
Selamat membaca.......
***
Author POV
“Kenapa musti kamu yang jemput Abang? Bukannya mobil ini dibawa sama si Tomi ke café?” tanya Aziz ketika selesai mengirim pesan pada Fani.
“Kenapa Bang? Kamu takut cewek tadi salah paham? Hahahaha tolong lah Bang dia nggak cocok buat kamu, ups atau Abang yang nggak cocok buat dia?” balasnya.
“Dasar Adek laknat. Jawab Abang, kenapa kamu yang jemput Abang?” tanya Aziz lagi.
“Sorry, semalem aku tidur di café, terus tadi aku lihat Bang Tomi mau jemput Abang jadi aku nawarin diri sekalian kita pulang aja, biar sementara café diurus sama Bang Tomi aja.” Jawab perempuan itu.
“Terus kenapa pakai baju kayak gini, manggil Abang ‘Ay’ lagi?” tanya Aziz.
“Bajuku kotor semalam, jadi aku tidur pakai ini aja. Tapi tadi pas aku masuk mobil aku pakai selimut kok, café juga masih sepi.” Jawabnya.
“Kamu itu perempuan musti jaga diri dengan baik, Abang yakin tadi temen Abang liat kamu pakai kayak gini, bisa jadi fitnah tahu nggak sih. Heran Abang sama kamu dari dulu dikasih tahu nggak bisa, nggak kasihan kamu sama Papi dosa yang buat kamu tapi Papi ikut nanggung dosanya.” Ucap Aziz kepada adik perempuannya.
“Ya Allah Bang, bosen tau nggak Syta diceramahin itu-itu aja sama Abang. Orang Papi aja nggak peduli sama aku, kenapa aku musti peduli sama Papi,” ucap Syta dengan frustasi.
“Kamu musti berubah untuk diri kamu sendiri Dek, tapi kamu juga musti tahu dan paham kalau kamu masih seperti ini tidak ada perubahan dalam bersikap, bertutur kata, dan berbusana kamu bukan hanya menjerumuskan diri kamu sendiri untuk memikul dosa tapi kamu sudah membaginya dengan Abang dan Papi untuk menanggungnya.” Jelas Aziz dengan tegas, rasanya sudah lelah untuk mengingatkan adik perempuan satu-satunya itu untuk segera berubah. Aziz sadar betul atas kejadian yang menimpa keluarganya cukup memberi efek yang luar biasa bagi kehidupannya dan sang adik sebagai anak, akibat dari keegoisan kedua orang tuanya.
“Iya, nanti dicoba,” Jawab Syta asal.
“Beneran ya, nanti musti ikut Abang datang ke rumah kakak tingkat Abang tapi dengan penampilan yang Abang mau,” ucap Aziz.
“Hmmm, terserah Abang aja.”
Drrrtttt….ddrrrttt…drrrttt…. getaran hp Aziz mengalihkan perhatiannya, dengan senyum yang mengembang sempurna seakan lupa dengan kekesalannya terhadap sang Adik.
From : Calon Istri.
‘Mau dimasakan apa? Jangan yang riweh!’
“Kenapa Bang? Menang arisan?” tanya Syta dengan nada mengejek sang Abang.
“Mau tau aja urusan orang dewasa.”
“Heh, sekalipun kita beda 8 tahun tapi usiaku sudah 21 plus..plus ini. Abang itu bukan dewasa lagi tapi sudah tuaaa….” Jawab Syta, yang lagi-lagi mengejek si sulung.
__ADS_1
“Kamu itu ya, untung aja Abang lagi seneng. Kalau enggak pasti udah abis kamu sama Abang.”
***
“Teh, ini data laporan dua hari kemarin,” ucap salah seorang karyawan toko kue milik Qiana.
“Iya, sebentar saya lihat dulu,” jawab Fani, “Ini seriusan laporan toko kue?” tanya Fani dengan dahi yang sudah berkerut penasaran.
“Allahuakbar…. Mbak Qiana pasti seneng banget ini. Mulai besok kita nambah stok kue yang paling digemari pelanggan ya,” ujar Fani.
“Iya Teh, oh iya apa Teteh sudah lihat video toko kita di yietibe? Video yang hari dimana kita diprank. Ternyata si Aa yang waktu itu, mau lihat reaksi owner jika karyawannya dan pelanggannya terlibat perkelahian dan reaksi Teteh saat itu sangat dikagumi oleh viewernya si Aa kasep, karena mengutamakan kebenaran dan keadilan tidak serta merta langsung mengiyakan keinginan pelanggan.”
“Eh, beneran? Padahal semalem saya lihat yietibenya si tukang prank nggak ada tuh,” ucap Fani.
“Iya Teh, kemarin siang sudah di hapus. Konfirmasi di ignya sih, katanya takut calon istrinya nanti terkenal dan banyak yang suka.”
Fani terlihat mengernyitkan dahinya, seolah heran dengan apa yang diucapkan karyawan Kakak iparnya.
