
Selamat membaca
***
Fani POV
“Tolong Anda pergi dulu, biarkan Adik saya tenang,” ucap Bang Aziz kepada ibunya.
“Ta..tapi…Nak..” ucap Tante Eni tergagap, sepertinya Tante Eni pun shock dengan pertemuan tak terduga ini. Aku melihat Bang Aziz menggelengkan kepalanya, wajahnya yang biasanya tengil kini terlihat sangat terpukul.
Jujur aku bingung sekali dengan situasi ini, jika berdasarkan dari cerita Syta, Tante Eni ini sangat kejam karena dengan tega meninggalkan anak-anaknya setelah bercerai dengan suaminya. Tapi jika teringat curhatannya kepada Mama sedari dulu, Tante Eni ini berpisah dengan anak-anaknya karena anak-anaknya ikut mantan suaminya.
“Tan, ikut Fani aja ya ayok… A kamu juga ikut aku ya,” ajakku kepada Tante Eni dan mengajak A Bagas juga untuk naik ke lantai dua menuju kamarku. Sepertinya A Bagas juga butuh penjelasan, karena sedari tadi dia tampak paling diam dan minim reaksi.
Tanpa menjawab A Bagas ikut menunutun Tante Eni menuju kamarku, sesampainya di dalam kamar tangis Tante Eni pecah, tangis yang sedari tadi dia tahan di depan Syta dan Bang Aziz.
“Hiks…hiks….Mama jahat… Mama bukan wanita yang baik, bahkan anak-anak Mama sendiri terlihat benci saat bertemu dengan Mama, hiks..hiks.. hu..hu…huhu..”
“Mama yang tenang, sekarang coba Mama ceritain pelan-pelan sama Bagas disini. Apa betul Bang Aziz dan Syta itu anak-anak Mama yang selama ini Mama cari?” tanya A Bagas dengan lembut sambil memeluk tubuh wanita yang sudah membantu Papanya merawat dan menemaninya bertumbuh.
Ah, laki-laki ini selalu saja bisa diandalkan tidak mudah menyudutkan dan menghakimi orang lain.
“Hu…hu…hiks..hiks… aku harus bagaimana. Huhu..hu… anak-anakku membenciku,” tangis Tante Eni semakin pecah, hah aku semakin penasaran apa yang sebenarnya telah terjadi di masa lalu. Kenapa menimbulkan dua presepi yang bersebrangan seperti ini.
__ADS_1
“Tan minum dulu, tenangin emosi Tante dulu, kalau Tante terus-terusan nangis kayak gini bakal lama menyelesaikan permasalahan Tante bersama anak-anak kandung Tante. Ayok diminum dulu,” ucapku seraya menyodorkan segelas air putih yang tersedia di kamarku. Diraihnya gelas ditanganku dengan tangan yang masih gemetar.
“Sini biar Bagas bantu aja Ma,” ucap A Bagas yang langusng mengambil alih gelas yang hampir diraih oleh Tante Eni dan membantunya untuk minum. Tante Eni terlihat mengatur nafasnya, mencoba menenangkan dirinya kembali seraya menahan air matanya.
“Iya mereka anak-anak Mama Gas, Fan, dulu Mama ke Jakarta dan melamar menjadi IRT di rumah kamu karena mantan suami Mama, Papinya anak-anak tidak bekerja dan kebutuhan kami setiap harinya semakin meningkat seiring tumbuh kembang anak-anak Mama saat itu, jangankan untuk biaya pendidikan anak-anak untu kebutuhan sehari-hari saja kami kesusahan Gas,” ujar Tante Eni mencoba menjelaskan, hmm aku musti pasang telinga dengan betul siapa tahu aku bisa menarik kesimpulan dari masing-masing cerita antara versi Syta dan Tante Eni.
