Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
27. Mencintai Sampai Akhir


__ADS_3

Dertttt....Derttt..Derrrrttttt


Suara dering telepon itu menghentikan lantunan ayat suci, Bu Dewi segera beranjak menuju nakas mengambil handphonennya. Qiana pun menghentikan bacaannya dan memandang lekat ke arah Bu Dewi, perasaannya tiba-tiba ikut berkecamuk.


"Papa, tumben telepon apa anak-anak nggak bilang ya kalau aku menginap disini." batin Bu Dewi.


"Assalamu'alaikum Ma. Mama boleh Papa bicara sama Qia?" Tanya Pak Gito Papa si kembar.


"Wa'alaikumsalam Pa, iya sebentar Mama kasihkan ke anak gadis kita dulu. Tapi jangan ngomong macem-macem ya Pa" Kata Bu Dewi.


"Iya Ma, ayo cepetan," Kata Pak Gito yang mulai panik.


Hp itu pun sudah beralih ke tangan Qiana, Qiana yang bingung memilih untuk segera mendekatkan Hp itu ke arah telinganya.


"Asaalamualaikum Pa ada apa?" Tanya Qiana.


"Nak, kamu bawa Mamanya  si kembar ke Rumah Sakit Harapan ya. Tapi jangan kasih tau dulu ajak aja, jangan buat kaget ya Nak." pinta Pak Gito dengan suara yang bergetar, menahan tangis.


"Ada apa ini, kenapa tiba-tiba Papa si kembar jadi terdengar agak mellow begini, suaranya sedikit bergetar." Batin Qiana.


"Ada apa Pa? Papa nggak kenapa-napa kan?" Tanya Qiana setengah berbisik agar tidak terdengar Bu Dewi.


"Si kembar kecelakaan Nak, cepat bawa Mama kesini," kata Pak Gito.


Deg...Deg....Deg...


"Innalillahi... iya Pa Qia tutup teleponnya Assalamualaikum," Kata Qiana yang mulai panik.


"Harus bicara bagaimana ini dengan Mama Dewi." batin Qiana.


"Aduh Ma, tiba-tiba perut Qia sakit nih," Kata Qia sambil memegang perutnya.


"Mungkin dengan cara ini bisa bawa Mama Rita ke RS tanpa khawatir berlebih." Batin Qiana.


"Eh, kok tiba-tiba sakit perut? Papa tadi bilang apa Nak?" Tanya Mama Dewi sambil ikut memegang perut Qiana.


"Iya Ma, aduhh... nggat tau tiba-tiba sakit. Papa bilang kangen sama Qia, disuruh kesana besok... Aduh..duh Ma tambah sakit," Kata Qiana.


"Kita ke dokter ya Nak, atau kamu ada obat yang biasa diminum kalo lagi sakit perut gini?" Tanya Mama Dewi.

__ADS_1


"Ngga ada Ma, anter Qia ke RS aja ya Ma. Tapi bentar aku panggil Mama sama Papa dulu buat jaga Dafa," Kata Qiana.


Setelah menjelaskan ke Mama dan Papa tentang kondisi si kembar, Qiana bergegas menuju RS bersama dengan Mama Dewi dan di sopiri oleh Reza dengan tetap berpura-pura sakit perut.


"Loh Nak kok kita ke sini,bukan ke IGD atau nemuin dokter jaga?" Tanya Bu Dewi heran karena Qiana malah mengajaknya ke arah ruang ICU.


"Maaf ya Ma, Qia udah bohong sama Mama. Sebetulnya perut Qia nggak kenapa-napa. Tap..." Ucap Qiana di tengah perjalanan menuju ruangan si kembar di tangani tim medis.


"Mama, sini Ma!" pinta Pak Gito.


"Loh kok ada Papa disini?" Tanya Bu Dewi semakin heran.


"Ma, Mama yang tenang ya. Kembar kecelakaan Ma. Setya kritis sekarang masih dalam penanganan dokter dia harus dioperasi, cideranya parah karena kejepit badan mobil. Tyo juga masih dalam penanganan dokter, tapi ngga separah Setya bentar lagi juga keluar mau dipindahkan ke ruang rawat." Jelas Pak Gito, Qiana tak menyangka temannya akan mengalami kecelakaan seperti ini padahal tadi mereka baru saja mengobrol dan makan malam bersama.


Brugh...


"Ya Allah Mama." teriak Qiana ketika meilhat Bu Dewi pingsan.


Dua jam berlalu, Tyo sudah berada di ruang rawat bersama dengan calon istrinya dan Bu Dewi yang sudah sadar 1 setengah jam yang lalu. Sedangkan di depan ruang operasi terlihat Pak Gito, Qiana, dan Bang Reza menunggu operasi selesai.


Terlihat lampu operasi telah dimatikan, pertanda operasi telah usai dilakukan.


Ceklek.


"Keluarga Tuan Setya?" Tanya Dokter itu.


"Iya betul, bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Pak Gito.


"Kami sudah melakukan semaksimal yang kami bisa Pak, tapi Allah lebih sayang dengan anak Bapak. Dengan berat hati kami mohon maaf, anak Bapak tidak bisa kami selamatkan. Almarhum meninggal hari senin dini hari pukul 02.07 WIB. Mohon ketegaran hati Bapak, semoga almarhum khusnul khotimah. Saya permisi Pak" Ucap dokter itu sambil memandang wajah Pak Gito lekat.


