Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Gagal Wisuda


__ADS_3

Selamat membaca semua….


***


~Kamu tidak memilih keluargamu. Mereka adalah hadiah dari Tuhan untukmu, sebagaimana dirimu bagi mereka~ (Desmod Tutu).


***


“Assalamu’alaikum…. Mama… Papa…. Kita pulang…” teriak Fani saat sudah di dalam rumah kedua orang tuanya.


“Adek… baru tadi di kasih tahu. Dafa lagi tidur ini, entar kebangun dia,” ucap Akbar mengingatkan.


Dari dalam terdengar suara gaduh dan derap langkah kaki yang berjalan mendekat.


“Wa’alaikumsalam, anak-anak dan mantu Mama,” ucap Bu Rita sambil memeluk anak bungsunya yang sudah besar.


“Mama, ada calon mantu Mama juga itu di pojokan. Nggak di sapa?” tanya Pak Amri menggoda istri dan anak bungsunya.


“Ish…ish…ish… Mama juga nggak nyapa cucu dan calon cucu Mama,” ucap Fani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Udah jangan bercanda Dafa udah makin berat ini, Bundanya anak-anak juga kasihan capek habis perjalanan jauh,” ujar Akbar sambil mencium satu per satu tangan kedua orang tuanya, diikuti oleh Qiana dan Bagas.


“Astaghfirullah, sorry Mama…Papa… aku lupa nggak salim dulu malah ikutan Papa godain Mama, hehehe,” ucap Fani seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya paling akhir.


“Kamu mah kebiasaan,” kata Pak Amri sambil mengusak rambut anaknya.


“Akbar sama mantu cantiknya Mama, langsung masuk ke kamar kalian ya, tidurin Dafa dulu sama bersih-bersih badan dulu. Kamarnya sudah dibersihkan sama Bibi dari tadi pagi kok. Fani bersih-bersih dulu di kamar kamu, Bagas langsung masuk kamar tamu ya bersih-bersih dulu terus langsung ke ruang makan semua ya. Mama sama Papa tunggu di ruang makan untuk makan malam, laksanakan!” ucap Bu Rita dengan senyum yang terus merekah di bibirnya. Ah orang tua mana yang tak bahagia ketika anak, menantu, dan cucunya berkumpul semua di rumah.


Tak berselang lama semuanya telah berkumpul di meja makan, ada kehangatan yang menyelimuti rumah besar  itu, rumah yang selama berminggu-minggu ini berisi sepasang suami istri, beberapa pelayan, dan satpam saja, kini sudah ramai dengan anak dan menantunya.


“Sejauh apa pun seorang anak bertualang, keluarga adalah rumah terindah untuk kembali pulang,” ucap Fani dalam hati seraya menatap bergantian wajah kedua orang tuanya.


“Ayo dimakan,” ucap Pak Amri.


***


Dalam kamar bernuansa pink dan biru laut itu tergeletak seorang wanita muda diatas sajadah, lengkap dengan mukenah yang masih terpasang di badannya.


Ceklek…

__ADS_1


Masuklah seorang anak laki-laki berpipi gembil dengan muka yang berpoleskan bedak berwarna putih yang memiliki aroma khas bayi. Berjalan perlahan, mendekati wanita yang sedang tertidur setelah sholat subuh itu lalu berjonkok di dekatnya.


“Onty bangun, nanti Onty ditinggal pelgi loh,” ucap Dafa sambil menusuk-nusuk pipi Fani dengan telunjuknya.


“Onty… Onty Fani... Bangun,” Ucap Dafa semakin keras.


“Eummmhh… bentar Ma.. bentar lagi, nanti aku bangun kok,” jawab Fani yang membuat Dafa terkikik sendiri karena dipanggil Ontynya dengan sebutan Mama.


“Hihihihihi, aku bukan Mama… aku Dafa hihihi Onty lucu,” ujarnya sambil terus menusuk-nusuk pipi Ontynya. Mendengar jawaban dari sang pengusik tidurnya, Fani pun membuka perlahan matanya.


“Ah, ternyata ponakan gembilnya Onty. Kok kamu sudah cakep gini sayang, mau kemana?” tanya Fani seraya mendudukan tubuhnya.


“Aku mau diajak Oma sama Opa jalan-jalan, telus tadi aku di suluh Ayah buat bangunin Onty,” jawab Dafa yang kini sudah berada di atas kasur Fani, mengacak-acak boneka yang tadinya tertata rapi diatas bantal.


“Astaghfirullah, Onty lupa kalau hari ini wisuda,” teriak Fani sambil bergegas masuk ke dalam kamar mandi setelah melepas mukenahnya.


“Onty nggak boleh teliak-teliak nanti di jewel Ayah,” ucap Dafa yang mendengar Fani berteriak.