“Maaf ya Tan, sewaktu Fani di Bandung Syta pernah bercerita sedikit tentang keluarganya. Mohon maaf banget kalau ini menyinggung Tante, gini kata Syta waktu itu Tante itu pergi meninggalkan keluarga Tante dan memilih bercerai dengan suami Tante karena Tante berselingkuh dengan lelaki yang lebih mapan dan kaya. Lalu Tante juga tidak mau membawa anak-anak Tante karena, lelaki yang menjadi selingkuhan Tante itu tidak mau membawa anak-anak Tante,” ucapku sedikit lirih, jujur aku sedikit takut menyampaikan curhatan Syta kala itu, tapi aku mencoba meyakinkan diri jika ini benar agar masalah keluarga mereka selesai tidak lagi abu-abu
seperti ini.
“Huhuhu…. Mereka salah paham hiks…hiks mereka salah paham,” jawab Tante Eni yang kembali terisak dalam tangisnya dan aku dapat melihat sorot sedih bercampur dengan kekekcawaan yang sangat mendalam di mata Tante Eni saat ini.
“Ssssttt…. Ma.. Mama jangan menangis terus ayo Mama yang tenang dulu, nanti Bagas coba bantu bicara sama Bang Aziz ya, sama Syta juga. Sekarang Mama musti cerita yang jelas dan sejujur-jujurnya, biar Bagas bisa menjelaskan ke mereka dengan jelas dan meyakinkan mereka,” pinta A Bagas, ah padahal aku tahu dengan pasti bahwa dirinya saat ini sedang kecewa atas sikap Mama sambungnya yang tidak menceritakan dengan detail tentang anak-anak kandungnya, saudara tirinya. Tapi A Bagas? Dia sama sekali mengenyampingkan egonya dan memilih untuk menenangkan Mamanya yang sedari tadi meraung-raung menumpahkan rasa sesak di dadanya.
“Iya Ma,” jawab A Bagas.
A Bagas berjalan menjauh seraya merogoh saku celananya mengeluarkan benda pipih berbentuk persegi, mengusap layarnya perlahan lalu menempalkan benda persegi itu ke telinganya. Dengan tenang A Bagas menyampaikan apa yang diminta Tante Enid an sedikit menceritakan situasi di rumah saat ini, terdengar juga olehku bahwa sebetulnya dia tak enak hati kepada keluargaku karena saat aka nada acara malah terjadi keributan seperti ini.
“Ayo sekarang giliran Mama bercerita padaku, Papa sudah aku minta datang kesini,” ujar A Bagas seraya memasukan kembali gawainya kedalam saku celana, Tante Eni juga sudah terlihat tenang tidak lagi sesenggukan seperti tadi.
***
Author POV
__ADS_1
“Disini saya akan meluruskan kejadian 15 tahun yang lalu, peristiwa yang bersinggungan dengan kehidupan keluarga saya dan keluarga kalian,” ujar Pak Andre Papa Bagas, dengan senyuman yang tak luntur dari bibirnya, ada rasa bahagia yang menyeruak di dadanya kala melihat putra dan putri istrinya sudah berada di depan mata, tapi ada juga gurat kekecewaan dan kekhawatiran sebab ternyata ada kesalah pahaman selama 15 tahun ini, sampai-sampai sang istri kesulitan mencari kedua anaknya ini.
Suasana mencekam masih terasa, Aziz dengan sorot mata tajamnya dan egonya terlihat masih tinggi bersemayam dalam otak dan hatinya. Ingin rasanya dia berteriak lantang mengungkapkan semua apa yang telah dia lalui di masa lalu, di depan wanita yang telah melahirkannya itu tapi lagi-lagi tangan lembut adiknya yang sudah sadar dari pingsannya menghantarkan kekuatan untuk meredakan emosi sang Kakak.
