Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
50. Ricuh 1


__ADS_3

Selamat membaca


***


Ceklek... Pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita dengan senyuman yang mengembang sempurna.


"Astagaaa, kenapa hari ini banyak sekali tamu tak diundang datang ke rumahku," kata Qiana.


"Assalamu'alaikum Mbakkcuuuu....." sapa Fani dengan teriakan yang memekikan telinga.


"Wa'alaikumsalam Dek, kamu kok kayak Tiwi sih kesini nggak bilang-bilang dulu," ucap Qiana.


"Nda syiapa?" tanya Dafa yang berjalan mendekat dari arah dapur dengam muka yang belepotan tepung.


"Hahahaha, ya Allah ponakan Tante lagi ngapain sayang kok mukanya cemong gini." heboh Fani.


"Ante, holee Dafa banak temen main." teriak Dafa tak kalah heboh, sambil bertepuk tangan riang, "Dafa ay bitin tue Ante." lanjut Dafa.


"Ayo masuk dulu, kita di belakamg lagi bikin kue." ajak Qiana.


Fani gadis berusia 22 tahun itu memang tak kenal lelah, selepas dari perjalanan Jakarta-Bandung yang memakan waktu hampir 4 jam tadi, karena jalanan macet disana-sini terlebih saat ini Pulau Jawa sedang memasuki musim hujan. Fani hanya menaruh tasnya dan langsung menyusul calon kakak iparnya ke dapur.


"Huwaaa, ada kue coklat kesukaankuu." teriak Fani yang melihat Qiana mengeluarkan kue coklat dari pemanggang kue.


"Itu tue clat kesyukaan Dafa," ucap Dafa yang ikut berteriak seperti Fani, seakan dia takut jika Tantenya itu merebut kue kesukaannya.


"Dafa ini ikutan Tante aja, itu kue coklat kesukaan Tante, Dafa...." ucap Fani menggoda Dafa.


"Indak boyehhh itu punya Dafa, tadi Dafa yang buat syama Nda," ucap Dafa.


Fani yang gemas dengan tingkah Dafa pun, semakin ingin menggoda keponakannya. Diambilnya loyang kue yang baru diangkat Qiana dan membawanya lari ke ruang keluarga. Dafa yang tak terima kue buatannya di ambil Fani pun ikut berlari dengan langkah kecil mengejar tantenya. Tiwi dan Qiana hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Fani yang sangat usil dengan keponakannya meski jarak usia kesuanya sangat jauh.

__ADS_1


"Qi, nggak diliat tuh Tante sama ponakan jangan-jangan berantem lagi, ngga balil-balik dari tadi," ucap Tiwi.


"Iya bentar aku ke depan dulu," ucap Qiana.


Qiana pun melepas celemeknya dan berjalan menuju ruang keluarga, samar terdengar suara cekikikan dari ruang keluarga.


"Astagfirullah, Fani.. Dafa..." ucap Qiana dengan wajah kagetnya.


"Hehehe.. Mbak Qia..." kata Fani dengan wajah tanpa dosa.


"Dafa, kok coklat semua gini sih Nak?" tanya Qiana ketika melihat putranya belepotan coklat di bibir, tangan, dan kaos yang ia kenakan saat ini.


"Nda tue clatnya enyakkk..." ucap Dafa dengan tersenyum lebar ke arah Qiana. Kekesalan Qiana yang melihat ruang keluarga berantakan dan sang putra yang belepotan coklat pun mendadak sirna.


"Iya, Dafa suka ya?" tanya Qiana lembut, Dafa hanya mengangguk sekilas.


"Ayo Dafa Bunda bersihin dulu, kuenya kan udah habis nanti kue satunya di suapin Bunda ya?" tanya Qiana.


Sore hari yang mengasyikan bagi Qiana, bercanda riang bersama anak, sahabat, dan calon adik iparnya. Membuatnya sejenak melupakan ketegangan dan rasa khawatir yang beberapa hari ini melanda.


Drttt...drrrtt..drrttt... getaran hp Qiana membuat obrolan sore berhenti sejenak. Di ambilnya hp yang tersimpan apik di atas meja.


"Nomor siapa ini?" gumam Qiana saat melihat nomor tidak dikenal yang meneleponnya.


"Diangkat saja, siapa tahu orang WO," ucap Tiwi dan diangguki oleh Qiana.


