Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Dengan Takdirnya Masing-Masing (End)


__ADS_3

Tiga bulan berlalu setelah resmi dilamar didepan kedua orang tuanya selepas kepulangannya dari Korea, kini Fani menikmati hari demi harinya sebagai seorang gadis karena lusa dia akan resmi menjadi Nyonya Bagaskara. Manusia boleh berencana tapi takdir Allah siapa yang bisa mengelak? Begitupun dengan Fani yang sedari dulu berencana akan menikah di usia 26 atau 27 tahun ternyata diberi Allah jodoh yang datangnya 4 tahun lebih cepat dari rencananya. Sebagai manusia dia hanya bisa menjalankan apa yang sudah ada di hadapannya dengan lapang dan penuh syukur.


Qiana sudah melahirkan satu minggu yang lalu, di usia kehamilan yang baru memasuki usia 35 minggu, seminggu lebih cepat dari HPL. Kedua bayinya sehat dengan jenis kelamin  perempuan dan laki-laki, Hajar Rinindia Atmadja dan Haidar Amri Atmadja namanya.Semenjak usia kandungannya 7 bulan Qiana sudah stay di Jakarta, di rumah sang mertua. Menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, terlebih untuk kehamilan kembar membuat si Ibu menjadi mudah lelah. Tinggalnya keluarga Akbar di Jakarta juga memudahkan Fani untuk persiapan acara pernikahannya, karena banyak orang yang membantunya untuk membuat konsep pernikahan impiannya terwujud, apalagi ada 3 makhluk yang kini mampu memberi semangat baru bagi keluarga Atmadja.


“Dedek Hajal, Dedek Haidal, ayo main sama Kakak yuk.” Anak sulung Akbar yang usianya kini sudah 4 tahun lebih 4 bulan itu kini tengah membawa dua krincingan untuk menghibur kedua adiknya, padahal kedua bayi itu jika siang masih suka tidur dan akan bangun jika merasakan lapar ataupun saat diganggu sang Kakak seperti ini. Diusianya yang hampir 5 tahun Dafa masih kesusahan untuk mengucap huruf R dengan jelas, kadang jika digoda oleh Ontynya karena dianggap mengubah nama kedua Adiknya dia akan ngembek seharian pada Ontynya itu dan akan membaik ketika diberi satu cup es krim rasa stroberi kesukaannya.


***


Hari terus berlalu sampai hari H itu tiba, tanpa ada siraman tanpa serangkaian acara adat prosesi pernikahan daerah manapun, hanya ada do’a bersama semalam dan kini Fani sudah cantik dengan kebaya putih yang melekat sepurna di tubuhnya tak lupa kerudung berwarna senada yang menjuntai menutupi dadanya yang terselip rangkaian bunga melati yang tertata apik seperti bandana yang menghiasi bagian atas kerudungnya lalu menjuntai sedikit sampai dadanya.


Hari itu hari jumat, iya ini atas permintaan Fani tentunya. Pernikahan impiannya adalah pernikahan tanpa resepsi hanya ada ijab, makan-makan dengan keluarga dan membagikan makanan di beberapa masjid untuk orang-orang yang menunaikan sholat jumat di masjid yang dia tunjuk, khususnya masjid yang digunakan sebagai tempat ijab qobulnya. Biar lebih berkah banyak yang mendo’akan katanya. Dan itu langsung disetujui oleh Bagas dan keluarganya, karena mau acara itu digelar dengan mewah ataupun sederhana yang terpenting adalah acara ijabnya lancar dan kedepannya menjadi berkah bagi kehidupan keduanya.


Beberapa iring-iringan mobil baik dari keluarga mempelai wanita maupun lelaki sudah memasuki kawasan masjid terbesar di Jakarta, degup jantung kedua mempelai pun sudah berdegup semakin kencang, bohong jika tidak gugup meski tak ada resepsi dan dihadiri oleh keluarga dekat tetap saja rasa gugup itu ada. Terlebih saat semua orang sudah menempati tempatnya masing-masing.


