Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Eh Apa Ini PDKT?


__ADS_3

Selamat membaca.....


****


Pada akhirnya aku duduk di belakang pria berbadan tegap, punggungnya lebar, dan tampak kokoh. Saat tadi aku berkilah bahwa hanya memiliki satu helm pun, dengan santai dia membuka jok, ternyata benar saja di dalamnya ada helm. Sudah seperti cenayang saja, fikirku.


“Kamu, sejak kapan ada di Bandung?” ucap Bang Aziz sedikit berteriak, takut bia ucapannya tak terdengar olehku karena beradu dengan hembusan angin dan deru kendaraan lainnya.


“Belum genap sebulan.” Jawabku, Bang Aziz tak menimpali lagi hanya terlihat sedikit mengangguk.


Perjalanan yang cukup membosankan karena Bang Aziz melajukan motor dengan kecepatan rendah serta tak mengajak ngobrolku lagi. Eh apa aku berharap diajak ngobrol? Aisshh… efek bosan ini mah.


“Bang depan belok kiri ya, aku mau beli bubur ayam dulu.” Ucapku. Yap di depan sana ada tempat mangkalnya bubur ayam Mang Oleh xixixi, bubur ayam legend langganannya Nenek Mira sekeluarga.


“Oke.” Jawabnya, emh apa aku traktir aja ya Bang Aziz itung-itung timbal balik karena tadi sudah membantuku mendorong motor.


“Bang berhenti di deket gerobak itu Bang.” Ucapku, ceileh dah kayak ke kang ojek aja aku ini, sorry Bang hihi.


“Hmmm.” Jawabnya.


Aku pun turun dari motor matic dan melepaskan helm yang kupakai, diikuti oleh Bang Aziz.


“Abang udah sarapan belum? Mau bubur nggak?” tanyaku sambil berjalan masuk ke dalam tenda ala kadarnya.


“Belum, kamu duduk aja biar aku yang mesen. Bubur ayam biasa apa special?” tanyanya, kayaknya dia udah sering makan disini deh, tahu betul.


“Oke, aku yang biasa aja seledrinya banyakin.” Pesanku.


Dari tempat dudukku aku melihat Bang Aziz yang mengobrol dengan Mang Oleh, sepertinya bukan sedang membahas semangkuk bubur ayam, melainkan mengobrol hal lain karena terlihat keduanya saling bersahutan


tertawa. Benar dia sosok yang sangat mudah akrab dengan orang lain, berbeda denganku. Ah, aku baru menyadari satu hal, semenjak dari tukang tambal ban tadi jantungku berpacu dengan normal tak ada lagi rasa khawatir atau gelisah ketika dekat dengan Bang Aziz saat ini.


Dia berjalan ke arahku membawa dua mangkuk bubur ayam, diikuti oleh Mang Oleh yang sedang membawakan dua gelas teh hangat.


“Mangga Neng, mun hayang nambah lambaikan tangan nyak hahahaha.” Ucap Mang Oleh.


Hilih, sudah seperti acara reality show yang kalau menyerah disuruh melambaikan tangannya saja hahaha.

__ADS_1


“Siap laksanakan Mang.” Jawabku.


Tanpa berkomentar apapun lagi aku langsung makan dengan lahap bubur ayam Mang Oleh, no jaim-jaim. Efek menuntun sepeda motor, yang membuat sarapanku di rumah Mbak Qiana tadi sudah berubah menjadi energi. Semangkuk bubur ayam dan segelas teh hangat manis, sudah cukup untuk mengembalikan energy yang sudah terkuras, juga mengembalikan mood baikku lagi.


“Alhamdulillah, kenyangnya… siap untuk tempur dengan laporan toko yang aku tinggal sehari kemarin." ”capku sambil mendorong sedikit mangkuk kosong dihadapanku.


“Mau lagi?” tanyanya.


“Tidak, terimakasih. Sebentar aku mau ke Mang Oleh dulu.” Kataku seraya berdiri.


Saat aku akan  membayar bubur ayam, ternyata buburnya sudah dibayar lunas oleh Bang Aziz. Niat hati untuk membayar kebaikannya karena sudah menolongku tadi, malah aku lagi yang harus menerima kebaikannya untuk kedua kalinya.


“Ayo ke toko 20 menit lagi toko buka, masa wakil ownernya datang telat.” Ucap Bang Aziz yang sudah nangkring di atas motor.


Selalu saja menunjukan tingkah absurdnya, padahalkan seharusnya bilang dulu kalau buburnya sudah dibayar biar aku nggak musti ngapel ke Mang Oleh yang sedari tadi sudah senyam-senyum melihatku datang dengan Bang Aziz. Mang Oleh ini pedagang paling jahil se Bandung Raya, kalau aku datang sendiri selalu di


tanya, ‘Kok sendiri Neng, habis putus ya sama pacarnya?’ atau nggak gitu ‘Loh Neng cantik-cantik kok makan bubur selalu sendiri, tuh anak SMP aja kalau datang kesini berdua.’ Dan saat tadi aku kesini sama Bang Aziz si Mamang cuma, senyam-senyum nggak jelas, apalagi setelah berbicara dengan Bang Aziz saat memasankan bubur ayam tadi. Dengan langkah gontai aku mendekat ke arah Bang Aziz dan mengambil helm yang aku taruh di spion kiri motor.


