mana?” Tanya Dafa, karena sejak bangun tidur dia tak mendapati Qiana lagi di dalam kamar.
“Bunda lagi sama Tante Tiwi nyiapin makan malam buat kita.” Kata Fani sambil mengganti pakaian Dafa.
“Oh, Nda matak.” Ucap Dafa.
***
Saat makan malam Bella sudah mulai mencoba mendekati Dafa, Bella menampilkan raut wajah yang sulit diartikan ketika melihat Dafa begitu lengket dengan Qiana. Bahkan saat dia menawari untuk menyuapi anaknya itu, dengan tegas Dafa menolak dan meminta Qiana untuk menyuapinya.
“Dafa, makannya tambah ya sama ayam goreng ini buatan Bunda loh,” Kata Bella.
“Buatan Ndanya Dafa?” Tanya Dafa sambil melihat ke arah Qiana.
“Iya buatan Bundanya Dafa loh. Dafa punya Bunda dua, itu Bunda yang lahirin Dafa.” Ujar Qiana hati-hati. Dafa memicingkan matanya seolah sedang menilai ucapan sang Bunda yan sudah merawatnya beberapa bulan terakhir ini.
__ADS_1
“No, Nda Dafa tuma tatu. Nda Iana.” Kata Dafa yang langsung turun dari duduknya dan memeluk kaki Qiana.
“Sayang, Bunda ini Bunda kandung kamu Nak. Bunda yang udah mengandung dan melahirkan kamu Nak,” Ucap Bella lirih dengan air mata yang mengalir di pipinya, ketika Dafa terus menggelengkan kepalanya.
“Ante bohong!” Kata Dafa. Anak kecil nan gembul itu hanya tahu bahwa Bundanya itu ya Qiana, orang yang selalu ada untuknya dengan segala perhatian dan kasih sayangnya, yang selalu membuatkannya susu, memandikannya, menyuapinya, menggendongnya, dan memeluknya saat ia sedang takut.
“Sudahlah, nggak usah dipaksakan Dafa masih kecil. Dia tidak akan paham secepat itu, nggak usah nangis juga. Semua yang Anda alami saat ini pun buah dari apa yang Anda tanam dulu. Jadi nikmati saja…SAKITNYA!!” Ucap Fani seraya beranjak dari tempat duduknya dan memilih pergi ke halaman depan rumah Qiana yang terdapat banyak tanaman yang menyejukan.
“Ayok Dafa sama Ayah aja, kedepan,” Ajak Akbar sambil mengambil alih Dafa dari pangkuan Qiana.
“Ayah Nda Dafa tuma tatukan Yah. Nda Iana?” Tanya Dafa pada Akbar.
“Iya, sayang Bunda Dafa cuma satu.” Kata Akbar.
Suasana di meja makan tampak hening, tinggal tiga orang yang masih duduk disana. Bella masih terlihat meneteskan air matanya, mungkin rasa sesalnya begitu dalam pada anaknya itu.
“Ya, aku rasa itu lebih baik. Semoga kamu tidak mencuci otak anakku untuk tidak mengakuiku sebagai aibu kandungnya Qi,” ujar Bella dengan penuh penekanan seraya berlalu dan masuk kedalam kamar. Qiana dan Fani saling menatap melihat kelakuan ajaib Bella, benar-benar tidak tahu diri sekali pikir mereka.
“Astagfirullahaladzim, tuh kan dia itu nggak pernah tahu diri. Mangkannya aku susah buat maafin dia, dasar Mak Lampir. Salah yang buat dia, giliran dapet karma malah ngancem orang lain, nggak ada bersyukurnya udah di bantuin juga,” Ucap Fani dengan menggebu, niatnya untuk mengambil minuman kedalam rumah malah membuat dia tahu kelakuan Bella yang belum cukup belajar dari masa lalunya.
“Hush, Dek udah jangan diladenin. Mungkin Bella sedih atau kecewa karena Dafa belum bisa mengakuinya sebagai Ibu kandungnya,” Kata Qiana mencoba melihat dari sudut pandang Bella.
“Udahlah Mbak, orang kayak gitu nggak usah dibelaian. Nggak penting tau,” Kata Fani dengan tegas.
__ADS_1
“Hemmm, yaudah ayok kita pulang aja Dek. Kasihan Dafa udah malem juga,” Ajak Qiana.
“Nah iya udah malem gini, nanti aku coba ngomong baik-baik sama Bella Qi. Kamu jangan banyak pikiran, ada betulnya juga omongan Fani, ini salah dia seharusnya dia bisa belajar dari masa lalu, eh kok malah kayak gini,” Ujar Tiwi, bukan niat hati mengusir tuan rumah dari rumah yang di tempatinya tapi suasananya sudah semakin tidak kondusif pikirnya.
“Iya Tiw, maaf ya nggak bantuin kamu bersihin piring dulu,” Ujar Qiana.
“Santai aja kali Qi, yaudah sana hati-hati nanti aku kabarin lagi perkembangannya,” Kata Tiwi.
***
Baru 5 menit di dalam mobil Dafa sudah kembali tertidur, mungkin badannya sudah lelah beberapa hari terakhir ini, tubuh kecil itu diajak kesana-kemari. Sedangkan ketiga orang dewasa di dalam mobil itu hanya diam, sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Pada akhirnya setelah setengah perjalanan terlalui, Fani memulai pembicaraan, dia menceritakan apa yang dia lihat dan dengar ketika di ruang makan tadi. Aduan Fani membuat Akbar tak habis pikir dengan tingkah mantan istrinya itu, mungkin kata ‘tak tahu diri’ belum cukup menggambarkan kondisi Bella dimatanya dan juga dimata keluarganya.
Terbesit rasa syukur dalam hatinya ketika Bella lebih memilih menitipkan putranya di panti asuhan, karena dengan keputusan yang diambil Bella saat itu membuat anaknya terbebas dari pengaruh dan didikan buruk ibu kandungnya. Dan takdir baik berpihak pada Dafa yang dipertemukan dengan Qiana yang sekarang menjadi ibu angkatnya, yang merawatnya dengan tulus. Tak terasa mobil yang dia kemudikan telah sampai di halaman rumah orang tuanya.
“Terimakasih banyak Qiana,” Kata Akbar ketika membukakan pintu untuk Qiana.
“Untuk?” Tanya Qiana yang heran dengan Akbar yang tiba-tiba berterimkasih kepadanya.
“Semuanya, terimakasih sudah mau menyayangi, merawat, dan menjaga Dafa ketika ibu kandungnya menelantarkannya. Dan terimakasih banyak kamu sudah menerima manusia yang tidak peka dan banyak kurangnya ini,” Jawab Akbar.
“Tidak usah berterimakasih Mas, aku sudah menyayangi Dafa dari saat pertama bertemu dengannya sewaktu mendengar tangisannya. Dan mungkin ini sudah takdir dari Allah Swt untukku bertemu dengan kalian,” Kata Qiana dengan lembut.
```
__ADS_1
Orang bijak, menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk masa depannya agar lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sedangkan orang bodoh, menjadikan masa lalu sebagai ambisi masa depan yang semu, dengan tidak bisa belajar dari kesalahan masa lalunya dan gagal berdamai dengan dirinya sendiri.
```