Meja berbentuk persergi panjang yang ditutup dengan kain berwarna putih dan ada beberapa bunga mawar sebagai penghias, duduk lesehan diatas karpet tebal yang lembut juga cantik Bagas kini sudah duduk berhadapan dengan sang calon mertua, Pak Amri yang sudah duduk bersebelahan dengan penghulu. Di sisi kanan dan kirinya ada saksi dari pihak laki-laki dan juga dari pihak perempuan. Ini untuk pertama kalinya baik untuk Bagas maupun Pak Amri yang hanya memiliki satu anak perempuan, membuat keduanya dirundung kegugupan yang luar biasa.


Tamu undangan yang berupa keluarga dekat kedua keluarga, serta tetangga kanan-kiri rumah Bagas dan Fani tak lupa keluarga Qiana yang sengaja datang sekalian mengunjungi Qiana yang baru saja melahirkan, kebetulan kondisi Nenek Mira juga sudah cukup membaik selepas check up rutin selama di Surabaya.


“Fani, anyeong…” ucap gadis yang kini sudah mendudukan diri di sebelah Fani, lalu merengkuh calon pengantin itu yang kini sedang duduk di bagian shaf perempuan yang terhalang sekat kayu, menanti calon imamnya mengucapkan ijab.


“Oh..ya ampun kamu datang, thank you Andin.” Dia pun ikut memeluk tubuh sahabatnya erat, sampai suara penghulu yang sedang memulai acara dengan sedikit melakukan tanya jawab dengan sang Papa dan juga calon imamnya membuat dia melepaskan pelukan Andin dan memilih fokus mendengar kalimat sakti yang sebentar lagi akan menjadi awal baru untuk kehidupannya.

__ADS_1


“Saudara Bagas sudah siap?” suara penghulu terdengar seperti pertanyaan menggoda pada Bagas.


Di tempatnya duduk Bagas sudah merasakan keringat dingin, terlebih saat melihat wajah gugup yang terpancar dari wajah sang calon mertua membuat hatinya sedikit lega, bahwa dia tidak sendiri yang merasakan kegugupan. Penghulu yang tadi disibukkan dengan mengecek administrasi dan sempat sedikit menggodanya kini sudah tampak serius.


Dilanjutkan dengan lantunan hafalan ayat-ayat suci Al-Qur’an beserta terjemahannya dan khutbah nikah yang dibawakan oleh ustadz Rokhman. Bagas masih sibuk untuk menangkan diri, berulang kali dia terlihat sedang menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sampai suara penghulu yang menginstrupsinya untuk segara berjabat tangan dengan Pak Amri agar segera melakukan proses ijab qobul.


“Ananda Agam Bagaskara Bin Fahri Bagaskara saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya Qiana Fanindira Atmadja binti Amri Atmadja dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan logam mulai sebesar 50 gram dibayar tunai.” Pak Amri merasakan degup jantungnya sudah berdetak normal mencoba menenangkan pikirannya yang sudah kalut semenjak beberapa hari ini, dimana anak bungsunya akan lepas dari tanggungjawabnya dan dimiliki pria lain selain dirinya dan anak sulungnya.


“Saya terima nikah dan kawinnya Anindira Atmadja Binti Amri Atmadja dengan maskawin tersebut, tunai.” Suara


lantang penuh dengan keyakinan itu sudah menyelesaikan kalimat ajaib dan otomatis kini Fani sudah SAH menjadi bagian terpenting dalam perjalanan hidupnya, ISTRInya, CALON IBU dari anak-anaknya.


“Bagaimana saksi sah?” tanya Pak Penghulu.


Fani sudah berjalan menuju sang suami diiringi oleh sang Mama dan Mama Mertuanya, sangat anggun dan cantik.


Acara tukar cincin, cium tangan suami dan cium kening istri sudah mereka lakukan dengan khidmat tidak lupa sungkem terhadap kedua orang tua kedua mempelai yang tengah berbahagia itu. Dan kini tibalah saat penjamuan makan pagi menjelang siang hehehe, beberapa keluarga tampak yang mendatangi pengantin baru itu saling berjabat tangan, kadang ada yang langsung memeluk ataupun saling menautkan pipi diiringi dengan banyaknya do’a-do’a yang terucap dari bibir para tamu. 1000 nasi kotak sudah tersebar ke 3 masjid pilihan Fani dan beberapa diantaranya juga di berikan pada orang-orang yang bekerja di jalanan seperti, tukang becak, ojek, sopir angkot, dan siapapun itu yang terlihat membutuhkan.