"Assalamu'alaikum, dengan siapa ya?" salam Qiana.


"Hahaha, ngga usah belaga baik. Dari dulu sampai sekarang kelakuan kamu itu selalu menusuk orang dari belakang!" ucap seorang wanita di sebrang sana, hmm siapa lagj kalau bukan Bella.


"Maksud kamu apa Bell? Emang dulu aku pernah ngapain kamu dan sekarang juga aku ngelakuin apa ke kamu?" tanya Qiana, yang membuat Tiwi dan Fani paham siapa gerangan si penelepon. Fani pangsung melirik ke arah Tiwi, mengisyaratkan untuk membawa Dafa menjauh.

__ADS_1


"Dafa anterin Tante ke dapur yuk ambil cheese cake lagi sama buat minuman ini udah pada mau habis," ucap Tiwi setengah berbisik.


"Mbak loudspeaker," ucap Fani setengah berbisik ketika Dafa dan Tiwi berlalu menuju dapur.


"Dasar muka dua, dulu kamu mengolok-olokku di diary siaaalannn... kamu itu sekarang setelah kamu merebut anakku, kamu juga merenggut kebahagiaanku," ucap Bella penuh emosi, "Jangan bermimpi kamu bisa dapat Akbar, karena aku akan merebutnya kembali. Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan ketika di tinggal pergi begitu saja dengan lelaki yang kamu sukai, hahahaha," sambung Bella yang membuat Fani mendelikkan matanya kadena mendengar penuturan Bella.


"Astagfirullah, kamu nggak pernah berubah ya Bell. Dulu aku bukan mengolokmu di buku diaryku aku hanya mencurahkan kekesalanku terhadapmu di buku diaryku, itu pun tidak ada yang tahu kecuali kamu dan alm.Setya yang mengambilnya dari tasku. Dan untuk Dafa, aku tidak pernah merebutnya dari siapapun itu semua karena keserakahanmu dulu Bell, sampai tega menelantarkan Dafa begitu saja. Untuk Mas Akbar, biarkan takdir yang bekerja kamu boleh berbicara apapun sesukamu, tapi satu hal yang musti kamu ingat ALLAH tidak pernah tidur." jawab Qiana dengan nada yang bergetar, dia perempuan yang tidak menyukai kericuhan dan adu mulut pun sekarang harus berbicara panjang lebar untuk mempertahankan apa yang dia miliki saat ini.


"HAHAHAHA, DASAR MUNAFIK!" teriak Bella di sebrang sana.


"Terserah kamu Bell, mau berbicara dan berbuat apa aku tidak peduli. Assalamu'alaikum." putus Qiana secara sepihak, sumpah demi apapun tangannya sudah bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.


"Mbak yang tenang, jangan dipikirkan. Fani sudah merekam pembicaraan Mbak, nanti kita kirim ke Abang ya," ucap Fani seraya menggenggam jemari Qiana, seolah berkata "Jangan takut ada Adikmu yang akan membantu melindungimu".


"Makasih ya Dek, untung di rumah pas ada kamu sama Tiwi. Dari kemarin tuh Mbak sebenernya nggak tenang, khawatir terus bawaannya. Mana di rumah kemarin cuman sama Dafa," ucap Qiana.


"Mbak kok nggak ngehubungi Abang? Rumah Abang kan nggak jauh dari sini," tanya Fani.


"Mbak takut ngeganggu kerjaan Mas Akbar, Dek." jawab Qiana.


"Mbak itu ada-ada aja deh, sesibuk-sibuknya Abang pasti akan nyempetin buat kesini. Fani paham kok kalau Mbak itu wanita yang sangat....sangattt... mandiri, tapi ya Mbak, Mbak itu udah punya Abang yang bisa bantu Mbak kapan aja. Mulai sekarang sering-seringlah ngerepotin si Abang hahaha," ucap Fani dengan tawanya yang khas.


"Kamu itu Dek, Mbak pasti akan bikin repot Abang kamu tapi bukan sekarang, nanti... pas kita udah nikah," kata Qiana.


"Nda bantuin," teriak Dafa dari arah dapur.


"Iya sayang." jawab Qiana seraya berdiri dari duduknya.



__ADS_1


Bukankah hidup selalu penuh dengan kejutan? Hmmm.... untukmu... siapkan saja mental lahir batin kalau ketemu orang macam Bella.


__ADS_2