“Menurut saya yang dibilang calon istrinya itu Teteh, soalnya di dalam video tersebut tidak ada wanita lain selain Teteh,” Jelasnya lagi, membuat Fani mendesah frustasi.
“Ya sudah terimakasih, saya mau lanjut meriksa ini lagi. Nanti saya bantu di depan.” Ucap Fani.
Setelah karyawannya keluar Fani sibuk dengan lamunannya sendiri, tiba-tiba dia teringat akan ucapan Aziz tadi pagi yang menyuruhnya untuk mengecek laporan keuangan beberapa hari terakhir ini.
Drrrtttt…drttt..drttt…
From: Kang Prank.
‘Bagus!!! Dua porsi gulai kambing makanan pelengkapnya terserah kamu, minumnya saya mau es timun serut ditambah perasan air lemon.’
“Idih, udah berasa jadi pembantunya aku ini, mana pesen dua porsi lagi hadeuuhh. Tapi yaudah lah ya daripada 20 juta ludes, mending gini aja nggak sampai maratus ribu dah aman.”
***
Selepas sholat ashar di masjid dekat mini market sebrang perumahan Akbar, Fani segera berbelanja kebutuhan untuk memasak makan malam sesuai dengan pesanan Aziz. Butuh waktu 30 menit untuk Fani menyelesaikan acara belanjanya, dan kini perempuan berparas ayu itu pun sudah berada di garasi rumah Akbar untuk memarkirkan sepeda motor.
“Assalamu’alaikum princes pulang.” Teriak Fani sambil menenteng belanjaannya.
“Wa’alaikumsalam Onty.” Jawab Dafa yang sedang bermain di ruang keluarga.
“Bunda sama Onty Tiwi dimana?” tanya Fani, karena tak biasanya Dafa bermain seorang diri seperti ini.
__ADS_1
“Bunda di dapul buatin susu buat Dafa, Onty Tiwi ke kamal ambil hp.” Jawab Dafa.
“Oucchhh… yasudah Onty mau ke dapur dulu ya, Dafa mainnya yang anteng okeehhh…” ucap Fani.
Fani meletakan semua belanjaannya di dapur dan sedikit bercerita tentang kejadian hari ini pada Qiana, mencoba mencari dukungan bahwa apa yang kini sedang dilakukannya merupakan sebuah usaha untuk berdamai dengan masa lalu.
“Ini sekalian aku minta izin ke Mbak, kalau makan malam kali ini biar chef Fani yang akan mengeksekusinya.”
“Mau masak apa aja emangnya Dek?” tanya Qiana sambil melirik dua kantung besar bahan makanan yang di beli oleh Fani tadi.
“Bang Aziz pesan gulai kambing sama minumnya es timun serut ditambah perasan air lemon, tapiaku juga mau bikin belut goreng bumbu kuning sama sambel terasi,” ucap Fani sambil membayangkan belut goreng kesukaannya.
“Wuihhh enak-enak tuh Dek, jadi bikin bingung nanti mau makan yang mana. Beli lalapan juga nggak?” tanya Qiana tak kalah amtusias.
“Makan aja dua-duanya Mbak nggak apa-apa kali, itung-itung gulai kambingnya buat si Dedek terus belut gorengnya buat Mbak xixixixi. Lalapannya ada, aku tadi beli terong bullet, daun kemangi, sama selada air, sengaja nggak beli timun soalnya di kulkaskan selalu siap sedia timun.”
“Oke dehh, Mbak ke depan dulu mau ngasih ini ke Dafa. Kamu mandi dulu sana,” ucap Qiana sambil memperlihatkan segelas susu untuk Dafa.
***
Seusai mandi dan berganti pakaian santai tak lupa dengan kerudung yang selalu membalut kepalanya Fani kini sudah mulai meracik bumbu-bumbu untuk membuat gulai kambing dan belut goreng bumbu kuning. Dari caranya meracik dan memainkan pisaunya, Fani terlihat cukup lihai untuk urusan dapur, terlebih untuk memasak makanan
Indonesia.
Berkutat di dapur selama hampir satu setengah jam, kini Fani sudah selesai dengan hasil masakannya tinggal menghidangkannya sewaktu makan malam selepas isya’ nanti. Kini Fani tengah berada di dalam musholla rumah untuk menunaikan ibadah sholat maghrib.
Ting…tong…ting…tong…
Baru saja Fani, Qiana, Tiwi, dan Dafa selesai mengaji bersama di musholla rumah, bell rumah sudah berbunyi nyaring dan berulang kali menandakan ada tamu yang sudah tidak sabaran ingin segera bertemu dengan seseorang yang ada di dalam rumah. Fani pun bergegas menuju pintu utama untuk membukakan pintu.
Ceklek..
“Assalamu’alaikum.” Ucap pria dengan suara baritone yang sangat ia kenali.
“Wa..wa’alaikumsalam….Abang.” pekiknya.
Dan masuklah dua orang yang sudah dinanti kehadirannya.
****
Terimakasih telah membaca.........
__ADS_1