“Naik, jangan cemberut dan jangan salahin saya, kamu sendiri yang salah tadi langsung pergi ke Mang Oleh nggak nanya dulu ke saya sudah bayar apa belum.” Ucapnya. Eit kenapa jadi ‘saya’ nggak ‘aku’ lagi. Sudah seperti bunglon saja orang ini.


“Iya, aku yang salah.” Ucapku sambil naik ke atas motor.


“Bang kamu kenal Mang Oleh yang tadi itu?” tanyaku penasaran, sambil melepas helm dari kepalaku.


“Hm,” jawabnya, astaga kenapa jadi irit bicara seperti ini.


“Kok bisa? Langganan Abang juga?” tanyaku.


“Bisa di bilang begitu. Buburnya Mang Oleh yang ngeviralin itu aku, jadi bisa ramai kayak gitu.” Ucapnya sambil turun dari motor.


“Eh nggak boleh gituh kamu itu Bang. Udah sombong pamer lagi, bantuin orang kesannya jadi nggak ikhlas tahu. Emang itu sudah rezekinya Mang Oleh, toh bubur ayamnya memang betulan enak. Mau kamu viralin atau enggak, kalau memang rezekinya Mang Oleh, ya bakalan tetap laris dan terkenal kalau sudah takdir Tuhan mah.” Jawabku kesal, selalu saja orang ini menunjukan kebiasaannya.


“Ya…ya…ya… tuh kamu cek keuangan toko kamu setelah video prank yang kemarin muncul di yietibe, pasti kamu kaget dan bakal nyariin aku buat bilang terimakasih sambil salto-salto.” Ucapnya lagi, astaga malah semakin menjadi dia.


“Bawel banget. Udah sana ih, aku mau kerja. Makasih udah bantuin sama traktir bubur ayam tadi” Ucapku.


“Eitttsss, nggak gratis ya kamu musti traktir aku makan malam.” Katanya, sambil menyerahkan kunci motor ke tanganku.

__ADS_1


“Makan malam? Dimana?” tanyaku.


“Makan


malam di rumah Bang Akbar aja, tapi kamu yang masakin. Biar sekalian kamu belajar


jadi istri solehah, nanti aku jadi jurinya.” Ucap Bang Aziz, sambil memainkan


handphonenya.


“Idihh.. aku mah tiap hari juga belajar nggak musti harus ada yang lihat dan nilai apalagi kamu Bang yang jadi jurinya big no no.” ucapku, sambil menirukan iklan pembersih wajah, big no no xixixi.


“Yaudah, kamu bayar 20 juta buat bantuan aku tadi.” Katanya dengan tegas.


“Eh… bantuannya nggak ikhlas ternyata…. Minta 20 juta lagi dikira aku ini bank apa,” ucapku kesal, dan Bang Aziz malah tertawa dengan keras.


“Hahaha… kamu itu ya memang beda sama cewek-cewek yang pernah dekat sama aku. Pokoknya semua keputusan ada di tangan kamu, mau bayar dengan masakin aku buat makan malam nanti apa bayar aku 20 juta tunai.” Ucapnya lagi.


Tin…tin…tinn… mobil yang tadi dia bawa sudah ada di depan mata tapi ada yang beda setelah kaca mobilnya diturunkan.


“Ay, buruan!!!” teriak perempuan itu dan tanpa kata Bang Aziz langsung meninggalkanku di parkiran.


Eh… kenapa bajunya begitu bukannya Bandung ini dingin, ulululuhh apa pergaulan Bang Aziz salah ya? Sebetulnya si perempuannya nggak berubah tempat duduk dan juga ngak turun dari mobil, tapi ketika pintu mobil dibuka bikin aku geleng-geleng kepala, melihat pakaian yang dikenakan si perempuan. Tangtop merah nyala dan


celana pendek yang bener-bener pendek, sampai pahanya yang putih itu terpampang jelas. Huwaa… daebak jadi merinding aku ngelihatnya.


Drrtttt…drrrttt….dddrttttt… ponselku bergetar dan saat aku menggesernya tertera pesan dari nomor yang tidak dikenal.


From: 0812304xxxxx


‘Jangan salah paham dengan apa yang baru kamu lihat, dan jangan menyimpulkan sesuatu sebelum menkonfirmasinya terlebih dahulu. Dan terimakasih buat PDKTnya hari ini jangan lupa kamu masih punya hutang


padaku.’


Ah, sepertinya aku tahu dari siapa dan masa bodohlah Bang bukan urusan aku juga. Eh tapi kok ini bilang PDKT, apa menolongku tadi itu bisa dibilang PDKT? Dasar nggak jelas.


Terus ini aku masakin aja atau musti ganti duit 20jiti, tabunganku ludes dong… duh Gusti mimpi apa aku semalam.

__ADS_1


****


Terimakasih semuaaaaacchhh.....


__ADS_2