
Selamat membaca......
****
Author POV
Meninggalkan kehangatan dari semangkuk bubur ayam buatan Mang Oleh di rumah Nenek Mira, Bagas pergi membawa Bella bersamanya untuk mendapat pelajaran berharga sebagai manusia yang memiliki derajat yang lebih
tinggi daripada makhluk lainnya. Tak ada pemberontakan sama sekali dari Bella karena dia paham akan situasi yang tidak menguntungkannya ketika semua keluarga Qiana dan Akbar sudah datang seolah-olah sedang mengepungnya.
“Bell…Bella… dari dulu lo masih sama aja nggak ada perubahan,” ucap Bagas dengan senyum sinisnya, ketika mobil yang di kendarainya telah melaju meninggalkan rumah Nenek Mira.
“Maksud lo tubuh aku? Iya lah sekalipun udah punya anak harus tetep slim dan cantik.” Jawab Bella.
“Dasar manusia nggak ada otak… nggak ada akhlaq, sikapmu yang kampungan itu loh nggak ada berubahnya Mak Lampirrrr…..” ucap Bagas frustasi memang dari dulu Bella selalu bersikap menyebalkan menurut Bagas.
“Salahkan Qiana yang merebut kebahagiaanku,” ucap Bella acuh.
“Heh, dasar Mak Lampir selalu aja nyalahin orang, mana diajak ngomong nggak pernah nyambung selalu meledak-ledak. Oh iya lo kok bisa buang bayi lo di panti yayasan gue sih, ngeselin banget jadi nggak enak gue sama Akbar takut dikira kong kalingkong sama orang macam lu,” ucap Bagas yang mulai mengeluarkan uneg-unegnya pada Bella. 2 tahun yang lalu Bagas memang belum memegang kendali atas usaha yang didirikan Papanya, terlebih urusan panti memang di alihkan pada orang kepercayaan Papanya sehingga Papa Bagas pun tinggal menerima laporan tahunan karena urusan panti murni untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung tanpa ada profit di dalamnya. Di tambah wajah bayi yang tampak sama di mata Bagas.
“Mana gue tahu tuh panti punya lu, kita nggak pernah ya sedeket itu sampek gue harus tau suatu hal tentang lu. Gue buang ya buang aja,” ucap Bella tanpa dosa.
“Astagfirullah, bener-bener ya nasib Akbar dulu buruk banget ketemu wanita nggak ada otak macam lu. Dafa juga kasihan banget di lahirkan oleh seorang wanita bar-bar dan bodoh kayak lu yang di otak lu tuh cuman harta…harta..harta doang, dan congrats ya lu udah di campakan sama selingkuhan lu,” ucap Bagas dengan kesal.
“Sialan lu, turunin gue di depan,” ujar Bella dengan ketus.
“Siapa lu nyuruh-nyuruh gue, duduk aja diem gue bakal nganter lu ke tempat yang semestinya lu tinggal biar insyaf lu sama kelakuan buruk lu itu.” Jawab Bagas tak kalah ketus.
“Dasar bajiiiingaaannn….” Teriak Bella frustasi, karena kemungkinan lolos dari Bagas sangat minim dan dendamnya belum juga terbalaskan.
Bagas hanya diam tak menanggapi teriakan Bella, dia melajukan mobilnya semakin kencang membelah jalanan Kota Bandung membawa wanita bar-bar menuju tempat yang menenagkan jiwa bagi hati yang tertaut indah dengan
sang pencipta.
__ADS_1
“Turun lu, jangan coba-coba kabur dari gue atau lu tahu akibatnya.” Gertak Bagas ketika sudah sampai tempat tujuan.
“Hmm..” jawab Bella dengan malas.
Mereka pun berjalan memasuki sebuah bangunan pondok yang terlihat sangat asri dan meneduhkan. Ya Bagas membawa Bella memasuki sebuah pondok pesantren, Bagas ingin memberi pelajaran bagi Bella tapi jika membawanya kantor polisi dan melaporkannya lagi dia khawatir Bella bukan kapok malah semakin menjadi, sehingga dia memutuskan untuk memasukan Bella ke pondok pesantren agar dia dapat belajar banyak hal tentang kehidupan dan melupakan semua dendam yang tak beralasan dari hatinya itu.
“Kemana kita kesini?” tanya Bella.