“Iya, sayang sorry,” ucap Fani sambil menyembulkan kepalanya dari balik kamar mandi.


“Onty aku kelual dulu. Aku mau sun Adik dulu,” kata Dafa seraya turun perlahan dari atas kasur Fani yang sudah berantakan.


“Apa yang salah sama penampilanku? Padahal tadi aku ngaca udah cantik pari purna,” kata Fani sambil memandangi lagi dirinya, mencari-cari apa yang tak sesuai dengan penampilannya pagi ini.


“Hahaha… astaghfirullah Pa… lihat anakmu.. Ya Allah sayang, Mama nggak kuat,” ucap Bu Rita sambil memegangi perutnya yang sudah terasa kaku karena keasyikan tertawa. Tak beda jauh dengan Bu Rita, Pak Amri dan Akbar pun sampai mengeluarkan air matanya melihat si bungsu, yang tampak bingung.


“Hihihihi….Dek, kamu wisuda itu masih besok,” ucap Qiana yang baru saja datang bersama dengan Dafa yang minta diantar untuk pipis.


“Ya Allah, Dafaaa… kamu bikin Onty salah paham,” kata Fani.


“Kenapa anak Abang yang kamu salahin?” tanya Akbar sambil memcingkan matanya.


“Tadi Fani ketiduran terus dibangunin Dafa. Katanya dia mau pergi sama Oma-Opa katanya, mana rapih banget Dafanya jadi aku kira hari ini aku wisudanya. Lupa ih, gara-gara kecapekan,” keluh Fani.


“Dafa tadi bilang diajak Oma sama Opa jalan-jalan Onty, Dafa aja yang diajak Onty enggak di ajak,” kata Dafa yang kini sudah duduk di pangkuan Ayahnya.


“Hahaha, untung Bagas sudah pergi Ma dari jam 6 tadi. Kalau dia masih disini, anak kita pasti udah malu banget itu hahaha. Ya Allah..Nak…Nak.. kamu itu masih belum berubah ternyata dari dulu,” ucap Pak Amri.


“Iya ya.. Pa. hahaha… jadi keinget waktu Fani masih sekolah dulu, tidur sehabis isya bangun-bangun jam sembilan malam eh langsung lari ke almari nyari seragam sekolah, dikiranya dia bangun kesiangan buat sekolah eh taunya malah bangun kemaleman wkwkwk,” seloroh Akbar yang masih belum berhenti tertawa.

__ADS_1


“Ih, kalian nyebelin banget,” rajuk Fani.


“Ganti baju dulu sana, biar Mama nggak ketawa terus ih. Terus kesini sarapan dulu,” kata Bu Rita yang sudah mulai mengatur tawanya.


“Iya,” jawab Fani singkat seraya berlalu menuju kamarnya lagi sambil menggurutu tak jelas.


"Ciye, gagal wisuda hari ini ciye," goda Akbar yang langsung mendapat pelototan dari sang Adik.


“Ada-ada aja Ma, anak bungsu kita itu. Padahalkan beli kebayanya baru hari ini kan sama Mama?” tanya Pak Amri.


“Iya..ya Pa hadeuuhh… pelupa banget dia,” jawab Bu Rita.


***


“Arggghhh… skip ih Mbak takut,” ucap Qiana sambil memeluk erat lengan suaminya.


“Mbak tuh ya, dari tadi suruh skap..skip…skap..skip… terus kita nonton apa dong, kan ini emang dari awal sampai nanti tamat zombinya terus-terusan muncul,” kata Fani frustasi sedangkan sang Abang hanya menggelengkan kepalanya melihat dua wanita yang sedari tadi menonton film tapi malah sering adu mulut.


“Ih, kan tadi Mbak bilang mending nonton First Love (A Little Thing Called Love) kenapa jadi Train to Busan, kan Mbak takut Dek,” ucap Qiana.


“Hehehe, sorry Mbak. Tapi Mbak kenapa sih, padahal dulu juga pernah nonton ini sama aku, kenapa sekarang jadi takut gini?” tanya Fani heran.


“Bawaan bayi kali Fan, udah ngalah aja atau enggak sekarang kita nganter kamu aja Dek ke butik udah jam 10 nih. Kayaknya Mama sama Papa udah otw kesana juga,” ajak Akbar.


“Yaudah aku ambil tas dulu.”


***


Fani : Tega bener Thor ngerjain aku? Padahalkan aku udah pingin banget diwisuda.


Author : Sabar napa Fan, bentar lagi. Mangkannya dah, inget bener-bener biar nggak ‘kecelik’ wkwkwk.


***


Selamat malam semua.......


Terimakasih sudah mampir........


Gimana Pemilunya, jagoan kalian menang nggak?

__ADS_1


__ADS_2