Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Bukan Kaleng-Kaleng


__ADS_3

Selamat membaca...


***


Aku masih mengamati orang-orang yang ada di hadapanku ini, jujur saja aku masih kaget. Kemarin Mas Akbar bilang akan mampir untuk sarapan sebelum menjemput keluargaku, dan ini malah pagi-pagi sudah pada di depan mata bahkan bertambah dengan hadirnya Mama Rita dan Papa Amri serta Pak Bagas yang masih membawa Bella pergi entah kemana.


“Assalamu’alaikum, udah dong ngelamunnya,” ucap Bang Reza sambil mengusap wajahku.


“Wa’alaikumsalam, Abaaang… ih, semuanya hayuu pada masuk bersih-bersih badan dulu terus kita sarapan ya,” kataku sambil menepis tangan Bang Reza, tadinya aku mau langsung nyuruh mereka semua buat sarapan, tapi


tiba-tiba keinget kalau aku cuman bikin bubur ayam untuk 5 orang aja dan sekarang orangnya nambah 9 orang.


“Iya, kamarku udah bersih no kotor, no debu dek?” tanya Bang Reza sambil menggendong si kecil Lea.


“Muhun Abang, wes resik sadayana.” Ucapku dengan mencampur bahasa sunda dan bahasa jawa untuk mengimbangi candaan receh Bang Reza.


“Hahahahaha, calon menantuku bisa ngelawak juga,” ucap Papanya Mas Akbar sambil berjalan ke arahku, aku baru sadar semua orang tengah tersenyum sambil menatapku. Gara-gara Bang Reza pamor pendiamku jadi turun


pangkat.


“Eh Om… eh Papa, masuk yuk,” ucapku dengan salah tingkah, jujur saja keadaan seperti ini membuatku sedikit banyak langsung melupakan kejadian Bella yang melabrakku lagi beberapa menit yang lalu.


Aku pun beranjak  dari tempatku berdiri dan mulai menyalami semua orang yang baru saja datang kecuali


Mas Akbar, ya selama ini kita hampir tidak pernah melakukan kontak fisik kecuali tanpa sengaja. Ketika semua orang sudah masuk ke dalam rumah, aku bergegas menuju ke depan pagar rumah, biasanya jam segini  suka ada tukang bubur ayam lewat.


Ting….ting…ting… ( suara sendok yang beradu dengan mangkuk).


“Sabu…. Sabu….. sabu… Mang Oleh, rasa cihuy… harga santuyyy….” Teriakan si  Mang oleh, tukang bubur ayam


kesukaan Nenek.


“Eh bukannya Mang Oleh jualan odading, kenapa jadi jualan bubur ayam Mbak?” tanya Fani dari belakangku, sungguh anak ini lagi-lagi membuatku jantungan.


“Iya udah pensiun jadi tukang odading, sekarang move jadi penjual buryam.” Jawabku asal.

__ADS_1


“Hah… seriusan Mbak?” tanyanya dengan raut muka yang lucu.


“Hadeuhh… ya enggak sayang da di Jawa Barat mah banyak yang namanya Mang Oleh,” ucapku sambil melirik ke kanan dan ke kiri, perasaan tadi suara Mang Oleh udah deket tapi kok nggak keliatan gerobaknya.


Ting….ting…ting… ( suara sendok yang beradu dengan mangkuk).


“Ah, itu suara dentingan mangkuknya lagi,” ucapku.


“Sabu…. Sabu….. sabu… Mang Oleh, rasa cihuy… harga santuyyy….” Teriakan si  Mang oleh yang baru saja


keluar dari gang sebelah.


“Mang sini,” teriaku.


“Iya Neng Qia, ada apa? Oh mau pesen bubur ya? Mau berapa porsi sok manga, tinggal sebut pasti di buatin yang special buat Neng Qia nu geulis ieu,” ucap Mang Oleh.


“Masuk dulu aja Mang, gerobaknya taruh di situ. Nanti ladeni aja orang rumah maunya berapa, saya mau ngeborong bubur ayamnya Mang Oleh, ada berapa porsi lagi kira-kira?” tanyaku pada Mang Oleh.


“Masih sisa 20 porsi Neng, siap laksanakan Mang Oleh akan melayani dengan sepenuh hati,” ucap Mang Oleh dengan semangat.