Semua yang ada disana menangis sejadi-jadinya, Reza merangkul tubuh Pak Gito untuk sekadar menguatkannya. Qiana menangis dengan tatapan kosong seolah tak percaya, dia pun terduduk lemas di kursi tunggu. Kilasan-kilasan kebersamaan antara Setya dan dirinya pun berkeliaran dalam ingatannya.


Tak berselang lama brangkar yang membawa tubuh Setya pun keluar dari ruang operasi, tangis mereka pecah kembali. Reza menghubungi keluarganya meminta untuk membantu persiapan penyambutan jenazah di rumah Pak Gito dan persiapan pemakaman. Semua terkejut mendengar kabar ini, seolah tak percaya namun nyata.


***


"Ma, Adek mana Ma?" Tanya Tyo ketika sadar dari tidurnya.


"Mas, kamu jangan banyak gerak dulu," kata Mama Dewi mencoba tegar di depan anak sulungnya ini.

__ADS_1


Tadi pagi selepas sholat subuh jenazah Setya telah di kebumikan. Tyo tidak ikut karena kondisinya belum pulih dan dia juga masih terbaring di ranjang pesakitan tidak sadarkan diri. Mama Dewi terus saja menangis, beberapa kali dia pingsan. Tapi dia mencoba bangkit, bagaimana pun masih ada Tyo yang membutuhkannya saat ini.


"Kamu yang tenang ya Mas, Adek kamu udah tenang udah nggak kesakitan lagi, dia udah meninggal Mas," Kata Syta calon istri Tyo.


"Innalillahi wa'innaillaihiroji'un," Kata Tyo dengan meneteskan air matanya.


Dia shock bukan main, tapi dia juga harus ikhlas untuk ketenangan Adek kembarnya itu di dunia yang berbeda.


Ceklek.


Pintu ruang rawat Tyo terbuka, menampilkan sosok cantik dengan balutan gamis dan kerudung yang cocok ditubuhnya. Digendongannya terdapat bocah mungil yang tersenyum manis.


"Assalamualaikum, Ma." Salam Qiana.


"Wa'alaikumslaam Nak, ayo sini masuk." ajak Bu Dewi.


"Gimana keadaannu Yo?" tanya Qiana.


"Udah mendingan, tinggal kaki aja agak susah digerakin." jawab Tyo.


"Ma, Syt, boleh aku bicara berdua sama Qiana?" tanya Tyo Bu Dewi hanya menganggukinya dan mengambil Dafa dari gendongan Qiana.


"Iya boleh Mas, aku sama Mama keluar dulu," Kata Syta.


Ketika Mama Dewi dan Syta keluar suasana ruang rawat itu pun menjadi hening.


"Qi, maafin Setya ya. Kamu harus tahu satu hal," Kata Tyo sambil mengatur nafasnya karena dadanya begitu sesak dan air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya. Seakan berat untuk menceritakan dan menyampaikan pesan terakhir Setya.


"Tyo, udah ya kamu mending fokus sama kesehatan kamu dulu. Aku udah maafin Setya dari dulu kok, udah ya jangan gini," Kata Qiana mencoba menenangkan Tyo.


"Enggak, kamu harus tahu yang sebenernya. Qi, sebenernya Setya udah suka sama kamu semenjak kita SMA dulu. Aku nggak tahu kenapa dia tiba-tiba bisa berubah jahat ke kamu. Tapi yang aku tahu dia begitu terpukul dan sedih ketika dia kehilangan kamu, 2 tahun pertama kamu pergi dia ngga pernah absen untuk nungguin kamu di depan rumah kamu Qi. Dia pikir kamu akan pulang ternyata sampai 8 tahun kamu ngga pernah ada balik ke kota ini, dia berusaha bangkit dengan segala usahanya menyibukkan diri di perusahaannya pulang larut malem. Sampai pada akhirnya dia berusaha untuk lupain kamu, dia pergi ke Jakarta buat bantu temen seangkatannya sewaktu kuliah dulu dan itu malah jadi jalan buat dia ketemu kamu Qi," Kata Tyo dengan suara yang memberat seakan tak sanggup menceritakan seluruhnya tapi harus diceritakannya.


Qiana, mendengarkan dengan seksama cerita Tyo air matanya mengalir deras.


"Setya telepon aku cerita, dia berharap masih ada harapan untuk dia deketin kamu Qi. Tapi ketika aku sampai di Jakarta dia cerita lagi kalau, kamu masih sama seperti dulu masih mencintai orang di masa lalumu. Sampai kemarin malem sebelum kecelakaan, dia pesen sama aku Qi. Katanya 'Em, kak..kakak... to..tolong... kasih tau Qia ka..kalo aku cinta sa..sama...di..a dan to...long kasihkan buku sampul co..klat di la..ci kaa...marku. Maafkan Adikmu ini... minta..maafkan atas se..gala ke..salahanku pada semuanya'. Kamu tahu Qi, dia masih tetap mencintaimu sampai akhir hidupnya. Kamu nanti bisa ambil bukunya sendiri di rumah, karena aku masih belum diizinkan pulang oleh dokter," Kata Tyo dengan air mata yang sudah tak bisa dibendung lagi.


Qiana menangis tersedu-sedu, ternyata ucapan Setya yang menyuruhnya untuk membuka hati untuknya bukan lelucon belaka ataupun keinginan Mama Dewi semata, tapi karena Setya memang memiliki rasa untuknya.


```

__ADS_1


Kita tidak tahu dipertemuan seperti apa yang akan menjadi pertemuan terakhir untuk kita. Setidaknya aku akan berusaha untuk menjadikan setiap pertemuan kita, menjadi pertemuan yang berarti sekalipun itu pertemuan terakhir. 💙


```


__ADS_2