“Diem aja.” Jawab Bagas dengan ketus.
Dari kejauhan tampak wanita dan pria paruh baya yang berjalan menghampiri keduanya dengan senyum yang terus mengembang.
“Assalamu’alaikum Pak Haji,” ucap Bagas dengan menjabat tangan Pria paruh baya yang di panggilnya Pak Haji itu dan tersenyum sambil mengatupkan tangannya kea rah Bu Haji.
“Wa’alaikumsalan Nak Bagas, lama tidak kemari. Mari kita masuk ke pondok dulu.” Ajak Pak Haji.
Bella yang dasarnya tak memiliki sopan santun pun tampak acuh dan tak menghiraukan orang-orang yang ada di hadapannya.
“Bagas, apa-apaan lu, seenak jidat lu ngatur kehidupan gue. Gue nggak mau ya tinggal di tempat kayak gini,” ucap Bella dengan intonasi yang tinggi.
“Nah kan Bapak sam Ibu bisa tahu kelakuannya, mohon bimbingannya Pak, Bu,” ujar Bagas tanpa menggubris Bella.
“Bagas lu ya, bajingannnn tengik emang.” Teriak Bella.
“Fine, aslinya Om Amri tadi nyuruh gue buat masukin lu ke penjara soalnya lu udah dua kali in gangguin Qiana dan mengabaikan ucapan Om Amri. Kalo lu nggak mau tinggal disini dengan senang hati gue bakalan masukin lu ke penjara lagi,” kata Bagas dengan tenang.
“APA? GUE NGGAK TERIMA YA KELUARGA KALIAN ITU SELALU AJA MERENGGUT KEBAHAGIAAN GUE!!” Teriak Bella frustasi, Pak Haji dan Bu Haji yang sudah tahu permasalahannya hanya diam, bagaimana pun Bella dan Bagas harus membicarakannya dulu.
“Lu yang nggak waras udah hidup enak masih aja main serong.Sekarang terserah lu gimana maunya, cuman ada dua pilhan di sini atau di jeruji besi?” ucap Bagas dengan tenang.
“Dasar brengsekkkk…. Gue disini aja,” ucap Bella yang masih diliputi emosi.
“Nah gituh dong kan semuanya jadi enak,” kata Bagas.
__ADS_1
“Yaudah Nak Bella ikut Ibu ke pondok kita keliling dulu baru nanti Ibu kasih tahu peraturan disini seperti apa.” Ajak Bu Haji dengan lembut.
Setelah Bella pergi bersama Bu Haji, Bagas menceritakan rencananya pada Pak Haji dengan detail agar bisa
merubah Bella menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bagas sendiri sudah menganggap Pak Haji DAN Bu Haji seperti orang tuanya sendiri karena semenjak SMP sampai SMA Bagas nyantri di pondok itu. Setelah itu Bagas berpamitan kepada Pak Haji untuk segera kembali ke rumah Nenek Mira.
****
Di rumah Nenek Mira…
“Bagas kok nggak dateng-dateng ya Pa?” tanya Akbar.
“Udahlah percayain aja sama Bagas.” Jawab Pak Amri.
“Pa, Mas, boleh Qiana tahu? Pak Bagas itu siapa kok bisa ikut kesini sama Papa dan Mama?” tanya Qiana yang sudah penasaran sedari tadi.
“Oh dia anak kerabat Papa Qi, temen mainnya Akbar juga dulu. Dia ikut kesini karena merasa bersalah, soalnya Dafa kan di buang sama Bella di pantinya tapi mau Papanya Bagas atau Bagas sendiri nggak nyadarin itu. Dia juga
baru tahu akhir-akhir ini,” ucap Pak Amri.
“Oh gitu ya Pa, iya sih dulu waktu Dafa ketemu Mas Akbar itu Pak Bagas nggak ada di lokasi, cuman ada aku sama Almarhum Setya sahabatnya Pak Bagas yang mewakili acara waktu itu,” kata Qiana sambil mengingat pertemuan
pertamanya dengan Akbar.
“Dia calonnya Fani yang udah di siapin Papa buat Miss. Ribut itu.” Bisik Akbar pada Qiana.
“Hah..?” ucap Qiana tak percaya.
***
\~\~\~
Terimakasih untuk semua pembaca yang masih setia menunggu up yang tak tentu ini. Salam sayang darikuu...
__ADS_1