Sampai di dalam rumah aku segera ke dapur dan menyiapkan bubur buatanku di atas meja makan, setelah itu membangunkan Dafa yang masih terlelap dengan nyenyaknya. Hmmm… untung saja saat Bella tadi datang Dafa


sedang dalam kondisi tertidur, sehingga tidak menyaksikan kelakuan ibu kandungnya yang bar-bar itu.


“Nak, Dafa… hayu bangun itu di tunggu Ayah. Katanya mau sarapan bareng Ayah,” ucapku sambil menoel-noel pipi gembil anakku yang tampan ini.


“Ermh.” Hihi gemas sekali dia hanya melenguh kecil sambil membalikkan tubuhnya membelekangiku.


“Sayang ayo bangun, nanti Ayah keburu pergi lagi,” kataku.


“Iya, Nda Dafa bangun,” ucapnya, perlahan mata yang semula terpejam itu membuka memperlihatkan bola matanya yang cokelat tua.


“Nah pintarnya anak Bunda, ayo Bunda mandiin dulu,” ucapku sambil membawanya dalam gendonganku dan membawanya ke kamar mandi.


Tak berselang lama aku membawa Dafa menuju ruang makan dan ternyata sudah full, bubur ayam buatanku sudah di makan oleh Bang Reza, Mas Akbar, Papa Amri, dan Papaku tercinta nyisa satu belum ada yang makan, tapi ada

__ADS_1


4 mangkuk yang sudah kosong di tengah meja.


“Salim dulu sama Opa, Kakek, Ayah, sama Papi Reza,” kataku sambil menurunkan Dafa dari gendonganku. Dia pun segera berlari dan salim kepada 4 lelaki dewasa yang sedang menyantap bubur ayam buatanku itu.


“Wah, anak Ayah udah halum cekali,” ujar Mas Akbar yang gemas dengan anaknya.


“Dafa abis mandi Yah.” Jawab Dafa dengan malu-malu, ya Dafa selalu seperti itu jika ada banyak orang di hadapannya.


“Ini kenapa pada makan bubur ayam buatannya Qia? Kok nggak pesen di Mang Oleh aja di depan?” tanyaku, tapi kemudian aku heran karena ada 4 mangkuk yang sudah kosong di tengah-tengah meja makan.


“Wah….wah…. Qia kita bukan kaleng-kaleng Pa. Masa rasa bubur ayam buatannya seenak yang di jual Mang Oleh tukang bubur langganannya Nenek.” Ucap Bang Reza dengan menggebu-gebu, entahlah apa yang membuatya sangat antusias


seperti itu.


“Hah? Terus kenapa Bang, aneh dasar sameyan iku. Apa coba hubungannya sama kaleng-kaleng heran aku sama


Abang satu ini,” ucapku sambil mendudukan diri di samping Bang Reza.


“Lah…kok aneh, padahal itu berarti kamu bakal jadi tukangbuburnya Nenek gantiin Mang Oleh hahahaha. Kata ‘bukan kaleng-kaleng’ itu ibarat kata kaya ‘bukan main-main’ gituh loh Dek. Abang ini muji kamu,” kata


Bang Reza.


“Ishh, dasar aneh. Sini Dafa di suapin Bunda,” ucapku sambil menarik semangkuk bubur ayam.


Selesai sudah sarapan bubur ayam kloter kedua hari ini, hampir semuanya pesen dua porsi bubur ayam ke Mang Oleh hehehe. Dan untuk Mang Oleh yang baik dan tidak sombong, terimakasih ilmunya, membuat bubur ayam yang enak itu ternyata ada ilmunya dan aku belajar itu dari Mang Oleh. Emh sebetulnya semua resep masakan di dunia ini butuh ilmu itu, selain komposisi bahan yang lengkap, takaran yang sesuai, dan teknik masak yang baik dan benar ada satu hal yang musti di terapkan saat memasak makanan jenis apapun, yaitu  hati yang bahagia hehehe dan aku percaya ini karena kalau mood lagi ancur di suruh masak, huwaa jangan tanya bagaimana bentuk atau rasanya, pasti salah satunya aka nada yang hancur bahkan keduanya.


\~\~\~


Muhun Abang (Bhs.Sunda) = Iya Abang


Wes resik (Bhs. Jawa) = sudah bersih


Sadayana (Bhs. Sunda) = semuanya


Terimakasih readers.......

__ADS_1


__ADS_2