“Mami kalian ini bukan pelakor dan saya pun bukan perebut Mami dari Papi kalian. Sebetulnya 15 tahun yang lalu Mami kalian ini datang ke rumah saya setelah mendengar ada lowongan jadi ART di rumah saya, bukan ART sepenuhnya sih hanya juru masak untuk membantu istri saya saat itu yang kondisinya sudah sakit-sakitan. Karena Mami kalian tidak mungkin akan pulang pergi Bandung Jakarta untuk bekerja di rumah saya, Mami kalian ini meminta izin Papi kalian untuk pindah ke Jakarta menyewa rumah kecil di Ibu Kota untuk mengadu nasib,” jelas Pak Andre dengan lembut dan santai, matanya memancarkan kejujuran dan tidak ada yang dia tutup-tutupi.
“Tapi apa kalian tahu? Papi kalian menolaknya dan membiarkan istrinya berada sendirian di Ibu Kota. Sampai hari itu tiba, dimana selama dua bulan sebelum kematian istri saya Ibu kalian diminta khusus oleh Mama kandungnya Bagas untuk merawatnya juga menjaga Bagas kala itu yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sampai hari dimana setelah kepergian istri saya, saya meminta Mami kalian untuk memboyong kalian sekeluarga ke Jakarta, Papi kalian dapat pekerjaan sebagai sopir pribadi saya dan Bagas memiliki teman, yaitu kalian,” ucapnya sambil menyunggingkan senyumnya sebelum melanjutkan cerita.
“Akhirnya saya ikut Mami kalian ke Bandung, ternyata Papi kalian salah paham dengan kehadiran saya disana, dikira Mami kalian bekerja di tempat kotor dan saya yang membelinya. Padahal niat kami kesana untuk menjemput kalian, semua sumpah serapah dan makian Papi kalian lontarkan pada Mami kalian, lalu melayangkan talak saat itu juga, serta mengambil hak asuh kalian. Entah apa yang di ceritakan Papi kalian saya tidak tahu, tapi inilah kenyataannya 15 tahun yang lalu,” jelas Pak Andre lagi seraya meyakinkan kedua anak manusia yang tengah bergenggaman erat dihadapannya itu.
“Kalau begitu kapan kalian menikah?” tanya Aziz.
“Satu tahun setelah Mami kalian pergi dari rumahnya yang di Bandung, awalnya karena saya merasa bersalah atas kehidupan yang menimpa Mami kalian tapi lama-kelamaan karena kita saling membutuhkan satu sama lin rasa sayang dan cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Dulu setiap bulan kami sering ke Bandung selain mengunjungi Bagas yang saat itu sedang mondok di Bandung, juga karena Mami kalian mencari anak-anaknya keliling Kota Bandung. Rumah kalian kosong setelah beberapa bulan Mami kalian pergi dari rumah, dan itu suskses membuatnya kehilangan arah hidup,” ucap Pak Andre menjelaskan.
Syta sudah tampak menangis meraung-raung mendnegar penuturan Pak Andre, Papa sambungnya orang yang dikira telah merebut Mami dari keluarganya kala itu. Ternyata hanya sebuah kesalah pahaman yang diciptakan Papinya sendiri, yang kini sudah lama tak pernah ia temui semenjak kepergian Sang Papi ke negeri sebrang.
“Huwa….Abang….. hiks..hiks…”
Pecah sudah tangis wanita berusia 22 tahun itu dalam dekapan Abangnya, Bagas dan juga Fani yang tengah duduk berdampingan dikursi sebelah yang Aziz duduki pun tak lepas dari sorot matanya yang sangat tajam hari ini. Ada kilatan amarah, sedih, kecewa dan permusuhan yang terpancar dari mata Aziz ketika melihat Bagas berada
disana terlebih duduk di sebelah sosok yang beberapa bulan ini menjadi idamannya.
“Kenapa selalu dia yang lebih beruntung? Dia sudah mendapatkan kasih sayang wanita yang sudah melahirkanku dan sekarang dia juga yang mendapat hati dari wanita yang aku idam-idamkan untuk jadi istriku, ibu dari anak-anakku kelak,” ucap Aziz dalam hati.
__ADS_1