“Selamat menempuh hidup baru Nyonya Bagaskara dan suami,” ucap Andin yang kini sudah berdiri dihadapannya bersama seorang pria jangkuk yang sempat mengusik kehidupannya beberap awaktu lalu.


“Waoow, kayaknya ada yang bakal segera menyusul nih A.” Fani berucap seraya mengerlikan matanya ke arah sang suami.

__ADS_1


“Pada akhirnya, semua akan bersama dengan takdirnya masing-masing. Happy wedding Fan, Gas semoga berkah dan selalu bahagia,” ucap pria jangkung itu seraya mengulurkan tangan ke mempelai pria dan wanita bergantian. Membuat yang tahu kisah mereka haru dibuatnya, ikhlas pada ketetapan yang telah digariskan oleh Allah adalah pilihan terbaik untuk setiap hambaNya.


~END~


***


Terimakasih untuk para pembaca yang setia sampai di bab terakhir ini. Saya mohon maaf jika jalan cerita yang tertulis di novel ini tidak sesuai dengan ekspektasi para pembaca, point yang mau saya angkat dari novel ini adalah bagaimana seorang wanita bertemu dengan pasangannya. Mencintai atau Dicintai? Masih banyak orang


diluar sana yang bingung, kepada siapa hati akan berlabuh (termasuk saya hehe J) memilih si A yang mencintai kita atau si B yang kita cintai? Ah tapi kalau bisa memilih dia yang saling mencintai. Tapi terlepas dari itu semua, kita musti ingat satu hal selalu ada peran takdir yang menggerakan kepada siapa hati kita akan berlabuh. Mungkin seperti Qiana, yang melabuhkan hatinya pada sosok yang baru dia temui dalam hitungan bulan, tanpa ada rasa cinta sebelumnya hanya mengandalkan rasa kagum dan mengetahui bahwa lelaki itu mencintainya dengan tulus. Pada awal tahun mungkin dia tidak berencana sama sekali untuk menikah pada tahun itu, tapi kuasa Allah menggerakan hatinya ketika Akbar datang melamarnya. Atau seperti Fani yang berjodoh dengan Bagas teman masa kecilnya? Lalu memastikan hatinya bahwa ada Bagas yang sudah menempati relung hatinya tanpa ia sadari. Atau seperti Tiwi yang menikah dengan teman SMAnya, cinta masa remaja yang indah berlangsung sampai Kakek Nenek, unch manis sekali.


Sebagian orang mungkin ada yang menikah tanpa di dasari cinta tapi karena saling menerima dan pada akhirnya terbiasa hidup bersama rasa itu ada, cinta itu tumbuh. Mencintai atau Dicintai? Menurut saya keduanya penting karena dalam hubungan jangka panjang, ibadah terpanjang adalah menikah yang di dalamnya ada dua pasang manusia yang musti saling memberi timbal balik yang sama-sama menguntungkan untuk kehidupan dunia-akhirat. Mencintai dan dicintai adalah dua hal yang harus beriringan agar mencipta harmoni dalam suatu hubungan yang berlandaskan hati.


Hadeuh, miir-mir saya nulisnya watir nggak se-frekuensi hehehe. Saya yakin kisah cinta setiap pasangan dimuka bumi ini unik dan sangat berkesan mendalam bagi keduanya atau bahkan beberapa pihak yang ikut melted dengan kisah cinta beberapa orang tersebut, seperti kisahnya Alm. Pak Habibi dan Alm. Bu Ainun misalnya atau Romeo dan Juliet, Rama- Sinta mungkin, atau kisah cinta pasangan lain yang tak kalah berkesannya bagi kehidupan muda-mudi di zaman ini.


Intinya saya mohon maaf ya kalau tidak sesuai ekspektasi para pembaca dan saya mengucapkan banyak terimakasih karena kalian, novel yang ada karena pandemic  bisa jadiin Author amatir ini, penulis kontrak di apk yang memberi kita kemudahan dalam membaca novel karena bener-bener gratis buat para pembaca semua kecuali yang mau kasih vote koin untuk Author (Kudu top up dulu hehehe).


Selamat tahun baru, semoga 2021 akan jauuuuuuuh lebih baik untuk kita semua.


Lop u all…


***

__ADS_1



Next... kita lanjut kisahnya Ara dan Alana ya.... lope..lope...lope


__ADS_2